Bukan Salah Rasa

Bukan Salah Rasa
Seperti Sandwich


__ADS_3

"Elo tidur sini lagi?" Tanya Aldi dengan raut wajah kaget saat melihat kehadiran Cynta di dapur kostnya.


"Iya." sahut Cynta sembari menarik kursi makan lalu mendudukinya dengan malas.


"Kejebak lagi?" Aldi dengan mengoles selai coklat pada roti tawar di tangannya.


"Kali ini enggak." Cynta meraih gelas yang menelungkup di nampan atas nampan yang terletak di atas meja.


Cynta memang merasa tidak terjebak karena semalam adalah murni kesalahannya, menurut Cynta. Tanpa Cynta ketahui bahwa Gama memang sengaja tidak membangunkan Cynta saat mendapati gadis itu tengah tertidur di dalam mobilnya.


"Tidur sama Gama lagi?"


"Iya." Cynta menuang air putih ke dalam gelas. "Tapi nggak seperti yang lo pikir kok Al." lanjut Cynta segera. Cynta tidak ingin Aldi salah paham.


"Maksud lo?" Aldi dengan kedua alis mata bertaut karena sesungguhnya di dalam otaknya dia tidak berfikir apapun saat ini. Apalagi tentang kebetulan Cynta tidur di kamar Gama. Aldi sangat tahu bagaimana Gama. Jadi pasti ada cerita dibalik kejadian mereka tidur bersama saat malam tadi.


"Gue tau otak lo ngeres. Elo pasti mikir yang aneh aneh kan?!"


"Enggak!" elak Aldi dengan cepat.


"Pandangan lo ke gue nggak bisa bohong." Cynta berusaha mengantisipasi agar tidak menimbulkan salah paham.


Aldi mendengus.


"Ya sih sedikit aneh aja lo nginep di sini lagi. Apalagi di kamar yang sama juga." Akhirnya Aldi memilih mengiyakan tuduhan Cynta daripada berbuntut panjang. Perempuan itu lebih baik diiyain aja daripada obrolan mereka nggak kelar pada satu topik, menurut Aldi begitu.


"Tuhkan... gue bener." Cynta menunjuk wajah Aldi dengan telunjuknya tersenyum mengejek, merasa instingnya benar.


Aldi mencebik. "Serah lo deh Cyn."

__ADS_1


"Tenang aja. Enggak usah khawatir." Cynta menjeda ucapannya dengan meminum air putihnya.


"Gue tidurnya di bawah kok, Gama tidur di atas." Ucap Cynta tanpa sadar jika ucapannya membuat mata Aldi mendelik.


Otak Aldi yang semula berbaik sangka menjadi nethink sekarang.


"Ya tidur kita nggak barengan. Gama di atas, gue di bawah. So kita berdua nggak ngelakuin yang aneh aneh seperti yang ada di otak lo." Cynta belum menyadari ucapannya


"Elo tidurnya di bawah, Gama di atas?" Aldi mengulang ucapan Cynta yang mendapat anggukan kepala dari sang gadis yang duduk di hadapannya.


Membuat Aldi sedikit tercengang.


Dengan otak yang masih mencerna ucapan Cynta, Aldi meraih satu roti tawar dan menumpuk pada roti tawar yang telah diolesi selai coklat di tangannya.


Otak Aldi menerawang membayangkan yang tidak tidak. Ekor matanya bergerak, melirik roti di tangannya lalu melirik ke arah Cynta berulang kali.


"Elo di bawah, Gama di atas ya Cyn?!" Aldi dengan nada tidak yakin serta ragu. Pandangan matanya tak lepas dari roti di tangannya.


Jawaban itu keluar dari mulut Gama yang tetiba masuk ke dapur seraya menarik kursi di samping Cynta dan mendudukinya.


Aldi membola sedangkan Cynta mendelik ke arah Gama.


"Kalian semalem?" Aldi memandang Gama dan Cynta silih berganti.


"Begitulah." Gama santai meraih selembar roti dan mengoles selai ke atasnya. "Cynta di bawah gue di atas." Gama seolah menggambarkan cara tidurnya bersama Cynta dengan menutup roti yang telah diolesi selai coklat dengan roti yang lain di atasnya.


Wajahnya terlihat santai saat berucap kata.


Cynta mencoba mencerna ucapan Gama.

__ADS_1


Sedangkan Aldi masih mematung terkejut akan ucapan sahabatnya. Bahkan roti sandwich coklat yang seharusnya telah masuk ke dalam mulutnya masih bertengger nyaman di tangan kanannya.


"Enggak gitu Al. Maksud gue nggak gitu! Gama jangan ngarang!!" Cynta berseru menyadari maksud ucapan Gama yang bakal membuat Aldi lebih dari salah paham. Kedua telapak tangan Cynta bergerak menyanggahnya.


"Maksud gue Gama tidur di kasur, gue bawah. Di lantai pakek karpet, so kita berdua tidurnya pisah. Enggak barengan." Jelas Cynta dengan segera.


"Enggak. Kita tidurnya barengan kok, kek sandwich ini Al." Gama dengan senyum tengil ke arah Cynta.


Cynta pun melotot, seolah pupil matanya hendak keluar melihat ekspresi Gama yang dengan santainya mengucapkan kata yang bukan sebenarnya.


"Gama elo kalau ngomong jangan sembarangan, jatuhnya fitnah tau nggak?!" Cynta dengan nada tidak terima.


"Gue kan ngomong yang sebenarnya sayang..." Gama tidak berhenti menggoda Cynta.


Entah mengapa melihat raut wajah kesal Cynta menjadi pemandangan menyenangkan baginya.


Cynta membuka mulutnya lebar seraya membelalakan mata mendengar sebutan sayang dari mulut Gama untuknya.


"Elo bener bener nyebelin Gam." Cynta beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamar Gama kembali. Cynta tidak ingin semakin kesal mendengar ocehan asal dari mulut Gama.


Pandangan mata Gama mengikuti kepergian Cynta ke kamarnya dengan tawa kecil yang membuat Cynta terlihat menghentakkan langkah kakinya kesal.


"Gam..." panggilan Aldi membuat Gama menghentikan tawa kecilnya. Lalu memutus pandangan dari punggung Cynta yang telah memasuki kamar miliknya.


"Apa?"


"No Big No kan Gam?" Aldi mengingatkan ucapan Gama saat Cynta tak sengaja tertidur di kamar Gama beberapa hari lalu.


"Elo bisa menebaknya kan Al." Gama dengan tersenyum penuh arti kemudian pergi menyusul Cynta.

__ADS_1


Meninggalkan Aldi yang membeku cengo di tempatnya.


❤❤❤❤


__ADS_2