Bos Jahat

Bos Jahat
Bab 3


__ADS_3

Tepatnya pada pukul 02:00Am, Gavin pergi dari apartemenya. Eunha melihat Gavin dari jendela kamarnya, dengan perasaan sedih.


"Tuk,,, tuk,,,tuk."


Seseorang mengetuk pintu kamar Eunha. Tampaknya seorang penjaga yang disuruh Gavin, untuk mengawasi Eunha. Dia begitu ketakutan, dan segera bergegas ke tempat tidurnya. Tetapi Noris si penjaga itu, masuk ke dalam kamar  sembari membangunkan Eunha.


Eunha kebingungan dengan Noris, yang membagunkan nya sepagi ini. Tapi dia hanya menurut, karena takut Gavin bertindak buruk. Noris membawa Eunha ke tempat dimana Gavin akan membunuh lagi. Eunha begitu gemetaran ketakutan, air matanya mengalir perlahan disaat melihat suaminya membunuh untuk yang kebeberapa kali.


Eunha menatap tajam Gavin. Dia tidak tahan melihat kelakuan Gavin, sehingga dia berteriak-teriak meminta tolong. Eunha meminta tolong di waktu yang salah. Hal itu membuat Gavin merasa jengkel, dan menyuruh Noris untuk mendekatkan Eunha pada orang yang berlumuran darah itu.


Eunha merasa pening, di tidak tahan melihat hal itu. Eunha Syok dan pingsan untuk ke beberapa kalinya. Gavin merasa jijik melihat Eunha, dan beranjak pergi dari tempat itu.


"Cih,,, dasar wanita menyebalkan."


"Bos, bagaimana dengan nyonya?"


"Bawah dia! Dan jangan biarkan keluar dari kamarnya, sebelum aku pulang!"


Gavin merasa puas, telah membunuh salah satu mafia terkuat di kota itu. Tapi dia merasa heran, mengapa mafia terkuat seperti Retzo bisa di lumpuhkan secepat itu. Tanpa pikir panjang Gavin menyetir mobilnya dengan laju yang begitu cepat.


Kediaman Firtz


Tuan Firtz yang duduk sembari, membaca sebuah buku. Dia tampak bahagia, semejak pernikahan Gavin. Tuan Firtz, berhati dingin dan tidak begitu peduli.


Sebuah penyakit, yang dia idap, membuatnya sulit untuk tidur.


Nyonya Firtz yang berhati lembut, selalu setia menemani suaminya. Dia terbangun dari tidurnya, dan melihat Tuan Firtz yang masih duduk sembari membaca buku. Dia menghela napas, dan bangkit dari tempat tidurnya.


"Pa, udah jam segini, kenapa belum tidur?"


Mendekati suaminya, dan mengusap-usap matanya. Tuan Firtz melihat istrinya itu, dan tersenyum hangat, sambil meletakkan bukunya di atas meja.


"Apakah, aku sudah membangunkan tidurmu?"


"Tadinya begitu, tapi sepertinya tuan Firtz memerlukan seseorang untuk mengobrol."


Sela Firtz duduk di samping suaminya. Walaupun sudah tua, tapi jelas terlihat mereka suami istri yang harmonis.


"Aku mendengarkan kabar dari Noris. Pagi ini Gavin menembak mati Retzo, pebisnis besar di kota ini."


"Pa, mungkin Gavin melakukanya untuk hal penting. Papa, jangan memikirkan hal itu lagi!"


"Aku kwatir, jika suatu hari nanti istrinya mengetahui hal itu. Dan pergi meninggalkan wanita itu."


"Aku rasa itu tidak akan terjadi pa. Nanti aku akan pergi melihat menantu kita. Bagaimana pun dia wanita yang hebat, yang bisa meluluhkan hati Gavin."


Tampaknya orang tua Gavin, kwatir dengan perbuatan Gavin. Firtz tau benar, bagaimana rasanya jadi seorang mafia. Dulu di saat umurnya masih muda, dia juga terkenal sebagai mafia. Akan tetapi, dia pernah menyesali hal itu.

__ADS_1


Disaat istrinya melahirkan Gavin, disaat itu juga seseorang membunuh istrinya.


Dia menyadari, bagaimana perasaan jika seseorang membunuh keluarga orang lain. Dia takut akan kehilangan lagi, dan berhenti dari hal itu. Seorang mafia bukanlha hal yang baik. Dan bisa mengancam nyawa orang terdekat.


Hotel S


Gavin pergi ke sebuah hotel di kota S. Disana di bertemu dengan seorang wanita yaitu Lora Winz. Mereka sudah menjalin hubungan sejak 1 tahun yang lalu. Lora terlihat semangat di saat melihat Gavin datang dan langsung memeluk, layaknya seperti sepasang suami istri.


Gavin membalas pelukan Lora, dan beranjak pergi ke tempat tidur. Lora terlihat begitu mencintai Gavin.


"Lora, aku ingin tidur!"


"Aihzzz." Lora menatap Gavin penuh kekecewaan. Dia pun mengbambil ponsel dan tasnya lalu pergi keluar dari tempat itu.


"Apa-apa dia? Masih saja belum ngapa-ngapain udah mau tidur. Sejak kapan dia bersikap menolak?"


Lora selalu bersikap seperti itu. Gavin mengejarnya, dan menahan agar Lora tidak pergi. Lora sontak bersikap manja pada Gavin.


"Tolong jangan pergi!"


"Bagaimana bisa aku tidak pergi? Kamu bersikap seolah aku tidak ada di sini."


"Maafkan aku, tapi aku lagi dalam keadaan lelah."


"Lalu bagaimana denganku? Apakah aku akan terus seperti ini?"


"Sayang, aku hanya merasa begitu menyayangimu. Maka untuk hal itu, aku tidak bisa melakukanya."


Eunha duduk di tempat tidurnya, dengan menundukkan kepalanya. Dia merasa sedih, dan tidak berdaya. Semejak menikah, dia tidak pernah tidur satu kamar dengan Gavin. Yang ada hanya hal-hal yang tidak pernah Eunha bayangkan.


"Andaikan ayah dan ibu masih hidup. Mungkin aku tidak akan menikah dengan terburu-buru seperti ini."


Meneteskan air mata, sembari menginggat masa kecilnya bersama orangtaunya.


Eunha terisak-isak dan menyesali keputusan yang telah dia perbuat.


"Mengapa aku harus hidup dengan kesulitan? Bagaimana bisa aku hanya menilai dia dari penampilan? Apakah aku telah di hukum? Cinta pertamaku, membuatku merasa kesulitan untuk hidup."


Eunha tidak bisa tidur sejak melihat suaminya, yang menembak mati orang. Eunha terlihat begitu meyedihkan, bahkan Gavin tidak memberikan dia menggunakan ponsel.


Pukul 08:00Am.


Gavin terbangun dari tidurnya dan menoleh ke arah Lora yang tertidur di sampingnya. Gavin melihat wajah Lora, sembari membelainya dengan lembut. Dia tersenyum, dan menatapi wajah itu.


Ponsel Gavin berdering, dia pun sontak menggambil ponselnya. Nyonya Firtz menelpon Gavin. Gavin segera beranjak dari tempat tidurnya, dan menjawab panggilan itu.


"Iya ibu?"

__ADS_1


"Gavin, ibu akan ke apartemenmu. Apakah kamu dan istrimu sudah bangun?"


"Apa yang ibu lakukan?"


"Wah, anak ibu setelah menikah kenapa jadi seperti itu?"


"Bu,,, bukan begitu. Tapi ibu mengapa datang sepagi ini?"


"Ibu perlu memastikan, apakah menantu dan anak ibu dalam keadaan baik-baik saja?"


Gavin terlihat terkejut, mengetahui ibunya akan datang ke apartemen. Tanpa pikir panjang, dia mengakhiri panggilan ibunya, dan menggambil kemejanya, lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Gavin kwatir, ibunya mengetahui pernikahan nya dengan Eunha, hanya lha sebuah jalan untuk balas dendam. Dia menyetir, dengan kecepatan yang tinggi.


Samapi di apartemen dia masuk ke dalam kamar Eunha, dan menemui Eunha dalam keadaan masih tertidur di tempat tidurnya.


Eunha mendengar seseorang yang masuk ke dalam kamarnya. Dia sontak mengatakan "Aku tidak akan pergi. Tolong katakan pada tuanmu, untuk mengngembalikan ponselku!"


"Cihh,,, jika tidak karena ibu ku yang datang, untuk apa aku kesini? Mendengar kata-kata busuk dari orang sepertimu."


Eunha terkejut, disaat mendengar suara Gavin. Dia bangkit dari tempat tidurnya, lalu menatap Gavin penuh dengan kebencian.


"Ini kesempatan untukku. Aku akan memberitahu ibunya perlakuan Gavin terhadapku."


Bicara dalam hati. Gavin tertawa terbahak-bahak sembari mendekati Eunha.


Eunha mundur perlahan sambil merasa ketakutan. Gavin terus maju, dengan senyuman jahat dipipinya.


"Oh iya, apakah kamu sedang berpikir untuk kabur?"


"Jangan mendekat!  Jangan mendekat!"


Eunha teus mundur, sampai mentok dengan dinding kamarnya. Gavin mendekatinya, dan menempelkan tangan ke dinding.


"Wajah yang polos, dan menjijikan."


"Apa? Menjijikkan?"


Berusaha untuk tidak takut, dan membantah Gavin. Gavin terharu melihat keberanian Eunha. Dia tersenyum jahat, sembari menekan kedua pipi Eunha dengan kuat. Eunha merasa kesakitan.


"Jika kamu masih ingin hidup, maka jangan sekali-kali memberitahu siapa pun apa yang telah kamu rasakan di tempat ini?"


"Eunha merasa kesal, dia berusaha keras mendorong Gavin. Sehingga Gavin terjatuh kelantai, dan Eunha berlari dari dalam ruangan itu. Tapi sangat di sayangkan, karena usahanya masih sia-sia. Setelah di lantai bahwa, dia mendapati ibu Gavin dengan beberapa pengawal, serta Krystal kakak iparnya.


"*Tolong maklumi kekurangan saya dalam menulis cerita ini!


Jangan lupa berikan vote dan komentar iya! Sebuah vote dan komentar dari kalian bagaikan seribu kebahagian untuku."

__ADS_1


~Jangan lupa menggunakan masker disaat bepergiaan! Dan tetap jaga jarak! Semoga dinia kita cepat lekas sembuh seperti sedia kalah.~



__ADS_2