Bos Jahat

Bos Jahat
Bab 19


__ADS_3

Gavin mendorong Eunha dan terjatuh kelantai. Eunha menangis terisak-isak.


Gavin melirik dengan kekesalan lalu pergi meninggalkan tempat itu. Acaranya  begitu ramai. Ayah Gavin terlihat bahagia begitu juga dengan nyonya Firtz yang menyapa tamu. Gavin menggambil segelas wine dan bersulang pada para tamu.


Krystal memasuki acara itu dengan identitas seseorang. Dia berpakaian seolah-olah dirinya adalah seorang mata-mata. Dia naik ke lantai atas, dan memperhatikan target yang ingin dia selesaikan.


Seorang pria yang terlihat begitu mempesona hadir di tempat itu. Dia memperhatikan sekelilingnya, dan terlihat bahwa dia sedang mencari seseorang dengan kebingungan. Dia meneguk wine miliknya "Dimana dia?"


Bicara dengan pelan. Dia menggambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Kai. "Perhatikan wanita itu! Dia tidak bisa sampai terluka, aku akan mulai melakukanya sejam sebelum pesta dansa." Mengantongi kembali ponselnya dan pergi berkeliling di rumah white.


Eunha menghapus riasan di wajahnya. Dia berdiri dengan perlahan dan merasa begitu pusing. Dia menggengam erat gaunya dan berusaha untuk pergi dari tempat itu.


Barry yang berjalan sembari memperbaiki jasnya, melihat Eunha. Dia segera mendekati Eunha dan terkejut di saat melihat wajah Eunha yang baru menangis.


"Apa yang kamu lakukan disini? Apakah sesuatu terjadi?"


Eunha menoleh ke arah Barry dan berusaha untuk tersenyum. Dia tidak ingin memberitahu orang lain. Barry membantunya berdiri dan mendudukkanya di sebuah kursi, lalu pergi mengambilkan segelas air putih.


Eunha memperbaiki pakaianya dan sepatunya, dia melihat seseorang yang mencurigakan. Dia berpikir untuk mengikuti orang itu. Wanita mencurigakan itu berdiri dan menoleh ke belakang. Eunha pun segera bersembunyi di balik tirai. Wanita itu menggambil ponselnya dan bicara pada seseorang "Aku akan melakukanya. Biarkan aku yang membunuh bapak tua itu! Dia bagianku, dan aku rasa sudah waktunya kita melakukanya. Aku sudah periksa sekeliling dan pengaman sudah aku amankan."


Eunha terkejut mendengar hal itu, dia menutup mulutnya dengan kedua tanganya. Sekujur tubuhnya merinding dan gemetaran mendengarkan hal itu. Wanita itu pergi dari tempat itu, Eunha ingin segera memberi tahu Gavin dan mengirimkan pesan pada Gavin.


"Gavin, cepat bahwa tuan Firtz dan yang lainnya dari tempat ini! Seseorang akan membunuhnya. Seorang wanita asing ada di lantai atas sedang memantau acara ini."


Eunha jalan perlahan dari tempat itu, dengan kepala pusing dan keadaan lemah. "Dia tidak akan mempercayaiku. Aku akan segera kesana, jika tidak mereka akan...?" Bicara dengan ke kwatiran.


"Barry, membawa segelas air putih. "Ini minum du..." Dia melihat kiri, kanan dan mengerutkan dahi. "Dia bahkan tidak peduli. Aishhhh kemana dia?"


Barry meninggalkan air tersebut di tempat itu. Dia pun pergi kelantai bahwa dan tidak di sangka saat berada di tangga Barry memperhatikan seseorang pria yang membawa senjata. Dia mendekati pria itu, namun pria itu menyadarinya dan segera melarikan diri. Barry mengejarnya sembari berusaha menghubungi Lyman. Tetapi Lyman tidak membawa ponselnya ke acara.


Gavin tersenyum dan meletakkan gelasnya. Dia melihat ponselnya dan tersenyum sinis. "Apakah wanita ini benar-benar tidak tau malu? Ingin melakukan hal bodoh agar aku peduli padanya. Tidak di sangka seorang wanita sepertinya ingin membodohiku." Bicara dengan jengkel dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam kantongnya.


Tepat pada pukul 21:13Pm.


Serangan terjadi di acara tersebut. Seseorang menyerang tuan Firtz dan juga nyonya Firtz. Mereka bersimpah darah, dan suara senjata itu membuat orang pada ketakutan dan terburu-buru. Eunha panik dia berlari dari lantai atas dan berdiri di tangga terakhir dia melihat sekelilingnya. Dia mencari Gavin dengan terengah-engah. Dia melihat kelantai atas, dan seseorang yang memegang senjata sedang membidik ke arah Gavin.

__ADS_1


Eunha berlari dan berteriak pada Gavin. Gavin mengeluarkan senjatanya dan menyerang balik para orang asing tersebut. Lyman yang penakut pergi mencari bantuan.


"Habislha kau Gavin Firtz." Seorang pria yang sedang membidiknya dan bicara berbisik sembari tersenyum jahat.


"Gavin jangan berdiri disana!" Eunha yang berlari ke dekat Gavin dengan keadaan lemah. Gavin menghela napas dan tidak menghiraukanya. "Wanita ini benar-benar."


Dalam beberapa detik sebuah suara letusan terdengar sangat kuat. Semua orang panik dan Eunha terjatuh di pelukan Gavin. Eunha menjadi korban dari kekacauan tersebut.


Pria itu menyuruh mundur pada pada anak buahnya. Dia begitu terkejut di saat melihat Eunha yang terluka. "Bagaimana bisa ini terjadi?" Bicara dengan kwatir dan segera beranjak dan membawa pergi senjatanya.


Gavin terkejut di saat mengetahui Eunha tertembak. "Wanita ini, mengapa dia melakukanya?" Melihat Eunha yang bersimpah darah. Eunha memegang wajah Gavin dengan darah di tanganya dan mengatakan "Apakah kamu baik-baik saja?"


"Aiszzz. Apakah kamu selalu bodoh?"


"Aku hanya ingin meyelamatkanmu. Apakah itu bodoh?" Bicara dengan terpatah-patah dan lemah.


Satu hari berlalu dengan kekacauan dan penuh kesedihan. Tuan Firtz dan nyonya Firtz meninggal di malam itu. Eunha terbaring di rumah sakit dengan luka di bagian lengan.


Gavin dan Lyman berduka. Mereka merasa begitu sangat terpukul akan hal itu. Lyman semakin merasa bahwa dirinya akan hidup dengan kekerasan karena mereka sudah jadi anak yatim.


Barry sebagai dokter keluarga Firtz begitu mempedulikan keadaan Eunha. Dia merawat Eunha dan terkejut di saat mengetahui Eunha sedang hamil 5 minggu itu. Eunha terbangun dia melihat langit-langit ruangan itu dengan samar-samar.


"Jangan banyak bergerak! Aku akan memeriksa keadanmu lagi."


Barry melakukan tugasnya sebagai seorang dokter. Dia tersenyum pada Eunha. "Apakah kamu merasa lebih baik?"


Eunha tersenyum pada Barry. "Mengapa aku ada disini?"


"Apa kamu tidak ingat?"


"Oh iya, apakah tuan dan nyonya Firtz baik-baik saja?"


"Mereka sudah tidak bisa di selamatkan malam itu. Dan mereka sudah tenang di alam sana."


"Ba,,, bagaimana bisa?"

__ADS_1


Raut wajah Eunha berubah dengan sangat sedih mengetahui hal itu. Dia meneteskan air matanya. Barry yang melihat itu langsung berusaha menghibur Eunha. "Kamu tidak perlu bersedih! Itu sudah takdir yang tertulis di bumi. Yang penting kamu dan bayimu tidak apa-apa."


"Bayi?" Eunha terkejut di saat Barry mengatakan tentang Bayi.


"Apakah kamu tidak mengetahuinya? Aizzz aku sudah mendungga ini. Kamu mengandung bayi yang masih berumur lima minggu. Malam itu kamu benar-benar nekad bagaimana jika sesuatu yang serius terjadi untukmu dan bayimu?"


"Me,,, mengapa ada bayi?" Eunha kebingungan. Barry yang memeriksa infus Eunha tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Seharusnya kamu bahagia. Kenapa jadi terlihat seperti orang yang tidak menginginkan hal itu?"


"Ta,,, tapi aku dan Gavin akan bercerai. Dan sekarang, bagaimana ini?"


"Aku akan membicarakanya dengan Gavin. Aku tau Gavin orangnya baik, dia tidak akan membiarkan bayinya terluka. Kamu jangan terlalu banyak berpikir!"


"Barry, bagaimana jika dia tidak peduli?"


"Percayakan hal ini untukku."


"Tidak tidak. Kamu jangan melakukan itu. Aku mohon! Lebih baik kamu jangan memberitahu dia soal ini!"


"Mengapa kamu harus menyembunyikan hal yang bisa mengubah hidupnya?"


"Kumohon! Dia tidak pernah mengiginkan seorang bayi dariku. Mohon jangan beritahu dia soal ini. Kumohon!"


Waktu begitu cepat berlalu. Sebulan penuh hidup mereka tanpa tuan dan nyonya Firtz. Gavin belum mengunjungi Eunha selama kejadian itu. Dia tinggal di rumah white bersama Lyman.


Eunha tinggal di apartemen milik Gavin. Dia selalu menunggu kedatangan Gavin tapi itu sangat sulit. Dia ingin menghibur Gavin, namun dia takut jika Gavin merasa begitu emosi karena melihatnya. Dia memnyiram tanaman bunga miliknya. Seseorang membunyikan bel apartemen.


"Tunggu sebentar!"


Eunha membukakan pintu tersebut. Dia terkejut di saat melihat yang datang Gavin. Dia benar-benar ingin memeluknya. Tapi dia begitu ketakutan dan tersenyum pada Gavin.


"Apakah begitu caramu menyambut tuan rumah?"


"Ehhh, silahkan duduk tuan!"

__ADS_1


Gavin tidak terlihat seperti biasanya. Dia duduk dan bertanya tentang keadaan Eunha. Ini adalah pertama kalinya bagi Eunha, dipedulikan oleh Gavin.


~Jangan lupa menggunakan masker disaat berpergian! Dan tetap jaga jarak. Semoga dunia kita cepat lelas sembuh, seperti sedia kalah.~


__ADS_2