
"Cynta."
Gama memanggil, setelah membuka kaca jendela mobil di sisi kanannya. Lelaki itu tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bertemu atau setidaknya melihat wajah cantik yang membuat hatinya gelisah beberapa hari ini. Gama mengikuti arah hatinya untuk memanggil gadis yang tengah berjalan melewati sisi kendaraan roda empatnya.
Cynta yang tengah berjalan tak jauh dari mobil Gama pun menghentikan langkah kakinya lalu menoleh karena merasa ada yang memanggil namanya. Keningnya mengerut saat mendapati wajah tak asing di dalam bingkai jendela mobil tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Ta.." Gama terlihat melongokkan kepala hingga keluar dari bingkai jendela mobil yang telah terbuka.
"Gama... ngapain di sini malem malem?" Cynta membalik tubuh sepenuhnya saat menyadari jika pemanggil namanya adalah Gama.
"Lo mau kemana?" tanya Gama dengan senyum berbinar senang menghiasi wajah lelahnya. Bahkan saking senangnya bertemu dengan gadis yang telah memporak porandakan hatinya, Gama mengabaikan pertanyaan Cynta.
"Cari makan." jujur Cynta dengan raut wajah heran. Karena tidak menyangka dengan sikap Gama yang terlihat kembali ramah padanya.
Lihatlah, wajah tampan rupawan itu tersenyum sumringah ke arahnya. Padahal beberapa hari lalu, Gama terlihat dingin dan mengabaikan keberadaannya.
Cynta makin terkejut saat melihat Gama keluar dari kendaraan roda empatnya dan berjalan dengan langkah kaki lebar mendekat ke arahnya.
"Kalau gitu makan bareng gue." Gama menarik pergelangan tangan kiri Cynta tanpa permisi.
"Loh... loh Gam..." Cynta berusaha menahan langkah Gama yang seenaknya menarik pergelangan tangannya.
"Gue juga belum makan." Gama tanpa menoleh, semakin kuat menarik pergelangan tangan Cynta karena gadis itu berusaha memaku tubuhnya.
"Masuk." perintah Gama saat pintu sisi penumpang ia buka.
"Mau kemana?" tanya Cynta enggan memasuki kendaraan roda empat milik Gama.
"Katanya mau makan?!" Gama terdengar lembut.
"Tapi gue cuma pengen beli gudeg di depan doang."
"Gue anterin." Gama mendorong tubuh Cynta agar segera masuk ke dalam mobil.
"Cuma di depan doang, nggak usah pakek mobil. Biar gue jalan aja." tolak Cynta masih enggan memasuki toyota fortuner milik Gama. Membuat Gama berdecak kesal.
"Naik ini aja biar cepet." Gama memaksa Cynta masuk ke dalam toyota fortunernya dengan membopong tubuh gadis itu ala bridal style. Membuat Cynta memekik dan melebarkan kedua bola matanya.
__ADS_1
Setelah memaksa Cynta masuk ke dalam toyota fortunernya, Gama segera menutup pintu dan berjalan memutari mobil untuk memasuki sisi pengemudi. Kemudian menyalakan mesin dan menjalankan toyota fortunernya meninggalkan pelataran rumah kost Maya. Seolah takut jika Cynta akan memilih turun dari kendaraan roda empat Gama.
"Gam... kita mau kemana sih?"
Cynta memecah keheningan setelah beberapa saat berkendaraan Gama tak kunjung menepikan toyota fortunernya pada warung makan pinggir jalan yang menyajikan menu gudeg. Padahal beberapa kali mereka telah melewati warung tenda yang menyajikan menu gudeg yang Cynta inginkan.
"Gue tunjukin tempat gudeg paling enak di jogja."
"Di depan gang kos gue juga enak kok." Cynta memberengut kesal karena sesungguhnya dia sudah sangat lapar saat ini.
"Tapi nggak higienis Ta, di pinggir jalan itu banyak debu, asap kendaraan bermotor sliweran. Nggak baik buat kesehatan." Gama memberi alasan.
"Nyatanya gue sehat sehat aja, nggak ada sakit sakitan." Cynta dengan nada kesal karena sudah tidak dapat menahan rasa lapar.
"Ta... lo ngambek?" Gama berusaha tetap lembut dibalik rasa lelah yang menghinggapi tubuhnya. Jika saja bukan Cynta yang di hadapi oleh Gama saat ini, sudah pasti Gama bakal meninggikan intonasi bicaranya.
"Iya, gue laper banget." sewot Cynta dengan melipat kedua tangan di depan dada serta membuang wajah keluar jendela. Layaknya seorang gadis yang tengah merajuk di depan kekasihnya.
Gama terkejut mendengar pengakuan Cynta.
"Banget?"
"Lo belum makan dari siang?" Gama dengan menolehkan wajah ke arah Cynta.
"Iya." Cynta terlihat lesu menganggukkan kepala.
Terakhir makan jam berapa?"
"Tadi siang jam sepuluhan." Jawab Cynta jujur.
Tanpa banyak kata Gama langsung menginjak pedal gas kuat agar cepat mencapai kedai gudeg tujuannnya hingga membuat Cynta memekik kaget.
"Gama... gue masih pengen hidup!"
Gama menoleh sekilas.
"Biar cepet sampai."
__ADS_1
"Tapi gue takut Gam, lo bawa mobilnya kenceng banget." Nampak jelas ketakutan di wajah Cynta karena Gama melajukan toyota fortunernya dengan kecepatan tinggi.
Set...
"Nggak usah takut, ada gue. Gue nggak bakal bikin lo celaka." Gama menautkan jemari kirinya dengan jemari kiri milik Cynta. Membingkai senyum yang entah mengapa membuat Cynta merasa tenang dan nyaman meski Gama tidak mengurangi kecepatan laju kendaraannya.
Tak dapat dipungkiri jika jantung Cynta berdetak dua kali lebih cepat serta menghadirkan rasa hangat yang menyusup ke dalam hatinya.
Kenapa perasaan gue jadi nggak karuan kek gini sih... Cynta membatin, mengalihkan pandangan untuk menutupi rasa hangat yang menjalar pada permukaan kulit wajahnya. Sudah dapat dipastikan jika wajah Cynta merona saat ini.
"Jadi makan nggak?"
Suara tanya Gama membuat Cynta tersadar dari lamunannya.
"Udah sampai ya?" kikuk Cynta saat menyadari toyota fortuner yang mereka kendarai telah berhenti di depan sebuah kedai gudeg yang sangat terkenal di Jogja.
"Dari tadi." Gama dengan senyum yang entah kenapa lagi lagu membuat Cynta terpesona dan menaikkan ritme detak jantungnya.
"Maaf." lirih Cynta merasa bersalah karena dirinya melamun dan tidak menyadari jika mereka telah sampai ke tempat tujuan.
"Dimaafkan." Gama dengan kekeh kecil.
"Enggak turun?" Cynta menoleh ke arah Gama yang masih setia duduk di belakang kemudi.
"Gimana gue bisa turun kalau lo genggam tangan gue terus." Gama dengan memandang tangannya yang entah sejak kapan tidak saling bertautan. Melainkan berada dalam genggaman tangan Cynta.
Hek...
Cynta terhenyak, segera melepaskan tangan Gama dari genggamannya.
"Sorry." Cynta segera turun dari kendaraan roda empat milik Gama untuk menghilangkan perasaan kikuk yang datang melanda hatinya.
Gama tersenyum simpul, lelaki itu segera membuka pintu mobil dan keluar menyusul Cynta yang telah berjalan menuju kedai gudeg lebih dulu.
Set...
"Jangan jalan sendirian, ntar digangguin orang kek di mall kemarin." Gama tersenyum lembut dengan menggenggam jemari Cynta. Menuntun gadis itu memasuki kedai gudeg bersama.
__ADS_1
Lagi lagi membuat jantung Cynta berdegub tak beraturan.
❤❤❤❤