
Pagi hari
Seperti yang Gavin katakan pada Eunha dua hari lalu. Maka saat itu juga Gavin datang menemui Eunha bersama dengan dua bodyguardnya. Dia mendatangi Eunha ke rumah kakak sepupunya, dengan alasan melamar Eunha.
Laura dan Kevin tentu mendukung apa yang dilakukan Gavin. Mereka juga mengiginkan agar Eunha cepat menikah, dan memiliki keluarga sendiri. Eunha yang mengetahui hal itu, terlihat begitu kebingungan. Tetapi dia terharu di saat Gavin mengatakan pada wali Eunha, bahwa kedatanganya, di karenakan ingin melamar Eunha.
Laura tidak ingin Eunha menghindari hal itu. Karena melihat Gavin dari kalangan atas. Kevin juga mengenal Gavin, dan mengetahui bahwa Gavin orang yang di segani di Negara itu. Mereka pun menerima lamaran itu, tanpa persetujuan yang belum di jawab Eunha.
Akhirnya karena tidak memiliki pilihan, Eunha pun menjalani hidupnya dengan Gavin. Hal pertama yang ditemukan Eunha adalah ketika Gavin menembak mati orang lain yang tentu membuatnya shock dan pingsan.
Gavin mempercayakan Noris, yang merupakan anak buahnya untuk mengurusi segala keperluan Eunha.
Eunha pun diajak belanja berbagai keperluannya semisal pakaian, tas dan sepatu. Dua bodyguard Gavin pun tidak sanggup membawa semua barang belanjaan milik Eunha.
Pada saat belanja, Eunha mencoba kabur dan melapor kepada polisi setempat, dan ketika polisi melihat Gavin justru polisi tersebut meninggalkan Eunha.
Eunha, bilang bahwa dia ingin handphone nya dikembalikan lalu makan malam dengan menu yang sudah disediakan. Pada saat makan malam, Eunha mencoba menayakank siapa Gavin sebenarnya mulai dari menanyakan pekerjaan dan hidupnya.
Gavin hanya menjawab bahwa dia adalah seorang CEO dari banyak hotel, restoran, dan bar di dunia. Pada saat makan malam juga HP Gavin berdering, terlihat Lora menghubunginya Gavin beranjak pergi dari tempat itu.
Setelah selesai makan malam, Eunha kembali ke kamarnya sambil tersenyum karena HP nya ada di sana. Eunha pun langsung menghubungi Laura dan mengatakan agar dirinya di jemput ke apartemen milik Gavin.
***
Krystal melihat beberapa dokumen yang dikirimkan oleh salah satu pelayanya.
Dia berharap dokumen itu bisa membuat Gavin, merasa kesal pada Eunha.
Dokumen yang sedang dia butuhkan yaitu, dokumen penting yang seharusnya tidak bisa di lihat siapa pun kecuali Gavin.
"Krystal?"
Suara seorang wanita yang memanggil lembut Krystal. Tetapi Krystal diam dan menoleh ke arah pintu kamarnya. Dia cepat-cepat menyimpan dokumen tersebut. Lalu menyahut ibunya yang sedang memanggilnya, dari ruangan lain.
"Iya bu, bentar!"
"Tolong bantuin ibu ngantar bahan makanan ini!"
Sela yang sibuk menyusun beberapa bahan makanan di dalam kotak yang telah dia sediakan. Dia tampak begitu semangat, dengan wajah yang berseri-seri. Setelah beberapa menit Lyman melangkahkan kakinya turun dari tangga. Dia terlihat masih ngantuk berat, akibat pekerjaan yang sibuk.
"Apa yang sedang ibu lakukan?"
"Ibu menyediakan beberapa bahan makanan untuk kakakmu Gavin. Kemungkinan istrinya akan kewalahan untuk menginggat beberapa makanan yang di sukai Gavin."
"Wahh,,, aku hampir lupa, klo ibu sudah punya menantu. Whehehhh."
__ADS_1
Lylam membantu ibunya untuk menyusun kotak-kotak makanan yang sudah selesai. Di juga merasa begitu bahagia, dan semangat untuk melakukan pekerjaannya.
"Kamu juga harus tiru seperti kakak mu Gavin! Menikah dan bekerja keras! Istrinya juga terlihat begitu baik.
Waktu begitu cepat berlalu. Eunha sudah menikah dua hari lalu, dan menjalani hidup seperti seorang istri. Akan tetapi Gavin bermaksud untuk membuat Eunha menderita. Hari ini Gavin membawa Eunha ke sebuah tempat yang jauh dari apartemenya.
Mereka pergi tengah malam, bersama dengan beberapa bodyguardnya. Gavin membawa Eunha dengan tujuan, untuk memperlihatkan dirinya di saat membunuh.
Baginya, melakukan hal itu salah satu cara untuk membuat Eunha ketakutan.
Hari pertama Eunha, telah melihat Gavin membunuh seseorang. Dan malam ini juga dia akan melihat hal yang sama. Perasaan Eunha tidak enak, dia ingin menayakan hal itu pada Gavin. Tetapi setelah menikahinya Gavin, selalu menjaga jarak, dan hanya bicara sekali saja disaat mengatakan pekerjaanya.
Eunha tidak tau apa yang terjadi. Dia hanya bisa berpikir bahwa Gavin sibuk, dan tidak punya waktu untuknya saat ini. Malam itu Eunha merasa heran kenapa Gavin menyuruh bodyguard nya membawa dia ke sebuah gedung besar yang tidak berpenghuni.
"Mengapa kita kesini?"
Menoleh ke arah Gavin, sembari menayakan alasan mengapa Gavin membawanya ke tempat itu. Gavin mengabaikan pertanyaan Eunha, dan keuar dari dalam mobil.
"Bawah dia!"
Pintah Gavin pada anak buahnya sembari memperbaiki kancing bajunya. Gavin melangkahkan kakinya, tanpa bicara pada Eunha.
"Silahkan nona!" Membukakan pintu mobil, dan menuntun Eunha ke dalam gedung kosong itu. Eunha merasa ketakutan, dia pun berlari mendekati Gavin, dan menahan tangan Gavin.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" Gengaman yang gemetaran dan ketakutan. Eunha tidak tau apa yang akan Gavin lakukan. Tapi dia benar benar trauma dengan gedung besar yang gelap. Dia menatap Gavin, sembari memasang wajah yang perlu di kasihani.
"Gavin, ini sudah malam."
Gavin menoleh ke arah Eunha, yang bicara sejak tadi. Dia pun menganggkat pistol dintanganya dan mengarahkan pada Eunha, sembari tersenyum jahat.
"Jika kamu masih mau hidup, maka lihat saja! Tetapi jika ingin mati maka teruslha bicara!"
Eunha yang melihat reaksi Gavin sontak terkejut dan syok. Dia semakin ketakutan, dan mengikuti perintahnya. Dia mengira Gavin akan membunuhnya, dan dia pun berusaha kabur dari tempat itu.
Eunha berpura-pura jalan santai mengikuti Gavin. Dia mencari kesempatan di saat anak buah Gavin tidak memperhatikan jalanya. Eunha beralasan ingin membuang air kecil. Noris pun membiarkan nya untuk pergi ke kamar kecil.
Eunha pun berkesempatan melarikan diri di saat seperti itu. Tapi sangat di sayangkan Gavin telah melihat nya dari jarak dekat dan tersenyum jahat.
"Wah, apa yang ingin kamu lakukan?"
"Brengsek kamu! Apa kamu pikir aku bodoh?"
"Lebih baik kamu menuruti perintahku! Jika tidak kamu akan mati lebih cepat."
"Aku menyesal telah menikahi pria berengsek sepertimu."
__ADS_1
Gavin memutar mutarkan pistol di tangan kananya. Eunha mulai membenci Gavin, dia tidak tau mau mengatakan apa, namun dia sudah terlanjur jadi istri dari seorang mafia, dan seorang bos paling di takuti di negri itu.
"Dasar wanita ******, beraninya mengatakan seperti itu. Apa kamu tidak tau? Aku lebih menyesal dari pada dirimu."
"Jika kamu menyesal, maka biarkan aku pergi!"
"Kamu pikir aku akan membiarkan mu pergi begitu saja? Bahkan ini belum di mulai."
"Gavin brengsek kamu." Meneriaki Gavin, dengan kekesalan. Gavin mendekati Eunha dan mengenggam pipi Eunha dengan erat. Sembari menatap Eunha dengan tatapan yang penuh kebencian.
"Apa kamu pikir, aku menikahimu dengan sebuah cinta? Jangan mimpi! Kamu hanya seorang ****** bagiku. Tidak berguna, dan hanya merugikanku. Dan jangan pernah sekalipun, mengatakan pada orang lain bahwa aku telah minikahi mu! Aku menikahimu hanya untuk sesuatu, yang lebih penting, namun bukan cinta seperti yang kamu harapkan."
Eunha merasa kesakitan. Dia menatap Gavin, dengan mata berkaca-kaca. Dia mencoba memberontak, tetapi Gavin lebih kuat darinya. Air matanya perlahan mengalir di kedua pipinya. Hatinya begitu pedih mendengarkan kata-kata dari Gavin.
Setelah beberapa menit Gavin menyuruh anak buahnya untuk menarik paksa Eunha ke dalam gedung itu. Eunha tidak mampu melawan, dia mengikuti apa yang di katakan Gavin.
Eunha lebih syok lagi di sat melihat seorang pria yang duduk terikat di kursi.
Gavin memasukkan peluru ke dalam pistolnya, dan menoleh ke arah Eunha yang ketakutan itu. Sembari tersenyum jahat, pada Eunha.
Eunha, melihat Gavin, dengan penuh penyesalana. Dia berdiri mematung di saat mengetahui suaminya melakukan hal yang tidak patut di puji. Gavin menembak pria itu sampai mati. Eunha menyaksikan perbuatan suaminya itu, dia ketakutan melihat pria yang bersimpah darah itu. Eunha pun syok dan jatuh pingsan. Di saat yang bersamaan ponsel Gavin berdering.
Wajah Gavin tampak kesal melihat layar ponselnya. Seseorang telah mengirimkan sebuah pesan sebagai ancaman.
Pagi harinya Gavin merasa marah karena yang diancam oleh Gavin adalah salah satu mafia terkuat di kota itu juga. Gavin ingin memperlihatkan pada Eunha bagaimana caranya membunuh lebih kejam. Eunha yang mengetahui hal itu pun merasa ketakutan, dan ingin melarikan diri. Baginya sudah cukup untuk melihat suaminya membunuh 2 orang sejak menikahinya bahkan kemarin malam dia hampir mati menyaksikan itu.
Gavin memilih menginap di sebuah hotel dekat lautan. Gavin tidur terpisah dengan Eunha. Bahkan dia tidak mempedulikan Eunha, dia menyuruh anak buahnya, untuk mengawasi Eunha.
Eunha mencoba bunuh diri dengan melompat ke tengah laut. Gavin pun tersenyum jahat, sembari mengabaikan perbuatan Eunha. Dia hanya menyuruh bodyguard kepercayaanya untuk menuyelamatkan Eunha.Akan tetapi setelah kehadiran Eunha, pelayan di apartemen itu di keluarkan oleh Gavin. Dan menyuruh Eunha untuk melakukan pekerjaan layaknya sebagai seorang istri yang baik. Tepatnya sebagai pembantu yang baik pada majikanya.
Biar gak tegang bacanya, ayo jawab dulu pertanyaan nya iya!
Bagaimana cara Eunha menghadapi kekejaman Gavin?
A. Membunuh Gavin,
B. Menyanyanginya,
C. Melaporkan pada polisi,
D. Membiarkan Gavin,
E. Isi sendiri!
~Jangan lupa menggunakan masker, dan tetap jaga jarak! Semoga dunia kita cepat lekas sembuh, seperti sedia kalah."
__ADS_1