
Pagi hari.
Nyonya Firtz, membantu pelayannya untuk menyediakan sarapan. Dia selalu bersikap seperti itu. Suaminya datang dan tersenyum.
"Apa tuan Firtz sudah merasa lapar?"
Tanya nyonya Firtz, sembari meletakkan segelas susu di meja. Tuan Firtz pun duduk di ruang makan, dan memperlihatkan sesuatu pada Nyonya Firtz.
"Apa ini?"
"Aku mendapatkanya di kamar Gavin."
Nyonya Firtz memperhatikan dengan seksama. Dan mengetahui, Gavin menyuruh Eunha untuk memakan obat konprepsi. Nyonya Firtz mengerutkan dahi.
"Kamu tidak usah kwatir! Aku akan mengurus hal kecil ini."
Membuang obat tersebut. Dan menenangkan tuan Firtz. Dia menggambil segelas juice dan memberinya pada tuan Firtz. Nyonya Eunha sedikit kwatir soal hubungan Gavin dan Eunha.
"Aku akan menyuruh Gavin menjemput Lyman di bandara. Dan malam ini juga kita perlu bicara pada mereka!"
"Baiklha. Aku juga sudah memikirkannya."
Di taman rumah white, Barry menatap danau.
Dia berdiri menghadap timur, sembari menenangkan pikiran. Tak lama kemudian ponselnya berdering. Dia menempelkan ponselnya ke telinga.
"Barry, bisakah siang ini kita bicara?"
Terdengar suara dari dalam ponsel.
"Wah,,, ternyata kakak merindukanku iya?"
Merasa senang, karena Lusi Jane meneleponnya. Dia memang selalu bersikap seperti anak-anak. Seorang pelayan datang menghampiri Barry, dan mengatakan.
"Tuan, nyonya Firtz ingin bicara denganmu!"
"Iya, aku akan kesana!"
Nyonya Firtz tampak memperhatikan ruangan Barry. Dia melihat foto masa kecil Barry, dan tersenyum. Barry masuk ke dalam ruangan itu.
"Pagi nyonya. Apakah nyonya mencariku?"
"Silahkan duduk dulu! Kamu jangan panggil aku seperti itu! Kamu bisa memanggilku dengan sebutan bibi!"
"Wheheheh, baiklha bi."
__ADS_1
Mereka berdua duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Nyonya Firtz ingin membicarakan soal obat penyubur kandungan. Dan meminta bantuan pada Barry untuk memberikan Eunha obat penyubur. Dia juga menyuruh Barry, untuk meyakinkan Gavin agar mencintai Eunha dengan tulus.
"Dan bagaimana jika kamu mendekati Eunha? Aku merasa sangat kwatir tentang hubungan mereka. Aku tidak yakin Gavin akan mencintai Eunha dengan tulus. Jadi untuk sementara, aku mengizinkanmu untuk mendekati Eunha, dan kita harus melihat bagaimana reaksi Gavin."
"Tapi bibi?" Kwatir, dan gelisah.
"Kamu jangan takut! Kamu hanya perlu membuat Gavin merasa cemburu pada mu! Untuk soal di rumah white, aku akan menyuruh dokter lainnya berjaga. Kamu bisa tinggal di apartemen, tapi kamu harus memastikan mereka untuk bisa saling menyadari tentang perasaanya!"
Apartemen Gavin
Gavin menggambil ponselnya dan hendak pergi ke kantor. Dia melihat Eunha sedang membuatkan sarapan. Dia mengabaikanya, dan pergi beranjak. Di depan apartemen dia bertemu dengan Barry.
"Hey bro."
"Apa yang membawamu kesini?" Tanya Gavin dengan nada datar.
"Aku ingin menemui nyonya muda. Apakah aku di perbolehkan menemuinya?"
"Untuk apa minta izin dariku? Jika mau menemuinya iya pergi saja!"
"Baiklha. Oh iya, aku juga tinggal di apartemen itu." Menunjukkan apartemenya di arah selatan. Gavin menepuk punggug Barry, dan mengatakan " Baguslha, kita bisa saling bertemu, dan mengobrol."
Di sebuah rumah mewah. Terlihat di dalam rumah itu orang-orang yang sangat terbakar, dan hawa yang begitu panas.
Krystal duduk dan mendengarkan arahan Billy. Mereka begitu terlihat serius untuk menjalankan kejahatan. Billy memang sangat paham dalam hal seperti itu.
"Bagaimana caraku masuk kesana?"
"Whehehh, kamu tidak perlu kwatir! Aku sudah mempekerjakan beberapa orang-orangku disana. Dan mereka akan membantumu. Seperti perkiraanku, mungkin keluarga itu sudah waktunya lenyap."
"Bagaimana dengan wanita itu?"
"Kita tidak perlu mengusiknya. Tujuan kita keluarga Firtz, dan untuk sementara mungkin kita tidak perlu menggunakan wanita itu. Gavin juga tidak peduli terhadapnya."
Setelah 3 jam Barry terbiasa mengobrol dengan Barry. Eunha pergi ke market, dan Barry juga ikut. Mereka bagaiakan teman yang sudah kenal sejak lama. Barry membantunya membawa belanjaan.
"Bagaimana klo kita makan di luar?" Barry menanyakan hal itu dengan penuh semangat.
"Tapi aku harus buru-buru pulang. Mungkin Gavin, sebentar lagi pulang. Dia nanti kelaparan menunggu kita."
Eunha terlihat seakan Gavin mau memakan masakannya. Dia tidak ingin orang lain tau bahwa hubungan mereka tidaklha baik.
"Tapi sore ini, Gavin akan menjemput Lyman ke Bandara. Biasanya disaat Lyman kembali dia tidak pernah makan di rumah."
"Benarkah?" Berusaha mempercayai kata-kata Barry. Mereka pergi ke sebuah restoran yang tidak jauh dari apartemen. Dalam pikiran Eunha penuh tanya. Sejak pagi tadi Barry bersamanya, dan tidak pergi kemana pun selain ke tempat yang di datangi Eunha.
__ADS_1
Bandara kota A.
"Selamat datang pak." Sapa para pramugari, dan petugas yang ada di tempat itu. Mereka terlihat begitu menghormati laki-laki yang baru saja keluar dari dalam pesawat tersebut. Tampak pesawat itu, bukanlha pesawat umum.
Pria yang berkulit putih, dan menggunakan switer hitam.Dan stylenya yang terlihat begitu k'ren. Dan berbadan tinggi, dan menggunakan topi hitam, yang membuat hati para wanita terpana.
Dia masuk ke dalam mobil berwarna hitam. Dia tampak seperti seorang bos besar. Di iringi dengan pengawal. Orang-orang berlarian mendekatinya, dan meminta untuk berfoto bareng. Gavin yang menunggu Lyman di bandara, penasaran dengan orang-orang yang berlarian menuju mobil hitam tersebut.
Dia hanya melihat dari dalam mobil. Setelah lima menit kemudian Lyman mengirimkan pesan pada Gavin. "Kak, aku sudah mendarat. Kamu ada dimana? "
Gavin tidak bisa keluar dari dalam mobilnya karena takut jika orang-orang berlarian juga ke dekatnya. Dia seorang pengusaha terbesar, dan orang pasti mengenalinya. Gavin mengirimkan pesan pada Lyman "Aku di parkiran tempat biasa. Segeralha kesini! Aku tidak bisa keluar, orang sangat banyak disini."
Lyman pun melihat mobil Gavin dan segera menghampirinya. Dia masuk ke dalam mobil dan menghela napas. "Ada apa disana?" Tanya Gavin pada Lyman.
"Aku tidak tau. Sepertinya orang yang di dalam mobil itu seorang aktor." Jawab Lyman, dengan nada yang lembut. Gavin menyetir mobilnya, dan pergi ke sebuah restoran yang selalu di datangi Lyman dan Gavin. Lyman mengerutkan dahi dan menoleh ke arah Gavin.
"Apakah kak ipar tidak ikut?"
Gavin melihat Lyman dari kaca spion dan meyetir kembali. Dia tidak menjawab pertanyaan Lyman. Dan bertanya kembali pada Lyman tentang studynya. Lyman menjawab dengan ketus.
Setelah beberapa menit Lyman dan Gavin sampai di restoran tersebut. Mereka duduk di meja nomor 23. Dan memesan Galbi dan Hoe. Gavin terkejut di saat melihat Lyman memesan Galbi. Dia tidak tau bahwa Lyman memakan Galbi yang pertama kalinya, selama beberapa puluh tahun.
"Apa kamu sudah mengubah selera makan?"
"Tentu, karena seseorang pernah mengatakan Galbi dapat mengubah setiap pemikiran, karena rasanya yang sangat lezat." Jawab Gavin sembari tersenyum, dan menggambil ponselnya dari dalam kantong jaketnya.
"Wah,,, disini sepertinya makananya sangat mahal." Eunha mengatakan hal itu pada Barry. Mereka pergi ke sebuah restoran yang di datangi Gavin dan Lyman juga.
Barry tersenyum sembari menuntun Eunha ke meja no 24. Mereka duduk dan tidak memperhatikan Gavin dan Lyman. Seorang pelayan datang dan membawa daftar menu.
"Nyonya, dan tuan silahkan! Ini daftar menunya. Mau mesan apa?"
Eunha menghela napas dan melihat daftar menunya, lalu mesan makanan. "Tolong berikan aku 2 porsi Galbi dan segelas air putih!"
Lyman menoleh ke arah suara yang mengatakan Galbi tersebut. Dia melihat Eunha dan Barry. Dia begitu sangat senang dan memanggil Eunha dengan suara yang pelan.
"Kakak ipar?"
Gavin terjengang, dan terdiam dalam pikiranya " Mengapa wanita itu kemari?"
" Ehh, Lyman? Bagaimana kita bisa bertemu disini?" Tanya Eunha dan tersenyum pada Lyman. Gavin diam dan menikmati makananya. Dia mengabaikan Lyman yang mengobrol dengan Eunha dan Barry.
__ADS_1
~Jangan lupa menggunakan masker disaat bepeegiaan! Dan jaga jarak! Semoga dunia kita cepat lekas sembuh seperti sedia kalah.~