Bukan Salah Rasa

Bukan Salah Rasa
Cinta Cynta?


__ADS_3

"Ben... lo udah pernah jatuh cinta kan?" Gama dengan menatap langit senja yang telah menampakkan semburat oranye di ufuk barat.


Beno yang tengah mengurai tali temali yang digunakan untuk meluncur dari fliying fox beberapa saat lalu seketika menghentikan kegiatannya.


"Bukan pernah lagi, tapi udah sering." Beno sengaja melucu saat menemukan Gama tengah tidur terlentang di atas rerumputan dengan tubuh yang masih terbalut dengan tali temali di sana sini.


Beno yakin pertanyaan itu pasti ada sangkut pautnya dengan suasana hati Gama yang terlihat galau beberapa hari ini.


"Dasar player lo." Gama berdecak tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan dari langit yang semakin terlihat menggelap.


"Bukan... gue cuma menikmati rasa yang diciptakan Tuhan untuk gue bagi pada orang orang yang membutuhkan kasih sayang."


"Ck... pakboy mesti gitu. Selalu membuat pembenaran untuk diri sendiri."


Beno terkekeh.


"Kenapa lo? Lagi jatuh cinta?"


"Entahlah. Gue juga nggak tau." pelan Gama belum bisa memahami arti kegalauan hatinya yang beberapa hari ini selalu mengarah pada satu nama yaitu Cynta.


"Jantung lo berdebar nggak saat bertemu gadis itu?"


"Sedikit."


"Berasa rindu kalau nggak ketemu?"


"Sepertinya."


"Bayangannya nggak mau hilang dari mata lo."


"Bisa dikatakan begitu."


"Ck, Jawaban lo nggak ada yang jelas. Nggak tegas." Beno berdecak sebal mendengar jawaban nanggung yang keluar dari mulut Gama.


"Maksud lo nggak tegas?" Gama mengarahkan pandangan pada Beno yang duduk tak jauh darinya.


"Elo tu udah dewasa. Cukup umur buat nikah apalagi kalau cuma sekedar pacaran, elo udah sangat sah. Jadi kalau ditanya pak penghulu itu jawab yang jelas, tegas. Saya terima nikah dan kawinnya..."


Bluk....


"Gue nggak lagi minta diajarin akad nikah dodol." Gama melempar batang kayu kering pada tubuh Beno dengan kesal.

__ADS_1


"Habisnya elo jadi cowok nggak jelas. Kalau ditanya tu jawabnya jelas jangan nanggung. Kek gue ya... Gimana Ben rasanya merawanin anak gadis? Enak bikin nagih. Gitu kan jelas, bukanya sedikit, sepertinya... jawaban apa itu kek pecundang lo." olok Beno membuat Gama semakin kesal.


"Gue belum yakin sama hati gue." Gama menghela nafas lalu melipat kedua tangan untuk menyangga kepala.


Beno menghiraukan ucapan Gama, lelaki itu menyibukkan kedua tangannya merapikan tali temali bekas digunakan fliying fox anak anak mapala.


"Emang bisa ya tiba tiba jatuh cinta pada cewek yang baru kita kenal..." Gama terdengar menggumam. Gama belum sepenuhnya yakin akan rasa yang terselip dalam hatinya karena selama ini ada sebuah nama yang telah lama menempati sudut hatinya, hingga membuat Gama tidak peduli dengan keberadaan kaum hawa di sekelilingnya.


"Itu namanya jatuh cinta pada pandangan pertama ogeb."


"Jatuh cinta pada pandangan pertama?" Gama mengulang ucapan Beno. "Enggak ah, pertama kali gue ketemu, dia nyebelin banget. Barbar, mulutnya pedas. Gue nggak suka. Nggak mungkin itu disebut jatuh Cynta pandangan pertama." sanggah Gama kemudian.


Beno mendesah.


"Berapa kali lo ketemu cewek itu?"


"Dua." Gama ragu, mengerutkan kening lalu mencoba mengingat. "Empat kali deng." ralat Gama setelah mengingat jumlah pertemuannya dengan Cynta.


"Pertama di lembah, habis itu di mall. Lalu di tempat soto pak kumis, terakhir tiga hari lalu di kostnya." Gama menjabarkan pertemuannya dengan Cynta tanpa diminta oleh Beno. Meski pertemuannya dengan Cynta tidak memiliki kesan yang mendalam, namun Gama masih mengingat jelas moment moment pertemuannya dengan Cynta.


Beno mencerna ucapan Gama. Otaknya membayang kejadian aneh saat dirinya makan di kedai soto pak kumis beberapa hari lalu.


"Elo nggak berniat rebut cewek orang kan Gam?"


"Lo pikir gue pebinor."


"Kali aja." Beno menggedikkan bahu, dengan ingatan yakin bahwa Gama tengah membicarakan gadis yang saat itu sedang makan berdua bersama cowoknya, menurut Beno.


"Gue nggak sebucin itu. Lagian perasaan gue belum jelas." Gama kembali memandang langit sore yang sebentar lagi berganti malam.


"Emangnya apa yang lo rasain sekarang?" Beno menyelidik.


"Entahlah... gue juga nggak tau. Yang jelas bayangan wajahnya yang tersenyum manis bikin gue nggak bisa konsen. Sejak gue jalan bareng sama di di mall, ada rasa yang mendorong diri gue buat terus menerus menemuinya. Tapi gue nggak tau cara melakukannya." Gama terdengar frustasi.


"Lo pernah jalan bareng sama itu cewek?"


"Iya. Itu hari kedua gue bertemu dia. Nggak mungkin kan Ben gue jatuh cinta pada pandangan kedua?"


"Jiahh.... elo ada ada aja. Tapi...bisa jadi sih. Cinta itu bisa datang kapan aja Gam. Nggak hanya di pandangan pertama, kedua, ketiga, bisa jadi kita menyadarinya ketika itu menjadi pandangan terakhir kita bertemu." Beno dengan terdengar puitis.


"Jatuh Cynta setelah ditinggal gitu maksud lo?" Gama.

__ADS_1


"Bisa jadi kan... Who knows..."


"Yang ada itu ditinggal pas lagi sayang sayangnya Ben..."


"Bhuahahahkkk... sejak kapan lo tau lagu menye menye kek gitu." Beno meledek dengan tertawa terbahak.


"Ck... nggak usah ngeledek lo." Gama berdecak.


*


*


*


"Heh... Kenapa gue ke sini sih?"


Gama terhenyak saat menyadari kendaraan roda empatnya telah berada di dalam gang kost Maya.


Gama segera menghentikan laju kendaraannya saat tinggal berjarak tiga rumah dari kost Maya. Rupanya hati Gama yang selalu mengarah pada Cynta membuatnya tanpa sadar membawa pada tempat di mana Cynta tinggal.


"Lagi lagi gue nggak bisa konsen." dengus Gama mengacak rambut bagian belakangnya frustrasi.


Padahal tubuh Gama saat ini sangat lelah karena baru saja pulang dari kegiatan hiking anak mapala di kampusnya. Gama yang merupakan bagian dari anak mapala, tidak pernah melewatkan kegiatan yang membaur dengan alam tersebut. Meski awalnya Gama mengikuti mapala karena ingin menyibukkan diri agar tidak memikirkan sosok gadis yang telah menghuni sudut hatinya sejak masih duduk di SMA namun lama lama Gama telah jatuh cinta dengan kegiatan alam tersebut. Hingga akhirnya Gama tidak dapat terpisahkan dengan kegiatan yang memicu adrenalin tersebut.


Dimana ada kegiatan anak mapala, di situ Gama pasti hadir dengan pasangan sehatinya. Siapa lagi kalau bukan Beno si pakboy, sang pecinta wanita.


"Mending gue puter balik aja." putus Gama setelah berdiam cukup lama memperhatikan kost Maya yang terletak di sudut gang.


Dari tempatnya menghentikan kendaraan roda empatnya Gama memang dapat melihat jelas pada kos dua lantai tempat Cynta tinggal. Bahkan jendela kamar Cynta menghadap tepat ke jalan. Sehingga Gama dapat memperhatikan suasana kamar kos Cynta dengan jelas.


Lampu kamar Cynta yang menggelap menjadi alasan Gama untuk segera pergi dari sana. Dia berfikir Cynta pasti telah berangkat tidur karena waktu menunjukkan jam 9 malam.


Dari dalam kendaraan roda empatnya, Gama memindai sekeliling gang yang hanya muat untuk satu kendaraan tersebut guna mencari halaman untuk memutar balik kendaraannya.


Namun tak ada satupun ruamah yang memiliki halaman untuknya memutar kendaraan roda empatnya. Karena hampir semua perumahan itu berpintu pagar besi yang tertutup. Satu satunya jalan Gama haris memutar kendaraan roda empatnya di halaman kos Maya yang belum dipasang pagar.


Gama pun melajukan roda kendaraannya menuju kos Maya dan memutar balik di sana.


Baru saja hendak menjalankan kendaraannya untuk pergi, netra Gama menangkap sosok keluar dari pintu utama kos Maya.


"Cynta." desis Gama memandangi kaca spion yang menampilakan sosok Cynta yang berjalan semakin mendekat ke arahnya.

__ADS_1


❤❤❤❤


__ADS_2