Bukan Salah Rasa

Bukan Salah Rasa
Dingin


__ADS_3

"Berangkat bareng aja sama gue." tawar Angga pada Cynta dengan berdiri di depan pintu kamar Maura. Lelaki itu tengah menjemput Maura untuk berangkat ke kampus bersama. Meski Angga dan Maura berbeda kampus namun Angga selalu menyempatkan diri untuk menghampiri Maura jika memiliki waktu sedikit luang.


Posisi kamar Maura dan Cynta yang berhadapan membuat Angga dapat berinteraksi dengan Cynta yang tengah memasukkan buku buku ke dalam tasnya. Kebetulan pintu kamar Cynta telah terbuka lebar.


"Nggak. Gue takut ganggu." Sahut Cynta tanpa menoleh karena posisi duduknya memunggungi Angga.


"Ganggu apa?" Maura yang berseru dari dalam kamarnya.


"Kali aja Angga lagi h*rny terus mau ngajakin lo syuting layar tancep dalam mobil selama perjalanan. Ngeces dong gue." Cynta berseru mengolok.


"Anjir mulut lo kalau ngomong suka bener." Angga yang menyahut. Sedangkan Maura terdengar terbahak dari dalam kamarnya.


"Emangnya lo ada kuliah jam berapa Cyn?" tanya Maura dengan menenteng tas serta beberapa buku besar keluar dari kamarnya. Lalu dengan seenaknya Maura menyerahkan buku buku besar yang dipegangnya pada Angga. "Bawain yang."


"Ck... selalu. Berasa jadi kacung gue." Angga tetap menerima buku buku dari tangan Maura meski lelaki itu berdecak kesal.


"Nggak rela?" Maura dengan tatapan mengintimidasi.


"Enggak... enggak..."


"Beneran nggak rela?" Maura dengan sengaja.


"Bukan gitu yang. Rela kok, gue rela." Angga meralat ucapannya meski sebenarnya tau jika Maura hanya mengerjai dirinya.


"Ck... dasar cowok bucin lo." olok Cynta pada Angga saat keluar dari kamarnya.


"Lo nggak tau hampanya hidup gue tanpa dia Cyn." Angga membela diri dengan mengarahkan pandangan pada Maura.


Maura menunjukan senyum seraya menepuk dada.


"Hemm... mulut cowok tu lemes banget kalau di depan coba di belakang, pasti mencebik lo. Dan elo Ra jangan percaya penuh sama cowok. "


"Enggak! Enak aja lo asal nuduh." elak Angga cepat.


Cynta mencebikkan bibirnya, mengolok Angga. Lelaki itu membalas cebikan Cynta santai. Membuat Maura terkekeh kecil pada interaksi keduanya.


"Cynta lo belum jawab pertanyaan gue." Maura dengan mengunci pintu kamarnya.


"Pertanyaan apa?" Cynta dengan meraih sneakers navy dan memakai di kakinya.


"Elo ada kuliah jam berapa?" Maura mengulang pertanyaan yang sempat ia lontarkan beberapa saat lalu.


"Nanti jam sebelas." jawab Cynta.


"Kalau gitu bareng kita aja. Nggak keburu kok walau nganter gue duluan." Maura melirik jam tangan perak yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya.


"Nggak usah Ra, gue naik transjogja aja." tolak Cynta halus.


"Ck... barengan aja. Biar Angga ada yang ngawal Angga sampai kampus." Maura dengan mengapit lengan Cynta.

__ADS_1


"Ngapain gue harus ngawal cowok segede ini." Cynta memberikan tatapan mengejek pada Angga.


"Lo pikir gue mau dikawal sama lo..." Angga meraup wajah Cynta yang mengejeknya dengan sengaja.


"Tu kan Ra, cowok lo nggak mau bareng sama gue." Cynta dengan menunjukkan raut wajah pura pura sedih.


"Halah... kalian itu sama aja. Rusuh." Maura tau Cynta dan Angga memang selalu merusuh jika bertemu Udah berangkat bareng aja. "Ayok berangkat yang, elo juga Cyn, bareng kita aja." Maura menarik tangan Angga pada sisi kirinya.


Namun Angga melepaskan tangan Maura dan berpindah tempat. Angga memilih posisi di tengah, di antara Naura dan Cynta. "Enak kali ya beristri dua."


Plak.


Cynta memukul pelan kepala Angga. Membuat lelaki itu bersungut seraya mengusap bekas pukulan Cynta. Sedangkan Maura malah tertawa mengejek kekasihnya. "Rasain lo."


"Tega lo Cyn, elo juga yang, malah ngetawain gue." Angga dengan mulai menuruni anak tangga, mengikuti Maura yang telah berjalan menuruni tangga lebih dulu.


"Hai May, dari mana lo?" Maura menyapa Maya saat tiba di lantai bawah bertemu dengan Maya yang tengah berjalan dari luar.


"Hai Ra... dari depan, jemput temen temen gue." sahut Maya. "Lo ada kuliah Cyn?" Maya mengalihkan pandangan saat menangkap sosok Cynta.


Cynta mengangguk. "Yoi.. sampek sore."


"Oh... bareng Angga." tebak Maya saat mendapati Angga berjalan di belakang Cynta. Maya juga tahu jika Angga merupakan kekasih Maura dan satu kampus dengan Cynta.


"Iya, anter Maura sekalian." Angga yang menjawab.


"Oh gitu, peluk dulu Cyn." Maya merentangkan kedua tangan pada Cynta.


Meski berdecak Cynta tetap saja memberikan pelukan pada Maya. Bukan apa apa, Maya memang sangat dekat dengan Cynta dan lagi gadis itu masih dalam fase berduka karena kehilangan papanya.


Cynta sudah mengetahui jika Maya kehilangan papanya saat meninggalkannya sendiri di kontrakan Gama beberapa waktu lalu. Maya telah menjelaskan semuanya setelah kembali dari kampung halamannya. Maya telah meminta maaf dan Cynta pun telah memaafkan Maya.


"Hai Cyn..." Sapaan suara bass membuat Cynta mengurai pelukan Maya.


"Oh... hai Al... Mau maen ke tempat Maya?" tentu saja pertanyaan yang Cynta lontarkan sesesungguhnya tidak membutuhkan jawaban. Karena siapa lagi yang mau Aldi temui kecuali Maya sahabatnya.


"Iya, mumpung kita ada waktu kosong bareng." sahut Aldi tersenyum.


"Kita?" Cynta membatin dengan mengarahkan pandangan pada pintu utama kosnya. Ternyata ada Adrian, Adam dan juga Gama yang ikut masuk ke dalam kosnya.


"Oh... hai kalian juga..." Cynta dengan tersenyum ramah kepada ketiga orang lelaki yang tengah berjalan mendekat ke arahnya.


Andri dan Adam membalas Cynta dengan melambaikan tangan tersenyum ramah. Namun tidak dengan Gama. Lelaki itu membuang pandangan dari Cynta setelah pandangan mata keduanya sempat bertemu.


"Ayok buruan berangkat." Angga mendorong punggung Cynta dengan satu tangannya agar gadis itu melanjutkan langkah kakinya yang sempat berhenti.


"Eh... iya ayok." jawab Cynta dengan menatap Gama yang berlalu tanpa sedikitpun menatap maupun menyapa dirinya.


"Aneh..." desis Cynta melanjutkan langkah kakinya meski otaknya masih memikirkan sikap Gama yang jauh berbeda dari beberapa hari lalu saat mereka menghabiskan waktu bersama. Belum lagi tatapan mata elang itu terkesan sangat dingin menghujam, meski hanya sepersekian detik Cynta merasakan aura dingin itu hingga menembus dada.

__ADS_1


"Apanya yang aneh?" Angga mensejajari langkah kaki Cynta.


"Eh enggak ada kok." Cynta tersenyum kikuk karena merasa malu Angga mendengar desisannya.


*


*


*


"Cowok tadi pacarnya Cynta May?" Aldi bertanya saat mendaratkan bokongnya di lantai kamar Maya.


Bersamaan dengan itu tanpa sadar Gama menajamkan pendengarannya. Rasanya sungguh tak sabar untuk mendengar jawaban dari Maya.


"Kepo lo." Maya dengan menggelar karpet bulu untuk alas duduk teman temanya. "Berdiri dulu Al, lo kedinginan ntar."


Mau tak mau Aldi pun mengangkat tubuhnya kembali.


"Bukan kepo cuma pengen tau aja." Aldi duduk kembali setelah karpet bulu Maya tergelar penuh.


"Sama aja Al." Adam yang menyahut.


"Beda."


"Sama."


"Beda."


"Angga bukan cowoknya Cynta." Maya mengakhiri perdebatan Aldi dan Adam dengan meletakakn dua toples kue di atas karpet.


Seiring jawaban Maya, Gama menghembuskan nafas lega tanpa ia sadari.


"Oh bukan ya..." Aldi dengan tersenyum.


"Seneng banget lo dengernya." Adam mengejek.


"Emang iya... kenapa... iri lo?" sahut Aldi dengan raut wajah tak kalah mengejek.


"Mereka temen?" Andri yang bertanya.


"Angga sama Cynta satu kampus tapi beda fakultas." Maya masih dengan menurunkan beberapa botol air mineral di atas karpet bulu untuk menyuguhi teman temannya.


"Mereka satu kampung seperti kita?" tanya Andri lagi karena merasa Anggap dan Cynta cukup dekat seperti sudah saling kenal lama.


Maya menggeleng.


"Enggak. Cynta itu anak Jakarte. Angga mah deket, dari Wonosobo dianya. Pacar Angga tu Maura, cewek agak pendek cabi yang jalan paling awal tadi. Kamarnya hadapan sama Cynta. Makanya Angga sama Cynta bisa akrab."


"Oh." Andri manggut manggut. Ekor matanya bergerak melirik Gama yang sedari tadi hanya diam menatap ponsel pintarnya.

__ADS_1


"Bukane dia pernah jalan bareng, kenapa tadi nggak saling sapa..." Andri dengan membatin.


❤❤❤❤


__ADS_2