Bos Jahat

Bos Jahat
Bab 16


__ADS_3

Pukul 22:00Pm.


Gavin dan Eunha kembali ke apartemen. Lyman diantar oleh Barry ke rumah white. Eunha masuk ke dalam kamarnya. Begitu juga dengan Gavin. Setelah beberapa menit Lora menelpon Gavin, dan menyuruhnya untuk menemui Lora di kediamannya.


Gavin melangkahkan kakinya. Eunha melihat Gavin keluar dari kamarnya, dan menanyakan kemana dia akan pergi. Gavin mengabaikan Eunha, dan pergi begitu saja. Dalam hati Eunha, bertanya-tanya kemana Gavin akan pergi di tengah malam. Dia mengikuti Gavin, dengan diam-diam.


Setelah beberapa menit, Gavin dan Lora bertemu. Mereka berpelukan seperti pasangan. "Mengapa menyuruhku kesini di tengah malam begini?" Tanya Gavin.


"Aku merasa bersalah padamu waktu itu. Dan untuk itu, aku ingin memberikanmu sebuah kejutan."


"Kejutan?" Mereka berdua pergi ke dalam ruangan yang tidak jauh dari taman tersebut. Eunha sampai di tempat itu, dan mencari Gavin dan Lora. Di depan gerbang, Eunha bertemu dengan seorang pria yang terlihat begitu sangat ramah.


"Upsss." Eunha yang mengendap-endap terkejut di saat melihat seorang laki-laki berdiri di hadapanya, secara tiba-tiba.


"Mengapa wanita berkeliaran di tengah malam begini? Apakah kamu mencari sesuatu?"


Pria itu berdiri, sembari memperhatikan Eunha, dan mengerutkan dahinya. Eunha merasa malu, dan membalikkan badanya. Laki-laki itu menahan Eunha, dan tersenyum hangat.


"Tunggu sebentar!"


"Ada apa?"


"Apa kamu yang bernama Eunha?"


Eunha kebingungan, dan linglung. Dia terkejut di saat pria itu mengatakan namanya. Eunha terdiam, dan tidak mengakui bahwa dirinya Eunha.


"A,,,a,,,aku tidak kenal Eunha."


"Lalu apa yang kamu lakukan disini?" Mengerutkan dahi sembari kebingungan. Dia salah satu teman komplotan Lora, untuk mencelakai Gavin. Dia sengaja mengawasi di depan gerbang. Eunha jadi merasa penasaran, dan mencari tau, siapa laki-laki tersebut.


"Oh iya, aku temanya Lora."  Eunha berpura-pura mengenal Lora. Laki-laki tersebut, berpikir bahwa Eunha wanita yang di tunggu Lora. Dia pun segera menyuruh Eunha masuk ke dalam. "Oh ternyata nyonya."


"Apa?" Tanya Eunha dengan kebingungan.


"Bukankah kamu nyonya Krystal, yang ingin bekerjasama dengan nyonya Lora?"

__ADS_1


"Apa maksudnya?" Bicara dalam pikiran, dan penuh tanya. Eunha pun berpura-pura menjadi Krystal. Entah mengapa dia memiliki firasat yang buruk mengenai kedatangan Gavin ke tempat itu.


Gavin dan Lora ngobrol di dalam kamarnya. Lora memberikan segelas wine pada Gavin, sembari tersenyum. Sebelumnya Lora telah memasukkan sesuatu ke dalam wine milik Gavin.


"Lora, apa kamu memintaku ke sini untuk menikmati minuman ini bersama?"


Merasa bahagia, dan memperhatikan Lora dengan dekat. Lora tersenyum dan bermanja pada Gavin, dia menggambil ponselnya, dan mengirimkan pesan pada Krystal. "Kamu harus datang 15 menit lagi! Aku akan membuatnya mabuk berat."


"Honey, aku minta maaf."


"Untuk apa?" Sembari merangkul Lora, dan menatapnya penuh dengan cinta. Lora tersenyum, dan mengelus-elus tangan Gavin. "Waktu itu, aku pergi dan mengabaikan perkataanmu. Aku terlalu egois, dan membiarkanmu kelaparan."


"Whehehh, sebelumnya aku sudah memaafkanmu. Aku juga salah, tapi apa kejutan yang ingin kamu berikan? Aku sudah tidak sabar lho."


"Kamu harus menghabiskan winemu dulu! Aku ingin pergi menggambilkanya untukmu." Tersenyum dan melangkahkan kakinya dari ruangan tersebut, sembari tersenyum jahat.


Gavin meminum wine tersebut, dan mulai merasa pusing. Sementara Eunha, masuk mengendap-endap mencaritahu apa yang dilakuakan Lora dan Gavin. Dia melihat sebuah ruangan yang terbuka, dan mengintip ke dalamnya. Dia melihat Gavin tertidur, di sofa dengan wine di atas meja. Eunha mencoba masuk, dan mencari siapa teman Gavin di dalam.


"Panas." Gavin merasa sangat kepanansan, dan membuka pakaiannya. Eunha terkejut di saat melihat Gavin membuka pakaiannya. Eunha tidak ingin melihat apa yang akan dilakukan Gavin dan Lora. Dia berpikir untuk pergi, namun entah mengapa dia tidak ingin membiarkan hal itu terjadi.


Dia ingin memiliki perusahaan Trowa, dan menghancurkan kehidupan keluarga Firtz.


"Lora, aku ingin."


Eunha yang mendekati Gavin, mala kesal dengan perkataan Gavin yang mengucapakan nama Lora. Eunha berusaha membawa Gavin kembali ke apartemen. Setelah 5 menit Eunha berhasil membawanya ke dalam mobil. Eunha menelpon Noris, untuk menjemput Gavin. Gavin menatap Eunha dan merasa begitu sangat pusing.


Eunha mendudukkan Gavin di dalam mobil. Sembari menunggu Noris, Eunha mencoba menyadarkan Gavin, dan menyuruhnya untuk tidur. Namun Gavin merasa sangat ingin berhubungan. Obat yang di berikan Lora, membuat Gavin, tidak bisa menahan diri.


Eunha berusaha menghindar, namun tenaga Gavin begitu sangat kuat. Eunha menangis, dan merasa jijik dengan Gavin. Dia tidak ingin melakukan hal itu berkali-kali dengan Gavin. Baginya hal seperti itu sangat tidak berarti, karena Gavin tidak pernah mencintainya sepenuh hati.


Setelah beberapa menit Gavin sadar, apa yang sedang dia lakukan. Dia tidak peduli, dan tetap melakukanya sembari mengatakan. " Kamu yang memberikanya, bukan aku yang datang."


"Brengsek."


Krystal masuk ke dalam ruangan itu. Dia tidak menemukan Gavin, dan merasa kesal. Dia menelpon Lora, namun Lora tidak menjawabnya.

__ADS_1


"Sial, wanita itu berani-beraninya mempermainkanku." Krystal bicara dengan nada keras, dan melemparkan ponselnya.


Pagi hari


 


Gavin terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa begitu sangat pusing. Dia mengingat apa yang terjadi kemarin malam. Dia membelahak, dan mengaruk kepalanya dengan kesal. "Aishk,,, kenapa aku bisa melakukannya dengan wanita itu lagi?"


Ponsel Gavin bunyi. Sebuah pesan dari nyonya Firtz. "Gavin malam ini kita mengadakan sebuah acara. Kamu dan istrimu datang iya! Jangan sampai telat! Kita juga kedatangan tamu penting."


Meletakkan ponselnya, dan menghela napas. "Mengapa dia ada disana? Dan Lora kemana dia pergi setelahnya? Apakah mereka bekerja sama untuk hal seperti itu? Dasar wanita ******, dia beraninya melakukan hal itu, menggunakan Lora? Tapi aku curiga dengan Lora. Semejak pacaran, dia tidak pernah mau aku tidurin, dan apakah dia bersedia memberikanku pada si ****** itu tadi malam?"


Eunha memasak di dapur. Dia tidak meyiapakan serapan untuk Gavin. Karena dia tau, Gavin tidak akan memakanny. Barry datang ke apartemen Gavin, dan membawa beberapa bahan makananan.


"Eunha, apa kamu sudah selesai memasak?" Tanya Barry, sembari melangkahkan kakinya ke dapur. Eunha tersenyum dan melanjutkan masakanya.


"Mengapa tuan Barry kemari?"


"Aku membawakan beberapa bahan makanan untukmu." Barry memperhatikan Eunha yang sedang memasak itu. Dia tersenyum "Dia sangat cantik. Tapi mengapa Gavin, tidak pernah mempedulikanya?" Bicara dalam hati. Gavin melihat Barry yang duduk di meja makan miliknya. Dia mengerutkan dahi, dan bertanya-tanya. Apa yang membawa Barry, datang di pagi hari ke apartemenya.


Gavin mendekati Barry, dan melihat Barry yang memperhatikan Eunha sembari senyum. Dia melihat Eunha, lalu melihat Barry. "Hey, apa yang kamu lakukan di tempatku?" Tanya Gavin.


"Ehhh." Terkejut dan melihat Gavin.


"Apa kamu tidak pergi kerja?" Tanya Barry dengan pelan. Gavin memasukkan tanganya ke dalam kantong dan mengatakan. "Apa kamu takut, jika aku tidak pergi ke kantor, maka kamu dan wanita murahan ini tidak bisa bermesraan? Kamu jangan kwatir! Walaupun aku di rumah, kamu bisa kok bermesraan dengan wanita murahan ini. Tapi kamu harus ingat, jangat membiarkanya membunuhmu!"


Eunha yang mendengar kata-kata itu terkejut. Dan piring yang dia pegang terjatuh ke lantai dan pecah. Dia menoleh pada Gavin, dan matanya berkaca-kaca. Barry terdiam, dan merasa aneh dengan perkataan Gavin.


"Ada apa? Mengapa kamu terkejut? Bukankah yang aku katakan benar? Seharusnya kamu berterima kasih, karena aku memahamimu." Melihat


Eunha dan tersenyum jahat. Gavin membalikkan badanya, dan pergi dari tempat itu. Barry mengikuti Gavin, dan mengajaknya untuk bicara.


Eunha jongkok dan membersihkan serpihan kaca tersebut. Dia meneteskan air matanya, dengan tangan yang bergemetaran. "Mengapa dia begitu sangat membenciku? Apakah aku begitu sangat kotor di matanya?"


Bicara dalam hati, sembari menangis. Dia tidak tau, dimana kesalahan yang dia perbuat. Salah satu serpihan kaca tersebut, mengores jari manis Eunha. Darahnya, mengalir, Eunha menangis terisak-isak dan membiarkan jarinya terluka. "Mengapa hatiku sangat sakit? Bahkan jauh lebih sakit dari pada luka goresan ini?"

__ADS_1


~Jangan lupa menggunakan masker, disaat bepergiaan! Dan tetap jaga jarak! Semoga dunia kita cepat lekas sembuh, seperti sedia kalah.~


__ADS_2