
"Gue nggak aneh." Gama dengan santai merangkul bahu Cynta.
Dan anehnya Cynta membiarkannya begitu saja. Gadis itu memilih mendengus dan membuang pandangan dari Gama.
"Kalau gue mengabaikan lo pas liat kejadian seperti tadi. Itu baru namanya aneh." lanjut Gama kemudian. Membuat Cynta menoleh.
"Yang gue maksud aneh itu elo bukan tindakan lo. Asal lo tau." Cynta masih memberikan tatapan tak suka pada Gama.
Gama terkekeh kecil.
"Tu kan aneh." ucap Cynta saat melihat kekehan Gama.
"Ck... elo tu yang aneh." Decak Gama dengan menunjuk pada kening Cynta dengan tangan kirinya yang terbebas dari merangkul bahu Cynta.
"Loh... loh... mau kemana sih Gam. Gue mau naik lagi." Cynta menahan bobot tubuhnya dan berusaha melepaskan rangkulan tangan Gama saat lelaki itu membawanya pergi menjauhi eskalator. Karena Cynta berniat untuk naik ke lantai atas lagi. Arena permainan yang menjadi tujuannya masih harus menaiki eskalator dua kali lagi.
"Mo ngapain ke lantai atas?" Gama tanpa melepaskan tangannya dari bahu Cynta.
"Bukan urusan lo."
"Ck... tak tau terima kasih lo." Gama menyentil pelan kening Cynta dengan seenaknya.
Membuat gadis itu meringis sembari mengusap keningnya yang terasa sedikit panas.
Lalu setelahnya membungkukkan setengah tubuhnya dengan cepat. Cynta memang sengaja melakukan gerakan tersebut.
"Makasih atas bantuannya kak."
Posisi tubuh Cynta yang setengah membungkuk, membuatnya bisa melepaskan rangkulan tangan Gama dari bahunya.
Tanpa menunggu jawaban dari Gama dan masih dengan posisi tubuhnya yang setengah membungkuk Cynta segera melakukan gerakan mundur untuk menjauhi Gama.
Cynta segera menegakkan tubuh dan membalik arah menuju tangga berjalan kembali saat Gama masih mematung di tempatnya.
"Mau lari dari gue lo..."
Baru saja hendak menaiki tangga eskalator tangan Gama telah menarik tas selempangnya dari belakang. Membuat kaki kanan Cynta mengambang di udara. Otomatis Cynta segera mengurungkan niatnya menaiki tangga berjalan.
"Ck... mau ngapain lagi sih." Cynta menghadap Gama dengan menghentakkan kakinya kesal.
"Elo belum balas kebaikan gue." Bima melepaskan pegangan tangannya dari selempang tas Cynta dan beralih memegang pergelangan gadis itu dengan kuat.
__ADS_1
"Elo nggak ikhlas nolongin gue?" Cynta dengan kedua mata membola.
"Ini bukan maslah ikhlas atau nggak ikhlas. Bukan kah membalas kebaikan orang dengan segera itu jauh lebih baik dari pada hanya sekedar mengucapkan terima kasih." Gama dengan seenaknya menarik tangan Cynta untuk mengikuti dirinya.
"Elo butuh bantuan gue?"
"Enggak! Gue minta elo balas kebaikan gue." Gama dengan sedikit menyeret Cynta. Karena gadis itu seperti sengaja memaku tubuhnya, enggan bergerak.
Meski kesal akan perlakuan Gama yang seenaknya, mau tak mau akhirnya Cynta mengikuti langkah kaki lelaki pemaksa tersebut. Cynta tak mau menjadi tontonan orang di sekitarnya karena perdebatannya dengan Gama.
"Ngapain ke sini?" Cynta dengan membaca nama sebuah outlet brand pakaian mahal yang ada di mall tersebut.
"Beli baju lah masak mau makan." Gama kembali menyeret pergelangan tangan Cynta karena gadis itu lagi lagi memaku tubuhnya saat berada di pintu masuk.
"Belagu lo. Duit masih minta aja, beli baju seenaknya. Dasar makan merek." sinis Cynta namun Gama tak menggubrisnya.
"Bantu gue." Gama dengan memilah deretan kemeja lengan panjang.
"Bantuin apaan?" Cynta pura pura tidak memahami ucapan Gama.
"Ck.. Pilih yang cocok buat gue."
"Ada mbak pelayan tuhinta bantuan sama mereka. Mereka pasti lebih jago daripada gue." Cynta dengan sengaja menolak permintaan Gama.
Mau tak mau Cynta pun mengikuti langkah kaki Gama meski dalam hati mengumpat pada lelaki itu.
"Lo mau cari baju buat apaan sih? Kuliah?" Cynta dengan wajah lelah karena Gama tak kunjung mendapatkan baju yang diinginkannya.
Gama menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh pada Cynta yang berdiri sedikit di belakangnya.
"Buat kuliah, buat maen, buat nge band sama baju harian. Eh baju buat kencan juga ding." Jawab Gama dengan mengabsen satu persatu baju yang dibutuhkannya dengan jari tangannya yang terbebas. Lalu menunjukan lima jarinya tepat di depan wajah Cynta.
"Busyet. Udah kek artis aja, baju harus sesuai tema. Masih minta uang sama orang tua aja belagu lo." ejek Cynta.
Dug.
"Nggak usah nethink." Gama dengan seenaknya memukul kening Cynta menggunakan pangkal telapak tangannya.
Hiss...
Cynta berdesis kesal. Tangan kirinya hendak membalas perbuatan Gama, namun dengan sigap Gama menangkis dan menahan tangan Cynta. Lalu menyatukan kedua tangan Cynta dalam genggamannya.
__ADS_1
"Anak gadis nggak boleh main tangan seenaknya. Ntar kalau udah nikah jadi kebiasaan mukul suami."
"Kalau suami gue elo, gue dengan senang hati membiasakannya." ungkap Cynta dengan jengkel.
"Dan gue lebih senang lagi buat ngikat lo dalam kungkungan gue seperti ini di atas ranjang." Gama denagn mengunci kedua tangan Cynta di belakang punggung gadis itu. Merapatkan tubuh keduanya seraya menatap tajam kedua manik bundar Cynta yang tak berhenti bergerak kesal.
"Gama lepassin. Diliatin banyak orang tuh." Cynta dengan mengetatkan giginya geram karena Gama seperti tak sadar dengan apa yang telah dilakukannya.
Gama terkesiap, segera memberi jarak tubuh keduanya lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Benar saja ada beberapa pasang mata menatap mereka.
"Sorry."
Gama dengan membebaskan kuncian tangan Cynta, namun tetap menggenggam salah satu tangan gadis itu kembali seraya membawa gadis itu keluar dari outlet tersebut. Gama memilih mencari outlet yang lainnya karena sudah pasti mereka berdua tidak akan nyaman jika tetap di sana.
"Mau ngapain lagi sih?" tanya Cynta dengan wajah yang tertekuk kesal karena Gama membawanya masuk ke dalam outlet outfit branded yang terkenal dengan harga selangit.
"Gue kan belum dapet baju."
"Ck... kenapa harus sama gue sih. Gue kan ada tujuan lain Gam."
"Ntar ganti gue temenin." Gama melakukan langkah kakinya semakin masuk ke dalam outlet.
"Gue nggak butuh di temenin. Bisa sendiri."
"Ya udah kalo gitu selesain tugas lo cariin baju buat gue. Habis itu lo bisa bebas." Gama dengan raut wajah seolah memberikan jalan keluar yang terbaik untuk Cynta.
Huh
Cynta menghembuskan nafas dengan kasar.
Ini sih namanya tetep aja sial...
Gimana nggak sial coba, lepas dari menghindari Maya agar bisa main game sepuasnya malah ketemu sama makhluk menyebalkan seperti Gama.
Dosa besar apa sih yang telah gue buat kemaren....
"Gimana?" Gama.
"Okey. Tapi lo janji kan habis itu lepasin gue."
"Okey. Deal."
__ADS_1
❤❤❤❤
Gama beneran pegang janji nggak tuh....