
Tok ... tok ... tok ...
Cynta mengetuk pintu ruangan dosen yang bernama Bapak Damai Nasution itu untuk memberi tanda bahwa akan ada orang yang memasuki ruangan beliau.
Meskipun tidak pernah ada sahutan dari dalam ruangan tersebut namun Cynta selalu melakukannya tiap kali akan memasuki ruang dosen itu.
Apalagi di dalam ruangan itu bukan hanya Pak Damai saja yang menempati ruangan tersebut, melainkan ada dua orang dosen lain yang juga menempatinya. Satu dosen yang juga masih muda serta bujangan sedangkan satu lagi juga muda namun baru saja menikah beberapa bulan lalu.
Ceklek.
Cynta membuka pintu ruangan bapak dosen muda tersebut lalu melangkahkan kaki untuk memasukinya.
"Selamat siang Pak Aji." sapa Cynta ramah ketika melewati meja pak dosen yang baru saja bergelar sebagai pengantin baru beberapa bulan lalu tersebut.
Pak Aji, dosen yang berada dalam satu ruangan dengan Pak Damai tersebut mendongakkan kepala saat mendengar ada yang menyapanya.
"Eh Cynta ... siang juga Cynta yang selalu tegar meski tanpa Rangga."
Selalu saja bapak dosen yang ramah itu menggoda Cynta dengan embel - embel nama Rangga yang pernah viral sebagai pasangan Cynta pada sebuah film romantis di jaman beliau mungkin, yang jelas sih bukan di jaman Cynta sekarang.
Iya kan thor....😉😉😉
Cynta tersenyum tipis. "Ah Bapak selalu deh, godain Cynta."
Kemudian Cynta pun melanjutkan langkahnya menuju meja Pak Damai, lalu mendudukkan diri pada kursi yang biasa digunakannya untuk menyelesaikan tugas - tugasnya.
Cynta memang sudah akrab dengan penghuni ruangan tersebut, apalagi pembawaan Pak Aji yang ramah dan suka melucu saat tidak mengajar di kelas membuatnya terbiasa dan tak jarang membalas guyonan dosen tersebut jika berada di ruangannya.
Dengan dosen bujangan yang satunya, yaitu dosen muda bernama Pak Hanan yang sekarang sedang tidak ada di ruangan karena ada kelas tersebut, Cynta juga akrab. Namun dengan tetap menjaga kesopanannya. Bagaimanapun mereka adalah mahasiswa dan dosen, Cynta tidak mau ada rumor negatif yang nanti dapat merusak reputasi mereka.
"Siapa lagi yang berani godain kamu di sini selain aku Ta, Damai mah gak bakalan berani. Bisa runtuh ini gedung kalau dia berani melakukannya!" Pak Aji berkata tidak formal dengan sedikit berseru sambil melirik dosen muda yang duduk di meja kerjanya.
Beruntung semua ruangan dosen itu kedap suara jadi tidak akan ada yang mendengar percakapan mereka, meski mereka berbicara dengan keras sekalipun.
Pak Damai yang merasa namanya disebut melemparkan pena ke arah Pak Aji tanpa kata.
Pletak.
Pena tersebut jatuh tepat di atas meja Pak Aji, padahal jarak keduanya kurang lebih ada sepuluh langkah.
__ADS_1
"Dam ....kalau kena jidat gue, bisa marah entar bini kesayangan gue. Besok elo pasti dibawain golok sama dia ...." Pak Aji berbicara informal dengan rekan dosen tersebut.
"Gak kena kan ...?!" Pak Damai memandang Pak Aji dengan sinis.
"Iya sih ...." Kekeh Pak Aji.
"So what gitu loh." Pak Damai.
"Whaats elo bisa nginggris juga ya ... hebat ... hebat!!" Pak Aji berkata dengan menepuk tangan pelan secara berulang.
Cynta menggelengkan kepala melihat tingkah absurd dosen - dosen tersebut, dirinya memang sering melihat tingkah konyol para dosen muda tersebut.
Apalagi jika ketiganya sudah berkumpul, pasti bakalan ramai ruangan tersebut. Dan itu merupakan pemandangan yang biasa bagi Cynta, beruntung Cynta tidak bermulut ember jadi tingkah laku konyol tersebut tidak pernah terdengar para seluruh warga kampus.
Setahu para mahasiswa, dosen - dosen tersebut adalah tegas, disiplin dan galak. Memberi senyum pada mahasiswa saja bisa dihitung dengan jari.
Namun bagi Cynta, dirinya sudah mendapatkan senyum dari ketiga dosen tersebut hingga meluber dari wadahnya.
"Cynta ...!!" seru Pak Aji pada Cynta yang tengah berkutat dengan lembaran - lembaran ujian dari mahasiswa Pak Damai Nasution.
Cynta menghentikan sejenak gerakkan pena pada lembaran - lembaran kertas di depannya, kemudian menoleh pada meja Pak Aji yang telah memanggilnya.
"Iya Pak ... Ada apa?" tanya Cynta pada dosen tetangga dalam ruangan dosennya tersebut yang sedang menunduk dan membolak balik lembaran kertas di atas meja kerjanya.
Hek
Cynta pun terhenyak saat mendengar pertanyaan Pak Aji yang menurutnya aneh tersebut.
Cynta tidak menjawab melainkan refleks mengalihkan pandangannya pada dosen muda yang berada beberapa jengkal di depannya yang ternyata entah sengaja ataupun tidak sengaja juga sedang menatap dirinya.
Sejenak tatapan mata mereka bersirobok.
Buru - buru Cynta memutus pandangannya dari wajah tampan Pak Damai Nasution.
Meski Cynta tidak merasakan hal aneh saat dirinya bertatapan dengan dosen tampan di depannya, namun tetap saja hal itu tidak membuatnya nyaman.
Cynta pun memilih kembali berkutat dengan tumpukan lembaran kertas di depannya.
"Cynta ... kok tidak jawab. Menurutmu Damai itu jelek ya, makanya kamu gak berani jawab. Mau ngomong jujur jelek takut dia gak mau jadi dosen pembimbing kamu, mau bilang dia ganteng takut dosa ... Iya kan?!" Pak Aji berkata dengan pandangan mengejek Pak Damai.
__ADS_1
"Eh enggak gitu, Cynta nggak ada maksud seperti itu Pak. Pak Aji ngarang deh ...." Cynta dengan wajah tidak nyaman menoleh ke arah Pak Damai dan Pak Aji secara bergantian sambil menggoyangkan kedua telapak tangannya berulang.
"Jik ... jangan gangguin mahasiswi gue!" Sentak Pak Damai pada rekan kerja satu ruangannya saat melihat Cynta terlihat tidak nyaman.
Pak Aji terkekeh.
"Cieee ... yang gak terima, gebetannya digodain."
"Ajik ...." Pak Damai menatap rekannya dengan tatapan sengit.
Kemudian beralih menatap Cynta yang menunduk seraya berkata. "Udah Ta ... gak usah dengerin omongan dosen sedeng itu."
Cynta mengangguk dengan tersenyum tipis, melihat raut muka muka kesal dosen di hadapannya.
"Gak papa lo ngatain gue sedeng, yang penting si sedeng ini lebih laku daripada lo ...." Pak Aji berkata seraya berjalan menuju pintu sambil menenteng tas kerjanya serta beberapa buku tebal di gendongan tangan kanannya.
"Sok laku lo!!" ucap Pak Damai tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
"Emang gue lebih laku daripada elo." Pak Aji mengejek rekannya sambil keluar ruangan.
Cynta tersenyum geli dalam hati melihat interaksi kedua dosen yang menurutnya terlihat seperti anak remaja yang sedang bersenda gurau dengan teman baiknya tersebut.
Belum juga Cynta mengakhiri tawa gelinya,
Ceklek
Pintu ruangan tersebut kembali di buka dari luar dan tersembullah kepala dosen berkacamata yang tadi disebut sedeng oleh Pak Damai.
Pak Damai Nasution serta Cynta menoleh pada pintu hampir bersamaan.
Ngapain lagi itu Pak Aji, tanya Cynta di dalam hatinya.
"Cynta tar kalau si Damai yang hatinya sedang tidak dalam kondisi damai itu nembak kamu, kamu jangan mau ya ...." Bapak dosen berkacamata yang bernama Aji itu berkata seenaknya kemudian kembali menutup pintu ruangan dari luar.
Cynta menggelengkan kepalanya berulang. "Aneh - aneh aja Pak Ajik itu." gumamnya dalam hati dengan tersenyum tipis.
Sedangkan raut wajah dosen muda yang duduk di hadapan Cynta terlihat mengeram kesal.
❤❤❤❤
__ADS_1
Jejakmu adalah semangatku
Love and kiss for you my beloved readers....😍😍