Bukan Salah Rasa

Bukan Salah Rasa
Memalukan


__ADS_3

Eughm...


Cynta menggeliatkan tubuh dengan kedua mata yang mengerjap.


"Nyenyak banget tidur gue semalem." gumam Cynta dengan berusaha membuka kedua matanya dengan sempurna. Kedua tangannya ia rentangkan seraya mengusap usap alas tidurnya.


Kening Cynta mengerut saat merasakan tangannya mengusap sesuatu yang lembut seperti bulu bulu halus, tidak terasa seperti pada sprei bed miliknya.


Tak lama kemudian Cynta menolehkan kepala, melirik alas tidurnya. Keningnya makin mengerut diiringi dengan dada yang berdebar kencang karena merasa jika ia tidak sedang tidur di kamarnya.


"Gue di mana?" Cynta dengan mendudukkan tubuhnya segera, mengucek mata lalu mengedarkan pandangan pada seluruh ruangan.


Hek...


"Gama." pekik Cynta tertahan. Segera membungkam mulutnya dengan kedua tangan saat menoleh ke sisi kiri menemukan Gama dengan bertelanjang dada serta kedua mata terpejam di atas bed tidurnya.


Cynta mengarahkan pandangan matanya guna memindai tubuh saat mendapati Gama tidur dengan setengah telanjang.


"Alhamdulillah." Cynta mengusap dada dengan lega saat piyama tidurnya masih menempel pada tubuhnya.


"Nggak mungkin juga dia apa apain gue. Kita kan tidurnya pisah." Cynta semakin merasa lega saat menyadari dirinya tidur di atas lantai karpet yang telah dilapisi dengan selimut bulu yang lumayan tebal. Sedangkan Gama terlihat nyenyak di atas bed tidurnya.


"Tapi gimana gue bisa tidur di sini ya..." Cynta mencoba mengingat tentang peristiwa yang telah dilaluinya semalam.


"Sial... gue pasti ketiduran sehabis makan gudeg semalem. Ya... gue pasti ketiduran." Gumam Cynta dengan yakin.


"Tapi... Gimana caranya gue sampai masuk dan tidur di kamar Gama?! Nggak mungkin kan Gama bopong tubuh gue?" monolog Cynta dengan menggumam.


"Udah bangun lo..." suara khas bangun tidur dari Gama terdengar hingga membuat Cynta tersentak kaget.


"Ah... eh... udah..." Cynta terlihat canggung.


"Ngapain lo jadi sok imut gitu, pala lo nggak kejedot kan semalem?" Gama dengan mendudukkan tubuh setengah nakednya di atas bed.


"Gue... enggak. Gue nggak kek gitu kok." elak Cynta karena dirinya memang merasa tidak sedang bertingkah imut saat ini.


"Ngapain diem kek gitu, nggak teriak, ngamuk kek sebelumnya?" tatap Gama dengan wajah bantalnya seraya mengingatkan Cynta pada kejadian dulu saat gadis itu terbangun dari tidurnya saat tak sengaja tertidur bersama dengannya.


"Ngapain gue mesti ngamuk?"


"Karena semalem lo enggak gue anterin pulang, malah gue bawa ke sini."


Cynta menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Nggak kok. Justru gue terima kasih karena lo nggak buang gue di jalanan."


"Tau terima kasih juga lo." Gama membaringkan tubuhnya ke atas bed kembali. Dan itu membuat Cynta mendekat pada bed tidur Gama karena merasa Gama berada dalam kondisi antara sadar dan tidak.


"Gam..." panggil Cynta dengan mendekatkan wajahnya.


"Lah merem lagi..." Cynta menggumam saat mendapati kedua mata Gama terpejam kembali.


Posisi tidur Gama yang tengkurap dengan kepala menoleh ke arah Cynta membuat gadis itu terdorong untuk mengamati wajah lelap Gama.


"Bisa ya alis cowok tebel banget kek gini." gumam Cynta dengan lirih. Tanpa sadar mengulurkan telunjuk kanannya, menyentuh dan mengusap alis mata tebal milik Gama.


"Elo suka perawatan kemana sih Gam, wajah lo bersih banget mana alus lagi. Bikin gue iri, sumpah." lanjut Cynta dengan beralih menyusuri permukaan kulit wajah Gama yang putih bersih tanpa sedikit pun noda bekas jerawat.


"Gila, hidung lo mancung banget. Bisa dipakek buat terjun bunuh diri masal..." Cynta terkikik lirih saat menyusuri hidung mancung Gama.


Saking asyiknya mengamati dan mengagumi wajah tampan Gama yang bersih halus tanpa noda, Cynta tidak menyadari jika wajahnya telah menumpu pinggiran bed tidur Gama hingga menyisakan jarak satu jengkal saja.


"Elo mangap aja masih tetap tampan." Gumam Cynta tanpa sadar memandangi mulut Gama yang sedikit terbuka dan mengeluarkan bunyi dengkuran yang sangat halus.


Saking terpesonanya dengan wajah tampan Gama, telunjuk Cynta yang semula bertengger pada hidung mancung Gama kemudian bergerak meruntut turun ke bawah.


"Lo nggak pernah ngerokok ya Gam..." desis Cynta lirih saat menyadari bibir tebal itu berwarna merah muda cerah.


Membuat Cynta terbelalak kaget.


Segera mengangkat wajah dan juga menarik telunjuknya dari bibir Gama, namun sayang Gama lebih dulu menahan pergelangan tangannya. Cynta menelan salivanya kelat karna merasa terpergok mengagumi ketampanan seorang Gama Handoko.


"Se_ sejjak kapan lo bangun?" Cynta dengan bibir bergetar karena takut kalau kalau Gama mendengar semua perkataannya saat mengagumi wajah tampan Gama.


"Sejak jari ini menyentuh bibir gue." Gama mengeratkan cekalan pada pergelangan tangan kanan Cynta yang posisi telunjuknya masih mengacung. Gama melirik jari telunjuk Cynta saat mengucap kata. Hingga membuat Cynta segera menarik jari telunjuknya segera.


"Emm... nggak juga." Gama terlihat berfikir. " Sejak lo bilang gue mangap aja tetep tampan. Eh bukan juga. Hidung gue bisa dipakek buat bunuh diri masal kali atau mungkin sejak elo mengagumi alis mata tebal gue, sepertinya."


"Jadi lo nggak tidur?!" Cynta dengan kedua mata membola.


"Merem bukan berarti harus tidur kan Ta." Gama mengganti posisi tubuhnya miring namun tanpa melepaskan pergelangan tangan Cynta.


"Gam... lepas." Cynta memutar tangan kanannya agar lolos dari cengkeraman tangan Gama.


"Nggak di sini dulu." Gama menarik pergelangan tangan Cynta kuat hingga membuat tubuh gadis itu tersendal dan makin mendekati Gama.


"Gam..." mohon Cynta dengan tidak nyaman akan posisinya.

__ADS_1


"Gue tanya dulu." Gama menumpu kepala dengan dengan tangan satunya.


"Tanya apa?" Cynta waspada.


"Kasih tau gue bagian mana yang paling lo suka?" Gama dengan tatapan yang tidak bisa Cynta artikan.


"Nggak ada." Cynta dengan membuang wajah. Tidak mungkin dirinya mengaku. Bisa bisa Gama akan besar kepala nanti.


"Ck... ngadep sini Ta, jawab jujur." Gama menggoyang tangan kanan Cynta yang berada dalam kuasanya.


Mau tak mau Cynta menoleh.


"Nggak ada Gam. Mengagumi bukan berarti menyukai." ucap Cynta kesal dengan menunjukkan raut wajah kesal untuk menutupi kegugupan yang tiba tiba melanda hatinya.


"Lier."


"Gue nggak bohong. Elo memang ganteng tapi bukan berarti gue suka sama lo." Menurut Cynta dirinya memang tidak memiliki rasa pada Gama. Meski saat ini dadanya berdebar tak beraturan bukan berarti itu menandakan jika dirinya cinta sama Gama. Cynta hanya merasa posisi mereka yang sangat dekat itulah yang membuat jantungnya berdetak kencang saat ini.


"Yakin?" Gama mendekatkan wajahnya pada Cynta.


"Yakin!" Cynta mendorong kuat wajah Gama yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Hingga membuat Gama terjengkang dia atas bed tidurnya. Tangan Cynta pun terlepas dengan sendirinya.


"Tapi wajah lo merona Ta." Gama dengan terkekeh.


"Enggak." Elak Cynta meski ia merasakan rasa hangat menjalari permukaan kulit wajahnya.


"Mau kemana lo?" tanya Gama saat melihat Cynta beranjak dari duduknya.


"Dapur, ambil minum."


Buru buru Gama mendudukkan tubuhnya lalu meraih tangan Cynta dan menahannya, membuat gadis itu mengurungkan langkah kakinya.


"Pakek dulu itu lo." Gama mengarahkan pandangan pada tubuh Cynta.


Cynta mengikuti arah pandangan mata Gama. Detik berikutnya Cynta terbelalak dengan mulut menganga saat menyadari ada yang salah pada tubuhnya.


"Gue yang lepas semalem, gue gantung tuh di belakang pintu sama hodie lo." ucap Gama santai lalu melepaskan tangan Cynta begitu saja.


Cynta pun segera melangkahkan kaki menuju pintu kamar Gama lalu mengambil benda yang dimaksud lelaki tersebut dan membawanya tergesa ke dalam kamar mandi.


Dalam hati mengumpat kesal pada Gama yang mengiringinya ke dalam kamar mandi dengan tawa.


Sungguh pagi yang sangat memalukan bagi Cynta.

__ADS_1


❤❤❤❤


__ADS_2