
"Ck... elo yang mulai." Gama berdecak kesal. "Jadi si dino kan?" Gama memastikan pada Cynta.
"Ya ya... terserah lah apa namanya. Yang penting itu." Cynta kembali bersidekap tangan.
Gama pun kembali fokus pada box mesin capit boneka di depannya.
Kedua manik hitam Gama menatap lurus pada boneka dino incarannya, tangan kanannya telah bersiap di atas tuas mesin capit boneka.
Gama terlihat masih diam, otaknya cerdasnya memperhitungkan kemungkinan dirinya memiliki peluang untuk mendapatkan boneka tersebut.
"Ck... Lama banget sih. Nggak usah mikir berat kek mo ngerjain ujian. Cuma maen game doang jugak." ejek Cynta saat mendapatu Gama hanya diam saja pun setelah sepersekian detik.
"Walaupun cuman game, otak juga kudu dipakek biar bisa dapet." Gama tanpa mengalihkan fokus pada box mesin capit boneka di depannya.
"Mau seneng seneng aja berat." Cynta dengan menyindir.
Gama mengabaikan sindiran Cynta, tangan kanannya mulai menggerakkan tuas guna mengoperasikan capit pada box.
Klunting...
"Yes!" Pekik Gama kegirangan saat boneka yang menjadi incaran Cynta berhasil ia dapatkan.
Bukannya ikut senang Cynta malah menunjukkan wajah tidak suka melihat keberhasilan Gama.
"Baru boneka kecil kek gini aja bangga." Cynta dengan menunjukkan boneka yang baru saja
ia ambil dari tempat keluarnya boneka.
"Baru juga sekali. Juara kan gue, bisa langsung dapat. Daripada elo, lebih dari sepuluh kali gagal terus." Gama menepuk dada mengejek. Sungguh terlihat sangat sombong di mata Cynta.
"Coba lagi kalau gitu, siapa tau lo cuma beruntung doang." suruh Cynta pada Gama, mengabaikan ejekan yang Gama tunjukkan padanya.
"Okey siapa takut. Gue coba lagi ya." pandangan mata Gama kembali fokus pada box mesin boneka.
Cynta pun tersenyum tipis dari balik punggung Gama. Ternyata Cynta sengaja meremehkan Gama untuk mengerjai Gama. Dia ingin Gama terus melakukan hal itu berulangkali tanpa menyadari jika Cynta hanya memperalatnya.
"Lo pilih lagi gih." Gama tanpa menoleh ke arah Cynta yang tengah tersenyum senang.
Cynta pun dengan senang hati menunjuk boneka yang menjadi incaran nya. Kali ini sebuah boneka berbentuk ikan lumba lumba berwarna biru.
"Enggak yang pink?" Gama meneggakkan tubuh seraya menoleh pada Cynta. Gama sengaja bertanya memastikan pilihan Cynta karena biasanya perempuan kebanyakan menyukai sesuatu yang berbau merah muda.
__ADS_1
"Belum tentu juga lo bisa ngedapetinnya." Lagi lagi Cynta terkesan meremehkan.
"Ck... kalau gue bisa dapetin yang biru?" Gama merasa tertantang dengan sikap Cynta yang terlihat selalu meremehkan kemampuannya. Dan itu memang tujuan Cynta.
"Lanjut ambil yang pink lah. Biar gue bisa liat sampai mana kemampuan lo."
"Okey. Siapa takut. Gue bakal habisin semua." Gama dengan semangat kembali memfokuskan kedua manik hitamnya pada bok mesin capit boneka.
"Nggak usah banyak omong lo. Cepet tunjukkin kemampuan lo." Cynta dengan sengaja memanasi Gama agar lelaki yang tengah fokus mengincar boneka untuknya itu merasa tertantang.
Klunting.
Sekali lagi Gama berhasil mendapatkan satu boneka untuk Cynta.
"Masih meremehkan kemampuan gue?" Kali ini Gama yang mengambil boneka hasil capitannya. Lalu menyodorkan boneka berbentuk lumba lumba kecil berwarna biru ke tangan Cynta yang tengah memeluk boneka dinonya.
"Ck... sombong lo." Cynta berdecak kesal karena Gama menyerahkan boneka hasil tangkapan keduanya dengan cukup kasar padanya.
"Gue nggak sombong. Kenyataan kan kalau gue bisa?! Nggak seperti dugaan lo sebelumnya." Gama mengingatkan ucapan Cynta yang meremehkan kemampuannya.
"Iya iya lo paling jago deh." Cynta tidak ingin mendebat Gama lebih lama lagi. "Cepet main lagi gih, ambilin yang pink." perintah Cynta dengan sengaja untuk mengulur waktu mereka di mall.
"Dasar maruk lo."
"Okey... okey... gue ambilin lagi."
"Lumayan kan... gue dapet banyak boneka, Gama lupa ngajak pulang." Batin Cynta dengan tersenyum senang.
"Ambil tuh." Gama menyuruh Cynta dengan dagunya.
Cynta pun mendekat, sedikit membungkukkan badan untuk mengambil boneka lumba lumba berwarna pink yang baru saja Gama dapatkan.
"Lagi Gam, yang itu..." Cynta menunjuk boneka berang teddy yang tadi sempat ambil namun gagal.
"Lo masih mau lagi?" Gama dengan kedua mata lebar, tak mengira Cynta masih menginginkan boneka kembali.
Cynta tidak menyahut. Gadis itu hanya mengangguk dengan menunjukkan puppy eyesnya memohon.
Gama pun akhirnya menuruti keinginan Cynta.
Bukan hanya mendapatkan boneka beruang teddy yang merupakan boneka paling besar yang ada di salam box mesin capit melainkan Gama melakukannya berulang kali hingga Cynta terpaksa menghentikan aksi Gama.
__ADS_1
*
*
*
"Lo tunggu di sini, gue ambil motor bentar." Gama meninggalkan Cynta di pelataran mall dengan kedua tangan yang menenteng paperbag belanjaan Gama serta satu lagi totebag yang berisi boneka hasil dari Gama bermain capit boneka.
Ternyata Gama sangat jago dalam bermain, terbukti dua puluh boneka kecil ditambah satu boneka beruang besar mampu Gama dapatkan.
Sembari menunggu Gama mengambil motornya, Cynta melajukan langkah kakinya mendekati segerombolan anak jalanan yang kesemuanya adalah perempuan dan berusia kisaran anak sekolah dasar.
"Lagi main apa?" Tanya Cynta dengan tersenyum saat telah berada di dekat anak jalanan yang berjumlah enam anak tersebut.
"Maen congklak kak." sahut mereka hampir serempak tak lupa dengan memberikan senyum terbaik mereka untuk Cynta.
Cynta ikut mendudukkan diri merapatkan tubuhnya pada gerombolan bocah kecil tanpa risih. Cynta memang memiliki kepedulian yang tinggi pada anak anak. Terutama pada anak anak jalanan seperti mereka.
"Asyik banget mainnya."
"Iya kak, sangat menyenangkan." salah satu dari anak jalanan tersebut menyahut.
"Eh... kakak punya boneka nih, pada mau nggak?"
Anak anak jalanan tersebut menghentikan aktivitas bermain congklaknya lalu ikut melongok pada totebag yang telah Cynta tunjukkan pada mereka.
"Beneran kita boleh ambil kak?" tanya salah satu anak jalanan tersebut dengan ragu.
"Iya boleh. Ambil aja." Cynta menyodorkan totebagnya yang telah terbuka dengan lebar, lebih mendekat ke depan anak anak jalanan.
Satu persatu anak anak jalanan itu mengambil boneka yang telah Cynta tawarkan. Anak anak jalanan itu tersenyum senang mendapatkan boneka dari Cynta. Apalagi boneka boneka tersebut memiliki bulu yang sangat lembut. Bahkan saking senangnya ada salah satu anak jalanan yang tak berhenti mengusapkan pipinya pada bonekanya silih berganti.
"Kak boleh minta lagi nggak buat adek di rumah?" tanya salah satu anak jalanan dengan mendekat pada Cynta. Anak itu terlihat takut takut saat bertanya.
"Kok malah dibagi bagiin sih bonekanya." suara bariton dari belakang tubuh Cynta membuatnya menoleh dan urung menjawab pertanyaan anak jalanan tersebut.
❤❤❤❤
Hohoho....
Gimana nih kira kira... Gama bakalan ngebolehin bonekanya dibagi bagi atau minta dibalikin semua...
__ADS_1
Secara Gama kan yang telah bekerja keras buat mendapatkan boneka boneka tersebut.