Bukan Salah Rasa

Bukan Salah Rasa
Kuis Dadakan


__ADS_3

"Tere udah ngerjain tugas Pak Hanan belom?" Cynta berlari tergesa mendekati sahabatnya yang tengah berjalan menuju ruang kelas mereka.


"Udahlah."


"Gue pinjem." Cynta menarik tangan Tere dengan kuat.


Membuat Tere dengan terpaksa mengikuti langkah kaki lebar Cynta dengan sedikit kesusahan karena saat ini ia menggunakan heels 12 centimeter bak model catwalk.


"Cynta... pelan pelan dong ah, gue pakek heels nih. Bisa bisa gue terjerembab nyium lantai." Seru Tere namun Cynta terlihat mengabaikannya. Karena gadis itu tetap menarik pergelangan tangan Tere kuat.


"Cyn... ih... mending lo lepasin tangan gue deh." kesal Tere berusaha menarik tangannya.


Sayangnya kekuatan cekalan tangan Cynta tidak bisa ia terobos. Terbukti tangan kanan Tere itu masih dalam kuasa Cynta.


"Ngapain kalian berdua gandengan kek truk semen gitu!" Icha dengan pandangan heran pada kedua sahabatnya. Belum lagi wajah Tere yang terlihat sebal, membuat insting keponya naik ke permukaan.


"Gue belum ngerjain tugas pak Hanan." aku Cynta mendudukkan bobot tubuhnya dengan kasar.


"Mana mungkin?!" pekik Rara dengan raut wajah tidak percaya. Karena selama ini Cynta tidak pernah mengabaikan tugas tugasnya. Di tengah jadwal padatnya sebagai mahasiswi, asisten dosen dan beberapa pekerjaan partime yang Cynta jalani, Cynta selalu berhasil menghandel semuanya dengan baik.


"Nyatanya..." Cynta mengeluarkan alat tulisnya lalu menyambar cepat tugas Tere yang telah disodorkan di depan wajahnya oleh pemiliknya.


Tanpa mengoreksi kebenarannya Cynta langsung menyalin tugas Tere ke dalam buku tulisnya. Benar salah itu urusan belakangan, Cynta tidak ingin mendapatkan semprotan tajam mulut pak Hanan yang terkenal sadus saat di dalam ruang mengajar.


"Emang jadwal lo kemaren padet Cyn?" tanya Rara dengan tidak memutar pandangan dari Cynta yang tengah menggerakkan bolpoin dengan secepat kilat.


"Nggak juga."


"Terus ngapain aja lo samoek belum ngerjain tugas pak Hanan?" Rara kepo.

__ADS_1


"Gara gara Gama ini." sahut Cynta terdengar kesal. Bagaimana tidak kesal jika kemaren Cynta harus terkurung di dalam kamar kontrakan Gama seharian tanpa melakukan apa apa. Gama dengan santainya tidur seharian dan mengabaikan Cynta, cowok itu bilang sangat lelah tidak kuat berdiri untuk mengantarnya pulang. Dan sialnya saat Cynta keluar dari kamar Gama untuk meminta Aldi mengantarnya balik kos, lelaki itu sudah menghilang. Siang itu kos Gama sepi tak berpenghuni. Yang ada hanya Cynta dan Gama yang tidur nyenyak di atas bed tidur dengan memeluk gulingnya erat. Ingin menghubungi Maya atau salah satu teman kampusnya tidak bisa karena Cynta tidak membawa posnselnya. Alhasil Cynta hanya ngendon di dalam kamar Gama, memainkan komputer lelaki itu kemudian menonton televisi hingga akhirnya ikut tidur nyenyak seperti Gama.


Parahnya lagi setelah maghrib Gama baru mengantarnya pulang ke kos. Akan tetapi tidak langsung melainkan membawa Cynta makan malam terlebih dahulu. Mengajak Cynta berputar putar seolah menghabiskan waktu. Rengekan Cynta yang meminta pulang tidak digubris oleh Gama. Pukul sepuluh malam barulah Cynta sampai di kosnya.


Giliran sampai kosan, ada anak kos yang berulang tahun dan mengadakan pesta tepung dan pecah telur bersama. Alhasil Cynta pun melupakan tugas tugas kuliahnya.


"Gama? Siapa itu?" Rara semakin kepo saat Cynta mengucapkan sebuah nama yang seharusnya pemilik nama itu adalah seorang lelaki.


"Ntar aja gue ceritain. Keburu bel bunyi nih..." Cynta dengan terus merangkai huruf di atas kertas putih miliknya.


"Selamat pagi."


Sapa Pak Hanan dengan langkah kaki lebar memasuki ruang kelas.


"Pagi pak." sahutan serempak dari para mahasiswa terdengar riuh menyambut dosen bujang tampan tersebut.


"Kumpulkan tugas dan kita lakukan kuis hari ini."


Suasana ruang kelas terdengar riuh layaknya ruang kelas anak SD.


"Cynta! Tarik tugas tenan temanmu, bawa ke depan." perintah pak Hanan membuat Cynta terpaksa menghentikan tangannya dari menyalin tugas Tere.


"Padahal tinggal dikit lagi." Keluh Cynta terpaksa berdiri dari duduknya. Kemudian menghampiri satu persatu tenan sekelasnya untuk mengambil lembaran tugas mereka dan mengumpulkannya di atas meja pak Hanan.


"Sekarang kita mulai kuisnya."


Pak Hanan menyalakan proyektor lalu mengarahkan pada whiteboard untuk menunjukan pertanyaan kuisnya. Kemudian membagi lembaran kertas kosong untuk jawaban kuis para mahasiswanya.


Satu setengah jam telah berlalu, para mahasiswa masih berkutat dengan lembar jawaban mereka mading masing. Pun begitu denga Cynta. Gadis itu terlihat sibuk menulus jawaban kuis dadakan yang diberikan oleh sang dosen.

__ADS_1


"Ini salah." tunjuk pak Hanan pada kurva demand and supply di lembar jawaban Cynta dengan boardmaker miiliknya. Membuat Cynta sedikit terkejut lalu menoleh ke samping kirinya. Kedua Cynta membola saat melihat keberadaan sang dosen yang entah sejak kapan berdiri di sampingnya.


Berbeda dengan Cynta yang terkejut dan membola, sang dosen malah terkekeh lalu berlalu begitu saja meninggalkan Cynta yang kemudian segera mengoreksi jawaban salah yang ditunjuk oleh sang dosen.


"Waktu habis. Kumpulkan semua ke depan." perintah pak Hanan setelah bel tanda jam mata kuliah telah berakhir.


Cynta kembali menarik lembar jawaban kuis dari teman temannya lalu menyerahkan pada pak Hanan.


"Tolobg bawa tugas sama kuis itu ke ruangan saya." perintah Pak Hanan sebelum Cynta meninggalkan meja sang dosen.


"Saya pak?" tunjuk Cynta pada dirinya sendiri.


"Iya. Siapa lagi? Emangnya cuma Damai aja yang boleh minta tolong sama kamu."


"Eh... nggak gitu pak. Iya iya siap... saya antarkan ke ruangan bapak." Cynta tersenyum canggung saat menyadari kesalahannya.


"Diantarkab sekarang pak?"


"Iyalah. Masak besok. Kenapa kamu mendadak jadi lemot gitu sih Ta." Pak Hanan dengan menenteng tas kerjanya.


"Maaf pak."


"Pasti efek buru buru menyelesaikan tugas dari saya tadi. Iya kan..."


Belum sempat Cynta menyahut.


"Makanya tugas itu dikerjakan di rumah, yang dikerjakan di kelas itu kuis." Pak Hanan berlalu meninggalkan kelas.


"Kenapa pak Hanan bisa tau ya..." Cynta dengan wajah cengonya.

__ADS_1


❤❤❤❤


__ADS_2