
Grisha meminum habis wine yang ada di gelas milik Kai yang masih tersisa. Dia pun meneguknya sampai habis, lalu melemparkan gelas itu ke lantai sampai pecah.
Sementara Kai pergi mengejar orang yang membawa pergi Krystal. Tapi dia sudah tidak menemukan mereka.
"Dia benar-benar membuatku jijik."
Bicara dengan penuh emosional. Grisha meminta pelayan untuk memberikanya dua botol minuman lagi. Dia terlihat begitu sangat meyedihkan. Dia menghabiskan semua wine tersebut, sampai mabuk. Dia menangis, sembari bicara tanpa jelas.
Setelah dua hari Gavin pun akhirnya kembali ke apartemen miliknya. Dia meyetir sendiri, dan di dalam mobil ada Eunha. Di sepanjang perjalanan mereka hanya diam satu sama lain. Dalam pikiran Gavin "Mengapa dia diam? Dan di rumah white, dia begituĀ membuatku tidak bisa bicara."
Apartemen Gavin
Setelah di apartemen Gavin, tidak masuk. Dia hanya mengantarkan Eunha, lalu pergi kembali tanpa mengatakan sepatah kata pun. Eunha menghela napasnya.
Di perjalanan Gavin tidak sengaja melihat ke sebuah restoran, dan melihat Krystal bersama pamanya. Dalam hatinya bertanya-tanya. Namun tidak terlalu peduli dan melanjuktkan perjalananya.
Ponselnya berdering, dan dia melihat Lora mengirimkan pesan. " Honey, aku ada urusan mendadak. Kamu tidak perlu datang menemuiku!"Gavin tersenyum membaca pesan itu. Dia pun memutar balik arah mobilnya.
Gavin melangkahkan kakinya ke dalam apartemen. Dan melihat Eunha yang sedang sibuk, membersihkan apartemen. Gavin mengabaikan Eunha, dan melangkahkan kakinya menaiki tangga.
"Haiz,,, apakah dia tidak berniat membantuku? Tapi mengapa wajahnya terlihat lesu?"Bicara dengan nada pelan.
Setelah beberapa jam Eunha telah menyelesaikan pekerjaanya, dan membuatkan makan malam. Dia memanggil Gavin untuk makan malam. Tapi dia tidak melihat Gavin di dalam kamarnya.
"Apakah dia pergi menemui wanita itu?"
Menghela napas sembari melihat-lihat ruangan tersebut. Dia melihat sebuah gambar yang terlihat di dalamnya Gavin dan seorang pria yang tidak dia kenal.
Dia menyentuhnya sembari memperhatikan gambar tersebut dengan seksama. Apakah pria ini, teman Gavin? Tapi aku belum pernah melihatnya?"
Gavin keluar dari dalam kamar mandi dan marah di saat melihat Eunha menyentuh foto tersebut. Eunha terkejut dan fotonya terjatuh dari tanganya. Bingkai fotonya pecah, hal itu membuat Gavin semkin marah.
"Brak..."
"Apa kamu sudah bosan untuk hidup?" Dengan wajah yang penuh amarah.
"Ehh, maaf tuan. Saya akan mengantikan bingkai yang baru."
"Apa kamu pikir saya tidak tau, apa yang kamu lakukan? Jangan berpura-pura terus, karena aku sudah bisa menebaknya."
Mendekati Eunha, dengan ke amarahan yang sangat emosional. Eunha jongkok dan membersihkan serpihan bingkai tersebut.
"Jauhkan tangan kotormu!"
__ADS_1
Eunha mengabaikan perkataan Gavin, dan membersihkannya serpihan bingkai tersebut. Gavin menyingkirkan Eunha sampai terjatuh.
"Aku sudah katakan jangan sentuh ini dengan tangan kotormu."
"Tapi aku hanya ingin membersihkanya."
"Dan sejak kapan kamu berani masuk ke dalam kamar ini? Atau kamu benar-benar kesepian dan mengiginkan seseorang?"
"Bu,,bu,,,bukan. Aku hanya ingin memanggil tuan untuk makan malam."
Eunha pun merasa takut, dan berdiri lalu melangkahkan kakinya dari tempat itu. Gavin menahannya dan mendorong Eunha ke ranjangnya. Dengan senyuman jahat, dan penuh emosional.
Eunha terlihat begitu ketakutan. Gavin mendekatinya, dan mengatakan " Ada apa dengan wajah murungmu ini?"
"Tuan, tolong lepaskan aku! Aku akan mengganti bingkai foto itu, dan aku masuk ke dalam ruangan ini karena ingin meminta tuan turun untuk makan malam."
"Apakah aku harus mempercayainya? Kamu tidak usah kwatir, aku tau kamu sangat kesepian, dan kamu juga beruntung."
"Akhh" Teriak Eunha dengan gemetar.
"Tunggu, aku hampir lupa sesuatu. Kamu pasti sangat ahli dengan hal ini, dan aku penasaran sehebat apa dirimu akan hal ini, sampai banyak pria yang ingin menidurimu?"
"Brengsek kamu." Sembari menangis, dengan wajah penuh penyesalan.
Gavin beranjak dari ranjangnya. Sementara Eunha menangis terisak-isak di atas ranjang. Gavin pergi keluar dari ruangan itu. Dia pergi menuju ruangan rahasia.
Dia terlihat begitu sangat kebingungan. Dan penuh pertanyaan mulai muncul di benakknya.
"Wanita itu tidak mungkin masih perawan? Tetapi imformasi mengenai dirinya, sangatlha menjijikan. Apakah dia hanya pergi dengan pria-pria itu, lalu dia tidak pernah melakukan hal itu?"
Gavin semakin bingung. Dia pun meraih ponselnya, dan menyuruh Noris untuk meyelidiki sesuatu hal yang bersangkutan dengan Eunha.
Eunha begitu sangat membenci Gavin. Bahkan dirinya tidak ingin melihat Gavin.
Sejam kemudian Eunha terlihat masih begitu kesal. Dia melemparkan semua barang-barang yang ada di dalam ruangan Gavin. Dan memecahkan foto Gavin dan Lora juga.
"Kamu benar-benar membuat kesabaranku hilang. Brak....brak..."
Gavin yang mendengarkan hal itu langsung menuju kamarnya. Dia mendapati ruangan itu sudah berantakan sangat kacau. Gavin menyuruh Eunha untuk tidak menghancurkan barang-barang miliknya.
"Apa kamu sudah gila?" Gavin menghampiri Eunha, dan berusaha untuk menghentikannya.
"Brengsek kamu, dasar tidak punya hati." Eunha menangis tak henti, sembari melempar barang-barang yang ada di dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Eunha melemparkan bantal ke Gavin sembari mengatakan kekesalannya. Gavin terlihat santai kembali, dan membalikkan badanya, sembari mengatakan "Untuk apa menyesal sih? Lagian kamu juga sudah tercatat jadi istriku, dan kamu tidak perlu merasa kesal! Dan aku tidak akan memakan masakan menjijikanmu itu! Dan satu lagi! Aku juga tidak ingin punya keturunan darimu, jadi segeralha memakan obat yang akan di bawakan Noris nanti sebentar lagi!"
Gavin menghela napas dan pergi dari apartemenya. Dia menyuruh Noris untuk membelikkan sesuatu lalu menyuruhnya memberikan obat tersebut pada Eunha. Gavin pergi menemui Lora di sebuah restoran ternama di kota itu.
"Apakah kamu sudah menunggu lama?" Tanya Gavin pada Lora.
"Jika aku mengatakan sudah lama, apakah kamu akan memberikan sesuatu?" Senyum hangat, sembari duduk dengan posisi yang begitu santai.
Gavin terlihat begitu linglung dan masih kebingungan. Lora memperhatikan sikap Gavin, yang tidak biasa itu sembari penuh tanya. Tapi dia tidak peduli, dan mengajak Gavin untuk pergi belanja.
Rumah white
Nyonya Firtz menerima sebuah pesan dari salah satu mata-mata yang dia suruh untuk mengikuti Krystal. "Nyonya, malam ini nyonya pertama akan pergi ke kota B, dengan tuan Billy. Mereka mulai jalan sekitar pukul 20:00Pm."
"Apa yang akan anak itu lakukan sekarang? Sepertinya dia sudah melebihi batas? Dia juga sudah menggambil hak atas saham. Dan sekarang melangkah lebih jauh, jika aku tidak turun tangan apakah dia akan diam?"
Nyonya Firtz merasa begitu kecewa dengan Krystal. Dia sudah berusaha melupakan antara perselisisahan mereka dulunya. Namun karena Krystal semakin menjadi-jadi, membuat nyonya Firtz tidak bisa bersabar.
"Nyonya, seseorang ingin menemuimu!"
Seorang pengawal yang datang memanggil nyonya Firtz. Seorang wanita yang masih terlihat muda ingin menemui Eunha. Yaitu Laura sepupu Eunha.
Setelah beberapa menit nyonya Firtz menemui Laura. Dia mengajak Laura untuk duduk dan menyuruh pelayanya untuk menyeduh segelas teh. Laura terlihat begitu terharu, dengan keramahan nyonya Firtz.
"Maaf nyonya, tapi saya datang karena ingin menemui sepupu saya." Bicara dengan nada yang begitu lembut.
Nyonya Firtz tersenyum dengan kesantaianya.
Dia menanggapi Laura penuh dengan ke hangatan. Dan terlihat elegan. Hal itu membuat Laura semakin segan untuk bicara.
"Apakah kamu putri tuan Quite?"
"Hah? Apakah nyonya kenal dengan ayahku?"
Merasa bingung dan sedikit lebih canggung. Laura pun ingin menayakan hal tentang nyonya Firtz dan ayahnya yang ternyata saling mengenal satu sama lain.
"Tentu, aku sangat mengenal ayahmu. Dan aku pikir, dia tidak memiliki putri ternyata kamu putrinya. Aku banyak mengetahui tentangmu dari Eunha. Terima kasih, sudah baik pada menantuku selama ini."
Mengangkat gelas tehnya dan meminumnya dengan perlahan, dan beriwibawa. Laura tersenyum dan merasa begitu sangat bahagia disaat nyonya Firtz berterima kasih padanya.
"Tapi menantu kami tidak ada dirumah ini. Dia tinggal di kota S bersama dengan suaminya."
~Jangan lupa menggunakan masker disaat bepergiaan! Dan tetap jaga jarak! Semoga dunia kita cepat lekas swmbuh seperti sedia kalah.~
__ADS_1