Bukan Salah Rasa

Bukan Salah Rasa
Nyut nyutan


__ADS_3

"Lama banget sih itu cewek. Mandi apa tidur sih." Gama berdecak dengan memandangi pitu kamar mandi yang masih tertutup rapat.


Ini adalah sudah kesekian kalinya Gama bolak balik ke kamarnya karena ingin memakai kamar mandinya. Namun Cynta yang sedari satu jam lalu memakai kamar mandi miliknya, belum keluar juga dari sana. Di kamar kontrakan Gama, memang memiliki kamar mandi dalam.


"Gue ketok ajalah." Gama berjalan mendekati pintu kamar mandi miliknya. Gama sudah tidak sabar lagi. Dia tidak terbiasa menggunakan kamar mandi di luar. Belum lagi semua peralatan mandinya ada di dalam kamar mandinya.


Tok... tok...


"Lama banget sih! Lo mandi apa nyelem!" Gama dengan berseru kesal.


Tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi, hingga membuat Gama kembali mengetuk pintu kamar mandinya dengan lebih keras.


Ceklek...


Terdengar suara tuas pintu digerakkan dari dalam kamar mandi saat tangan Bima hendak mengetuk pintu kembali.


"Lama banget sih!" Seru Gama saat kepala Cynta menyembul dari balik pintu kamar mandi.


Gadis itu hanya menunjukan sedikit wajahnya dan menyembunyikan tubuhnya di balik pintu untuk menahan pintu agar tidak terbuka dengan lebar.


"Cepetan keluar. Gue juga mau mandi." perintah Gama saat mendapati Cynta masih dengan posisi yang sama, tidak ada tanda tanda melangkahkan kaki untuk keluar dari dalam kamar mandi.


"Anu... emm..."


"Apa?" tanya Gama dengan menunjukkan raut wajah kesal pada gadis yang terlihat enggan keluar dari dalam kamar mandi tersebut


"Itu..."


Cynta terlihat menggerakkan kedua bola mata, seperti bingung dan sedikit takut.


"Cepetan his..." Gama tidak sabar.


"Baju gue... emm.."


"Baju lo kenapa?"


"Baju ggue basah, tadi jatuh pas gue man_di." sahut Cynta dengan lirih dan juga terbata.


"Dasar ceroboh. Merepotkan." Gama dengan berlalu dari depan kamar mandi. Lalu menghampiri almari baju miliknya.


Meski Gama sangat kesal akan kecerobohan Cynta namun dia tetap saja mengambil baju ganti miliknya untuk dipakai oleh Cynta. Tidak mungkin dirinya membiarkan gadis itu telanjang di dalam kamarnya. Bisa bisa heboh nanti satu kontrakan.


"Nih pakek." Gama mengangsurkan sebuah trening navy dan juga kaos oblong berwarna putih pada Cynta. Gama sudah mencarikan baju miliknya yang paling kecil menurutnya.


Cynta pun menerima dengan mengulurkan satu tangannya dan dengan hanya kepala yang masih menyembul di balik pintu kamar mandi.


"Gam!"


Seru Cynta membuat Gama kembali menoleh saat kakinya sudah beberapa langkah menjauh dari pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Apalagi?" tanya Gama dengan wajah masamnya.


"Dalemannya?"


"Whatss?!" pekik Gama dengan membola.


"Baju gue basah se_mu_a." ucap Cynta seolah menunjukkan kondisi bajunya dengan santai dan tanpa dosa.


Sepertinya gadis itu melupakan jika dirinya dan Gama berbeda jenis kelamin. Dan jangan lupakan jika keduanya bukanlah teman, sahabat ataunpun saudara yang telah akrab sebelumnya.


Gama menghirup nafas kuat lalu mengelurakan dengan pelan saat melihat wajah yang menyembul dari balik pintu terlihat memandangnya tanpa beban sedikitpun. Seolah apa yang dimintanya itu adalah sesuatu yang biasa saja.


"Elo sadar nggak sih apa yang lo minta ke gue itu apa?"


"Sadarlah. Gue minta daleman. Berasa masih telanjang gue kalau nggak pakek daleman." ucap gadis itu masih dengan santai.


Padahal kepala Gama saat ini nyut nyutan nggak karuan. Bagaimana mungkin gadis yang tidak memiliki hubungan apapun dengan dirinya tersebut menodong pakaian dalam padanya dengan santai seolah tak peduli jika mereka itu memiliki jenis kelamin berbeda.


"Cepetan Gam, mikirin apa sih. Pelit amat jadi orang. Ntar gue loundri dulu sebelum gue balikin. Gue minta pewanginya dobel biar nggak ada bau bekas gue."


Gama kembali membuka kedua matanya dengan lebar mendengar ucapan Cynta.


Gama pun memijit pelipisnya yang terasa semakin pening mendengar ucapan santai gadis itu.


Meski rasanya sangat kesal dan jengkel, akhirnya Gama memutuskan mendekati almari bajunya kembali. Membuka almari yang menjadi tempatnya menaruh pakaian dalam miliknya.


Gama menatap gamang pada tumpukan pakaian dalam miliknya. Apakah benar dia harus meminjamkan benda segitiga yang selama ini membungkus inti tubuhnya itu pada gadis yang telah membuatnya kesal tersebut.


Ck...


"Nggak punya lagi."


Gama mengambil benda segitiga yang menurutnya belum lama dia pakai sambil berdecak.


Kepalanya menoleh ke arah pintu kamar mandi. Gadis itu masih setia menatapnya dengan posisi yang masih tetap sama.


Huh...


Hembusan nafas pendek keluar dari mulut Gama sebelum memutuskan kembali berjalan ke arah pintu kamar mandi.


"Nih."


Gama menyerahkan benda segitiga miliknya dengan membuang wajah.


"Cuma ini doang?"


Gama mengarahkan pandangan pada Cynta saat mendengar gadis itu mengucap kata.


Kedau alis mata bertaut seolah mempertanyakan ucapan Cynta.

__ADS_1


"Bra_nya mana?"


Kedua bola mata Gama melebar sempurna, seraya menahan nafas sesaat.


"Gue enggak punya, gue nggak pernah pakek begituan." Gama memilih segera menjauh dari pintu kamar mandi agar tidak mengalami keabsurdan perempuan bernama Cynta tersebut. Lama lama dia bisa gila dekat dengan makhluk berambut panjang tersebut.


Gama menghentikan langkah kakinya saat menyadari sesuatu.


"Ta tunggu..." seru Gama dengan membalik tubuhnya, namun terlambat pintu kamar mandi dengan rapat.


"Haissh.... kenapa gue kasih baju putih sih." sesal Gama sambil berjalan mendekati bed tidurnya kemudian duduk menyandarkan punggungnya pada tepi bed tidur.


"Serahlah..." Gama dengan menyalakan PC miliknya guna menunggu Cynta menyelesaikan aktivitas kamar mandinya.


Selang beberapa menit kemudian.


"Gue udah selesai. Mandi sono." Cynta telah berdiri di samping Gama dengan mengusap rambut basahnya memakai handuk.


Mendengar itu Gama pun menghentikan keasyikan main gamenya di PC. Mempause game yang masih berlangsung kemudian beranjak berdiri.


"Nih handuknya bawa sekalian." Cynta dengan seenaknya menyodorkan handuk bekasnya mengusap rambut tepat di dada bidang Gama.


Gama yang baru saja membalik tubuhnya menghadap Cynta pun segera menahan handuk tersebut dengan tangan agar tidak terjatuh ke lantai. Pandangan mata Gama pun fokus pada handuk di depan dadanya. Baru kemudian mendongakkan kepala hendak mengumpat pada gadis itu karena bertindak seenaknya.


Hek.


Sial...


Gama menahan nafas seraya menelan salivanya kelat saat mendapati dua gundukan kembar milik Cynta terlihat membumbung dengan pucuknya yang terlihat kentara di balik kaos putih polos miliknya.


"Makasih karena lo udah pinjemin baju lo buat gue. Gue juga minta maaf karena udah gangguin lo. Gue pamit mau pulang."


Tak ada sahutan dari mulut Gama. Cowok itu masih mematung di tempatnya dengan pandangan tepat pada dada Cynta.


"Udah mandi sono, malah bengong." Cynta mengibaskan tangan di depan wajah Gama. Gadis itu tidak menyadari arah pandangan mata Gama.


"Mau kemana lo?" tanya Gama kemudian setelah tersadar efek kibasan tangan Cynta.


"Pulanglah, mau kemana lagi."


"Sama siapa?"


"Sama Aldi, siapa lagi. Nggak mungkin kan sama lo secara...."


"Sama gue aja." potong Gama cepat seraya berjalan melewati Cynta menuju pintu kamarnya.


Dengan segera Gama memutar anak kunci pada lubang pintu kamar, mengambilnya lalu memasukkan ke dalam kantong celana pendek yang dipakainya. Setelahnya menuju almari pakaian dan mengambil handuk baru dari sana.


"Gue mandi dulu." Gama dengan melempar handuk yang baru diambil dari almari pada Cynta.

__ADS_1


"Cowok aneh." Gumam Cynta dengan menatap kepergian Gama ke kamar mandi. Setelah sesaat terbengong melihat tindakan Gama.


❤❤❤❤


__ADS_2