
Ibu Gavin tersenyum hangat pada Eunha. Krystal menatap tajam dengan penuh kebencian. Eunha terlihat begitu menyedihkan, dan ibu Gavin sempat berpikir hal-hal aneh.
"Eunha, ada apa? Apakah kamu di perlakukan tidak baik sama Gavin?"
"Nyonya, maafkan aku. Gavin memperlakukanku dengan sangat baik."
Menundukkan kepalanya, sembari menginggat perkataan Gavin. Dia takut memberi tau, kebenaran yang dia alami. Ibunya Gavin mendekati Eunha dan memeluknya dengan erat. Dia menepuk-nepuk pundak Eunha dengan kasih sayang seorang ibu.
"Bersabarlha! Ibu bisa yakin kamu akan kuat."
Eunha terkejut, bercampur terharu. Dia pun memeluk balik nyonya frits sembari meneteskan air mata. Mereka tampak dekat, bagaikan ibu dan anak. Krystal yang melihat itu, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Wajahnya terlihat begitu tidak senang dengan kekompakan ibu dan menantunya itu.
"Iya elah, apakah dia berusaha merebut ibuku juga?"
Krystal meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Gavin. Dia merasa kesal tinggal lebih lama disana. Melihat kekompakan antara nyonya firts dan Eunha.
"Eunha, ibu membawakan bahan-bahan makanan. Kamu pasti begitu kesulitan untuk memikirkan makanan suamimu."
"Dia tidak,,,dia gak sulit untuk dilayani, nyonya."
Nyonya Firts, menyuruh pengawal nya menggambil bahan-bahan makanan yang sudah dia siapkan di dalam mobil. Dia bertanya pada Eunha, tentang apa yang telah di rasakan setelah menikahi keluarga Firts.
Dia juga mengajarkan beberapa masakan. Dan memberitahu Eunha, makannan kesukaan Gavin. Nyonya First, terlihat begitu baik. Krystal yang hanya duduk di sofa, dengan menganggkat kakinya, lalu menyilangkan.
"Gavin, kenapa belum kelihatan?"
"Ibu, begitu merindukan ku kah?"
Gavin melangkahkan kakinya menuruni tangga. Dia mendekati ibunya, dan memeluknya dengan hangat. Ibunya mendorong Gavun, dan mencubit perutnya.
"Bagaimana kamu memeluk ibu? Istrimu bisa salah paham!"
Memperingati Gavin, untuk tidak bermanja setiap saat pada ibunya. Gavin cemberut dan melihat kotak makanan yang berisi makanan kesukaanya. Dia tersenyum, dan menggambil kotak makanan itu, sembari duduk.
"Ibu aku ada urusan. Aku mau pulang lebih awal."
Krystal yang merasa tidak senang itu, beranjak dari tempat duduknya. Dia menerima sebuah pesan dari salah satu teman clubnya. Dia begitu terkenal di club, dengan keliaranya menggoda para hidung belang.
Gavin tidak memperdulikan Eunha. Dia makan dengan lahap sendirian, dia bahkan tidak berbicara pada Eunha disaat ibunya ada disana. Ibunya yang memperhatikan itu, merasa ada sesuatu yang tidak benar diantara mereka.
"Gavin, ibu ingin mengundang kalian berdua makan malam di rumah!"
"Kenapa repot-repot? Bukankah ibu tau, aku begitu sangat sibuk."
Eunha menoleh ke arah Gavin, sembari memasang wajah yang sedih. Dia tidak bisa berkata-kata. Dia merapikan dapur, dan menyimpan bahan-bahan makanan yang di bawah nyonya Firtz.
"Eunha, ibu mau pergi dulu. Oh iya, jika ada masalah kamu jangan sungkan mengatakan pada ibu!"
"Dia mengatakan ibu?" Eunha bicara dalam hati. Begitu juga dengan Gavin yang memasang wajah kesalnya.
__ADS_1
"Dan jika Gavin, membuatmu tidak nyaman kamu bisa menghajarnya sesuka hatimu." Sembari tersenyum dan mendekati Eunha lalu memeluknya.
"Kenapa ibu memeluk ****** itu?" Bicara dengan pelan.
"Ibu akan sering-sering mengunjungimu. Jika kamu bosan, kamu juga bisa datang menemui ibu! Maafkan Gavin, dia memang keras kepala. Dan tolong jaga dia baik-baik! Kamu harus selalu menyiapkan makanan lebih awal!"
Kehangatan yang dinterima Eunha, membuatnya merasakan kasih sayang seorang ibu. Dia tidak berbicara apa pun. Dia hanya tersenyum hangat, dan menggelengkan kepala pada nyonya Firtz.
Gavin tampak begitu kesal. Dia berdiri, dan mengantarkan ibunya ke depan. Eunha tersenyum pada nyonya Firtz. Gavin yang melihat hal itu, ingin memberikan peringatan pada Eunha.
Setelah beberapa jam, Eunha telah merapikan semuanya. Gavin menggambil ponselnya dan beranjak pergi. Eunha yang mendengarkan kata-kata hangat dari nyonya Firtz, membuatnya menjadi lebih baik.
Gavin melangkahkan kakinya menaiki tangga. Lalu menoleh ke lantai bawah, dan melihat Eunha yang masih sibuk. Dia merasa kesal setiap melihat Eunha.
"Wanita menjijikkan."
Kediaman keluarga Jean.
Seorang pria yang duduk sembari memainkan laptop miliknya. Dia tampak begitu serius, mengerjakan sesuatu. Seorang wanita datang dan membawakan semangkok soup.
"Tuan, jangan terlalu serius! Aku membawakan semangkok soup burung darah. Tuan harus mencicipinya, sebelum dingin!"
Barry Jean adalah seorang putra dari pengusaha terbesar di Eropa. Dia hidup serba dengan kemewahan. Akan tetapi kepolosannya, yang selalu membuat orang lain tidak mengetahui siapa dirinya.
Barry, menjalani kehidupan yang cukup mandiri. Dia berprofesi sebagai seorang dokter. Dia bekerja untuk Gavin Firtz, dan berteman sejak kecil.
"Bibi, kenapa selalu bersikap seperti ini?"
"Benarkah? Apakah aku jadi kurus? Coba aku lihat?"
Seoarang pelayan yang sudah cukup lama bekerja untuk keluarga Jean. Dia begitu perhatian dengan Barry. Tetapi Barry selalu bersikap kekanak-kanakan.
Barry berdiri dan mencari cermin. Dia melihat dirinya, melalui cermin, sembari berkata-kata. Bibi Van yang melihat sikap tuan nya itu tersenyum, dan menggelengkan kepala.
"Dia masih saja begitu."
Seseorang wanita yang berpakaian kantoran masuk ke dalam rumah. Dia kakak Barry Jean. Namanya Lusi Jean, yang bekerja sebagai sekretaris di perusahaan Gavin Firtz. Mereka tinggal di kota yang sama, namun Lusi Jean sangat sering datang untuk menemui adik nya.
Orang tua mereka meninggal 4 tahun yang lalu. Di mana disaat Barry dan Lusi sedang pergi menemui kakek mereka. Sesuatu telah terjadi pada keluarga Jean. Bahkan kakeknya, menghilang tanpa jejak pada saat itu.
Itulha alasan Barry Jean untuk tetap menjadi seorang dokter, dan menyuruh seseorang untuk mengurus perusahaannya. Dia masih tetap mencari tau, siapa pelaku pembunuhan ayah dan ibunya 4 tahun yang lalu.
Lusi Jane wanita yang berkarier, dan berkharisma. Dia di kagumi beberapa orang, dan mendapat banyak pujian. Namun kepolosan yang membuat nya selalu merendahkan hati. Dan tidak terlihat bahwa mereka anak dari pengusaha besar.
"Nyonya Jane."
"Ehhh, bibi Van."
"Silahkan masuk nyonya! Aku akan membuatkan semangkok soup untukmu."
__ADS_1
Lusi tersenyum hangat, dan melihat pelayan itu. Dia mengatakan untuk tidak repot-repot. Akan tetapi bibi Vannya itu begitu berisi keras, untuk membuatkan semangkok soup kesukaan Lusi.
"Dimana si anak bayi itu?"
Barry Jane mendengarkan kakaknya. Dia sontak keluar dari kamarnya, dan cepat-cepat melihat Lusi. Dia pun melompat memeluk kakanya itu, sembari mencium pipi Lusi.
Lusi marah, dan mendorong Barry, sembari memasang wajah galaknya.
Setiap bertemu, mereka selalu seperti itu. Tidak pernah akur satu sama lain.
"Haizz,,, apa apa ini?"
"Aku sangat merindukan kakak."
"Heh,,, kamu memang sangat aneh. Kamu pikir saya bantal guling yang dipeluk secara sembarangan?"
Barry begitu menciut, dan menatap Lusi dengan kesal. Dia pun melangkahkan kakinya dari tempat itu. Lusi mengeleng-gelengkan kepalnya.
"Sampai kapan dia jadi bayi?"
"Apa? Kakak mengataiku seorang bayi?"
"Barry, besok ada party. Kamu harus bisa jadi patner ku!"
"No, aku gak mau." Bersikap sok cuek dan membalikkan badanya.
Lusi, melihat Barry. Dan memanggil nya, lalu mwngatakan bahwa Barry bisa memeluknya dengan sesuka hati. Barry pun tak sungkan langsung mau menerima permintaan kakaknya itu.
"Tapi mengapa aku yang harus jadi patner kakak?"
"Apa itu penting? Tapi kamu harus berpura-pura jadi pacar ku juga!"
"Whahahahaaa. Pasti ini karena kakak gak punya pacar kan? Seharusnya kakak bisa lebih baik pada pria! Jika tidak bagaimana klo kakak bakalan jadi sendiri terus?"
"Siapa bilang aku akan sendiri? Begitu banyak pria yang tertarik pada kakakmu ini."
"Benarkah? Tapi aku tidak bisa mempercayainya."
"Hanya saja, aku lagi sedih. Makanya tidak ingin memiliki kekasih."
"Apakah seseorang telah mencampakkan kakak? Siapa dia? Dan apa haknya, menyakiti kakak?"
"Kamu jangan berlebihan! Kakak hanya bisa menerima nasib. Gavin sahabatmu itu, sudah menikah. Jika dia bahagia maka aku juga akan senang. Lagian kakak tidak pernah menganggap nya untuk jadi serius."
"Apakah kakak menyukai Gavin?"
"Itu dulu. Dia juga udah punya istri. Oh iya aku dengar, bahwa kamu akan tinggal di rumah keluarga Firtz. Mengapa kamu harus tinggal disana?"
"Tuan Firtz, akhir-akhir ini sering megeluh. Dan penykitnya makin parah, jika aku tidak ada disana nyonya Firtz akan kesulitan."
__ADS_1