
Tok... tok... tok...
Bunyi ketukan pintu kamarnya membuat Cynta yang semula tidur lelap, terpaksa mengerjapkan mata kesal.
"Siapa sih ganggu tidur siang gue..." Tita masih di posisinya tanpa ada keinginan untuk bangun dari kasur.
Tok... tok.. tok...
Kali ini ketukan pintu itu terdengar semakin keras.
"Siapa?" Cynta sedikit berseru.
Tidak ada jawaban dari balik pintu kamar yang tertutup tersebut.
Cynta pun memilih memejamkan mata kembali, toh tidak terdengar ada yang menyahut saat dirinya bertanya.
Kembali terdengar ketukan yang keras pada pintu kamar Cynta saat gadis itu hendak memejamkan mata kembali.
Cynta pun mendudukkan diri lalu mengucir rambut hitam panjangnya dengan asal setelahnya berdiri menuju pintu kayu yang hanya berjarak beberapa langkah dari kasurnya.
"Hissh... siapa sih..." Cynta dengan kesal seraya mengayunkan kaki menuju pintu kamar, karena ketukan pada pintu kamarnya semakin keras dan beruntun.
Ceklek... Klek...
"Ck... elo May, ngapain sih gedor gedor kamar gue kek orang kesurupan gitu?" Cynta dengan memberengut kesal saat mendapati wajah Maya tersenyum tanpa dosa di depan pintu kamarnya.
"Sengaja biar lo bangun." Maya dengan santai menyerobot masuk kamar Cynta tanpa permisi. Kebiasaan Maya yang sudah sangat Cynta pahami.
"Elo ke sini pasti ada maunya kan?" tebak Cynta dengan mendudukkan bokong di lantai kamar.
__ADS_1
"Pastilah Cynta sayang." Maya dengan mengambil bantal milik Cynta dan membawanya ke pangkuannya. Jangan lupakan wajah santainya yang penuh senyum mencurigakan.
Ck...
"Dasar pengganggu." Cynta berdecak kesal seraya mendaratkan bobot tubuhnya ke atas kasur.
"Tapi ngangenin kan... kaann..." Maya tetaplah Maya yang selalu saja senang menganggu waktu Cynta.
"Enggak! Enggak ada yang gue kangenin dari lo. Yang ada gue selalu sebel tiap kali liat wajah lo. Enek tau nggak." Cynta sebenarnya tidak sungguh sungguh akan ucapannya.
Bagaimana pun Maya adalah tetangga kamar yang sudah Cynta anggap seperti saudara perempuannya sendiri. Sesungguhnya Cynta juga suka menggoda dan menjahili Maya. Meski begitu Maya tak pernah sedikit pun marah pada Cynta.
"Heleh... Gue tau lo nggak sungguh sungguh Cyn, elo pasti cuma mau bikin gue kesel doang." Maya dengan percaya diri.
"Kali ini enggak. Gue beneran enek sama lo." Cynta merebahkan tubuhnya di atas kasur yang hanya muat untuk dirinya sendiri. Karena kasur itu hanya berukuran 100 X 200 meter. Kasur lantai standar yang biasa dipakai anak kos yang berasa asrama.
"Loh... loh... kok malah tidur lagi sih Cyn..." Maya menahan tubuh Cynta dengan menarik baju tidurnya agar tidak membaringkan tubuhnya kembali.
Namun Maya tetaplah Maya yang memiliki kemauan keras dan pantang menyerah untuk mengganggu Cynta. Dia tetap saja mengerahkan segala daya upaya untuk menggagalkan rencana tidur Cynta.
"Nggak bisa. Elo nggak boleh tidur lagi. Pamali kalau nganggurin tamu." Maya menahan tubuh Cynta berbaring dengan menjulurkan kakinya di atas kasur busa milik Cynta. Hal itu Maya lakukan agar tubuh Cynta tidak nyaman saat berbaring.
"Maya!!" Pekik Cynta kesal. Namun Maya hanya cengengesan tak peduli.
"Gue beneran lelah ini. Maya ihhh..." Cynta berusaha menyingkirkan kaki Maya. Namun Maya semakin memaku kakinya dengan kuat. Alhasil Cynta pun dengan sangat terpaksa mendudukkan tubuhnya kembali.
Maya pun terkekeh senang karena usahanya berhasil.
"Elo tu emang gak ada akhlak May." Sungut Cynta menabok tetangga kamarnya itu dengan guling.
__ADS_1
Bukannya marah Maya malah semakin terkekeh.
"Melek lo cuci muka sono terus ganti baju, kita keluar." Maya dengan nada memerintah.
"Ogah!" Cynta dengan mencebik.
"Ayolah Cynn... daripada di kamar doang, bosen gue."
"Itu elo. Gue enggak ya."
"Cynta! Kok lo gitu sih, nggak setia hati sama gue. Gue pengen keluar nih, cari bau oksigen yang berbeda." Maya mengeluarkan jurus rayuannya dengan mimik memelas.
"Gue nggak mempan sama rayuan lo. Lagian oksigen nggak ada bau, nggak ada rasa juga nggak ada warnanya May. Di manapun sama." Cynta dengan sekuat tenaga mencoba mengabaikan permintaan Maya. Karena sesungguhnya hati Cynta sangat lemah dengan rayuan tetangga kamar kosnya tersebut.
"Ada Cynta sayaaang, ada bedanya. Kalau kita nongki cantik di kafe, oksigennya wangi bau cowok cowok cakep. Bisa bikin dada kita terasa lapang, nggak nyesek. Di lembah juga beda. Perpaduan wangi makanan sama wajah tampan rupawan juga membuat oksigen yang kita hirup itu melegakan hidung mampet." Maya dengan rayuannya.
Cynta mencebik.
"Rayuan lo nggak ngaruh sama gue May, lagian hidung gue normal, nggak mampet. Kalaupun mampet mendingan gue beli inhaler di apotek depan."
"Cynta ihh... elo tega sama gue."
"Emang iya. Ngapain gue musti nurutin lo, pacar bukan, suami juga bukan." Cynta masih saja enggan menurut ajakan Maya.
"Cynta please. Ayolah ikut gue, bentar doang kok."
"Enggak!"
"Cynn..." rengek Maya manja.
__ADS_1
"Sekali enggak tetep enggak. Titik! Nggak pakek koma." Cynta berusaha tegas. Tidak terpengaruh jurus rayu si Maya.
❤❤❤❤