
Gavin bangun dari tidurnya. Dia merasa begitu sangat pusing. Eunha memasuki kamarnya dan membawakan semangkok soup pereda mabuk. Eunha tersenyum hangat, dan meletakkan soup milik Gavin di atas meja sembari mengatakan "Tuan harus minum soup ini!"
"Aku tidak punya waktu untuk melakukan itu."
Gavin bicara dengan nada datar. Eunha mengerutkan dahi, dan tidak mengerti apa yang dikatakan Gavin. Dia pun menggambil soup tersebut dan memberikannya pada Gavin.
"Aku sudah katakan tidak punya waktu untuk menikmati soup kotormu ini."
"Aku sungguh melakukanya dengan sangat higenis."
"Cepat bawah keluar! Aku tidak akan mengulangi kata-kataku!"
"Mengapa? Ini khusus aku buatkan untuk tuan."
Gavin melihat Eunha dan menggambil semangkok soup yang di tangan Eunha. Dia memperhatikan soupnya, lalu beranjak dari tempat tidurnya. Eunha tersenyum sembari berterima kasih telah menerima soup buatanya tersebut. Eunha pun pergi meninggalkan ruangan itu.
Gavin menjatuhkan mangkok soup tersebut. Dia tidak mencicipi sedikit pun."Brakkk." Eunha menoleh ke belakang, dan menatap tajam Gavin. Dia tidak mengerti mengapa Gavin selalu menganggap dirinya sebagai musuh.
"Ada apa? Apa kamu merasa tidak senang?"
Tersenyum jahat, dan beranjak pergi ke dalam kamar mandi. Eunha merasa tidak terima dan menghalangi jalan Gavin.
"Awas! Aku ingin bersiap-siap ke kantor."
"Apa? Bagaimana bisa orang seperti mu di anggap sebagai bos?"
"Apa yang kamu katakan? Apa kamu sudah bosan hidup?"
"Jika aku katakan tidak. Lalu apa kamu akan menembakku sampai mati?"
Eunha merasa begitu sangat emosional. Gavin mengarut kepalanya sembari menghela napas. Dia tampak membuat Eunha semakin emosi. Dan mengatakan "Apakah seorang wanita kotor seperti mu akan bunuh diri setelah aku menyuruhnya?"
"Kapan kamu bisa menghargai kekwatiran seseorang? Apa sebenarnya tujuanmu menikahiku? Apakah kamu menganggap pernikahan itu hanya sebuah lelucon? Bagaimana bisa kamu bersikap seakan-akan aku musuhmu?"
Eunha tampak marah besar, dan membentak Gavin sembari mengatakan semua apa yang ingin dia tanya selama ini. Gavin berdiri dengan angkuh tanpa memperdulikan perkataan Eunha.
"Jika aku katakan kamu musuhku, apakah kamu akan membunuh dirimu sendiri? Dan satu lagi. Kamu tidak perlu menganggapku sebagai suamimu, dan jangan bersikap sok peduli di hadapnku. Aku tidak akan terpengaruh dengan hal bodohmu."
"Benarkah? Lalu apakah tuan Gavin Firtz bersedia untuk membunuhku? Dan bagaimana bisa kamu menyebutkan sesuatu dengan sesukamu? Sedangkan aku hanya bisa melakukan hal yang tidak bisa aku mengerti. Apakah kamu pantas di katakan manusia?"
"Apakah kamu juga mengatakan hal seperti ini pada William? Aku semakin penasaran, bagaimana caramu membunuh orang yang begitu polos?"
__ADS_1
"Jangan membuatku seakan diriku pembunuh. Aku tidak mengenal William mu itu. Dan sebagai seorang lelaki, apakah kamu pernah bersikap layaknya seorang suami?"
"Oh aku mengerti. Apakah kamu mengiginkanya? Aku memang bisa memahaminya, mungkin karen kamu memang wanita seperti dugaanku, dan pastinya sangat merindukan hal-hal itu. Lalu bagaimana jika kita melakukanya di dalam?"
Gavin melihat ke arah kamar mandi. Dia tersenyum jahat pada Eunha. Mata Eunha mulai berkaca-kaca. Gavin menarik tangan Eunha ke dalam kamar mandi. Eunha memberontak dan berusaha melepaskan gengaman Gavin.Eunha menampar Gavin sembari mengatakan.
"Aku katakan untuk yang pertama dan terakhir kalinya! Aku bukanlha pelacurmu, kamu bisa mencari wanita sesuka hatimu. Tapi kamu telah salah memilih."
Gavin merasa kesal sembari memegangi pipinya yang di tampar Eunha. Dia terdiam sembari melihat Eunha dengan sangat sinis.
"Dan kamu tidak usah kwatir! Aku masih punya hati untuk melepaskanmu. Dan seperti katamu waktu itu. Walaupun kamu menikahiku, dengan sebuah tujuan maka jangan sia-siakan tujuanmu! Aku akan tetap diam. Aku juga tidak berniat memiliki sesuatu yang berhubungan denganmu nantinya. Dan percepatlha tujuanmu! Maka aku akan menggambil surat cerai. Jangan takut dan ragu! Walaupun kamu menganggapku sebagi musuh, namun aku masih punya hati untuk memperlakukanmu sebagai teman."
Eunha menangis dan segera meninggalkan ruangan itu.
Perusahaan Trowa
Lora datang menemui Gavin. Dia jadi pusat perhatian para karywan di sana. Dengan caranya berpakaian yang sangat terbuka, membuat karywan bergosip. Lora berjalan dengan ke angkuhannya.
"Aku ingin menemui Gavin." Bicara pada sekretaris Gavin. Lusi tersenyum, dan mempersilahkan Lora untuk menunggu sebentar. Namun Lora mengatakan "Untuk apa aku menunggu? Aku pacar Gavin, dan kamu tidak usah menyuruhku untuk menunggu!"
Beranjak pergi ke ruangan Gavin. Dalam hati Lusi "Dasar wanita murahan. Masih mengaku pacar Gavin. Apakah dia tidak tau bahwa Gavin sudah punya istri? Cihhh."
Gavin memainkan pena di tanganya sembari megerutkan dahi. Dirinya terlihat begitu memikirkan sesuatu yang sangat serius. Terlihat dari segi wajah, dan kerutan di dahinya. "Mengapa aku semakin memikirkan perkataan wanita itu?"
Eunha tampak bersedih diapun menangis terisak-isak di dalam kamarnya. Dia menundukkan kepalanya, sembari memeluk kedua kaki.
"Mengapa aku harus mempercayai kata-katanya waktu itu? Apakah ayah dan ibu marah terhadapku? Seandainya, waktu itu aku ikut mati bersama mereka. Mungkin kami akan tetap bersama di alam sana. Hikss,,,hiksss."
Pukul 20:30Pm
Gavin membawa Lora ke apartemen miliknya. Eunha sangat terkejut, disaat melihat Gavin bergandengan dengan Lora di depanya. Noris tidak mengerti mengapa Gavin membawa seorang wanita, padahal dia punya istri.
"Wahhh,,, tempatnya begitu indah." Memperhatikan desain di dalam ruangan tersebut. Sembari bicara dalam hati. Eunha melangkahkan kakinya menuruni tangga sembari melihat Gavin dan Lora yang masuk ke dalam ruangan itu.
"Bagaimana? Apa kamu ingin tinggal disini?"
Gavin tersenyum dan mengatakan apa Lora mau atau tidak tinggal di tempat itu. Eunha yang mendengar kan hal itu terkejut, dan mendekati Gavin. Lora menoleh ke arah Eunha, sembari menyilangkan tanganya di depan dada.
"Mengapa dia menatapku seperti itu?" Tanya Lora pada Gavin, sembari berlagak angkuh. Gavin merangkul Lora dan mengatakan dengan nada suara membenci "Dia hanya pelayan."
"Cihhh,,, pelayan tapi belagak seperti tuan rumah. Apakah dia layak sebagai pelayan?"
__ADS_1
Eunha mendekati wanita itu, dan menamparnya. Lalu mengatakan "Apakah kamu wanita murahan, yang datang hanya untuk menggoda suami orang?"
Gavin tercengang. Lora melihat Gavin, dan mulai bermanja, sembari mengelus wajahnya yang kena tampar. Dia pun menyuruh Gavin, untuk membalas tamparan itu. Eunha tersenyum, dan menatap Gavin dengan tajam.
"Honey, lihatlha pelayanmu ini. Apakah kamu tega melihatku di tampar dengan tangan kotornya itu?"
Gavin memarahi Eunha dengan suara yang sangat keras. Gavin menyeretnya ke luar, dan menyuruhnya untuk tidak masuk ke dalam apartemen, sebelum dia meminta maaf pada Lora. Namun Eunha tidak mau meminta maaf.
"Brengsek." Eunha mengatakan kekesalan itu, dan menggambil sebuah batu kecil yang ada di dekat kakinya, dan melemparkanya pada Gavin. "Plak" batu kecil tersebut mengenai punggung Gavin. Dia terhenti, dan menghela napas, lalu beranjak kembali ke dalam apartemen. Dia tidak memperbolehkan Eunha masuk ke dalam apartemen tersebut.
"Harusnya honey jangan membiarkan pelayan seperti itu, bekerja di sini!" Nada yang manja.
Gavin duduk di sofa, dan menoleh ke arah Lora.
"Aku ingin mandi dulu. Jika kamu lapar, kamu bisa memasak sesuatu di dapur!"
"Ada apa dengannya?" Bicara dalam pikiran.
"Gavin berdiri, dan Lora duduk diam dan merasa kesal. Dia pun menanyakan pada Gavin " Apa honey lagi kesal?"
"Tidak, aku hanya ingin mandi dulu."
"Tapi, aku lagi lapar." Lora menahan tangan Gavin, sembari ingin bermanja.
"Klo lapar, kamu bisa masak sesuatu di dapur!"
"What? Aku masak? No aku tidak bisa memasak. Kamu suruh saja pelayan idiotmu itu!"
"Aku tidak ingin melihatnya. Lebih baik kamu yang masak!"
"Apa kamu pikir aku pembantu? Ada apa denganmu? Mengapa tiba-tiba bersikap aneh? Lagian klo aku masak, dan kena minyak panas pasti kulitku akan langsung jelek. Jadi aku tidak bisa."
"Aku juga merasa lapar. Makanya masak lha sesuatu yang bisa di makan!"
"Gimana klo kita pergi makan di luar? Di dekat Club Bar, ada restoran yang baru. Disana tamu-tamunya juga orang yang terpandang semua."
Gavin tidak ingin pergi makan di luar. Dia tetap berusaha keras menyuruh Lora untuk masak. Namun hal itu menjadi pertengkaran di antara mereka berdua. Lora pergi meninggalkan apartemen tersebut. Gavin sengaja melakukan hal itu, karena sudah mulai tau apa tujuan Lora mendekatinya.
Eunha, tertidur di kursi taman yang ada di depan apartemen. Gavin melihat Eunha dari dalam kamarnya. Dia menyuruh Noris untuk membawanya kembali ke dalam kamarnya.
~Jangan lupa menggunakan masker disaat bepergiaan! Dan Jaga jarak! Semoga dunia kita cepat lekas sembuh, seperti sedia kalah.
__ADS_1