
"Cyntaaa!!"
Terdengar seruan memanggil nama Cynta saat keempat sahabat itu baru saja melangkah keluar pintu restoran.
Cynta yang sudah tau siapa pemilik suara itu pura - pura tidak mendengar, memilih mengabaikan panggilan tersebut.
Memperlambat jalannya agar tertutupi oleh tubuh teman temannya.
"Cyntaa!!!"
Kali ini panggilan itu terdengar lebih keras. Dari nada - nadanya teman tetangga kamar kosnya itu pasti memanggilnya dengan menggunakan kedua tangan membentuk corong pada mulutnya.
"Cynta... Ada yang manggil nama lo tuh." Rara menyenggol bahu Cynta yang pura - pura memandang ke arah lain.
"Eh... apa?" Cynta dengan pura pura menunjukkan wajah terkejutnya.
"Ada yang manggil lo." Kali ini Icha yang memberitahu.
"Sepertinya Maya deh..." Tere dengan sedikit tidak yakin sembari melihat seorang gadis yang melambaikan tangan dengan berdiri di antara beberapa cowok yang duduk. Posisi gadis itu cukup jauh dari pandangan Tere.
Restoran yang baru saja mereka kunjungi tersebut memang menyediakan area indoor dan outdoor. Benar saja jika saat ini Maya terlihat di area outdoor bersama teman - temannya untuk nongkrong atau makan siang mungkin.
"Cynta sini!!"
Kali ini Maya dengan beranjak dari sana berlari kecil ke arah Cynta dan ketiga temannya.
Cynta pun menundukkan kepala serta menggeser tubuhnya ke belakang Rara, dengan tujuan agar supaya tidak terlihat oleh Maya.
Cynta sengaja menghindari Maya karena ingin pulang ke kosan dan memuaskan tidurnya, efek semalam kurang tidur.
Jika bertemu Maya saat ini, otomatis impiannya menyelam di lautan kapuk bakalan tidak terwujud nanti.
"Cynta, elo budeg ya... gue panggil - panggil sampek uratan jugak." Maya tetiba sudah di depan Cynta dengan menggerutu kesal.
Heh...
Cynta menghela nafas.
Gagal sudah rencana gue... batin Cynta mengeram.
"Eh Maya... sorry gue lagi asyik ngobrol sama temen - temen gue." Cynta membingkai senyum di wajahnya dengan terpaksa.
"Nggak ada kita ngobrol." lontar Icha membuat Cynta mendelik ke arahnya.
"Benar kan?!" lagi Icha dengan sorot mata polosnya.
Cynta pun menekuk wajahnya kesal.
"Kalian udah selesai makan?"
Maya malah bertanya pada teman - teman Cynta, sepertinya dia tidak peduli dengan ucapan Icha.
"Udah." sahut ketiga sahabat Cynta hampir bersamaan. Ketiga sahabat Cynta cukup tahu tentang Maya, untuk itu mereka tidak canggung saat bertemu seperti ini.
"Terus kalian mau kemana nih, pulang ya?" cerocos Maya.
__ADS_1
"Iya... kita udah nggak ada kelas kok." Rara jujur.
Mampus gue... Dalam hati Cynta.
Kalau sudah begini, mau tak mau dirinya pasti bakal diseret Maya buat gabung dengannya.
"Berarti Cynta boleh dong gue gondol." Maya berseru senang dengan segera menggandeng lengan tangan Cynta.
Tuh kan benar!!
"Mangga... sok atuh bawa." ketiga sahabat Cynta berucap dengan seenaknya.
Membuat Cynta mendengus pasrah karena dia belum sempat memberitahu temannya jika ingin menghindari Maya.
"Ya udah kalau gitu tinggalin dia di sini aja sama gue, gue jamin aman kok." Maya dengan menyeret Cynta menuju gerombolan teman - temannya.
"Dah Cynta... have a nice day..." Ketiga temannya dengan senyum mengerlingkan mata.
Sial.... gue dikerjain...
Umpat Cynta dalam hati saat menyadari senyum ketiga sahabatnya yang sepertinya mengerti akan isi hatinya.
Dengan langkah berat, mau tak mau Cynta pun mengikuti Maya.
"Hai guys... gue bawain temen cewek nih, biar gue nggak berasa cantik sendiri." Maya dengan nada ceria saat berada di hadapan teman - temannya yang tak lain adalah para sahabatnya dari kampung yang hari minggu kemaren bertemu di lembah UGM.
"Hai..." Cynta pun terpaksa tersenyum.
"Hai... duduk Cyn..." sapa Aldi dengan menarik tempat duduk di sebelahnya.
Sedangkan Maya duduk di kursinya yang semula di tempati sebelum menjemput Cynta.
Syukurlah cowok songong itu nggak ada... Cynta membatin senang saat melihat di sana hanya ada Adam, Maya, Andri dan Aldi. Entah mengapa Cynta sangat tidak menyukai Gama, sejak saat pertama kali mereka bertemu hari minggu kemaren.
Posisi duduk mereka berurutan dengan meja melingkar.
Sehingga Cynta saat ini duduk di antara Adam dan Aldi.
Baru saja Cynta duduk sedetik yang lalu, Aldi beranjak berdiri.
"Gue pesenin makan ya Cyn..." ucap Aldi yang tentu saja segera ditolak oleh Cynta.
"Enggak - enggak, gue barusan habis makan." Cynta dengan mengibaskan telapak tangannya, menolak.
"Yakin?" Aldi
"Yakin Al... gue nggak bohong. Gue udah kenyang banget." jujur Cynta.
"Ya udah kalau gitu, gue pesenin minum aja." Aldi dengan melangkah pergi.
"Enggak Al... perut gue udah penuh!" seru Cynta, namun Aldi mengabaikannya. Cowok berwajah baby face dan paling ramah diantara teman temanya itu tetap berjalan memasuki restoran.
Cynta berdecak.
"Udah biarin aja, dipakek ngobrol entar juga nyusut itu isi perut. Ntar gue bantu habisin deh..." Maya.
__ADS_1
"Serah lah..." Cynta dengan ekspresi wajah pasrah.
"Tadi temen - temen kampus lo Cyn?" tanya Adam.
"Iya."
"Oh... bening - bening ya..." Adam seperti bergumam.
Plak!
"Elo tu tiap kali liat rambut panjang aja..." Maya dengan memukul lengan Adam memakai buku menu.
"Ya kali gue cowok normal May..." Adam dengan meringis.
"Rasain lo." Andri mengejek Adam.
Cynta pun tersenyum tipis. " Kalian baru datang ya?"
"Iya." Adam, Maya dan Andri hampir serempak.
"Kalian janjian atau nggak sengaja ketemu?" Cynta penasaran mengingat kampus mereka letaknya berjauhan.
Adam sama Maya memang satu kampus meski beda fakultas, sedangkan Andri, Aldi satu kampus dengan si songong Gama yang untungnya saat ini tidak ada.
"Gue sebenernya janjian sama Andri, Aldi juga Gama, nah itu si Maya ngintilin gue." terang Adam.
"Oh gitu." Cynta manggut manggut.
Tapi tunggu... Adam nyebut nama cowok songong itu, jangan jangan dia juga ikutan ke sini.... pikir dalam hati Cynta dengan kening mengerut.
Cynta pun menoleh ke kanan dan ke kiri, memindai sosok Gama yang sepertinya bakal merusak moodnya jika mereka bertemu.
Ah nggak mungkin dia ikut, tempat duduknya aja pas. Cynta dengan melirik Adam yang duduk di sisi kirinya, lalu Maya di sebelah kiri Adam diikuti dengan Andri dan tersisa satu kursi kosong di kanan Cynta yang tadi sempat menjadi tempat duduk Aldi. Dan yang terakhir adalah kursi tempatnya duduk.
Cynta berfikir pastilah tidak mungkin Gama ikut dengan mereka.
Cynta pun menghembuskan nafas lega.
Haissh... kenapa gue bisa khawatir sampek segitunya sih... ungkap hati Cynta dengan tanpa sengaja membuat bibirnya menyunggingkan senyum tipis tak peduli.
"Kenapa lo tersenyum Cyn?" tanya Adam dengan tatapan heran pada Cynta.
Sepertinya Adam menyadari senyum tipis yang tersungging pada wajah Cynta.
"Ah... enggak kok, gue cuma inget kejadian lucu aja." bohong Cynta gelagapan.
"Oh." Adam sepertinya percaya.
Bruk.
Bunyi seseorang duduk di sebelah Cynta membuat Cynta pun segera menoleh.
Kedua matanya membola,
Sial...si songong ada, mana duduk di sebelah gue lagi....
__ADS_1
❤❤❤❤