
"Pagi matahari...." Cynta dengan menghirup udara pagi melalui jendela kamar kosnya yang terbuka.
Dengan wajah berantakan khas bangun tidur, gadis itu mengembangkan senyum pada bibir tipisnya yang sedikit pucat karena tidak dipoles dengan pewarna bibir sedikitpun.
Karena hari masih pagi, wajarlah jika penampilan gadis cantik berwajah imut itu sedikit pucat dan berantakan. Maklum baru juga bangun dari tidur panjangnya semalam.
Apalagi saat ini Cynta sedang dalam periode bulanannya jadi dia tidak harus bangun subuh untuk melakukan kewajiban sholatnya.
"Ah... sepertinya hari ini bakalan cerah." Cynta menggerakkan kedua tangan ke atas untuk meregangkan tubuhnya.
"Tugas udah, kerjaan beres..." Cynta seolah mengabsen kegiatan yang wajib diselesaikan lalu memindai kamarnya dengan kedua ekor matanya. "Cucian nggak ada, setrikaan juga no... kamar bersih, wangi..." Cynta sekali lagi menghirup aroma lavender yang semalam digunakan untuk mengepel lantai kamarnya.
"Yess... gue bebas hari ini." Cynta dengan berjingkrak, seolah menggambarkan suasana hatinya yang sedang gembira.
"Jam delapan." Cynta menggumam saat melihat jam bulat berwarna biru yang menempel di dinding kamar kosnya.
"Mandi ah..." Cynta dengan menyambar handuk lalu membuka pintu kamar.
"Eh... Maya masih ada di kamar." Cynta terdengar menggumam saat mendapati alas kaki Maya masih lengkap di sana. Bagaimanapun mereka adalah tetangga kos yang sudah lebih dari tiga tahun hidup bersama jadi sangatlah mungkin jika Cynta hafal betul dengan sepatu ataupun sandal milik Maya. Begitupun sebaliknya.
Ceklek.
Cynta buru - buru memasuki kamar kembali saat mendengar bunyi pintu kamar Maya dibuka dari dalam. Bukannya ada masalah antara dirinya dengan Maya, melainkan Cynta sengaja menghindari Maya hari ini karena tidak mau hari liburnya berantakan.
Heh... heh...
Cynta bersembunyi di balik pintu kamar dengan meletakkan tangan di depan dada, menahan deru nafasnya yang sedikit tersengal.
"Cynta!! Bangun!!" terdengar teriakan dari balik pintu kamar Cynta, membuat tubuhnya waspada. Sedikit menjauhkan punggungnya lalu melirik kunci pada pintu kamarnya.
"Alhamdulillah..." Cynta mengusap dadanya dengan lega saat mendapati pintunya terkunci. Sudah dapat dipastikan jika Maya pasti bakal menerobos masuk ke dalam kamarnya.
"Cyntaaaa...." Seru Maya sembari menggedor pintu kamar Cynta dengan keras.
Cynta tidak menyahut, diam mematung serta berusaha menahan nafas agar Maya mengira dirinya tidak ada di dalam kamar.
"Cynta!!" Maya kembali berseru menyebut nama Cynta. "Kemana sih itu anak, nggak ada apa ya?!" Terdengar Maya menggumam.
__ADS_1
Sedetik kemudian terdengar bunyi telepon berbunyi dari luar kamar Cynta. Sepertinya ponsel Maya yang berdering.
Cynta menajamkan pendengarannya dengan menempelkan telinga pada pintu kamar.
"Iya, iya bentar. Ini juga lagi pakek sepatu." sangat jelas suara Maya.
"Enggak, gue sendirian gak ada temen. Anak kos udah pada bubar. Udah gue tutup telfonnye ye. Gue jalan nih..." suara Maya terdengar menjauh.
Cynta membuka pintu kamarnya perlahan. Sedikit mengintip setelahnya baru mengeluarkan tubuh sepenuhnya setelah merasa Maya sudah tidak terlihat lagi.
Cynta berjalan pelan mendekati tangga, lalu melongokkan kepala mengintip ke bawah.
Huh.
Cynta akhirnya bernafas lega saat manik matanya mendapati Maya lengkap dengan helm duduk di atas motornya. Akhirnya Maya benar benar keluar kos sendiri tanpa mengganggu jadwal liburan Cynta.
Dengan segera Cynta melesat ke kamar mandi seraya membawa gayung yang berisi perlengkapan mandinya.
Puk... puk...
Cynta menepuk kedua pipinya setelah mengaplikasikan serum pada seluruh permukaan wajahnya. Lalu meraih bedak, menyapu tipis dan mengakhiri dengan membubuhkan liptin pada bibir tipisnya agar tidak terlihat pucat.
"Sip... elo emang cantik Ta." Cynta dengan tersenyum pada bayangan wajahnya di cermin.
Segera meraih tas selempang yang menggantung di belakang pintu kamar dan memakainya.
Ceklek.
Cynta mengunci pintu dari luar setelah menutup jendela kamar lalu mengayunkan kakinya untuk menuruni tangga.
Hari ini Cynta memilih menggunakan transjogja untuk menuju dalah satu mall besar yang ada di kota tempatnya menempuh studi.
Huft...
Akhirnya sampai juga... batin Cynta saat turun dari transjogja tepat di pelataran mall yang akan dikunjunginya untuk bermain games sepuasnya.
Cynta selalu menghibur dirinya dengan permainan bocah yang biasa terdapat di lantai atas bagian mall saat dia ingin merefresh otak dan tubuhnya.
__ADS_1
Dengan langkah kaki riang Cynta memasuki mall yang tampak dipenuhi oleh para pengunjung dari berbagai usia. Maklum hari ini adalah hari minggu, jadi wajar saja jika pengunjungnya membludak.
Cynta segera menaiki eskslator untuk menuju lantai paling atas yang menjadi tujuannya untuk bermain game.
"Cantik... sendirian aja." terdengar suara menggoda dari balik punggung Cynta, namun gadis itu memilih mengabaikannya.
Meski Cynta sangat tahu jika ucapan itu ditujukan kepadanya namun Cynta tidak menggubrisnya. Cynta tahu jika godaan itu ditujukan kepadanya karena saat ini yang menaiki eskalator tersebut hanyalah dirinya dan pemilik suara yang menggodanya.
"Abang temenin ya..." Lagi godaan itu terdengar dengan disertai colekan kecil pada salah satu lengan Cynta.
"Paan sih." tepis Cynta dengan kasar tanpa menoleh ke belakang di mana ada dua orang lelaki berdiri seusia dengannya. Kedua lelaki itu memang sengaja menggoda Cynta yang tengah berjalan sendirian.
"Aduh galak amat sih neng."
Cynta tetap saja mengabaikan meski dalam hati ingin sekali menendang ataupun menonjok wajah para penggodanya tersebut. Cynta berusaha menahan diri agar tidak tersulut emosi.
"Neng.. liat sini dong." Lagi godaan itu terdengar diiringi dengan colekan pada anggota tubuhnya. Kali ini pinggang ramping Cynta yang menjadi sasarannya.
Cynta mengeram, menaikkan kedua kakinya pada pijakan tangga eskslator di atasnya guna menghindari kedua orang lelaki yang tak berhenti menggodanya.
"Ish... jangan jauh jauh dari abang dong neng." Kedua lelaki itu juga menaiki tangga satu tinggkat di bawah Cynta guna mengikuti gadis itu.
Cynta pun menaikkan kakinya kembalu untuk menghindar.
Namun kedua lelaki itu tidak menyerah dengan mengikuti langkah kaki Cynta dengan sesekali memberikan colekan pada bagian tubuh Cynta hingga membuat gadis itu tak lagi dapat menahan emosinya.
Cynta pun hendak membalik tubuhnya untuk memarahi kedua orang penggodanya. Belum lagi niat itu terjadi.
Sret..
Sebuah tangan kekar menyusupkan jemari pada jemari tangan kanannya.
"Jangan ganggu dia. Dia cewek gue."
Nada dingin dengan penuh penekanan itu keluar dari mulut pemilik jemari yang menyusup pada jemari Cynta.
Kedua mata Cynta melebar dengan mulut terbuka saat menoleh ke samping kanannya.
__ADS_1
❤❤❤❤