
"Cyn ... Cynta ... bangun diliatin pak dosen tuh. Tar dapat omelan, tau rasa lo." Lirih gadis berlesung pipi dengan menyikut lengan Cynta yang sedang merebahkan kepala di atas meja tempatnya menimba ilmu.
Cynta hanya mengeliat, tetap enggan untuk membuka matanya.
"Cynta" lagi gadis berlesung pipit yang duduk di sebelah kanannya itu menyenggol lengan Cynta dengan lebih keras hingga membuat Cynta sedikit menegakkan kepalanya lalu mengusap lengan kanannya yang terasa sedikit sakit.
"Elo apaan sih Re ... gangguin aja. Gue ngantuk banget ini ...." Cynta berucap kesal karena merasa tidurnya terganggu
Gadis berlesung pipi berwajah oriental itu adalah Tere teman kampus Cynta yang satu angkatan dengannya. Teman kuliah Cynta yang dikenal dan menjadi sangat dekat sejak masa orientasi kampus. Kini mereka berdua adalah sahabat.
"Elo habis marathon drakor, merem mulu itu mata," kali ini Icha, gadis berkacamata yang merupakan teman Cynta yang lain. Icha berbisik dengan mencondongkan tubuhnya ke depan. Karena posisi duduk Icha tepat di belakang tubuh Cynta.
"Iya mungkin ... malam Senin jugak, gak inget apa kalau Senin itu harus kuliah dengan jadwal padat." Rara menyahut dengan suara tak kalah pelan, takut jika dosen tampan yang sedang menerangkan di depan mendengarnya bersuara.
Cynta berusaha menegakkan kepalanya. Dengan mata yang masih menyipit dia berucap kata.
"Gue marathon tugas bukan marathon drakor kek kalian ...."
"Nggak percaya gue ... orang Sabtu Minggu lo ngendon di kosan gak ngumpul sama kita kok. Mosok dua hari gak cukup waktu lo buat nyelesain tugas. Otak gue yang pas - pasan aja selesai dalam sehari, trus apa kabar otak cerdas lo?!" Rara, teman Cynta yang lain kembali menyahut.
"Gue beneran marathon tugas semalem." Cynta dengan menutup mulutnya dengan telapak tangan karena menguap.
"Enggak mungkin. Enggak usah bohong lo." Tere dengan tidak percaya pada ucapan Cynta.
__ADS_1
Tere tau jika Cynta bukan orang yang suka menunda pekerjaan. Karena Tere tau bagaimana padatnya jadwal harian Cynta yang menjadi teman dekatnya di kampus tersebut.
"Gue gak bisa ngerjain tugas gegara jogging kemaren." Cynta mengungkapkan alasannya. Karena memang itu kebenarannya.
Tere, Icha maupun Rara membelalakkan kedua mata mereka lebar. Sejak kapan Cynta suka berolah raga, mungkin itu yang ada di benak mereka saat ini.
"Beneran gue jogging di UGM kemaren, nganterin Maya." terang Cynta saat melihat pandangan ketiga temannya yang terlihat tidak percaya.
Ketiga teman Cynta sudah paham siapa Maya yang Cynta maksud, akhirnya ketiga sahabatnya tersebut menganggukkan kepala berulang sebagai tanda mengerti.
🌹🌹🌹
"Cynta ... ikut ke ruangan saya!" titah dosen muda yang bernama Damai Nasution itu menghampiri bangku Cynta dan teman - temannya saat sudah mengakhiri kelasnya hari ini.
Tidak ada yang memandang aneh atas perlakuan dosen muda tersebut pada Cynta. Meskipun dosen muda yang tampan itu menghampiri Cynta di saat seluruh mahasiswanya belum keluar dari ruang kelas. Hal itu disebabkan oleh Cynta adalah asisten dosen dari dosen muda tersebut.
"Siap Pak ...." Cynta berdiri tegak kemudian sedikit membungkukkan badannya. Layaknya seorang bawahan pada atasannya di kesatuan militer
Setelah mendapatkan jawaban dari Cynta dosen muda tersebut meninggalkan ruangan kelas dengan tidak lupa memberikan senyuman ramah yang menawan.
Dan senyuman seorang Damai Nasution yang berperawakan tinggi, berkulit putih dengan rambut hitam legam nan tampan itu mampu membuat ketiga sahabat kampus Cynta berteriak kegirangan.
Cyntapun tak henti menggelengkan kepalanya saat melihat reaksi ketiga teman yang menurutnya berlebihan tersebut.
__ADS_1
"Cynta ... elo enak banget sih bisa berduaan di ruangan Pak Damai. Kalaupun di sana gak ada ACnya pasti tetep aja bisa ngadem yakk ...." Tere berucap, lalu memejamkan mata seperti menikmati kesejukan wajah tampan dosen muda yang bernama Bapak Damai tersebut. Bak mendapat sapuan angin yang berhembus lembut di depan wajahnya.
Cynta pun terkekeh kecil seraya menggelengkan kepala melihat aksi Tere yang menurutnya absurd.
"Iyalah ... deket Pak Damai itu pasti sejuk, damai ... sedamai namanya. AC mah udah gak butuh lagi ya kan Cynn ...." Kali ini gantian Icha yang berucap kata dengan mengerlingkan sebelah matanya.
"Bener - bener ...." Rara tak berhenti menaik turunkan dagunya guna membenarkan ucapan - ucapan sahabatnya.
Cynta tersenyum tipis. "Enggak juga ... gue tetep butuh AC di sana, apalagi kalau tugas gue numpuk banyak dan harus selesai sesuai deadline. Mana Pak Damai maunya tau beres. Gerah juga kali koreksi bertumpuk - tumpuk tugas mahasiswanya, belum lagi kalau harus ikut menyelesaikan laporan beliau."
"Tapi kan lelahnya ketutup sama wajah tampan Pak Damai, Iya kan Cynn ...?!" Tere berucap dengan senyum dan kedua kelopak mata yang tidak berhenti mengerjap.
"Itu mah elo, gue enggak ya ...." Cynta menyentil pelan dahi Tere hingga membuat bibir temannya itu mengerucut. Tere memang sahabat terdekat Cynta dibandingkan dengan kedua sahabatnya yang lain.
Cynta memang tidak memiliki rasa sedikit pun pada dosen tampan tersebut, walaupun kadar ketampanannya memang luar biasa up normal.
Lagian Cynta tidak berselera dengan ketampanan pak dosen tersebut, yang menurutnya sudah layak disebut om om.
"Udah ah gue mau nyusul pak dosen, biar kerjaan gue cepet kelar." Cynta beranjak dari duduknya lalu memberikan cipika cipiki kepada ketiga sahabat baiknya itu.
Setelahnya beranjak keluar ruangan kelasnya.
"Kita nunggu kantin ya Cynn ...!!" seru Icha pada Cynta dan dibalas jempol tangan oleh gadis yang sudah hampir mendekati pintu tersebut.
__ADS_1
❤❤❤❤
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Ya Readers......😍😍😍