
"Siapa Gam?"
Adam dengan tatapan menyelidik saat bertemu Gama di depan pintu utama kontrakan tengah membopong seorang gadis berambut panjang dalam gendongannya. Adam tidak dapat melihat wajah gadis dalam gendongannya Gama, karena wajah gadis itu menghadap pada dada Gama. Bahkan terlihat menyusup nyaman pada dada bidang tersebut.
"Bukan siapa siapa." sahut Gama datar dengan memberi tanda pada Adam agar minggir dan memberinya akses untuk dapat masuk ke dalam rumah kontrakan.
Adam memandang Gama dengan kening mengerut tanpa ada niatan untuk menggeser tubuhnya yang tengah berdiri di tengah tengah pintu.
"Kalau bukan siapa siapa ngapain lo gendong kek gitu? Elo nggak nemu dia di jalanan kan?"
"Enak aja nemu. Nggak usah banyak tanya, buruan minggir lo. Berat ini." Gama mengusir Adam dengan sewot.
"Ck... gue bukan banyak tanya, tapi peduli sama lo Gam." Adam berdecak, dengan terpaksa menyingkirkan tubuh jangkungnya dari tengah pintu.
"Tumben tumbenan Gama bawa cewek, dapet darimana dia. Mana tidur lagi tu cewek." gumam Adam memandangi punggung Gama yang tengah berjalan cepat menuju kamarnya. Sepertinya Gama kelelahan akibat membopong tubuh gadis itu.
"Mungkinkah cewek itu Sabrina?" Adam mencoba menebak siapa gadis dalam gendongan Gama. "Kayaknya. Lebih baik gue pastiin aja." Adam berjalan menyusul Gama ke kamarnya.
"Gam..." Panggilan Adam di depan pintu membuat Gama menoleh sesaat.
"Sssttt... jangan berisik Dam." pelan Gama menoleh sesaat dengan menunjukkan raut wajah kesalnya.
"Gue boleh masuk nggak?" Adam masih saja memiliki norma untuk bertanya di saat empunya kamar sedang membawa gadis. Padahal biasanya sahabat Gama itu langsung serobot masuk saja tanpa permisi.
"Nggak boleh." hardik Gama dengan merebahkan tubuh Cynta dengan sangat hati hati. Gama takut gadis itu terbangun karena kegaduhan Adam.
Meski Gama tidak memperbolehkan Adam masuk kamarnya dengan hardikan namun sahabat super keponya itu tidak juga meninggalkan kamar Gama.
Adam masih saja setia berdiri di depan pintu. Menunggu Gama menyelesaikan kegiatannya membaringkan tubuh gadis yang beberapa saat lalu berada dalam gendongannya.
"Capek banget ya Ta..." gumam Gama lirih seraya menyisihkan anak rambut yang menutupi wajah Cynta dengan sesekali mengusap lembut pipi mulus Cynta yang halus bak porcelin. Bibirnya tak berhenti tersenyum, menikmati kecantikan wajah polos tanpa make up yang tetap saja terlihat mempesona di matanya.
"Gamma..." teriak lirih dari pintu membuat Gama tersentak kemudian menoleh.
__ADS_1
Gama gegas beranjak menuju pintu kamarnya saat mendapati Adam melongokkan kepala dengan cengengesan tanpa dosa.
"Ngapain lo masih di sini?" Gama dengan kesal. Untung saja dia tidak melakukan hal aneh aneh pada Cynta.
"Nungguin lo syuting film india." Adam masih dengan cengengesan.
"Dasar otak ngeres lo." Gama melayangkan tangan hendak menoyor kepala Adam namun dengan gesit Adam mengelaknya.
"Itu Sabrina kah?" tanya Adam dengan tidak sabar untuk mengetahui identitas gadis yang tidur di atas bed Gama.
"Bukan." Gama datar.
"Bukan ya... Kalau gitu siapa?" Adam masih saja ingin menuntaskan kekepoannya dengan melongokkan wajah semakin kedalam.
Buru buru Gama menahan wajah Adam lalu membentengi dengan tubuhnya agar Adam tidak dapat melihat jelas wujud Cynta yang tengah tidur terlentang dia atas kasurnya. Beruntung wajah Cynta menghadap sisi yang lain sehingga Adam hanya dapat melihat sedikit pipi putih Cynta yang tertutupi helaian rambut hitam gadis itu.
"Ck... gue nggak bisa liat Gam." decak Adam berusaha mendorong bahu Gama agar minggir dari hadapannya.
"Haisshh... segitunya lo Gam, sama temen sendiri jugak."
"Pergi atau no PS?" ancam Gama dengan dingin.
"Ck... iya iya... gue pergi." Adam membalik tubuhnya kesal.
Baru saja dua langkah beranjak, Adam membalik tubuhnya kembali.
"Itu cewek nggak lagi mabok kan Gam?!"
"Damm..." Gama mengeram.
"Heh... gue kan cuma khawatirin elo Gam. Gue nggak mau lo nanti diperawanin sama tu cewek." Adam sebal. Akhirnya memilih berlalu dari pintu kamar Gama daripada nggak dipinjemin PS.
"Yang gue yang bakal merawanin dia Dam. Udah pergi sono." usir Gama kesal.
__ADS_1
Meski dalam hati Adam tidak berhenti bertanya tanya tentang siapa gadis yang tengah tidur di atas bed sahabatnya, namun Adam memilih diam dan tidak kepo lagi. Lelaki itu berjalan menjauh karena sudah ada janji dengan teman temannya untuk mengisi malam minggunya.
Adam percaya jika Gama tidak akan melakukan hal aneh. Hanya saja dirinya penasaran dengan kedatangan Gama bersama seorang gadis dengan membopongnya pula. Karena selama ini Gama sahabatnya itu sangat alergi berdekatan dengan cewek. Semua sahabat termasuk Adam sangat tahu jika Gama mencintai cewek spek model yang dulu menjadi most wanted di sekolahnya. Siapa lagi kalau bukan Sabrina, model yang tengah naik daun dengan berbagai iklan yang tidak berhenti wara wiri di layar kaca.
Sepeninggal Adam, Gama menutup pintu kamar lalu memutar anak kuncinya. Gama tidak ingin kejadian Aldi yang memasuki kamarnya pagi pagi dan membuat Cynta bangun dengan kaget terulang kembali. Gama juga tidak mau jika di saat telah tidur nanti, tiba tiba saja ada temannya yang nyelonong masuk ke kamarnya begitu saja.
Gama kembali mendudukan diri di tepi bed tidurnya. Memandangi wajah Cynta yang tengah tidur dengan lelap. Bibirnya melengkung sempurna saat mendapati mulut Cynta yang sedikit terbuka dengan disertai dengkuran halus yang keluar dari sana. Alih alih ilfeel Gama malah menganggap gemas bentuk tidur Cynta yang natural.
Puas memandang wajah pulas Cynta, Gama beranjak dari bed untuk melakukan ritual sebelum tidurnya. Namun niat itu diurungkan saat manik hitamnya menangkap hodie navy yang masih membalut tubuh gadis itu.
"Pasti panas tidur pakek jaket kek gini." lirih Gama sembari mengulurkan tangan pada ziper hodie Cynta.
"Tunggu gue buka enggaknya?" pikir Gama saat tangannya bertengger pada ziper hodie Cynta.
"Tadi kan enggak boleh, kek ada sesuatu yang dia tutupi. Enggak mungkin kan kalau dia nggak pakek baju...."
"Tapi kan panas kalau tidur pakek hodie kek gini." Gama bimbang. Hingga manik hitamnya menangkap ujung piyama tidur Cynta yang menyembul di balik hodienya.
"Buka aja deh." putus Gama dengan menurunkan ziper hodie yang melekat rapat pada tubuh Cynta setelah merasa yakin jika Cynta melapisi tubuhnya dengan baju di balik hodienya.
Perlahan ziper itu bergerak turun hingga ujungnya terlepas. Gama pun mulai menyibak hodie itu untuk ia lepaskan dari tubuh Cynta.
Hek...
Gama tercenung sesaat ketika netranya menemukan alasan Cynta melarang dirinya membuka hodie saat di kedai gudeg beberapa saat lalu.
Kemudian tersenyum tipis dengan menggelengkan kepalanya.
"Dasar ceroboh, unik juga manis..." Gama melanjutkan melepas hodie Cynta dengn menahan tawa.
❤❤❤❤
Coba tebak apa yang bikin Gama tersenyum hingga menahan tawanya.....
__ADS_1