Bukan Salah Rasa

Bukan Salah Rasa
Yah Tidur...


__ADS_3

"Jangan!" Cynta memekik, membuat banyak pasang mata mengarah kepadanya dan Gama.


"Nanti gue obatin sendiri di rumah." Cynta segera membuat alibi untuk menutupi kecanggungan yang tercipta akibat pekikannya seraya menurunkan tangan Gama dari ziper hodienya.


Pandangan mata Cynta menatap Gama dengan senyum tipis di wajahnya untuk memperkuat alibi. Cynta tidak ingin membuat orang di sekitarnya salah sangka karena tangan Gama yang berada tepat dia atas dadanya beberapa saat lalu. Seperti terlihat tengah memaksa untuk membuka bajunya.


Gama memberikan tatapan bingung pada Cynta. Dia sungguh tidak tahu akan maksud gadis itu.


"Maaf nggak papa kok." Cynta pada orang di sekitarnya dengan raut wajah canggung karena pekikannya beberapa saat lalu membuat sedikit kehebohan.


Orang orang pun memutus pandangan dari Cynta dan Gama, kembali pada aktifitas mereka masing masing.


Cynta menggerakkan kedua pupil matanya, memindai sekeliling. Merasa sudah tidak ada yang memperhatikan dirinya dan Gama, gadis itu pun meminta maaf kepada Gama.


"Sorry Gam udah bikin lo diliatin banyak orang, sepertinya mereka juga salah sangka sama pekikan gue tadi." lirih Cynta dengan nada menyesal karena sudah membuat orang berfikir Gama melakukan hal mesum pada nya. Cynta sangat yakin itu melalui tatapan mereka.


"Nggak papa. Gue juga minta maaf karena mau buka hodie lo tanpa izin. Sebenernya gue bermaksud menggunakan hodie lo buat nutupin punggung lo Ta."


"Gue tau."


Cynta memang tau alasan Gama hendak membuka hodienya. Namun Cynta juga memiliki alasan sendiri untuk tidak melepaskan hodie itu dari tubuhnya.


"Sekarang lo buka sendiri aja hodie lo buat nutupin punggung lo Ta."


"Nggak usah. Biarin aja. Udah nggak keliatan kan Gam..." Cynta telah menarik ujung hodienya.


"Enggak sih, tapi kalau lo pakek nunduk pasti bakal ketarik dan keliatan lagi." Meski dalam hati bertanya tanya mengenai penolakan Cynta yang enggan melepas hodienya, namun Gama memilih tidak bertanya.


"Gue nggak akan nunduk lagi kok."


"Lo udah nggak ngantuk lagi?"


"Enggak. Lagian udah saatnya makan." Cynta dengan tersenyum, meraih piring makannya karena menu pesanan mereka telah datang.


"Makasih mbak." Ucap Cynta setelah pelayan kedai gudeg menyajikan pesanannya.


Pelayan itu pun tersenyum ramah kemudian berlalu meninggalkan meja mereka..


"Loh kok lo nggak pakek gudeg Gam?" Cynta heran saat mendapati piring makan Gama hanya ada dua potong ayam kuah santan sama cecek serta nasi yang hanya sedikit. Berbeda dengan piring nasi Cynta yang terdapat menu gudeg komplit dengan lauk telur serta tempe bacem memenuhi piring makannya.


"Lo nggak suka gudeg ya?" tanya Cynta lagi saat Gama terlihat kikuk tanpa menjawab pertanyaan yang Cynta lontarkan sebelumnya.


"Eh... nggak juga. Lagi nggak pengen aja." Tentu saja Gama berbohong. Karena yang sebenarnya Gama memang tidak menyukai potongan nangka muda yang manis tersebut.


"Kalau lo nggak suka, ngapain jauh jauh nyari gudeg sampek sini Gam." Cynta menggerutu. Meski Gama mengelak tuduhan Cynta namun gadis itu sangat tau jika Gama sebenarnya tidak menyukai gudeg.

__ADS_1


"Kelihatan jelas ya..." Gama tersenyum kikuk karena ketahuan telah berbohong pada Cynta.


"Banget. Kek baliho iklan sabun itu." Cynta menunjuk gambar baliho yang sangat besar tak jauh dari kedai tempat mereka menikmati gudeg.


"Sorry."


"Lain kali nggak usah kek gini. Jauh jauh nyari makan, tapu lo nggak menikmati."


"Siapa bilang gue nggak menikmati, gue menikmati kok..." Kebersamaan kita lanjut Gama, tentu saja hanya Gama ucapkan dalam hati saja.


Mereka pun mulai menikmati makanan masing masing.


"Gama, gue nggak mau." Cynta mengembalikan suwiran daging ayam yang telah Gama pisahkan dari tulangnya ke atas piring Gama kembali.


Beberapa detik lalu Gama dengan sengaja memberikan daging ayam yang telah Gama suwun suwir dengan garpu ke atas piring makan Cynta.


"Elo keliatan lemes Ta, kek kekurangan tenaga." Gama mengembalikan potongan daging ayam kembali ke atas piring Cynta.


"Tapi gue nggak mau Gam." Cynta langsung mengembalikan potongan daging ayam ke atas piring Gama kembali. "Telur sama tempe juga lauk Gam, itu udah cukup buat gue." Cynta melebarkan mata untuk membuat Gama menghentikan aksinya memindah suwiran daging ayam ke atas piring makannya.


"Elo butuh asupan daging." Gama meletakkan kembali potongan ayam ke atas piring Cynta dan itu membuat Cynta mengeram kesal.


"Elo tau nggak asalnya ayam darimana?" tanya Cynta pada Gama dengan menahan kesal.


"Telor." Gama.


Mau tak mau Gama menerima dan mengunyahnya.


"Tapi itu nggak sama Ta." Gama setelah menelan potongan ayamnya.


"Cukup Gam, jangan bikin gue makin kesel. Gue nggak mau ayam lo titik." dongkol Cynta kemudian melanjutkan makannya.


Gama hanya bisa mendengus lalu memasukkan sisa potongan ayam ke dalam mulutnya. Ternyata Cynta adalah gadis yang keras kepala.


"Deterjen apa yang lo pakek buat nyuci?" Gama dengan hidung mengendus, menghirup aroma wangi yang menguar dari hodie yang Cynta kenakan.


Gama telah menyelesaikan makannya sedangkan Cynta belum.


Cynta yang tengah mengunyah makanan dalam mulutnya tidak menyahut, gadis itu hanya memandang Gama sekilas lalu kembali menyuapkan nasi gudeg ke dalam mulutnya.


Tidak mendapatkan tanggapan dari Cynta, Gama mengikis jarak dan mendekatkan wajahnya.


"Harum banget baunya Ta." Gama menempelkan pucuk hidungnya pada bahu Cynta, mengendus wangi lembut yang membuatnya tanpa sadar mencium dalam bahu gadis itu.


"Gama." pekik lirih Cynta dengan bola mata membulat karena Gama menenggelamkan wajah pada bahu kanannya.

__ADS_1


"Sorry, habisnya wangi. Aromanya lembut, gue suka." Gama dengan membingkai senyum seraya mengusak rambut hitam Cynta dengan gemas.


"Tapi ini di luar, diliatin banyak orang tauk." Cynta mendelik tajam.


"Emangnya kalau di dalam boleh?" Gama berbisik lirih di telinga Cynta. Dengan memberikan senyum menggoda pada gadis yang mendelik kesal padanya.


Uhuk... uhuk...


Cynta segera menempuk dadanya karena tersedak.


"Nih minum." Gama menyodorkan gelas minum ke tangan Cynta.


Cynta pun langsung meminumnya hingga tandas.


"Loh kok, jeruk sih." ucap Cynta saat baru menyadari air yang diminumnya bukan teh manis.


"Kan punya gue." Gama santai.


"Jadi kita minum barengan lagi?" Cynta terbelalak.


"Nggak papa. Itung itung buat bibir kita kenalan lebih dulu." Lagi Gama menggoda dengan setengah berbisik di telinga Cynta.


Membuat wajah Cynta berubah merah padam.


"Gama..."


"Iya iya... lanjut makan gih." Gama menghentikan aksinya menggoda Cynta.


"Nggak pengen jalan jalan dulu Ta?"


"Enggak pulang aja. Gue capek, ngantuk buanget." sahut Cynta dengan menguap.


Meski sebenarnya dalam hati tidak mengikhlaskan kebersamaan mereka berlalu ssecepat itu namun Gama melajukan kendaraan roda empatnya menuju rumah kost Cynta.


"Yah... tidur..." dengus Gama saat telah sampai di depan kos Cynta, gadis itu menutup kedua matanya rapat. Bahkan suara dengkuran halus keluar dari mulut gadis itu.


"Gimana nih...."


❤❤❤❤


Yah.... yah....


Cynta kenapa malah molor sih....


Kira kira Gama bakal bangunin gak ya... Coba tebak....

__ADS_1


Mumpung malem minggu, othor bikin otak jomblowers traveling ah😉😉😉


Yang sudah punya pasangan pasti menjurus nih... iya kan?! Hayoo ngaku😆😆😆😆


__ADS_2