
"Lo mau lauk apa?" Gama menoleh ke arah Cynta yang telah duduk lesehan di samping kirinya.
"Telor sama tempe bacem, ceceknya dibanyakin ya mbak." Cynta langsung kepada pelayan kedai yang tengah menulis pesanan di depannya.
Karena sebelumnya Gama telah memesan menu untuk dirinya sendiri, baru kemudian bertanya pada Cynta.
"Kenapa telor mulu sih Ta, pakek ayam napa?" Gama dengan berdecak.
Seketika Cynta menoleh dengan kening mengerut, curiga.
"Perasaan gue makan telor bareng lo baru ini deh Gam... Pas di mall kemaren gue makan ramen seafood, kenapa lo bilang telor mulu?"
Cynta memang cukup sering makan telur karena dia tidak bisa makan lauk berupa daging. Untuk ikan dan seafood tidak bisa ia konsumsi setiap saat mengingat dirinya harus mengelola uang saku dengan benar. Karena menu seafood harganya lebih mahal.
Namun bukan itu poinnya. Seharusnya Gama tidak tahu kebiasaan Cynta memilih lauk telor, mengingat mereka belum kenal dekat. Dan ini baru kedua kalinya mereka makan bersama. Sebagai seorang cenayang sekalipun Gama tidak mungkin tahu kebiasaan Cynta lebih memilih lauk telur jika ikan tidak tersedia.
Glek.
Gama tercekat, ternyata dirinya masih mengingat jelas kejadian saat bertemu Cynta di kedai pak kumis beberapa hari lalu. Dimana lelaki yang bernama Angga tengah mengupas telur rebus dan menaruh ke dalam mangkuk soto milik Cynta.
"Masa sih, baru ini ya..." Gama pura pura mengingat.
"Lo aneh deh."
Beruntung Cynta tidak memperpanjang rasa curiganya karena dia sudah tidak memiliki tenaga untuk membuat otaknya bekerja mencurigai ucapan Gama.
Gama pun mengusap dada lega karena merasa aman dari kecurigaan gadis itu.
"Minumnya teh anget ya mbak." Lanjut Cynta memesan minuman pada pelayan kedai gudeg.
"Kalau gitu pesenan aku ayamnya dua ya mbak, kalau ada bagian paha atas bawah." ucap Gama meralat pesanan miliknya.
"Minum lo Gam..." Cynta mengingatkan.
"Udah pesen tadi."
Cynta merebahkan kepala di atas kedua tangan yang melipat di atas meja. Sangat terlihat jelas di wajah gadis itu jika ia tengah kelelahan. Wajahnya miring ke samping kanan sehingga menghadap ke arah Gama.
Gama yang sebelum bertemu Cynta merasakan tubuhnya remuk redam setelah selesai mengikuti kegiatan mapala, seketika tak nampak sedikitpun kelelahan di wajahnya. Rasa lelah itu menguap entah kemana. Berganti dengan wajah berbinar bahagia yang tak menyurutkan senyum tipis pada wajah tampannya.
"Capek banget ya?" Gama menumpu kepala menghadap Cynta. Membuat keduanya saling berhadapan dengan jarak dekat, mungkin hanya dua jengkal saja. Terlihat bagai pasangan kekasih yang tengah duduk bersama, menunggu pesanan datang sembari berbagi rasa.
Hemm...
Gumam Cynta malas.
__ADS_1
"Ngapain aja lo seharian sampek lupa makan?" tanya Gama dengan menyisipkan helaian anak rambut pada daun telinga Cynta penuh perhatian. Pupil matanya bergerak menelisik wajah ayu yang membuat jantungnya berdetak. Memunculkan irama rindu yang tidak dapat ia bendung.
"Nugas." Cynta dengan mata sayu, sepertinya gadis itu benar benar lelah. Terbukti dari Cynta yang terlihat tidak menyadari perhatian dari Gama. Seolah sentuhan tangan Gama merupakan hal biasa yang sudah sering ia dapatkan.
"Tugas apaan, setengah hari sampai lupa makan gitu." Gama terdengar sewot. Entah mengapa Gama menjadi kesal saat mendengar jawaban Cynta yang seolah menunjukkan bahwa dosennya memberi tugas yang bertumpuk tumpuk pada gadis itu.
"Ya tugas kampus lah, tugas dari dosen gue. Namanya juga mahasiswa." Cynta dengan nada lemah seperti tidak bertenaga.
"Gue juga mahasiswa, tapi nggak segitunya dosen gue ngasih tugas." Gama masih dengan nada geram.
"Itu memang udah tugas gue Gam." Cynta malas menjelaskan pada Gama kalau sebenarnya dia tadi tengah menyelesaikan tugasnya sebagai asisten dosen yang menjadi aliran uang jajannya.
"Ck... tetep aja dosen lo kebangetan Ta." Gama terdengar seperti marah dan tidak terima pada dosennya Cynta.
"Enggak Gam... ih serah lo deh." Cynta tidak ambil pusing pada reaksi Gama yang menurutnya aneh, nggak jelas. Cynta memilih mengabaikan dengan menelungkupkan wajahnya.
Cynta tak ingin semakin lelah jika harus meladeni Gama yang menurutnya marah tidak jelas. Belum lagi menu pesanannya tidak datang datang, padahal perut Cynta sudah semakin melilit, membuat Cynta semakin kesal.
"Cynta... jangan tidur." Gama dengan menggoyang lengan Cynta.
"Gue nggak tidur Gam." Cynta masih dengan menelungkupkan wajahnya.
"Jangan sembunyiin wajah lo, kita ngobrol kek. Masak gue bengong sendirian. Nggak enak Ta."
"Main hape aja. Gue capek."
"Maen hape mah bisa di rumah, gue maunya ngobrol sama lo Ta." Gama membujuk dengan tanpa menghentikan goyangannya pada lengan Cynta.
"Nggak mau." Cynta makin menenggelamkan wajahnya. Membuat hodie dan baju atas Cynta menyingkap, sedikit memperlihatkan punggung putih mulusnya. Dan itu tertangkap oleh kedua manik hitam Gama.
"Ck... dasar ceroboh." Decak Gama merapatkan jaraknya dengan Cynta. Kemudian melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Cynta posesif untuk menutupinya. Gama tak mau jika punggung yang sedikit terlihat itu dinikmati oleh pengunjung kedai yang tengah duduk di belakang mereka.
"Gama... nggak usah mepet mepet." Cynta mendorong tubuh Gama yang merapat dengan sikunya. Karena gadis itu masih menelungkupkan wajahnya nyaman dia atas meja.
Cynta tidak menyadari maksud dan tujuan Gama memeluk pinggang rampingnya.
"Kalau gitu bangun." Gama tanpa melepaskan tangan dari pinggang Cynta.
"Ntar. Nunggu makanannya dateng." tolak Cynta masih dengan posisi tetap sama.
"Ya udah kalau gitu biar gini aja terus."
"Gama." Cynta dengan mendongak kesal.
"Apa?"
__ADS_1
"Bisa nggak tangan lo nggak meluk meluk gue?"
"Nggak bisa." Gama santai.
Ck... Cynta berdecak
Tangan Cynta bergerak turun, berusaha melepaskan tangan kiri Gama dari pinggangnya.
"Gam... lepasin." bujuk Cynta karena Gama malah
mengeratkan pelukan tangannya, membuat tubuh keduanya makin rapat.
"Udah biarin gini aja." Gamau tetap santai dan tidak peduli dengan apa yang dirasakan oleh gadis di sisinya.
"Gama... gue malu." cicit Cynta menoleh ke kanan dan ke kiri.
Meski sebenarnya di sekutarnya banyak pasangan yang juga terlihat mesra, namun Cynta merasa tidak seharusnya itu terjadi pada dirinya dan Gama yang tidak memiliki status hubungan yang jelas. Apalagi mereka berdua baru dekat beberapa hari saja.
"Kenapa malu?" Gama dengan pandangan heran.
"Banyak yang liatin kita." Cynta terlihat tidak nyaman.
"Terus lo lebih nyaman kalau orang orang di belakang lo liatin punggung mulus lo... gitu?!"
Hah...
"Apa?"
Cynta menoleh ke belakang, memang benar ada banyak cowok duduk di belakangnya. Kemudian ekor matanya bergerak melirik punggung yang tertutupi lengan kekar Gama. Benar saja hodie dan baju atasnya tersingkap membuat punggungnya sedikit terekspose.
"Maaf." lirih Cynta menurunkan kedua tangannya lalu membenarkan posisi hodienya.
"Lo bisa lepas tangan sekarang." lirih Cynta sungkan.
Gama segera menarik tangan dari pinggang Cynta.
Cynta pun melipat kedua tangan di atas meja kembali, kemudian menyandarkan kepala.
"Ta... punggung lo kelihatan lagi." Gama menahan geram.
Cynta tersentak, menegakkan tubuhnya kembali. Gadis itu terlihat kebingungan untuk meletakkan kepalanya yang terasa berat.
"Buka aja hodie lo..." Gama dengan tanpa permisi menarik ziper hodie yang Cynta kenakan.
"Jangan!" Cynta memekik, membuat banyak pasang mata mengarah kepadanya dan Gama.
__ADS_1
❤❤❤❤