Bukan Salah Rasa

Bukan Salah Rasa
Ingkar


__ADS_3

"Elo kan udah janji lepasin gue Gam. Kenapa masih nahan gue sih?" protes Cynta dengan raut wajah yang sangat sangat kesal ditujukan pada Gama yang seenaknya menarik tangannya saat gadis itu hendak berlalu meninggalkan Gama.


"Makan dulu." Gama dengan melenggang santai memasuki restoran jepang yang ada di dalam mall.


"Lo bohongin gue Gam." keluh Cynta manyun karena Gama mengingkari janjinya.


Meski Cynta manyun dan menekuk wajahnya kesal, namun gadis itu tetap mengikuti langkah kaki lelaki menyebalkan yang telah mendominasi dirinya hari ini. Cynta tak mampu untuk melepaskan cekalan kuat tangan Gama pada pergelangan tangan kanannya.


Gama pun terlihat cuek bebek tak menyahuti keluh Cynta.


"Lo mau apa?" tanya Gama setelah keduanya mendudukkan diri saling bersisihan. Sepertinya Gama memang membuat posisi Cynta agar tidak lepas dari kuasanya. Terbukti dari posisi duduk saja, Gama memilih bersisihan daripada berhadapan dengan Cynta.


"Gue nggak laper." tolak Cynta dengan ketus.


"Nggak usah takut uang lo berkurang, gue yang bayarin." Gama menyodorkan buku menu ke depan Cynta. Dengan tak lupa menyenggol siku Cynta yang menumpu di atas meja.


Bukannya senang atau menerima, namun Cynta lebih memilih membuang wajahnya dan mengabaikan buku menu yang Gama letakkan di depannya.


Walau sebenarnya Cynta merasa sedikit lapar karena telah menemani Gama berkeliling mencari baju yang dibutuhkan oleh lelaki itu. Namun Cynta lebih memilih menahannya. Nanti dia bisa makan sendiri sepuasnya, menurutnya. Yang Cynta inginkan saat ini adalah lepas dari Gama dan dapat menikmati harinya untuk melepas penatnya.


Bukan hanya sekejap saja Cynta menemani dan memilihkan baju untuk Gama. Lebih dari dua jam Cynta melakukannya. Ada saja ucapan penolakan yang Gama lontarkan saat Cynta menunjukkan baju baju yang dia pilihkan untuk Gama.


Bahkan dengan mulut pedas tanpa perasaan Gama menuduh Cynta sengaja tidak berniat dalam memilih baju untuknya. Entah sudah berapa baju yang Gama tolak saat itu. Cynta tak sanggup menghitungnya.


Saat itu Cynta berfikir bahwa Gama sengaja melakukannya untuk berlama lama mengerjainya. Namun Cynta segera menepisnya. Karena tidak mungkin kan seorang Gama melakukan itu untuk membuat mereka tetap bersama. Pacar bukan, gebetan juga bukan. Bahkan belum genap satu bulan mereka saling kenal. So menurut Cynta, nol persen kemungkinan Gama memiliki rasa untuknya.


Namun kini pikiran itu kembali terbersit di dalam otak Cynta saat kenyataanya kini Gama membuatnya tetap berada di sisi lelaki menyebalkan tersebut.


"Ta... Yakin lo nggak laper?"


"Enggak!" Cynta masih dengan membuang wajah.


Cynta yakin dengan menunjukkan kemarahannya, Gama akan mempertimbangkan permintaannya. Dan membiarkannya pergi.


Ternyata, Gama tetap saja ngeyel.


Entah karena apa dia melakukan hal itu, Gama juga tidak yakin dengan alasannya. Hanya saja Gama selalu saja teringat bagaimana cerobohnya Cynta saat tak sengaja tidur dengan nya beberapa hari lalu.

__ADS_1


Bagaimana cerobohnya gadis itu, ketika hanya berdua di dalam kamar seorang lelaki dengan tanpa mengenakan penutup gunung kembarnya padahal kaos yang dipakai gadis itu berwarna putih dengan bahan yang cukup tipis.


Bahkan hingga Gama memakaikan hodie miliknya pada tubuh Cynta sebelum mengantar pulang, gadis itu tidak juga menyadari kondisi kedua gunung kembarnya yang membuat Gama harus menahan diri untuk tidak menyerangnya saat itu juga.


Mengingat hal itu Gama tidak yakin jika Cynta mampu menjaga diri dengan baik.


Apalagi tadi Gama sempat melihat adanya dua laki laki yang menggoda, bahkan tak segan menyentuh tubuh gadis itu. Meski sentuhannya bukan pada titik titik vital, entah kenapa Gama merasa tidak suka melihatnya.


"Lo mau ramen?" Gama masih saja berusaha.


"Gue nggak laper Gam." Cynta masih tetap sama menolak, bahkan nada ucapannya terdengar mengeram.


Gama tak ambil pusing dengan ngambeknya Cynta, tangannya bergerak mencoret kertas putih yang digunakan untuk order makanan. Tak berapa lama kemudian menyerahkan pada pelayan yang telah dia panggil sebelumnya.


Beberapa saat menunggu, pesanan Gama datang.


"Satu chiken katsu, satu beef teriyaki, satu ramen seafood sama minumnya chocho tiramisu dan fresh fruit blueberry ya mas." Pelayan menghidangkan pesanan Gama sembari mengabsen satu persatu pesanan lelaki itu.


Gama memberi jawaban dengan menganggukkan kepala.


Dengan masih membuang wajah, kedua mata Cynta membola mendengar menu pesanan Gama.


"Makan gih." Gama menyenggol lengan Cynta yang memangku wajah di atas meja.


"Gue udah bilang kan gue nggak la..."


"Makan!" potong Gama dengan nada tegas seraya menangkup kedua bahu Cynta agar gadis itu menghadap pada makanan di depannya.


"Pemaksa." Cynta mau tak mau mengikuti arah gerakan tangan Gama pada bahunya karena tangkupan itu sangat kuat.


"Lo pilih yang mana?" Gama memberikan kesempatan Cynta untuk memilih menu lebih dulu.


"Gue nggak...."


Lheeps...


Gama membungkam mulut Cynta dengan udang kupas yang menjadi toping ramen pesanannya, menggunakan sumpit. Sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


Mau tak mau Cynta mengunyah udang itu dengan raut wajah dibuat cemberut. Udang kupas itu lumayan besar sehingga membuat pipi Cynta menggembung saking penuhnya. Dan itu membuat pipi Cynta gembul menggemaskan. Bibir Gama melengkung tanpa sadar.


"Mau makan yang mana?" lagi Gama bertanya tanpa memutus pandangan dari wajah Cynta yang pipinya menggembung lucu.


Cynta tak menyahut karena mulutnya masih penuh dengan udang kupas, gadis itu memilih menu dengan menarik mangkuk ramen yang berada tepat di depan Gama.


"Yakin pilih itu?"


Sesungguhnya ramen itu adalah menu pilihan untuk Gama sendiri. Karena porsi makannya yang jumbo, dan sebelum berangkat tadi Gama belum sarapan pagi lelaki itu bermaksud makan ramen dan salah satu menu lainnya. Chiken katsu ataupun beef teriyaki pesanannya.


Cynta mengangguk seraya menelan udang dalam mulutnya.


"Nih." Gama memilih mengalah dan memberikan sumpit yang dipegangnya pada Cynta. Meski mengalah bukanlah kebiasaan Gama, entah mengapa untuk Cynta dia melakukannya dengan sukarela.


"Gue pakek yang baru aja."


Cynta dengan menjulurkan tangan kanannya hendak meraih sumpit yang masih terbungkus sejenis kain kasa.


"Udah pakek ini aja, belum gue pakek. Baru juga gue pakek buat masukin udang ke dalam mulut lo." Gama memaksa dengan meletakkan sumpit di tangan Cynta.


Cynta pun akhirnya memilih menerima daripada berdebat dengan Gama. Menolak perintah Gama hanya buang buang waktu dan tenaga.


Setelah Cynta menerima sumpit dari Gama, lelaki itu meraih piring chiken katsu yang tak jauh dari jangkauan tangannya.


Membuka sumpit baru dan mulai memasukkan potongan chiken katsu ke dalam mulutnya.


"Elo bakal habisin itu semua Gam?" tanya Cynta di sela kunyahan ramen dalam mulutnya. Bibir gadis itu sudah sangat gatal untuk bertanya hal itu pada Gama.


Hm...


Gumam Gama dengan kepala mengangguk.


"Emang perut lo muat?" Cynta dengan refleks mengarahkan pupil matanya pada perut Gama yang sepertinya rata tanpa lemak sedikitpun.


Kaos berwarna putih polos yang membalut tubuh Gama terlihat sedikit transparan otomatis Cynta bisa sedikit menerawang perut Gama. Apalagi Gama telah melepas kemeja flanel yang dipakai untuk melapisi kaos putihnya sebelum duduk.


"Gue belum makan dari pagi."

__ADS_1


❤❤❤❤


__ADS_2