Bos Jahat

Bos Jahat
Bab 17


__ADS_3

"Barry, aku peringatkan padamu! Kamu harus berhati-hati dengan wanita itu! "


"Gavin. Apa kamu benar-benar tidak cinta pada dia? Apa kamu tidak takut, jika bibi dan paman tau soal ini?"


Gavin mebalikkan badanya dan melihat Barry. Dia menghela napas, sembari tersenyum. Barry merasa kesal dengan perbuatan temannya itu.


"Aku rasa kamu tidak usah ikut campur. Bagaimana pun ini adalah privasi."


"Gavin, aku hanya mengingatkanmu saja. Dia tidak seharusnya kamu perlakukan seperti itu. Jika kamu tidak mencintainya, maka ceraikan dia! Apa kamu tidak memikirkan masa depanmu dan keluarga Firtz?"


"Aku tidak akan menceraikannya, sebelum mendapat sebuah kebenaran."


Barry merasa tidak enak juga dengan masalah Gavin. Dia terdiam, dan melihat Gavin. Sebenarnya dia tau, tentang kematian William. Namun dia takut jika memberitahu kebenaran itu, tuan Firtz akan jatuh sakit. Dia berusaha untuk menyimpan rahasia tersebut.


"Baiklha. Tapi tolong hargai dia sebagai istrimu! Sebelum orang lain menggambil ahli dirimu."


"Cihhh,,, aku tidak peduli jika orang lain menggambil ahli diriku. Untuk apa aku mencintai, wanita murahan seperti dia."


Ponsel Gavin berdering, yaitu Lora yang menghubunginya. Terdengar suara Lora seperti menangis, sembari meminta maaf pada Gavin.


"Ada apa?"


"Honey, im sorry. Kemarin malam seseorang menculikku sehingga aku tidak bisa menemuimu kembali."


Sandiwara, untuk mendapatkan Gavin kembali. Gavin begitu sangat mencintai Lora, dia pun percaya begitu saja. Dia juga tidak tau apa yang terjadi sebenarnya. Gavin mengajak Lora untuk bertemu siang nanti.


Rumah White


"Tolong kamu hias disini juga!" Perintah nyonya Firtz pada salah satu pelayan. Suaminya duduk di dekat kolam, sembari menikmati segelas tehnya.


"Ayah." Lyman, mendekati ayahnya dan ikut duduk di samping ayahnya. Tuan Firtz tersenyum, dan memandangi kolam tersebut penuh kesedihan.


"Lyman, apa kamu pernah berpikir untuk jadi seorang yang sukses? Dan paling hebat di antara teman-temanmu? "


"Tentu. Tapi aku rasa itu sangat sulit ayah."


Lyman, ikutlha dengan ayah sebentar!"


Tuan Firtz beranjak dari tempat duduknya. Dia mengajak Lyman keruangan nya. Lyman terlihat canggung, selama ini dia tidak pernah di izinkan untuk masuk ke ruangan itu.


Nyonya Firtz tersenyum hangat melihat anak dan suaminya itu. Dia menggambil ponselnya dan menghubungi Gavin. Gavin yang sedang duduk di kursi kerjanya itu, mengerutkan kening dan menerima telpon.

__ADS_1


"Gavin, apakah kamu sudah melihat we-chat ibu?"


"Belum."


"Aihzzz, kamu ini benar-benar tidak bisa di harapkan. Ibu mengirimkan beberapa model gaun beserta stylenya. Kamu tolong bantu istirmu untuk memilih! Sekalian hari ini bahwa lha dia perawatan sebentar!"


"Apakah itu penting?"


"Gavin. Kamu adalah anak tertua di keluarga Firtz, dan kamu juga sudah menikah. Jadi ibu rasa malam ini juga istirmu akan di tunjukkan di publik. Sebagai menantu dari keluarga Firtz apakah kamu ingin membuatnya di tertawakan?"


"Aku tidak punya waktu. Dan aku juga tidak ingin mengenalkannya pada orang-orang. Itu akan membuatku semakin pusing."


"Ohh, jadi kamu tidak ingin memberikan kehormatan pada keluarga Firtz lagi? Atau lamu ingin membawa wanita busuk itu?"


Nyonya Firtz kesal mendengarkan jawaban anaknya itu. Dia tidak ingin membuat siapapun terasa tersakiti. Tapi Gavin hanya menuruti kemauanya sendiri.


"Apa maksud ibu?"


"Apa kamu pikir ibu bodoh? Bahkan kemarin malam wanita itu ingin mencelakaimu. Tapi kamu tidak cukup punya kemampuan untuk mengetahuinya? Atau apakah kamu tau? Jika kamu terus seperti itu, pada keluarga itu, apakah kamu akan beruntung?"


"Apakah ibu tahu sesuatu?"


"Ibu tahu. Makanya itu, kamu kerjakan apa yang ibu katakan! Kamu harus datang bersama menantu keluarga Firtz. Dan jangan membuat wanita yang tidak bersalah itu di tertawakan!"


"Mengapa mereka semua mengatakan wanita itu tidak bersalah. Apa mereka berpikir aku tidak punya alasan tersendiri?


Eunha duduk di kamarnya, sembari melihat-lihat catatan masa kecilnya. Dia membacanya sembari menangis. Pikirannya begitu sangat kacau, dan dia tidak ingin tinggal bersama Gavin lagi. Dia membereskan semua pakaian-pakaianya juga.


Gavin melihat Eunha di dalam kamar. Dia berpikir untuk menjalankan apa yang di katakan ibunya. Walaupun berat baginya untuk melakukan itu. Dia melangkahkan kakinya dan terhenti di saat Eunha bicara sendiri.


"Jika memang aku terlahir untuk sebuah kesialan. Maka aku akan menganggap ini juga kesialan bagiku. Seandainya ayah dan ibu membawaku bersama mereka di alam yang berbeda. Aku tidak akan jadi wanita bodoh, yang tertipu omongan manis seorang pria.


Aku menyesal tidak pernah memililiki pacar selama ini. Dan terpana pada pria yang begitu membenciku. Aku sudah berusaha untuk lebih tangguh, bahkan dia menganggapku sebagai wanita murahan. Bahkan aku melihatnya bermesraan dengan wanita lain. Tapi demi perasaan bodohku, aku membiarkanya. Karena aku yakin, dia akan menerima ku suatu hari nanti.


"Tapi itu tidak mungkin terjadi lagi. Ayah, ibu mengapa kalian begitu tega melihatku seperti ini. Andaikan waktu itu, kita mati bersama. Bahkan aku tidak memiliki siapapun untuk bercerita, dan untuk hidup pun tetap tidak punya tempat. Aku tidak ingin membuat hati siapapun tersakiti. Tapi semua orang hanya bisa menyakitiku. Mungkin di kehidupan yang lalu, aku punya begitu banyak kesalahan. Hiksssssss."


Eunha bicara sendiri, sembari menangis. Dia tidak menyadari Gavin ada di dalam ruangan itu. Gavin pura-pura batuk dan mendekati Eunha. Dia menatap Eunha penuh dengan pertanyaan. Eunha segera menghapus air matanya, sembari membungkukkan badan.


"Maaf tuan. Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu?"


"Hmmm. Kamu ikut aku!"

__ADS_1


"Kemana? Bukankah seharusnya tuan ada di kantor?"


"Iya. Tapi ada yang harus saya kerjakan denganmu."


Lora menghubungi Gavin berkali-kali. Tapi Gavin tidak menjawab panggilan nya. "Mengapa dia tidak menjawab telponku? Apakah dia tau, aku hanya bersandiwara?"


Lora yang duduk di sebuah hotel itu terlihat begitu kesal. Dia memikirkan sebuah cara untuk mendapatkan Gavin kembali. Dia tidak pernah benar-benar mencintai pria. Melainkan hanya mempermainkanya, dan memeras pria. Baginya hal seperti itu sangat bagus, bisa membuat dirinya hidup dengan kemewahan.


"Aku akan membuatnya terkagum-kagum kali ini. Whehehehh."


Krystal bertemu dengan Kai di sebuah restoran terbaik di kota itu. Krystal tersenyum sinis, sembari melihat Kai. Dia merasa benci dengan Kai setelah jarak mereka makin jauh. Kai tersenyum pada Krystal.


"Dasar pria ********. Dia masih beranintersenyum pada ku." Berbisik.


"Apakah aku bisa duduk disini?" Tanya Kai, sembari melangkahkan kakinya ke meja yang ada di depan Krystal.


"Hmm." Krystal tidak menyangkalnya.


"Krystal aku punya kabar baik untukmu." Kai terlihat begitu bersemangat dan raut wajah yang begitu bahagia.


"Apa aku perlu mendengarkanya?"


"Apa? Aku rasa begitu tapi karena kamu tidak mau mendengarkan iya tidak apa-apa."


"Aku masih sibuk. Kamu pesanlha makananmu!"


"Krystal! Bisakah aku datang ke acara keluarga Firtz nanti malam?"


"Apa?" Krystal tidak tau bahwa keluarga Firtz mengadakan party. Dia menggelengkan kepala begitu saja ke pada Kai. Karena Kai juga tidak tau, bahwa Krystal bukanlha anak kandung dari Tuan Firtz.


"Mengapa dia jadi cuek begitu?" Bicara pelan sembari mengerutkan dahinya. Kai menunggu seseorang ke tempat itu. Seorang pria dan wanita asing yang masuk ke dalam restoran itu dan menyapa hormat pada Kai. Mereka adalah ilmuan dari negara R.


Selama ini Kai selelu terlihat begitu biasa-biasa saja. Namun ternyata dia adalah seorang ilmuan terbaik. Tapi dia tidak pernah menunjukkan identitas sebenarnya pada publik. Bahkan ilmuan dari luar negara, bersedia bekerja sama dengannya.


Sebuah gedung yang di penuhi dengan berbagai aksesoris, dan model pakaian yang berkelas. Gavin membawa Eunha ke tempat itu. Terlihat bahwa Gavin, seseorang yang begitu di hormati di tempat itu. Dia mendapat sapaan dari para karywan, bahkan direktur pemilik toko tersebut.


"Mengapa tuan membawaku kemari?"


"Jangan panggil aku dengan sebutan tuan di tempat ini!" Berbisik pada Eunha. Dia pun menuruh para karywan untuk membawa Eunha melakukan perawatan khusus, dan mendandaninya se anggun mungkin.


Eunha begitu ragu. Gavin pun mengatakan bahwa ibunya menyuruh agar Eunha berpenampilan layaknya seorang menantu dari keluarga Firtz. Eunha begitu cangung, dan pergi mengikuti perintah Gavin.

__ADS_1


~Jangan lupa menggunakan masker disaat bepergiaan! Dan jaga jarak! Semoga dunia kita cepat lekas sembuh, seperti sedia kalah.~


__ADS_2