Bos Jahat

Bos Jahat
Bab 11


__ADS_3

"Istrimu datang tuh! Aku keluar dulu." Tersenyum, sembari melihat Eunha dengan kehangatan.


Eunha meletakkan semangkok bubur tersebut di atas meja. Dia membuka tirai jendela ruangan itu. Gavin bermain ponsel, dan tidak mempedulikan Eunha.


"Bagaimana perasaan tuan? Apakah sudah lebih baik?"


"Jangan memanggilku seperti itu disini! Kamu bisa keluar, aku ingin istirahat."


"Aku akan keluar. Tapi tolong tuan makan bubur ini dulu! "


Menggambil bubur itu, sembari memberikan pada Gavin. Namun Gavin tidak mau, dan menyiruh Eunha untuk keluar. Eunha meletakkan buburnya kembali ke atas meja, dan merampas ponsel Gavin.


"Apa kamu ingin mati?" Dengan wajah yang begitu kesal. Gavin menatap Eunha, dengan tajam. Eunha menyimpan ponsel Gavin di dalam laci rias.


"Iya, aku ingin mati. Tapi tuan harus benar-benar sembuh dulu!" Mendekati Gavin dan duduk di sampingnya, sembari memegang semangkok bubur hangat.


"Mengapa wanita ini semakin lama, semakin berani?" Bicara dalam pikiran.


"Ibu bilang, tuan harus menghabiskan bubur ini! Dan aku rasa tuan sedikit sulit bergerak, maka aku tidak keberatan untuk membantu tuan."


"Aku bisa sendiri!" Menggerakkan tanganya, dan meraih sendok.


Eunha merampas kembali sendok itu, dan tersenyum hangat pada Gavin. Dia meyendokkan bubur tersebut, lalu menyuapi Gavin.


"Apa kamu sudah gila? Berikan sendoknya sama ku!" Wajah penuh kekesalan.


"Benarkah? Baiklha aku juga masih sibuk di dapur."


Membiarkan Gavin makan sendiri. Dia beranjak dari tempat duduknya. Di depan pintu dia terkejut, disaat mendengar teriakan Gavin.


"Ahhhh."


Tenaga Gavin masih melemah, sehingga buburnya yang di mangkok tumpah dan mengenai tangan serta dadanya.


Eunha menoleh ke belakang, dan segera bergegas di saat melihat bubur itu tumpah. Tanpa pikir panjang dia melepaskan pakaian yang di kenakan Gavin. Sembari mengomel.


"Bagaimana ini?"


"Apa yang kamu lakukan? Haizz."


"Lebih baik kamu diam sebentar! Aku akan membersihkan bubur itu dari badanmu. Bagaimana jika bubur ini, membuat kulitmu melepuh?"


Gavin terdiam, dan tidak bisa mengatakan apa pun. Dia hanya diam dan membiarkan Eunha untuk membersihkan bubur itu dari tangan dan dadanya.


Setelah beberapa menit, Eunha pun membersihkan bubur itu dengan cepat. Dia ngelap badan Gavin, agar tidak terasa lengket-lengket. Dia mengambil


Salep lalu mengoleskanya pada tangan dan dada Gavin yang terkena bubur itu.


"Deg,,, deg,,,deg." Jantung Gavin degdegan, disaat Eunha mengoleskan salep di tanganya. Eunha terlihat begitu serius. Gavin memperhatikan Eunha yang mengoleskan Salep tersebut.


"Aku akan membuatkan bubur yang baru. Tuan istirahat aja dulu! Aku akan segera kembali."


"Ada apa dengannya? Barusan dia mengomeliku. Dan sekarang dia menyuruhku menunggu dengan lembut. Apakah ini salah satu rencana dia juga?"


Malam hari.

__ADS_1


Eunha memberikan kembali ponsel Gavin. Dia tersenyum hangat dan memperbaiki, selimut Gavin.


"Aku tidak memerlukan ponsel di saat malam hari. Aku mau tidur. Kamu tidur di kamar tamu!"


"Aku tidak menyuruh tuan untuk bermain ponsel. Tapi ada yang menunggu balasan dari tuan."


Memeriksa ponselnya, dan melihat pesan dari Lora. Dia tersenyum di saat melihat Lora menanyakan keadaanya.


Eunha menggambil bantal, dan selimut. Lalu dia tidur di sofa yang ada di ruangan itu. Dia membaringkan badanya, dan meneteskan air mata.


Dia ingin mengatakan bahwa dirinya sesungguhnya sangat cemburu dengan Lora. Tapi dia begitu kwatir, di saat Gavin marah, dan memperlakukanya begitu sangat kejam.


Ditengah malam Gavin terbangun, dan baru menyadari bahwa Eunha tidur di ruangan itu. Dia tidak mempedulikanya, dan ingin tidur kembali. Semenit kemudian Eunha bermimpi dan mengatakan untuk tidak meninggalkanya.


"Mengapa dia mengatakan hal itu lagi? Bukankah dia pernah mengatakan hal itu juga? Biarkanlha, untuk apa aku peduli dengan wanita itu?"


Menarik selimutnya karena kedinginan. Dan menoleh ke arah Eunha. Gavin beranjak dari tempat tidurnya, dan menyuruh pengawal yang ada di depan kamar untuk memindahkan Eunha ke tempat tidur.


Pagi


Gavin bangun, dan melihat Eunha yang tertidur di sebelahnya dengan posisi memeluk dirinya. Dia pun menjaili Eunha dengan membuka beberapa kancing bajunya, dan membangunkan Eunha lalu berpura-pura untuk tidur kembali.


Eunha membuka matanya perlahan, dan terkejut di saat melihat dirinya ada di tempat tidur yang sama dengan Gavin. Sontak memperhatikan pakaian Gavin, yang sedikit terbuka. Eunha pun segera mengendap-endap untuk pergi.


"Apa yang kamu lakukan?" Gavin yang tiba-tiba mengatakan hal itu, dan membuat Eunha semakin ketakutan.


"Ehh. Dia sudah bangun?" Bicara pelan sembari mengerutkan dahi merasa malu.


Eunha menoleh ke arah Gavin, dan tersenyum.


"Apa? Untuk apa aku menggambil keuntungan dari mu?"


"Iya ampun, aku tidak menyangka ternyata kamu wanita yang seperti itu?"


Eunha merasa kesal, karena Gavin menganggap dirinya rendah. Dia pun melompat ke tempat tidur, dan ingin mengusili Gavin.


"Apa yang kamu lakukan?" Kebingungan di saat melihat Eunha berada di atas ranjangnya.


"Kamu mengatakan aku menggambil keuntungan dari mu. Maka aku akan tunjukkan! Aku akan menggambil keuntungan itu."


Gavin berusaha mendorong Eunha. Namun dia baru saja menggunakan infus, dan tanganya juga terasa masih lemah. Eunha terlihat senang, dan berpura-pura untuk mencium Gavin.


"Dasar wanita sialan."


"Santai saja! Aku akan berbuat lembut kok. Whehehhh."


Dan dua menit kemudian Nyonya Firtz ingin melihat kondisi Gavin. Dia masuk ke dalam kamar itu, tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Ehem,,, ehem...."


Eunha yang sedang asik melihat ekspresi Gavin, dan membuka paksa kancing baju Gavin. Sembari mengatakan "Ayolha, aku akan beebuat lembut kok." Tanpa menyadari nyonya Firtz sedang menyaksikan ke usilan mereka berdua.


"Apa kamu sudah gila? Ibu melihat kita." Dengan sura yang terpatah-patah.


"Apa kamu pikir aku akan percaya? "

__ADS_1


"Hah, dasar wanita sialan. Jauhkan tangan kotormu!" Gavin yang melawan, sembari berusaha keras mendorong Eunha.


"Ibu tolong jauhkan dia!" Melihat nyonya Firtz, sembari melambaikan tanganya.


Nyonya Firtz berpura-pura tidak melihat, dan membalikkan badanya. Barry masuk dan merasa kebingungan, disaat nyonya Firtz mengatakan untuk tidak masuk.


Gavin yang melihat Barry, langsung memanggil Barry. Eunha pun menoleh ke arah pintu, dan terkejut di saat melihat nyonya Firtz dan Barry yang pergi meninggalkan tempat itu.


"Haiz,,, mengapa kamu tidak mengatakan bahwa ibu disini?"


"Hmm, kamu mungkin terlalu tuli, dan tidak mendengarkan apa yang aku katakan. Iya sudah, aku juga merasa sangat malu."


Gavin yang terlihat santai, walaupun perasaanya masih begitu sangat kesal.


Eunha merasa malu, dan segera pergi dari ruangan itu.


"Gimana ini? Ibu pasti akan salah paham. Aku juga bagaimana bisa berani melakukan tindakan konyol seperti itu pada tuan Gavin? Aku pasti akan di hukum di saat kembali ke apartemen. Matilha aku, hiks."


Bar Club


Krystal dan Kai duduk di sofa club sembari menikmati wine mereka. Krystal terlihat sudah mabuk berat. Dia menatap Kai, sembari mengatakan semua yang di isi hatinya. Bagi Kai, hal itu sudah biasa.


Grisha datang dengan sekelompok pria berbadan besar. Dia melihat Krystal, dan tersenyum jahat, sembari cemburu. Dia menyuruh 3 pria itu untuk pergi membawa Krystal dari dalam Club.


"Grisha? Apa yang ingin kamu lakukan pada Krystal?"


"Apa kamu peduli dengan apa yang akan terjadi denganya?"


"Grisha. Jangan lakukan apapun yang akan merugikanmu!"


"Aku lakukan ini untuk menguntungkan. Bagaimana bisa aku melakukan hal ini untuk rugi?"


Kai berdiri, dan menatap Grisha pacarnya. Walaupun dia mempunyai tujuan yang berbeda untuk mendekati Krystal, namun sesuatu yang tidak bisa dia terima yaitu, melihat Krystal tersakiti.


"Hentikan mereka!"


Grisha duduk dan menyilangkan kakinya. Dia terlihat senang di saat Krystal di bawah oleh anak buahnya.


"Apakah kamu sudah jatuh hati pada si ****** itu?"


"Grisha."


"Kamu tidak usah takut! Krystal hanya di bawah pada ayahmu. Dan itu sedikit membantu kan?"


"Apa? Kamu bilang ayah?"


Tanpa pikir panjang, Kai segera bergegas. Grisha, meminum wine milik Kai, dengan emosi yang sangat tinggi. Dia melemparkan gelas wine tersebut sembari merasa kesal.


"Mengapa dia lebih peduli dengan wanita itu? Apakah aku hanya dia anggap hanya orang lain? BRRNGSEK."


~Jangan lupa menggunakan masker di saat bepergian! Dan tetap jaga jarak!


Semoga dunia kita cepat lekas sembuh seperti sedia kalah.~


__ADS_1


__ADS_2