
"Gimana ceritanya lo bisa terdampar di kamar Gama Cyn?" tanya Aldi dengan membuka kulkas rumah tangga yang ada di kontrakannya. Aldi berniat membuat sarapan pagi.
Setelah kehebohan di kamar Gama beberapa saat lalu, Cynta memilih keluar dari kamar Gama bersama Aldi. Tidak mungkin Cynta tetap stay di dalam kamar cowok dingin, sombong, angkuh dengan mulut pedas bagai pabrik bon cabe tersebut.
Bisa bisa Cynta mati berdiri di sana.
"Gue nggak tau kalau itu kamar Gama. Setau gue itu kamarnya Andri." jawab Cynta dengan sisa wajah bantalnya.
"Kamar Andri?" Aldi menoleh ke arah Cynta yang duduk di kursi pantry dengan kening mengerut. Tangannya masih dengan membuka pintu kulkas.
Meski Cynta mengira itu kamar Andri, namun bukankah tetap saja aneh jika tiba tiba gadis itu tidur di sana. Batin Aldi dengan tanpa sadar melayangkan pandangan ke arah Cynta dengan heran.
Dan Cynta pun seolah tahu isi batin Aldi saat ini.
"Iya. Kemaren gue ke sini sama Maya. Andri yang bawa gue sama Maya masuk kamar itu." jelas Cynta dengan menoleh ke belakang sekilas, salah satu jarinya menunjuk pintu kamar Gama yang telah tertutup kembali.
"Ngapain ke sini?" Aldi dengan memutus pandangan dari Cynta lalu mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas. Sekarang sudah sedikit jelas alasan gadis itu terdampar di dalam kamar Gama.
"Maya tuh, minta dibenerin laptopnya. Ngadat katanya. Makanya ke sini, maksa maksa gue. Mana gue capek, ngantuk setengah mati kemaren."
"Terus Maya sama Andri kemana? Kok tinggal lo doang." Aldi masih saja kepo dengan proses terdamparnya Cynta di kamar Gama.
Cynta menggedikkan bahu.
"Tauk. Gue juga bingung. Mana gue ditinggalin di kandang macan abis beranak lagi." Cynta dengan bersungut.
Aldi pun terkekeh kecil melihat sungut kesal pada raut wajah Cynta. Tangan Aldi tak berhenti memilah bahan makanan yang hendak dibuat untuk sarapan.
Sedangkan Cynta terlihat sedang memikirkan sesuatu.
Sedetik kemudian.
"Jangan jangan Maya kemaren cuma modus minta Andri benerin laptop. Dia pasti kencan sama Andri. Ya kan Al?" Cynta dengan berseru saat otaknya mengingat perkataan Maya bahwa gadis itu menyukai salah satu sahabatnya. Dan Cynta menebak bahwa Andrilah sosok sahabat yang disukai oleh Maya.
Bwuahakakk...
Kalimat Cynta barusan membuat Aldi tertawa ngakak.
"Kok malah ketawa sih Al, nggak ada yang lucu jugak."
Aldi menghentikan tawanya seketika kemudian memandang Cynta yang menyebik kesal.
__ADS_1
"Maya sama Andri nggak mungkin kencan. Gue tau mereka kok." Aldi dengan yakin.
"Ck... Lo nggak tau aja, Maya itu suka sama salah satu dari kalian. Ups..." Cynta segera membungkam mulutnya dengan kedua tangan karena keceplosan.
"Darimana lo tau? Maya ngomong sama lo?" tanya Aldi memincingkan mata.
"Enggak kok. Gue cuma nebak aja, ya gue cuma nebak aja." elak Cynta. Cynta tidak ingin membuat hubungan persahabatan mereka canggung jika mengetahui Maya menyukai salah satu sahabatnya.
"Sok cenayang lo." Aldi dengan terkekeh kecil.
Sebenarnya Aldi sangat tau jika Maya itu menyukai Gama. Bahkan bukan hanya dirinya yang tahu, teman temannya yang lain juga tahu. Bahkan si tersangka Gama pun sangat tahu akan perasaan Maya. Namun Aldi lebih memilih untuk tidak membocorkannya. Biarlah itu menjadi rahasia diantara sahabatnya saja.
"Pyek... gue bukan sok cenayang. Tapi kan nggak logis gitu, mereka berdua ninggalin gue gitu aja. Emangnya gue nggak bisa dibangunin apah." Cynta mendebat ucapan Aldi
"Bisa jadi." Aldi dengan santai.
"Maksud lo Al?" Cynta melayangkan pandangan dengan menduga duga.
"Elo tidur pelukan sama Gama aja nggak bangun apalagi kalau cuma goyangan tangan Maya."
"Anjrit lo Al... Lo ngeledek gue."
"Tapi bener kan?!" Aldi dengan senyum absurd.
Namun dalam hati Cynta, gadis itu tetap yakin bahwa Maya dan Andri tidak berusaha membangunkannya.
"Lo mau bikin apa sih Al?" Cynta memilih mengganti topik agar Aldi tidak mengungkit kejadian tidurnya bersama Gama.
"Mau bikin sayur. Gue kangen masakan rumah."
"Lo bisa masak Al?"
"Dikit. Soalnya gue lebih suka masakan rumahan dari pada beli. Hampir semua warung makan yang gue datengin masakannya manis. Gue nggak suka. Gue pecinta pedas soalnya." Terang Aldi pada Cynta.
"Oh gitu. Terus lo mau masak apa?"
"Mau bikin sayur sop sama bikin sambel."
"Boleh bantuin nggak?" tawar Cynta antusias.
"Emang lo bisa masak?" Bukannay Aldi meremehkan namun zaman sekarang banyak anak gadis yang lebih memilih beli daripada masuk dapur.
__ADS_1
"Nggak jago sih, tapi masih bisa di makan lah." Cynta beranjak dari duduknya dan mendekati Aldi.
"Ayam sama tempe ini buat lauknya?" tanya Cynta dengan memegang bungkusan dada ayam dan satu papan tempe di tangannya.
Aldi mengangguk. "Serah lo mau diapain. Sebisa lo aja yang penting bisa buat lauk sarapan."
"Ok. Saatnya jemari lentik chef Cynta beraksi." Cynta dengan guyonan seraya beraksi mengolah ayam dan tempe.
"Saatnya makan." Cynta dengan menghidangkan semangkuk sop ayam yang masih mengepul panas di atas meja pantry.
"Wuihhh... keknya mantep nih masakan lo Cyn." Aldi dengan mata berbinar menatap hidangan yang telah Cynta siapkan.
Di atas meja ada sepiring tempe goreng serta ayam filet goreng tepung. Sambel terasi yang menggoda lidah penyuka pedas dan juga sayur sop yang telah Cynta beri beberapa potongan ayam sebagai penambah cita rasa.
"Berasa masak buat suami gue."
Cynta mendudukkan diri di hadapan Aldi dengan tersenyum puas saat melihat cowok itu makan dengan lahap.
Aldi hanya memanjangkan bibir tersenyum seraya mengayunkan ibu jarinya pada Cynta karena mulutnya sedang penuh makanan.
Meski awalnya cuma berniat membantu namun akhirnya Cynta lah yang membuat masakan rumahan yang diinginkan Aldi tersebut.
"Lo nggak makan Cyn?" Tanya Aldi di sela suapannya.
Cynta menggeleng.
"Ntar aja. Gue udah kenyang duluan karena masak tadi." jawab Cynta dengan jujur.
Karena memang begitulah yang dirasakan olehnya. Ditambah dengan melihat Aldi yang makan dengan lahap, Cynta makin kenyang dan juga puas karena masakannya tidak ditolak oleh sahabat Maya tersebut.
"Keknya kita berdua cocok ya Al."
"Maksud lo?" Aldi menjeda suapan ke dalam mulutnya.
Bukannya ge er, jujur saja omongan Cynta mengandung unsur salah paham yang banyak bagi siapapun yang mendengarnya.
"Cocok kalau berteman, keknya kita bakalan akur nggak berantem. Gak seperti sama yang ntu tuh..."Cynta mengarahkan ibu jarinya pada pintu kamar Gama yang berada di belakang punggungnya.
"Lo ngomongin gue?"
Ups... Mampus gue...
__ADS_1
Cynta menepuk bibirnya dengan kedua tangan.
❤❤❤❤