Bukan Salah Rasa

Bukan Salah Rasa
Ganteng tapi Angkuh


__ADS_3

Gue udah selesai ... kalian mau pulang nggak?" Gama si cowok beralis tebal dan bermata elang itu berdiri dari duduknya. Dia bertanya tanpa memandang pada temannya sedikitpun.


"Eh ... kok buru - buru Gam, hari minggu jugak." Adam berucap heran dengan mendongak. Karena posisinya saat ini sedang duduk sedangkan Gama telah berdiri.


"Iya Gam ... sini dulu aja, di rumah gabut. Mending di sini ngobrol sama cewek - cewek. Pulang ntar aja ...." Andri menimpali ikut mendongakkan kepala layaknya Adam.


Gama tak bereaksi. Pandangannya fokus pada layar ponsel pintar dalam genggaman tangannya lalu beralih ke jalanan setelah memasukkan ponsel ke dalam saku celana pendeknya.


"Gama." Adam dan Andri serempak.


Aldi mendelikkan mata, memberikan tanda pada kedua temennya yang tidak peka itu. Aldi sangat lah tahu alasan Gama mengajak pulang.


Siapa lagi kalau bukan karena adanya Maya dan juga Cynta yang ucapannya tanpa filter. Pasti Gama merasa sangat kesal saat ini.


"Ya udah gue pulang duluan." Gama beranjak meninggalkan teman - temannya tanpa basa basi.


Gama yang pergi dengan tanpa basi basi serta kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celana pendeknya menambah kadar keangkuhannya menjulang tinggi. Setinggi gunung everest yang puncaknya berselimut salju. Dingin.


"Loh ... loh ... Gam ... Gama, tungguin bareng woyy ... Mosok kita jalan kaki sih!!" Andri berteriak kesal, mau tak mau mengikuti Gama yang sudah menjauh dengan langkah lebar.


Adam pun ikut beranjak berdiri lalu menyusul Gama sambil menggerutu setelah tersenyum sungkan ke arah Maya dan Cynta.


"Sorry ya May ... Cynn ... kita duluan. Soalnya tadi ke sini barengan, naik mobil Gama." Pamit Aldi lalu berlari kecil menyusul teman - temannya yang sudah ngacir membuntuti Gama.


Aldi memang paling ramah di antara teman temannya.


"Ati - ati Al ...!!" Teriak Maya yang hanya mendapati lambaian tangan dari Aldi yang semakin menjauh.


Cynta hanya menatap bingung pada tingkah teman - teman Maya yang aneh menurutnya.

__ADS_1


Maya pun mendengus sepeninggal teman temannya. Sebenarnya Maya masih ingin bercengkerama dengan mereka, terutama dengan Gama.


"Cuma elo doang May ... cewek yang ada diantara kalian berlima?" Cynta bertanya sambil menikmati ketopraknya.


"Iya ... Emang cuma gue satu - satunya cewek yang deket sebagai sahabat." Maya dengan raut wajah tertekuk lesu.


"Mereka semua udah punya cewek??" lagi Cynta bertanya.


"Setau gue gak ada yang punya cewek sekarang, tapi... entahlah gue juga gak tau kalau sekarang mereka punya gandengan." Maya dengan menggedikkan bahunya tak tahu.


Dahi Cynta mengerut. "Mereka kan cakep - cakep May mosok gak ada yang punya pacar, pastilah sekarang mereka pada punya pacar May...." ucap Cynta pelan seperti gumaman dan itu masih tertangkap oleh gendang telinga Maya.


Sebagai cewek normal, Cynta mengakui jika keempat teman Maya tadi tergolong sebagai kaum adam yang memiliki tampang di atas rata - rata. Apalagi dengan si Gama cowok berwajah tampan dengan garis rahang tegas dan jangan lupakan kedua matanya yang tajam serta alis mata tebalnya yang membuat kadar ketampanannya semakin naik berkali-kali lipat. Namun sikap angkuh dan sombongnya membuat Cynta mencoretnya dari daftar cowok tampan yang patut diincar.


Keangkuhannya yang menjulang bak gunung everest menutup semua kategori tampan yang dimiliki seorang Gama.


"Waktu SMA mereka pada pernah pacaran keknya, kek cinta monyet gitu. Biasa pacaran yang cuma bentar doang, hanya beberapa bulan gitu. Kalau gue sih enggak ya... gue masih ting tong, nggak pernah pacaran. Dilarang sama orang tua gue, orang tua gue udah kek patwal. Tapi bukan berarti gue nggak pernah suka sama cowok." Maya bercerita dengan antusias, bahkan mulutnya yang sambil mengunyah tidak menghalanginya untuk tetap berbicara.


"Kalau sekarang masih pada jomblokah?" entah kenapa Cynta merasa penasaran dengan status kawan kawan Maya.


"Kalau sekarang pada punya cewek atau enggak, gue gak tau juga secara kita kan hanya sesekali ngumpul."


Maya memang hobi dalam memberikan penjelasan panjang kali lebar, mungkin itulah sebabnya dia menyalurkannya dengan mengambil kuliah jurusan pendidikan.


"Oh" Cynta manggut - manggut.


"Elo gak pernah ada rasa gitu sama salah satu di antara mereka?" Cynta mengulang pertanyaan yang tadi sempat diungkapkan dan membuat Maya tersedak. Cynta masih penasaran karena belum ada yang memberikan jawaban.


Hekk.

__ADS_1


Maya tercekat, tenggorokannya tiba - tiba mengering. Maya meraih gelas minumnya, lalu meminumnya hingga setengah gelas.


Cynta memandang Maya intens. "Elo ada rasa kan sama salah satunya?"


Maya menunduk tersipu malu. "Iya" ucapan Maya terdengar sanagt lirih.


"Tu kan bener dugaan gue ... sama siapa?" Cynta tersenyum menggoda Maya.


Hehehehe ..., Maya terkekeh.


"Jawab May ... gak usah ketawa gak ada yang lucu inih." Cynta menyikuti lengan Maya.


"Rahasia." Maya dengan senyum mengembang.


Cynta berdecak. "Pakek rahasia rahasian segala ma gue. Ngomong aja elo cintanya ma siapa, entar gue gebet tau rasa lo..." Cynta sesungguhnya hanya bercanda. Karena tidak mungkin dirinya menyakiti hati Maya yang sudah dia anggap seperti saudara sendiri.


"Enggak! Gue malu. Ntar gue kasih tau lo kalau sudah saatnya." Maya dengan tidak menyurutkan senyum di bibir tipisnya.


Ck...


Cynta berdecak kesal. Namun memilih mengabaikan, toh urusan hati Maya bukan urusannya.


"Eh ... May ... elo tadi sengaja ngajakin jogging ke sini karena lo tau mereka di sini kan?" Cynta tetiba bertanya hingga membuat tubuh Maya sedikit menegang dan menghentikan suapan potongan ketupat pada mulutnya.


Melihat reaksi Maya ... meski tidak ada sepatah kata keluar dari mulut gadis penghuni sebelah kamar kosnya tersebut, Cynta sudah mendapatkan jawabannya.


"Fix gue bener. Elo tau dari mana Gama and the gank ada di sini?" Cynta kembali bertanya.


"Status Andri ...." Maya tersenyum malu - maluinπŸ˜†

__ADS_1


❀❀❀❀


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Ya Readers......😍😍😍


__ADS_2