Bukan Salah Rasa

Bukan Salah Rasa
Tembak Langsung


__ADS_3

"Cynta... Baru aja saya mau menghubungi kamu." Pak Damai dengan wajah terkejut saat membuka pintu ruangannya menemukan Cynta telah berdiri membawa setumpuk tugas di depannya.


"Iya Pak. Ada apa ya pak? Bukannya tugas saya sudah selesai. Belum ada koreksi lagi kan pak?"


Cynta merasa sudah menyelesaikan semua tugas koreksinya minggu ini. Bahkan data nilai seluruh mahasiswa yang ditangani oleh dosen lajang nan tampan tersebut sudah Cynta masukkan ke dalam data base pak Damai. Jadi seharusnya pak dosen yang juga merupakan dosen pembimbingnya itu tidak perlu mencarinya untuk saat ini.


"Oh tidak. Saya mencarimu bukan untuk membicarakan tentang masalah pekerjaan." sahut pak Damai kemudian.


"Terus masalah apa ya pak?"


"Masuk dulu aja." Pak Damai kembali membuka pintu ruangannya lalu meminggirkan tubuhnya untuk memberi Cynta jalan.


"Yang kamu bawa itu apa?" tanya pak Damai dengan mengarahkan pandangan pada tumpukan kertas yang Cynta bawa di depan dada.


"Oh... ini punya pak Hanan pak."


"Punya Hanan?! Ngapain di suruh suruh kamu buat bawa. Kamu kan bukan asistennya." Ada nada kesal pada nada bicara dosen lajang tersebut. Kedua tangannya tanpa meminta persetujuan langsung mengambil alih tumpukan kertas dari tangan Cynta.


"Loh pak, nggak papa." Cynta nampak terkejut akan aksi dadakan yang dilakukan oleh dosen pembimbingnya tersebut. Lalu segera menyusul pak Damai yang telah berjalan beberapa langkah di depannya.


Bruk.


"Ngapain lo suruh Cynta bawa berat berat kek gini, elo kan punya tangan." Pak Damai meletakkan tumpukan kertas yang ia ambil dari tangan Cynta dengan cukup kasar di atas meja pak Hanan.


Pak Hanan yang tengah menunduk, mengambil sesuatu di bawah meja pun segera menegakkan tubuhnya.


"Kasar amat sih Dam." Pak Hanan dengan kesal karena merasa terkejut dengan bunyi yang ditimbulkan rekannya saat meletakkan tumpukan kertas di atas mejanya.


"Jangan pernah lagi suruh Cynta bawa barang barang berat kek gini Han. Kasian dia tau." Pak Damai terlihat kesal.


"Ck... belum jadian aja udah posesif gimana nanti kalau beneran jadi..." Pak Hanan terkekeh.


"Han... jaga bicaramu. Ada Cynta." Pak Damai dengan mengeratkan gigi karena tak ingin Cynta mendengar pembicaraan mereka.


"Nggak papa juga dia denger. Iya kan Ta?" Bukannya menghentikan, Hanan malah semakin menggoda dosen lajang yang tengah memberikan pandangan sengit kepadanya tersebut.

__ADS_1


"Eh... iya apa pak, saya nggak denger." Cynta menggaruk belakang lehernya canggung. Cynta memang tidak memperdulikan pembicaraan kedua dosen tersebut. Karena menurutnya mencuri dengar pembicaraan kedua dosennya itu bukankah hal yang baik.


"Nanti kalau Damai nembak kamu, jangan mau ya." pak Hanan semakin menggoda pak Damai.


"Han!" Pak Damai dengan melotot semakin kesal.


"Cynta sini, kita ngobrol di meja kerja saya saja. Di sini lama lama bisa bikin stress." Pak Damai mengajak Cynta menjauhi meja kerja Pak Hanan dengan menarik salah satu tangan Cynta agar gadia itu tidak mendapatkan rancauan mulut ember Hanan.


Jika saja Damai tau mulut Hanan akan sember itu, pasti dia tidak akan berbagi cerita dengan lelaki yang juga jomblo seperti dirinya.


Cynta mengikuti langkah pak Damai dengan menunjukkan raut wajah bingung. Cynta benar benar tidak mendengar perdebatan apa yang tengah mereka berdua ucapkan karena mereka melakukannya dengan setengah berbisik.


Selalu saja kedua dosen lajangnya itu beradu mulut jika bertemu. Tanpa Cynta ketahui jika dirinyalah penyebab kedua dosen itu beradu mulut, dengan tak segan saling melempar ejekan.


"Cynta, ati ati. Jangan dimakan kalau kamu dikasih suguhan sama Damai nanti kena pelet." Peringat Hanan dengan berseru, tentu saja diserukan dengan disertai ledekan.


"Pak Hanan bisa aja." Cynta dengan tersenyum kikuk. "Mana mungkin pak Damai melakukan hal itu sama gue." lanjut Cynta dengan membatin.


"Duduk Ta." perintah pak Damai segera diangguki oleh Cynta. Kemudian segera mendaratkan bobot tubuhnya di atas sofa tempat pak Damai menerima tamunya.


"Nggak pak, nggak usah." tolak Cynta halus.


"Yakin?"


Cynta mengangguk pasti.


"Bener Ta, memang seharusnya kek gitu. Jangan kasih Damai kesempatan buat naruh pelet ke kamu." Tetiba pak Hanan sudah berdiri di dekat Cynta dan pak Damai duduk.


"Apaan sih Han, sana pergi... waktunya elo ngajar." usir pak damai dengan sengit.


"Yak elah, segitunya lo nggak mau diganggu Dam."


"Udah sana pergi. Huss..." sekali lagi pak Damai mengusir rekannya bak petani mengusir ayam yang menganggu padinya. Hal itu membuat Cynta tersenyum lucu.


"Cynta ingat pesenku. Jangan mau apapun yang ditawarkan Damai ke kamu. Jangan."

__ADS_1


"Han... pergi sono." Kali ini pak Damai berdiri dari duduknya kemudian mendorong bokong pak Hanan dengan kakinya.


Membuat Cynta mendelik tidak menyangka.


"Ck... sialan lo Dam, tapak sepatu lo mbekas di celana gue nih." gerutu Pak Hanan dengan membersihkan celana bekas sepatu pak Damai mendarat.


"Makanya cepet keluar lo."


"Iya... iya..." Pak Hanan pun melangkahkan kakinya.


Beru saja dua langkah berjalan.


"Cynta ingat! Jangan mau..." Pak Hanan mengerlingkan salah satu matanya, baru kemudian benar benar keluar dari ruangan setelah Cynta menganggukkan kepala tersenyum lucu.


"Dasar somplak lo Han." kesal Damai dengan raut wajah tertekuk kesal.


"Oh iya pak... Bapak mau ngomong apa?" Cynta memecah keheningan yang tercipta setelah kepergian pak Hanan.


"Oh iya, sampai lupa." Pak Damai mengalihkan pandangan dari pintu kemudian menghadapi ke arah Cynta.


Ada rasa gugup yang tiba tiba menyergap dalam benak Cynta saat melihat bapak dosen lajang di depannya bersikap tidak seperti biasa.


"Em... begini... gimana ya ngomongnya." gumam pak Damai bingung.


"Ngomong aja pak, nggak usah bingung. Seperti sama siapa saja." Cynta dengan tersenyum untuk mengurangi rasa tak biasa yang tetiba hadir.


Pak Damai menatap Cynta sesaat, kemudian membuang nafas kasar seolah mengusir kegugupan dalam dirinya.


Membuat Cynta semakin merasa aneh akan sikap sang dosen.


Detik berikutnya Pak Damai mengambil nafas dalam lalu membuangnya pelan. Menautkan jemarinya di atas paha kemudian menatap lekat kedua manik hitam Cynta.


"Maukah kamu menjadi kekasihku?"


Seketika tubuh Cynta membeku dengan tatapan tak percaya pada rungunya.

__ADS_1


❤❤❤❤


__ADS_2