
"Yah... yah... gue udah cium bibir Gama dong.... Ya ampun gimana ini udah nggak perawan lagi dong bibir gue..." Cynta membatin dengan menepuk bibirnya dengan ujung jemari berulang ulang.
"Ngapain lo kek gitu?" Gama dengan memandang aneh pada Cynta.
Seketika Cynta menghentikan gerakan ujung jemarinya yang menepuk bibirnya berulang. Masih dengan ujung jemari yang menutup mulut, ekor matanya melirik pada Gama yang menoleh ke arahnya.
"Ngapain?" tanya Gama kembali dengan menaikkan kedua alis matanya.
Cynta pun bingung untuk memberikan jawaban pada Gama. Tidak mungkinkan dia mengatakan apa yang tengah dipikirkan oleh otak polosnya.
Lalu Cynta memutuskan menggelengkan kepalanya.
"Nggak usah bohongin gue lo. Lepas tangan lo, ngomong sama gue." perintah Gama dengan mengarahkan pandangan matanya pada mulut Cynta yang masih tertutupi jemari tangan kanan.
Lagi Cynta menggeleng. Kali ini lebih kuat.
"Otak lo lagi mikir mesum kan?"
Tebak Gama membuat kedua mata bundar Cynta makin membulat sempurna dan reflek melepaskan jemarinya dari bibirnya.
"Darimana lo tahu?"
Gama tersenyum miring.
"Tertulis jelas di sini lo." tunjuk Gama menekan kening Cynta dengan ujung jari telunjuknya.
"Nggak mungkin!" pekik Cynta reflek mengusap kening setelah Gama mengangkat jari telunjuknya.
"Dasar cewek mesum." Desis Gama dengan senyum seringai tipis yang tentu saja Cynta menyadarinya karena gadis itu tengah menatap lurus wajah Gama.
"Gue nggak mesum!"
Hek...
Cynta segera membekap mulut saat menyadari pekikannya. Pupil matanya bergerak ke kanan dan ke kiri takut ada yang mendengar pekikannya.
"Jelas jelas lagi bayangin ciuman nggak langsung sama gue, masih ngeles aja lo."
"Gue nggak..."
Belum juga menyelesaikan kalimatnya, Gama memotongnya dengan cepat.
"Enggak apa? Pengen yang langsung?"
Bukannya menghentikan, Gama malah semakin menggoda Cynta. Akibatnya, membuat Cynta mendengus seraya memalingkan wajahnya yang tetiba menghangat. Percuma Cynta mengelak karena Gama akan semakin menggodanya.
"Kita pulang sekarang." Gama dengan berdiri seraya mengulurkan tangan di samping wajah Cynta setelah beberapa saat keduanya saling diam.
Cynta yang tengah memalingkan wajah seketika menoleh saat mendengar ajakan pulang Gama. Kemudian meruntut tangan kekar Gama yang tengah mengambang di depan wajahnya. Membuat kepalanya tanpa sadar mendongak.
__ADS_1
"Pulang!"
Itu adalah perintah, bukan ajakan yang keluar dari mulut Gama.
"Gue pulang sendiri aja. Berangkat kita kan nggak barengan." tolak Cynta pada Gama.
"Pulang sekarang udah sore." Gama memaksa dengan menarik tangan kanan Cynta hingga membuat gadis itu mau tak mau berdiri dari duduknya.
"Gue pulang sendiri aja." Cynta menahan tubuhnya saat Gama telah mengayunkan kaki untuk berjalan sembari menarik tangannya.
Gama pun mengurungkan langkah kakinya, kemudian menoleh pada Cynta yang memaku tubuh di belakang punggungnya.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Gama. Lelaki itu hanya memberikan tatapan tajam seraya menarik kuat tangan Cynta yang berada dalam genggamannya.
Huh...
Dengus Cynta yang akhirnya menuruti kemauan lelaki pemaksa di depannya.
Beberapa saaat keduanya pun berjalan dengan posisi Gama di depan sedangkan Cynta mengekor di belakang Gama. Kedua tangan mereka masih saling bertautan seperti layaknya pasangan kekasih.
"Gam berhenti bentar." Cynta dengan menahan tubuh seraya menarik tangan Gama agar berhenti.
"Apa lagi?" Gama dengan menoleh.
"Gue mau main itu." tunjuk Cynta pada mesin capit boneka yang telah mereka lewati.
"Lo mau boneka?" tanya Gama setelah mengarahkan pandangan pada telunjuk Cynta.
"Nanti beli di bawah." tolak Gama dengan hendak mengayun kaki kembali.
Buru buru Cynta menahan tangan Gama dengan kedua tangannya. "Gue maunya maen itu bukan beli."
"Ngapain musti nyari yang susah kalau ada yang mudah." Gama dengan enggan.
Cynta menunjukkan wajah cemberutnya.
"Nanti gue beliin. Gue bayarin." bujuk Gama. Namun dijawab dengan gelengan serta bibir yang makin mengerucut oleh Cynta.
"Hissh... kenapa jadi kek ngemong bocil sih." gerutu Gama dengan melajukan kaki mendekat pada mesin boneka.
"Salah sendiri, siapa yang ngeyel minta pulang bareng." Cynta dengan senyum mengembang karena telah berhasil membuat Gama menuruti permintaannya.
"Nyoba sekali, gagal langsung pulang." Gama mengeluarkan kartu time zonenya dari dompet. Lalu menyerahkannya pada Cynta.
"Enak aja. Enggak. Sampek dapetin boneka, minimal satu." Cynta menerima, kemudian langsung tancap gas mencoba permainan boneka capit yang tengah digandrungi anak anak kecil zaman now.
"Yah... gagal..." desah Cynta dengan frustasi setelah gagal mencapit boneka incarannya. Padahal ini sudah kelima kalinya Cynta mencoba.
"Udah gue bilang buat beli aja kan. Siapa suruh ngeyel." Gama dengan bersidekap dada di samping mesin capit boneka yang Cynta mainkan.
__ADS_1
"Elo tu nggak tau sensasinya pas bisa ngedapatin Gam." Cynta mengabaikan Gama dan kembali mencoba memainkan capit boneka tersebut. Dalam hati sangat berharap bisa mendapatkannya kali ini.
"Elo tu nggak bakalan bisa Ta." Gama meremehkan.
"Kek elo yang paling bisa aja." Cynta mencebik kesal lalu mencoba fokus kembali pada mesin capit di depannya.
Cynta melipat bibir bawahnya dengan mencengkeram kuat tuas mesin capit boneka saat capit itu tengah bergerak membawa boneka beruang teddy incarannya.
"Yah... sial." Kesal Cynta saat sedikit lagi hendak berhasil, boneka beruang teddy yang kedua tangannya tengah memegang hati berwarna merah lepas begitu saja.
"Sini biar gue cobak." Gama mengambil alih tuas game boneka capit dengan mendorong tubuh Cynta menjauh.
"Emang lo bisa?" Tanya Cynta dengan meremehkan.
"Belum coba kan?" Gama terlihat kesal saat mendapat tanya Cynta yang terkesan meremehkan dirinya.
"Baiklah. Silahkan mencoba." Cynta menjauhkan tubuhnya dari mesin capit boneka.
Gama pun segera meletakkan telapak tangannya di atas tuas penggerak capit boneka.
Namun sedetik berikutnya Gama terlihat menjauhkan tangannya dari tuas seraya menoleh ke arah Cynta yang berdiri tak jauh di samping kirinya.
"Lo mau boneka yang mana?" tanya Gama seolah lelaki itu bakal mampu mendapatkan boneka dalam box mesin permainan dengan gampang.
Cynta tersenyum mengejek. "Emang lo bisa?"
Gama tidak menyahuti pertanyaan Cynta, lelaki itu memilih kembali memberi perintah pada Cynta.
"Cepatlah tunjuk boneka yang lo pengen biar gue ambilkan."
"Cih... sok jago lo." Cynta berdecih, meragukan kemampuan Gama.
"Cepet pilih, ntar baru lo ejek gue sepuas lo kalau gue nggak bisa mengambilnya." Gama menarik lengan Cynta agar gadis itu mendekat.
"Itu... si buaya ijo." Cynta sengaja menunjuk boneka paling kecil menurutnya agar Gama semakin sulit untuk mengambilnya. Cynta menyebut itu buaya karena kepalanya panjang dengan tubuh yang juga sedikit panjang serta memiliki punuk duri di sepanjang tubuhnya. Sungguh sangat mirip buaya menurutnya.
"Itu dinosaurus Ta, bukan buaya."
"Buaya."
"Dino."
"Buaya."
"Dino." Gama kekeh.
"Elo sebenarnya mau ngambil buat gue nggak sih?!" Cynta berusaha mengakhiri perdebatan kecil mereka yang kekeh pada sebutan boneka yang Cynta tunjuk.
"Ck... elo yang mulai." Gama berdecak kesal. "Jadi si dino kan?" Gama memastikan pada Cynta.
__ADS_1
"Ya ya... terserah lah apa namanya. Yang penting itu."
❤❤❤❤