Bos Jahat

Bos Jahat
Bab 18


__ADS_3

Gavin menunggu di ruang tunggu sembari membaca majalah. Ponselnya berdering, pesan dari Noris. Gavin melihat pesan tersebut, raut wajahnya berubah seketika di saat melihat pesan itu.


"Bos lebih baik malam ini acaranya jangan di laksanakan! Sepertinya Kai dan seseorang pria asing meyebutkan namamu. Kemungkinan mereka akan meyebabkan masalah."


Gavin menempelkan ponselnya di telinga dan bicara "Noris, kamu ikuti terus mereka! Masalah identitas wanita ini tinggalkan aja dulu! Kamu fokus dengan mereka!"


"Baik bos." Jawab noris.


Dalam pikiran Gavin bertanya-tanya. Dia tidak ingin membatalkan acara yang sudah ibu dan ayahnya rencanakan. "Aku hanya perlu menyuruh pengawal berjaga lebih ketat. Tapi siapa pria asing yang bersama Kai?"


Gavin mengirimkan pesan pada adiknya Lyman " Lyman kamu sarankan kepada ayah dan ibu untuk berhati-hati di acara nanti! Kamu juga! Kai dan seseorang sepertinya merencanakan sesuatu, jangan lupa untuk memperketat keamanan! Aku akan sampai disana sebelum pukul 17:30Pm. Dan perhatikan tamu yang di undang!"


Setelah beberapa jam Eunha pun telah selesai berdandan. Dia megenakan gaun yang terlihat sangat bagus. Wajahnya di rias secantik mungkin. Dia terlihat bagaikan seorang ratu. Gavin yang duduk di sofa melihat Eunha dari bawah sampai atas. Dia tercenggang, terdiam.


Eunha merasa begitu sangat tidak nyaman. Dia malu menatap Gavin. Dia menundukkan kepalanya sembari jari-jari tanganya memegang sana sini. Gavin terbatuk dan berdiri dari tempatnya.


"Apa kamu ingin berdiri saja di sana?"


"Ehhh, ti... tidak. Ayo kita akan pergi." Dengan  nada gugup.


Mereka pun beranjak dari tempat itu. Eunha berdiri di depan toko tersebut. Gavin yang mengendarai mobil berhenti dan memperhatikan Eunha. "He? Apakah kamu ingin jalan kaki?"


Eunha melihat Gavin di mobil dari jendela mobilnya. "Tu,,, tuan pergi saja! Aku tidak akan menggangu  kok! Aku akan naik mobil online kesana."


"Pffff, apa-apanan dia? Apakah kamu ingin membuat ayah dan ibu salah paham terhadapku?"


"Tapi tuan? Aku tidak ingin merepotkan tuan. Aku akan datang tepat waktu kok. Aku ingin menemui seseorang sebentar."


Gavin tersenyum sinis dan memutar mobilnya. Dia juga merasa senang jika pulang tanpa Eunha. "Dia pikir, aku langsung memohon. Cihhhh."


Eunha hanya saja tidak ingin membuat Gavin merasa benci denganya. Dia tidak ingin membuat kesalhan, dan memilih untuk menjaga jarak. Dia berpikir jika dirinya terus-terusan melihat Gavin, itu akan membuat hatinya akan lebih terluka.


Gavin mengirim seseorang untuk mengawasi Eunha. Namun Eunha yang masih duduk dan menunggu mobil online itu tidak tau jika seseorang sedari tadi memperhatikanya. Orang itu adalah suruhan dari seseorang. Dia mengikuti Eunha, sampai ke acara tersebut.

__ADS_1


Di dalam gedung itu terlihat begitu mewah. Dekorasi yang sangat jarang di temukan di setiap acara. Eunha melihat Gavin yang berdiri di teras lantai atas rumah white. Dia menghela napas, dan melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Gavin memperhatikanya, dan melihat seseorang yang tampak memperhatikan Eunha.


"Apakah dia salah seorang yang mendekati wanita ini juga? Ternyata wanita ini menarik juga, sampai orang lain bisa tertarik tanpa sadar di bodohinya." Gavin turun ke lantai bawah, dan berpura-pura untuk jadi suami yang baik pada Eunha.


"Hei, kamu sudah tiba sayang. Wah, kamu terlihat sangat cantik" Nyonya Firtz yang tersenyum bahagia dan bersalaman dengan Eunha. Dia mengajak Eunha pergi dengannya untuk bicara sebentar. "Eunha, kamu mengapa datang sendirian? Apakah anak ibu menyulitkanmu lagi?"


"Bu,,, bukan begitu. Tapi aku hanya sedikit lama tadi. Whehehh."


"Ayo, ibu ingin membicarakan sesuatu denganmu."


Mereka pergi ke ruang ganti. Nyonya Firtz menggambil sebuah amplop cokelat dan meyodorkannya pada Eunha. Dia memegang tangan Eunha dengan kelembutan. Gavin yang melihat mereka langsung mengikuti ibunya dan Eunha karena rasa penasarannya.


"Eunha, ibu tau kamu tidak bahagia dengan anakku. Dan kamu sudah berusaha sebisa mungkin untuk membuatnya takluk. Tapi ibu juga membutuhkan seorang cucu untuk penerus keluarga ini."


"Ta,,, tapi bu?" Eunha merasa bersalah dan kwatir.


"Ibu tidak akan memaksakanmu untuk melahirkan seorang cucu kali ini. Ibu juga tau Gavin tidak akan mengizinkanmu melahirkan bayi untuknya. Tapi sebelumnya mohon maaf, ibu hanya saja tidak ingin melihatmu tersiksa.


Eunha tidak megerti apa yang di katakan Nyonya Firtz. Dia terdiam dan matanya berkaca-kaca. "Me,,,me,,,mengapa ibu mengatakan hal ini?"


"Eunha kamu sudah banyak menderita, jadi ibu sebagai mertuamu tidak ingin melihatmu tersiksa karena anakku."


"Aku tidak tersiksa sama sekali ibu, aku merasa bahagia dengan Gavin. Dia memperlakuknku dengan baik, bahkan membawaku membeli gaun ini hanya untuk acara ini ibu."


"Kamu jangan berbohong, dia hanya melakukan itu sesuai perintah ibu."


Gavin terkejut mendengarkan perkataan ibunya itu. Dalam pikiranya "Mengapa ibu tiba-tiba mengurus surat cerai antara aku dan Eunha? Bukankah dia dulu yang selalu memuji-muji Eunha, dan mengiginkan seorang cucu? Sepertinya ada yang tidak beres di rumah ini."


Eunha menangis dan meminta mohon pada ibunya untuk tidak melakukan hal itu. "Aku mohon ibu! Aku tidak ingin bercerai dengan Gavin. Dialah satu-satunya orang yang kumiliki saat ini. Aku janji akan secepatny memberikan keluarga ini seorang cucu."


Gavin membalikkan badanya dari tempat itu. Dia memperbaiki dasinya, lalu melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu. Namun di saat mendengarkan suara ibunya yang tinggi itu membuat dia terhenti.


"Tidak perlu! Sejujurnya kami tidak mengiginkan seorang cucu. Dan lagi kamu bukanlha sederajat dengan keluarga ini. Selama ini saya hanya ingin menghormatimu, dan menerimamu sebagai bagian  keluarga ini, dengan kepolosan. Tapi aku tidak ingin membuat reputasi keluarga ini hancur.

__ADS_1


Aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan. Tapi tanda tangani surat ini! Bukankah kamu juga selalu ingin menceraikan Gavin selama ini? Sekarang aku berikan kesempatan yang bagus untukmu! Kamu hanya perlu menandatanganinya!"


Gavin semakin penasaran dengan kelakuan ibunya. Dia beranjak dari tempat itu dan memasuki ruangan ganti. Dia berpura-pura tidak tau apa yang terjadi dan memanggil Eunha.


Seketika hening, dan tidak ada yang bicara. Gavin membawa Eunha ke ruangan terbuka dan memberikan sebuah sapu tangan. Eunha menggambil sapu tangan itu dan berterima kasih dengan nada yang terputus-putus karena menangis.


Gavin menoleh ke arah Eunha dan menghela napas. Dia memasukkan kedua tanganya ke dalam kantong celananya. "Tanda tanganilha surat itu! Aku juga sudah mendengarkan semua perkataan  ibu. Aku sudah meyetujuinya."


Eunha terdiam dan berhenti menghapus air matanya. Dia menahan amarah, dan megertak giginya serta mengepal tanganya. Dia menundukkan kepalanya "Apakah keluarga mu hanya bisa mempermainkan seseorang yang lemah?"


Gavin yang mendengarkan itu, langsung melihat Eunha. "Jika kamu sudah sadar, mengapa harus melakukan hal bodoh dengan keluarga ku?"


"Dasar pengejut, apa kamu pikir dengan bercerai aku akan melupakan semuanya?"


"Aku masih punya sisi baik untuk menyuruhmu pergi!" Gavin mulai terbawa emosi di saat Eunha mengatakan keluaraga.


"Aku tidak akan menceraikanmu." Eunha membantah untuk tidak bercerai.


"Dasar wanita gila. Apa kamu kira dengan cara konyolmu yang tidak mau itu bisa membuat ku diam? Kamu harus ingat! Sebenarnya kita tidak pernah punya surat nikah, jadi aku rasa kamu hanya bisa melepas semuanya."


"Breng*** apa kamu pikir dengan kekayaanmu, kamu bisa mempermainkan orang sembarangan? Aku tidak menyangka  kamu seorang yang begitu tidak bertangung jawab. Kamu hanya bisa menghancurkan seseorang yang lemah tak berdaya. Apa kamu pikir aku tidak punya masa depan sehingga sekarang setelah mempermainkanku kamu bisa mencampakkanku?"


"Sebelumnya aku sudah katakan bahwa kamu hanya wanita mur****."


"Apa kamu sudah cukup bicara? Dasar pria bajing**"


Dengan emosi Eunha menampar Gavin. Hal itu membuat Gavin marahlagi dan kembali menampar Eunha sembari menekan kedua pipi Eunha dengan emosi.


"Aku peringatkan iya! Kamu tidak pantas ada di keluarga ini. Dan aku akan membayar harga yang sesuai untukmu setelah cerai."


"**Maaf iya baru bisa up. Semoga kedepannya bisa up tiap hari"


~Jangan lupa menggunakan masker di saat bepergian! Dan jaga jarak! Semoga dunia kita cepat lekas sembuh seperti sedia kalah**~

__ADS_1


__ADS_2