
Cynta yang semula merasa santai, menjadi sedikit tegang.
Entah mengapa kehadiran Gama yang duduk di sebelahnya membuat Cynta tidak nyaman.
Rasa benci, tidak suka, tetiba memenuhi relung hati Cynta. Sungguh aneh memang di saat dirinya hanya bertemu Gama beberapa menit saja waktu itu. Namun rasa itu nyata adanya, dan Cynta benar - benar merasakannya.
"Pesenan lo kosong Dam, jadi gue pesenin sama kek punya gue. Nggak papa kan?" suara Gama biasa saja namun terdengar sangat keras di telinga Cynta.
Mungkin karena saat mengucapkannya Gama duduk tepat di samping Cynta.
Dan itu menambah poin kejengkelan Cynta pada sosok Gama. Cynta pun memilih mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, untuk mencoba mengacuhkan keberadaan Gama.
"Nggak papa kok, gue apa aja masuk nggak nolak makanan." Adam.
"Aldi mana?" Gama dengan melirik sekilas pada Cynta yang tetiba sudah duduk di antara teman - temannya. Terlihat fokus pada ponselnya. Padahal saat Gama pergi memesan makanan kursi itu adalah tempatnya duduk.
"Masuk ke dalam, lo nggak ketemu?" Adam.
"Enggak." Gama dengan mengalihkan pandangan ke dalam restoran.
"Ngapain Aldi ke sana?" Gama heran karena merasa semua sudah dipesankan olehnya tadi.
"Pesenin minum buat Cynta." Kali ini Maya yang menyahut dengan tersenyum menahan gugup.
"Emangnya dia nggak punya kaki buat pesen sendiri." Gama dengan nada menyindir pada Cynta meski pandangannya tak sedikitpun pada gadis yang berada di sebelahnya.
Dengan cepat Cynta menoleh ke arah Gama.
"Gue udah nolak, tapi Aldi yang ngeyel buat pesenin gue." Cynta mencoba menahan amarahnya.
"Gue nggak nanya." Gama ketus tanpa sedikit pun memandang ke arah Cynta.
Cynta pun mengeram, ingin rasanya menampol mulut pedas Gama dengan cabe biar jontor. Biar bibirnya kek donald bebek.
Namun urung dilakukan karena Maya mendelik ke arahnya, memberi tanda agar Cynta menghentikan aksinya.
"Gama udah. Emang Aldi yang ngeyel buat pesenin Cynta minum." Adam juga mencoba mengakhiri perdebatan tersebut.
"Elo ngebelain cewek jutek ini Dam...?!" Gama dengan melirik sinis pada Cynta. Cynta pun melakukan hal yang sama dan akhirnya memilih membuang pandangan lebih dulu karena tidak mau tersulut emosi.
"Itu kenyataannya Gam." Adam.
Gama menahan nafas kesal.
Suasana pun hening setelahnya, hingga menu pesanan mereka pun datang.
Pramusaji meletakkan pesanan mereka satu persatu ke atas meja bundar tersebut.
"Ada yang kurang mas?" tanya pramusaji setelah memindahkan piring dari nampan yang terakhir.
__ADS_1
Gama yang kebetulan sedari awal menerima pesanan itu, sesaat memindai makanan di atas meja untuk memastikan.
"Sepertinya sudah cukup kok mbak." Gama dengan datar.
Tak berapa lama kemudian Aldi pun datang menghampiri mereka dengan segelas orange juice di tangannya.
"Nih buat lo Cynn..." Aldi dengan meletakkan gelas minum yang tadi di bawanya.
"Thanks Al." Cynta tersenyum.
Aldi pun beranjak, terlihat celingak celinguk. Namun Cynta tidak menyadari karena dia sedang membalas pesan yang masuk pada ponsel pintarnya.
"Udah nggak diundang, nggak peka jugak." Gama sinis.
Sontak Cynta mendongakkan wajahnya, mengerutkan keningnya.
"Maksud lo apaan?" Cynta pada Gama karena sempat melihat tatapan sinis Gama padanya sesaat sebelum memalingkan wajahnya.
"Udah nggak usah diperbesar, biar gue ambil kursi lagi." Aldi dengan beranjak.
"Al... duduk sini aja biar gue yang..." Cynta beranjak berdiri.
"Udah... nggak usah. Gue aja." Aldi mengabaikan Cynta seraya menggoyangkan tangan, berjalan mengambil sebuah kursi yang tak jauh dari meja mereka. Dan berjalan kembali dengan kursi yang setengah diseret.
"Harusnya gue aja Al." Cynta merasa nggak enak karena dengan adanya dirinya membuat Aldi kesusahan.
"Eh elo duduknya sini aja deh Al..." Cynta dengan menarik kursi Aldi dan meletakannya di sebelahnya. Hingga membuat pisisi duduk Aldi diantara Cynta dan Gama.
"Eh... Tapi Cynn, makanan gue di situ..." Aldi menunjuk letak pesanannya dengan kedua matanya.
"Nggak papa. Tinggal geser doang, entar gue ambilin deh."
Aldi pun pasrah saja, mendudukkan bokongnya pada kursi karena tangan Cynta telah bergerak memindahkan makanan miliknya.
"Gini kan enak. Biar gue nggak dempetan sama ulet bulu landak yang bikin kulit gue gatel. Belum lagi kalau bulunya nusuk kulit gue, bisa berdarah - darah gue entar." Cynta melirik tak suka pada Gama.
Tak ayal Gama pun membalas dengan pandangan tak kalah sinis disertai dengan kekesalan yang mampu membuat raut wajah putihnya memerah kesal.
Teman tema Gama hanya mampu menahan tawanya saat melihat tingkah absurd Cynta yang seperti menganggu macan tidur.
"Nggak ada ulat berbulu landak Cynn." Aldi dengan tersenyum lucu.
"Ada... di sebelah lo no..." Tunjuk Cynta pada Gama dengan dagunya.
Aldi terkekeh kecil.
Sedangkan Gama melihat Cynta dengan kedua matanya yang menyipit, seolah menunjukkan kekesalan yang hakiki.
Aldi dan teman temannya mengabaikan sikap Gama, memilih fokus menyantap makanan di hadapan mereka saat melihat Cynta tidak mempedulikan raut wajah kesal Gama.
__ADS_1
Gama pun akhirnya ikut menikmati makanannya dalam diam, tidak menggubris ucapan Cynta yang bisa Gama kategorikan sebagai ucapan sangat pedas yang mampu membuat telinganya terbakar.
Satu persatu dari teman teman Maya tersebut mengakhiri makannya.
Pun demikian dengan Gama.
Maya dan teman - temannya mulai menyelesaikan santap siangnya sembari melakukan obrolan, saling berbincang satu sama lain.
"Elo tadi di sini pesen apa Cynn?" Aldi bertanya.
"Oh gue pesen apa tadi ya, gue nggak inget namanya soalnya temen gue yang pesenin." jawab Cynta dengan jujur.
Toh memang dirinya tidak terlalu memperhatikan nama menu yang dimakannya, hanya saja rasanya lumayan enak menurutnya.
"Seperti yang gue makan?" Aldi menunjuk ayam bakar madu yang tinggal tulang belulang di atas piring miliknya.
Cynta menggeleng.
"Yang kita pesen tadi keknya seafood."
"Oh seafood. Enak?" Kali ini Agam yang bertanya dan mendapat anggukan kepala dari Cynta.
"Lain kali kita datang lagi buat cobain seafoodnya ya frens?!" seru Maya dengan senang.
"Asal nggak sama dia aja." Meski tanpa menyebut nama ataupun menunjuk, Cynta tahu kalau yang dimaksud Gama adalah dirinya.
"Lo pikir gue seneng deket lo, gue enek tau nggak. Nafas gue engap karena ada lo." Cynta dengan menahan deru nafasnya yang tetiba naik turun. Rasa kesal kembali muncul setelah mendengar ucapan Gama.
"Gama udah." Aldi dengan menepuk bahu sahabatnya, agar tidak memicu keributan.
Sepertinya Gama dan Cynta bagaikan air dan minyak, mereka nggak mungkin bersatu.
Mereka pun kembali bercerita dan bersenda gurau santai, tentu saja dengan Gama yang lebih banyak diam. Memilih fokus pada ponsel pintarnya.
"Jadi nama kalian semua berawalan huruf A ya?! Triple A kan ya... Aldi, Adam, Andri..." Cynta menyebutkan satu persatu nama sahabat Maya. "Iya beneran." Cynta dengan tak menyangka jika tebakannya benar.
"Eh May... bukane nama elo Aina Maya Septa? Kalau panggilan lo diganti Aina jadi kwartet dong kalian..." Cynta dengan tawa kecil.
"Iya juga ya..." Maya mengangguk membenarkan.
Bahkan Andri, Adam dan Aldi pun tersenyum tanda setuju. Gama tak sedikitpun bereaksi.
"Berarti harusnya elo singkirin aja itu cowok." Cynta menunjuk Gama dengan dagunya. "Dia kan beda sendiri, iya kan??"
Cynta tertawa renyah tanpa peduli pasang mata elang menatapnya tajam.
❤❤❤❤
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Ya Readers......😍😍😍
__ADS_1