Bukan Salah Rasa

Bukan Salah Rasa
Satu Kamar


__ADS_3

Sebuah mobil berwarna hitam legam berhenti di depan sebuah rumah kontarakan yang pintu pagarnya telah tertutup rapat.


"Huh... Akhirnya sampai juga." Gama menghentikan mobilnya di depan rumah kontrakan dengan rasa lega.


Segera turun dari kendaraan roda empat miliknya, lalu membuka pintu pagar berwarna hitam yang telah tertutup rapat.


Dengan langkah gontai Gama menggeser pintu pagar yang terbuat dari besi rumah kontrakan miliknya dengan hati hati. Hal itu dimaksudkan agar tidak menimbulkan bunyi decitan yang sangat keras. Gama tak ingin penghuni kontrakan lainnya terganggu karena kegaduhan yang ia timbulkan.


Setelah pintu pagar terbuka dengan lebar, Gama memasuki mobil kembali untuk memasukkan toyota fortunernya ke halaman rumah kontrakan.


Setelahnya, Gama kembali menuruni toyota fortunernya. Dengan menahan kantuk Gama memastikan kendaraan roda empatnya terparkir dengan aman dan memberi akses untuk motor bisa keluar dari garasi. Gama tidak ingin tidurnya nanti terganggu saat ada yang ingin mengeluarkan motor dari garasi esok hari. Gama ingin hibernasi untuk memanjakan mata dan tubuh lelahnya.


Gama berjalan lunglai memasuki rumah kontrakannya dengan rasa lelah yang tak dapat ditahan lagi. Tiga hari mendampingi anak maba mengikuti kegiatan Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) membuat tubuh Gama terasa remuk redam.


Kontrakan Gama terlihat sepi, maklum hari sudah sangat malam. Lebih tepatnya mungkin dapat dikatakan menjelang pagi.


"Ck... pakek lupa lagi." dengus Gama kesal.


Dengan langkah gontai Gama kembali berjalan menuju mobilnya untuk mengambil kunci. Gama lupa jika kunci pintu utama kontrakannya di masukkan ke dalam saku tas punggung yang dia bawa hiking.


Gama kembali membuka pintu kendaraan roda empatnya, menjangkau tas ransel yang dia letakkan di kursi sisi pengemudi.


"Huft... berat juga ternyata." Gama marasakan punggungnya berat saat tas ranselnya telah bertengger di pundaknya. Menurutnya saat berangkat tidak seberat ini.


Ceklek... klek...


Gama membuka dan menutup kembali pintu utama dengan tak lupa menguncinya. Kemudian berjalan menuju kamar miliknya. Gama sudah tak sabar untuk merebahkan tubuhnya yang remuk redam.


Saat mencapai pintu kamarnya Gama segera melepas sepatu dan kaos kaki lalu meletakkannya di rak sepatu yang terletak di depan dinding kamarnya.


Kriet...


Bunyi pintu kamarnya berderit saat Gama membukanya.


Gama tidak perlu membuka kuncinya karena dia memang tidak mengunci kamarnya saat pergi kemarin. Apalagi saat dia meninggalkan kamar kontrakannya kemarin, kamar miliknya itu digunakan untuk berkumpul oleh anak anak kos.


Kamar Gama memang memang paling luas diantara kamar lainnya. Selain itu kamar Gama memiliki televisi layar datar yang cukup besar, dilengkapi dengan alat pemutar musik dan video bak bioskop mini. Untuk itu kamar miliknya sering digunakan sebagai tempat ngumpul anak anak kos.

__ADS_1


Seperangkat playstation untuk melepaskan rutinitas kuliah yang melelahkan juga tersedia di dalam kamar Gama.


Selain itu sebuah PC keluaran terbaru juga melengkapi kebutuhan penunjang kuliahnya. Gama memang tergolong anak orang kaya. Sangatlah mudah baginya untuk memenuhi fasilitas kamar yang sesuai keinginananya. Meski semua fasilitas itu tidak hanya untuk dirinya sendiri.


Sebenarnya orang tua Gama membelikan sebuah apartemen di kota tempatnya menimba ilmu ini. Namun Gama enggan menempatinya. Menurut Gama, tinggal di apartemen itu sepi dan tidak enak karena tinggal sendiri. Gama lebih menyukai tinggal bersama teman temannya dan mengontrak rumah bersama mereka.


Mendapati kamarnya yang gelap gulita, tangan Gama bergerak merayap pada dinding dekat pintu.


Ceklek


Tidak ada perubahan yang terjadi saat tangan Gama telah menekan tombol saklar lampu kamar. Kamarnya tetap saja gelap gulita.


Gama pun kembali menekan tombol saklar lampu kamarnya berulang. Hasilnya tetap saja sama. Mungkin memang lampu kamarnya mati.


Gama pun menghembuskan nafas lelah, seraya mengumpat pelan.


"Sial..."


Gama pun menutup pintu kamarnya kembali. Memilih mengabaikan kondisi kamarnya yang gelap, besok saja menggantinya toh Gama hafal betul tata letak kamarnya meski dalam keadaan gelap gulita.


Brug.


Untunglah sebelum acara api unggun tadi, Gama sudah membasuh tubuhnya dan mengganti seluruh pakaiannya dengan yang baru. Jadi Gama tidak perlu kuatir tidak nyaman saat tidur nanti.


Brugh


Dengan tak sabar Gama melempar tubuhnya ke atas bed tidur. Meraih guling dan mendekapnya erat.


"Guling gue kok aneh sih... ahh bodolah..."


Gama pun memilih memejamkan kedua matanya. Rasa lelah lebih mendominasi.


*


*


*

__ADS_1


Arrgghh...


Dug


Brukk


"Ke...ke..nnapaa kalian berdua bisa di kamar gue?" Cynta dengan wajah linglung saat mendapati Aldi berdiri tak jauh dari bednya tidur. Dan juga Gama yang telah terduduk meringis mengusap punggung polosnya.


Aldi memandang Cynta dan Gama silih berganti, menggaruk kepala dengan otak yang berusaha mencerna situasi di hadapannya.


Beberapa saat lalu Aldi memasuki kamar Gama yang tidak terkunci, dan mendapati Gama dan Cynta saling berpelukan di atas bed tidur.


Kondisi Gama yang setengah telanjang sempat membuat Aldi berteriak karena terkejut.


Karena teriakan Aldi itulah Cynta terbangun dan tanpa sengaja mendorong tubuh Gama yang tengah memeluknya.


Entah karena dorongan tangan Cynta terlalu kuat atau memang posisi tubuh Gama yang terlalu pinggir, membuat Gama terjatuh dari bed tidurnya.


"Harusnya gue yang tanya kenapa lo bisa tidur sama gue? Di kamar gue?" ketus Gama dengan penekanan, jangan lupakan dengan tatapan sorot mata elangnya yang menghujam. Membuat nyali Cynta menciut.


Cynta celingak celinguk, memindai sekitar setelah mendengar pernyataan Gama yang menyebut kamat ini adalah miliknya.


Kedua mata Cynta melebar dengan raut wajah yang memucat. Cynta merapatkan tangan di depan dada menelisik tubuhnya. Alhamdulillah pakaiannya masih lengkap melekat pada tubuhnya.


"Kenapa gue bisa di sini ya?" lirih Cynta menggigit ujung kukunya seraya mengingat bagaimana dirinya bisa terdampar dalam bed yang sama dengan Gama.


Saat menatap sorot tajam mata Gama yang terlihat tidak senang akan keberadaannya, Cynta keder juga.


❀❀❀❀


Mohon maaf atas ketidaknyamanan karena akhir akhir ini entah kenapa part Bukan Salah Rasa agak eror.


Sering kebalik balik dan bertukar tempat. Mungkin karena sinyal di tempat othor yang sering ngelag atau mungkin juga hengpong othor yang udah jadul...🀭🀭


Untuk bab ini tadi sempat hilang, beruntung masih ada draftnya so othor bisa kirim ulang tanpa pusing mikirin alur cerita lagi...


Jangan lupa jejaknya likenya diulang yak... ngarep banget inih😘😘

__ADS_1


Tengyu❀❀❀


_πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»_


__ADS_2