
"Cepet makan. Nggak usah liatin sini gue mulu. Lo udah pernah liat abs gue pas telanjang kemaren." Gama dengan datar menepuk perutnya, seraya mengingatkan Cynta tanpa peduli ucapannya yang tanpa filter.
Ucapan Gama yang tanpa filter tersebut membuat kedua mata bundar Cynta makin membulat dengan kedua pipi yang terasa memanas.
"Paan sih, mulutnya nggak beradab banget." Cynta segera memalingkan wajah dari perut Gama. Menatap mangkuk ramen lalu menyuap ke dalam mulutnya. Beruntung jarak meja makan di restoran tersebut tidak saling dekat satu sama lain, jadi Cynta tak perlu takut ada yang mendenagr ucapan Gama yang bisa saja menimbulkan salah paham.
Cynta dengan tergesa memasukkan beberapa suapan ramen sekaligus ke dalam mulutnya. Hingga membuat mulutnya sedikit belepotan karena kuah ramen yang pekat. Cynta tak menyadari hal itu karena dia ingin segera menyelesaikan makannya dan secepatnya berpisah dari Gama. Cynta sudah tak sabar untuk memuaskan tangan dan kakinya untuk beraksi di lantai atas tempatnya biasa menghabiskan waktu untuk melepas penat.
"Pelan pelan Ta, gue nggak bakal minta." Gama dengan memandang Cynta yang terlihat makan dengan buru buru.
Cynta tak menggubris ucapan Gama, gadis itu masih saja menyuapkan ramen tanpa henti ke dalam mulutnya.
"Cukup Ta, jangan kek anak kecil gitu." tatap Gama tajam sambil menahan tangan Cynta yang hendak menyuapkan sumpit dengan balutan ramen ke dalam mulutnya yang masih terlihat menggembung.
Cynta menatap Gama, mendelik tak terima karena Gama seenaknya menahan tangan kanannya.
"Mulut lo masih penuh. Tadi bilangnya nggak laper giliran ada makanan, lo kalap kek belum makan seminggu gitu."
"Gue makan cepet kek gini biar cepet selesai." jawab Cynta dengan jujur setelah menelan makanan dalam mulutnya.
Gama berdecak. Tangan kanannya masih dengan menahan tangan Cynta yang memegang sumpit dan tangan kirinya bergerak mengambil selembar tisu yang disediakan di atas meja.
"Cantik cantik makannya belepotan kek tarzan betina." omel Gama sembari mengusap area mulut Cynta dengan tisu yang baru saja diambilnya.
Dengan telaten Gama mengusap lembut sisa kuah ramen yang mengotori area mulut Cynta. Bahkan Gama melakukan usapan itu dengan ringan tanpa terasa seolah tidak ingin menyakiti permukaan kulit Cynta.
Tak ayal membuat tubuh Cynta membeku, netranya tak lepas menatap Gama yang terlihat fokus membersihkan sisa makanan pada mulutnya.
Ada degub tak biasa yang tiba tiba bergetar di balik dadanya saat mendapati perlakuan manis dan juga penuh perhatian dari Gama yang telah dicap Cynta sebagai cowok dingin dan angkuh saat pertama kali bertemu tersebut.
Kedua manik mata Cynta masih setia menatap Gama yang masih saja fokus membersihkan noda
__ADS_1
kuah ramen di mulutnya. Timbul pertanyaan aneh dalam benak Cynta. Kenapa gue ngerasa lagi kencan sama cowok yang posesif sih....
Hingga Gama mengakhiri aksi membersihkan mulut Cynta pun, gadis itu tidak menyadarinya.
Setelah selesai membersihkan sisa kuah ramen yang belepotan pada mulut Cynta, Gama menatap gadis itu lekat lekat. "Makan yang bener nggak usah buru buru kek orang kelaparan. Ntar gue temenin main gamenya."
Hah apa?
Cynta tersentak setelah mendengar kalimat terakhir Gama. "Darimana dia tahu gue mau main game?" Tentu saja pertanyaan itu hanya diungkap Cynta dalam hati saja.
Entah sudah yang keberapa kalinya Cynta dibuat terkejut atas tindakan maupun ucapan yang keluar dari mulut Gama.
"Nggak usah kaget gitu, habis ini lo mau ke timezone kan?!" Gama dengan tersenyum. Sebuah senyum menawan yang tak pernah sedikitpun Cynta duga bakal menghiasai wajah angkuh Gama.
Cynta segera memutus pandangannya dari Gama dengan jantung yang berdetak tak menentu.
*
*
*
"Enggak. Gue punya kok." Tolak Cynta cepat dengan pandangan mata tak putus memindai ke dalam tas selempang kecilnya. Tangannya pun bergerak tak kalah aktif membuka resleting bagian dalam tas selempang miliknya.
Namun hingga beberapa saat mencari, Cynta tak kunjung menemukannya. Bahkan ia juga telah berulangkali membolak balik dompet miliknya, hingga mengecek kartu kartu yang terselip pada slot dompet coklat panjangnya.
"Udah pakek ini aja, nggak usah gengsi." Tangan Gama masih setia mengambang di depan wajah Cynta yang tengah menunduk mencari kartunya hingga terlihat frustasi.
"Gue nggak gengsi." Cynta mendongak dengan melayangkan tatapan kesal pada Gama yang selalu saja bermulut pedas mengolok dirinya.
Meski saat menawarkan kartu miliknya tadi Gama terdengar biasa saja, namun suasana hati Cynta yang saat ini cukup kesal karena tak menemukan kartu time zone miliknya, membuat gadis itu lagi lagi berfikir buruk pada kebaikan Gama.
__ADS_1
"Ck... pakek ini aja. Palingan lo lupa nggak masukin kartunya ke dalam tas." decak Gama sambil meraih tangan kanan Cynta dan memaksa meletakkan kartu time zone miliknya pada telapak tangan gadis itu.
"Kalau gitu gue isi dulu."
Akhirnya Cynta menurut setelah mempertimbangkannya sesaat.
"Nggak usah di isi. Saldonya masih banyak. Bisa lo pakek maen sampek besok." Gama menahan tangan Cynta saat gadis itu hendak melangkahkan kaki menuju bagian pendaftaran yang beberapa langkah tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Setidaknya biar gue ngisi buat gue main hari ini. Biar saldo lo utuh."
"Nggak usah. Elo pakek aja, daripada kadaluarsa." Gama kekeh melarang Cynta.
"Tapi Gam..."
Cynta merasa sedikit tidak nyaman karena hari ini Gama telah banyak berbuat baik padanya.
Di balik kekesalan Cynta terhadap Gama, dalam hati Cynta tetap saja tak bisa begitu saja mengabaikan kebaikan yang telah lelaki itu lakukan padanya hari ini.
Mulai dari Gama yang telah membebaskannya dari dua lelaki menggoda saat baru sampai mall pagi tadi. Kemudian mentraktirnya makan ramen yang tentu saja tidak murah. Dan sekarang memberikan kartu time zonenya secara gratis.
"Udah maen sana. Keburu sore." Gama dengan mendorong pelan tubuh Cynta.
Meski sedikit tidak nyaman karena Gama telah banyak berbuat baik kepadanya hari ini, Cynta akhirnya berjalan meninggalkan Gama dan menuju mesin permainan yang ingin ia mainkan.
Sedangkan Gama berjalan menuju tempat penitipan barang untuk menitipkan paperbag belanjaannya.
Setelah mendapatkan nomor laci penyimpanan dari tempat penitipan barang Gama menuju kursi tunggu yang telah disediakan oleh pihak time zone. Gama sengaja memilih tempat duduk yang tak jauh dari tempat Cynta bermain game, supaya dapat menjaga gadis itu.
Gama pun mendudukkan bobot tubuhnya di sana, kemudian melayangkan pandangan pada sosok Cynta sebelum akhirnya memilih menarik ponsel pintarnya dari saku celana jins yang ia kenakan.
❤❤❤❤
__ADS_1