Bukan Salah Rasa

Bukan Salah Rasa
Ngeres


__ADS_3

Saat itu....


Cynta tengah berdiri terpaku di depan sebuah manekin setengah badan yang hanya mengenakan benda segitiga milik kaum adam. Entah mengapa netranya seolah terbius untuk menatap benda segitiga berwarna hitam yang tengah melekat pada manekin tanpa kepala tersebut.


Otaknya menerawang, mengingat pada benda segitiga berwarna hitam dan juga memiliki merek sama yang pernah ia pakai beberapa hari lalu.


Ada sensasi menggelitik saat benda segitiga yang tengah terpasang pada manekin tersebut menunjukkan tonjolan yang mungkin bisa sama persis dengan milik penggunanya.


Otak polos Cynta tanpa sadar membayangkan yang tak seharusnya.


"Apakah milik Gama seperti itu, sepertinya ukuran benda itu sama persis dengan yang gue pakai kemarin." Tentu saja kalimat itu hanya Cynta gumamkan dalam hati dan membuatnya tanpa sadar melamunkan sesuatu yang tak seharusnya. Otak Cynta menerawang semakin jauh hingga tak sadar jika Gama telah berdiri di sampingnya.


"Hayo ngapain lo, lagi bayangin apaan..." Seruan lirih yang disertai dengan deru nafas hangat menerpa salah saru sisi wajah Cynta.


Seketika membuyarkan lamunan ngeres Cynta. Dengan sedikit tergagap Cynta tersadar dari lamunannya.


"Apaan sih ngagetin aja lo." Cynta dengan raut wajah bersemu merah saat netranya menangkap sosok Gama dengan wajah yang melongok tepat di sisi kiri wajahnya.


"Otak lo ngeres kan?!" tebak Gama dengan sorot mata yang menghujam seolah menelanjangi isi otak Cynta. Lagi lagi lelaki itu selalu mengetahui isi otak dan pikiran Cynta.


"Enggak!" Cynta melotot dengan menepis dan mendorong wajah Gama menjauh. Cynta tak ingin Gama menelanjangi isi otaknya dengan menelisik pada wajahnya.


Namun sayang Gama tetap pada posisinya karena tangan besar Gama segera mencekal tangan milik Cynta.


"Tebakan gue nggak mungkin salah." Gama dengan raut wajah yang sudah pasti mengejek Cynta.


"Ggu_ee nggak mikirin itu Gam. Gue cuma..." Cynta bingung untuk membuat alasan karena otaknya memang sempat ngeres membayangkan milik Gama.


"Cuma apa?"


"Gue... gue pikir itu sama kek punya lo yang gue pinjem kemaren." Tentu saja Cynta mengungkapkan kalimat itu dengan lirih, tak ingin ada yang mendengar ucapannya. "Gue bermaksud membelinya untuk mengganti punya lo itu. Gue nggak enak aja kalau harus ngembaliin sama lo." Cynta memberi alasan yang menurutnya sangat kuat untuk mencegah Gama berfikir yang tidak tidak tentang dirinya.


"Bukane lo janji mau ngelaundry biar sampek wangi biar nggak ada bau bekas lo." Gama mengingatkan ucapan Cynta dengan tak tau malunya.


Cynta menelan salivanya kelat, dalam hati berjanji untuk tidak lagi mengulangi kesalahannya meminjam benda segitiga pembungkus barang haram milik lelaki tersebut.


"Takutnya nanti nggak sesuai ekspektasi dan lo nggak nyaman makeknya setelah gue balikin sama lo." Cynta berusaha merangkai kata sedemikian rupa untuk memberikan alasan yang masuk akal dan dapat diterima oleh lelaki menyebalkan yang tengah berdiri di sebelahnya.


"Tapi gue lebih berharap lo balikin milik gue, daripada lo beliin yang baru."


"Kenapa begitu?" Cynta dengan kening mengerut serta dua alis mata yang saling bertaut.


"Karena gue nggak mau ngasih lo kesempatan untuk memakainya berulang. Takutnya otak lo makin ngeres bayangin punya gue." bisik Gama tepat di telinga Cynta sebelum ngeloyor pergi begitu saja.


"Gama! Elo nyebeliinn! Otak lo yang bikin gue ngeres." Seru Cynta setelah beberapa saat termenung mencerna bisikan Gama.


Gama membalik tubuh sesaat dengan tawa terbahak yang terlihat puas. Kemudian berlalu keluar dari pintu outlet yang mereka kunjungi tanpa mempedulikan teriakan Cynta yang menyusulnya kesal.


Dan sekarang Cynta kembali di posisi yang sama otaknya tidak bisa dicegah untuk bertraveling membayangkan benda haram menonjol yang menjadi tumpuan kedua tangannya.

__ADS_1


*


*


*


"Ta udah sampai." ujar Gama tanpa mematikan mesin motornya.


Tidak sedikitpun terasa ada gerakan dari boncengan belakang Gama. Membuat lelaki itu membuka kaca helm full facenya lalu menoleh ke belakang.


"Ta, elo nggak turun?" Dengan membalik setengah tubuhnya Gama memposisikan wajahnya tepat di depan wajah Cynta.


Gadis yang tengah dibonceng Gama itu terlihat sedikit menunduk, menatap lurus pada punggungnya. Terlihat seperti memikirkan sesuatu.


"Cynta, lo belum puas peluk gue?" Gampang dengan meninggikan seruannya.


Cynta yang semula tengah bergelut dengan otak liarnya seketika mendongak saat mendengar ucapan Gama yang menurutnya tak berdasar.


"Enak aja lo kalau ngomong." Cynta dengan bibir mencebik kesal. Bagaimana Cynta tidak kesal jika posisinya memeluk tubuh Gama itu bukanlah keinginannya melainkan lelaki itu yang membuatnya terjebak dalam posisi tersebut.


"Salah omongan gue di mana?" Gama seperti tidak sadar jika dirinyalah yang membuat posisi kedua tangan Cynta memeluk tubuhnya.


"Tanya sama tangan lo tu yang seenaknya aja nahan kedua tangan gue buat meluk lo."


"Nggak ada tangan gue begitu, dari tadi gue pakek nyetir kok."


Jawaban Gama seketika membuat Cynta melongok ke depan, melayangkan pandangan pada kedua tangannya yang saling bertautan di atas benda haram milik Gama. Perlahan kemudian bergerak beralih pada kedua tangan Gama yang sama sama berada pada stang motor.


"Nggak mungkin kalau otak gue yang salah kira..." gumam Cynta bingung. "Perasaan tadi..." Cynta dengan mengingat. Lalu menggelengkan kepala pelan.


"Perasaan kenapa?" Gama mengulang gumaman Cynta.


"Enggak. Mungkin gue yang salah." Elak Cynta enggak menjelaskan pada Gama.


"Emang lo tu aneh ya, selalu harus dipaksa di awal setelah nikmat lo selalu lupa diri." Gama dengan sengaja melontarkan ejekan pada Cynta.


"Maksud lo apaan Gam?" Cynta bingung hingga tak sadar belum juga menarik kedua tangannya dari tubuh Gama.


"Diajakin makan nggak mau, giliran dikasih makanan. Elo makannya kek belum makan seminggu. Gue bonceng buat pulang bareng nggak mau. Giliran udah nyampek nggak mau turun. Dan yang terakhir ya, gue suruh meluk gak mau. Giliran udah meluk gue, nggak mau lepas." Sindir Gama dengan memandang kedua tangan Cynta yang masih bertengger di atas bagian haram tubuhnya.


Kedua bola mata Cynta seketika melebar setelah mendengar ucapan Gama. Buru buru menarik kedua tangannya lalu turun dari boncengan Gama.


Membuat Gama terkekeh.


"Elo memang paling bisa bikin orang kesel Gam." sungut Cynta memungut dua boneka yang masih setia di balik punggung Gama.


"Yang gue omongin Fakta Ta." Gama masih dengan kekeh yang terasa menyindir Cynta.


"Tetep aja mulut lo ngeselin."

__ADS_1


"Tapi tetep ganteng kan?" Gama dengan percaya diri.


"Enggak!"


"Enggak salah kan..." Gana masih dengan kekehan.


Cynta tidak menyahut, gadis itu mengerucutkan bibir nya kesal.


"Udah pulang sana. Lama lama deket sama lo bisa bikin gue mati muda." Usir Cynta pada Gama.


Gama yang semula masih dengan kekeh kecilnya seketika diam.


"Lo masuk dulu gih." suruh Gama dengan dagunya.


"Elo aja yang pulang duluan."


"Elo Ta. Gue harus pastiin lo pulang dengan selamat." Gama terdengar serius.


Ucapan Gama membuat Cynta terkekeh.


"Tinggal sejengkal doang, lebay lo Gam. Udah pulang sono." Cynta mengusir Gamau dengan gerakan tangannya.


"Elo dulu Ta."


"Ck... dasar pemaksa."


Cynta pun membalik tubuhnya berlalu meninggalkan Gama. Jika dirinya kekeh menunggu Gama pergi lebih dulu, sampai matahari berganti bulan pun sepertinua nggak bakalan terjadi.


Baru saja dua langkah berjalan, Cynta membalik tubuhnya kembali.


"Apa?" tanya Gama saat Cynta kembali berjalan mendekat padanya.


"Walaupun elo nyebelin tapi... makasih banyak karena lo udah temenin gue seharian ini." Cynta dengan membingkai senyum di wajahnya.


Senyum manis yang membuat Gama terpaku sesaat.


"Gam..."


"Oh... ah... yo... gue pulang." Gama dengan tergagap.


Cynta pun kembali tersenyum.


"Ati ati." pesan Cynta dengan melambaikan tangan.


Gama pun balas tersenyum, segera meninggalkan pelataran kos Cynta dengan menggelengkan kepalanya pelan. Ada yang tak beres dengan otaknya.


❀❀❀❀


Gila... 12 bab hanya untuk menemani Cynta dalam sehari doang.... othor baru nyadarπŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

__ADS_1


Berlete lete nggak sih????


__ADS_2