Cahaya Cinta Rembulan

Cahaya Cinta Rembulan
CCR 1


__ADS_3

 Episode 1


Seorang gadis tengah berkutat dengan laptopnya. Wajahnya tampak serius saat membaca ulang kalimat yang tertera di layar laptopnya. Tangannya tanpa sengaja malah mengeklik tanda yang bergambar tong sampah.


"Ah, kenapa harus ke hapus, sih?!" teriaknya kesal.


Bagaimana tidak, satu bagian ceritanya terhapus tanpa sengaja. Gadis itu mendengus sebal. Moodnya benar tidak terselamatkan.


"Kenapa kamu marah-marah? Sepertinya, masalahnya kali ini serius sekali," celetuk seorang gadis sumurannya, muncul dari balik pintu.


"Kau tahu, satu bagian ceritaku terhapus dan yang bikin aku frustrasi adalah para pembacaku yang terus menerorku meminta updet," ceritanya dengan muka masam.


"Ck, pantas saja," katanya, "lalu sekarang, kamu mau berbuat apa?" tanyanya.


"Antahlah, aku hanya ingin tidur. Kepalaku terasa akan pecah jika terlalu memikirkannya," jawabnya lugas.


"Itu lebih baik. Tidurlah, jangan sampai kamu sakit, nanti para pembaca lebih kecewa." katanya.


Mereka berdua adalah Cahaya Rembulan dan Khoerunisa Salbia Lais. Mereka bersahabat sejak usia mereka tujuh tahun. Mereka dua sekawan yang saling melengkapi.


***


Cahaya, gadis manis dengan warna kulit kuning langsat. Kehidupannya sangat sederhana, sesederhana namanya. Pekerjaan sampingannya ialah menjadi seorang penulis di platform online. Tinggal di desa yang masih asri dan jauh dari polusi.


Khoerunisa, dia kerap di panggil Nisa. Usianya hanya terpaut dua bulan lebih muda dari Cahaya. Gadis keturunan Indonesia-Inggris itu terkenal dengan wajah bulenya. Sebenarnya, Cahaya juga memiliki darah campuran, tepatnya ibunya Cahaya adalah orang Amerika.


--


Cahaya, si gadis pintar dan Nisa, si gadis bule. Perpaduan yang cukup sempurna. Usia mereka kini 18 tahun dan masih duduk di kelas XII SMA.


Cahaya, dia memiliki keinginan besar untuk masa depannya. Pertama, dia ingin sukses agar membanggakan ayahnya. Kedua, dia ingin hidup bahagia bersama jodohnya.


Ibu Cahaya wafat sesaat setelah melahirkannya. Ngomong-ngomong, awal mulai kisah diberi nama Cahaya, karena pada saat lahir, bulan memancarkan cahayanya begitu terang.


Kalimat penyemangat yang selalu di genggaman dan di tanamkan dalam hatinya adalah 'Jika dalam keadaan putus asa, jangan merasa sedih. Tidak ada manusia yang terlepas dari asa. Diri ini hanya perlu lebih taat beribadah kepada, Tuhan Yang Maha Esa.'


--


Nisa, gadis ceria yang memiliki lesung di kedua pipinya. Banyak kenangan baik saat dia tinggal di desa. Berbeda saat dia tinggal di Inggris, rasa sakit kerap dia terima.


Nisa tergolong anak ramah. Akan tetapi, di balik sifat ramahnya itu tersimpan sebuah rahasia. Rahasia yang hanya dia, Tuhan dan orang tuanya saja yang tahu


Tidak ada hal yang lebih baik melebihi kehidupannya saat ini. Hidupnya bahagia dan berwarna, itu saja sudah cukup. Dia hanya berharap, Tuhan mau berbaik hati dengan memberikan waktu yang lebih lama untuk tetap hidup.

__ADS_1


***


Dering ponsel terdengar nyaring di kamar, Cahaya. Kamar yang terlihat rapi dengan kapasitas ruangan sedang.


Mata bulat berwarna cokelat itu terbuka. Di ambilnya ponsel yang berada di bawah bantalnya. Tertera dengan jelas nama, Ninis di layarnya yang menyala.


"Assalamualaikum, Nis. Ada apa?" tanya Cahaya, dengan suara serak khas bangun tidur.


"Waalaikumsalam. Kamu baru bangun, Cah?" tanya balik Nisa, dari seberang telepon.


"Iya, biasa ... kalau lagi haid mau kesiangan sekalipun gak di bangun in sama, Ayah." jawab Cahaya, sesekali dia menguap.


"Enak banget ya," celetuk Nisa. Cahaya tertawa pelan.


"Iyalah, Ayah Dirga yang terbaik," seru Cahaya.


"Iya, deh, iya in aja. Bye The Way, aku telepon kamu cuma mau kasih tahu, besok aku gak sekolah. Aku lagi sakit," ungkap Nisa. Cahaya langsung terperanjat kaget.


"Allahu Akbar! Kamu sakit? Sakit naon?" tanya Cahaya, heboh.


(Naon\= Apa)


"Santai aja, kali. Aku cuma demam, kok," jawab Nisa, kalem. Gak tahu apa, Cahaya hampir jantungan.


"Ya, terus harus bagaimana? Toh, cuma demam doang," tandas Nisa, ada benarnya.


"Hm, nanti siang aku jenguk," kata Cahaya.


"Jangan!" teriak Nisa dari seberang.


"Kenapa, sih? Sampai teriak kayak begitu. Jadi curiga aku, kamu bohong ya," tuduh Cahaya, padahal mah, cuma bercanda.


"Oh, eh, enggak bohong, kok. Kamu fokus aja tulis ulang bagian yang ke hapus kemarin, demam biasa begini mah sore juga sembuh," bantah Nisa, dengan suara yang mulai terdengar aneh.


"Suara kamu kenapa?" tanya Cahaya lagi, menyadari ada yang berbeda.


"Itu ... uhu-uhu, aku juga batuk," balas Nisa tergesa.


"Udah dulu ya, bye." pamit Nisa, langsung memutuskan sambungan.


Cahaya menetap layar ponselnya dengan pandangan yang sulit di baca. Cahaya mencoba menepis pikiran buruk yang menghampirinya.


"Mungkin, Bunda May yang larang Nisa pergi ke sekolah," tebak Cahaya, dengan bergumam.

__ADS_1


***


Di sisi lain, seorang gadis terbaring lemah di kasurnya. Wajahnya pucat dan darah mengalir dari hidungnya. Seorang wanita menangis melihat keadaan putrinya yang tengah di periksa dokter.


"Bagaimana, Dok?" tanya seorang lelaki, yang di ketahu i adalah Ayah si gadis.


Dokter itu menghela nafas pelayan. "Saya sudah katakan sedari awal. Anak kalian harus segera menjalani kemoterapi. Daya tahan tubuhnya kian melemah," tutur sang Dokter.


"Berapa lama? Berapa lama anak saya dapat bertahan?" tanya Ibu si gadis.


"Enam bulan. Anak kalian hanya mampu bertahan selama enam bulan. Namun, jangan berkecil hati juga, karena ini hanya sebuah perkiraan," jawab sang Dokter.


"Terima kasih, Dok. Mari saya antar ke depan," kata ayah si gadis.


"Sayang, kamu pasti mampu bertahan, 'kan? Kamu sudah janji sama Bunda, kamu pasti bakalan sembuh," ujar ibu sang gadis lirih. Air mata tanpa henti keluar dari pelupuk matanya.


"Sayang ...," panggil suaminya pelan.


"Mas, anak kita, anak kita ...," ucapnya tak mampu melanjutkan perkataannya.


"Sabar, Sayang. Anak kita Nisa, pasti mampu bertahan. Nisa gadis yang kuat. Buktinya, selama ini dia baik-baik saja, 'kan." ujar suaminya, memberi dorongan semangat kepada Istrinya.


Ya, gadis yang terbaring lemah itu adalah Nisa. Inilah Rahasia besar yang di sembunyikan dari sahabatnya. Wanita paruh baya itu--Maya Putri--ibunya. Serta Ayahnya--Alexander Lais.


Selepas menelepon Cahaya, kondisi Nisa memburuk. Untung saja, Dokter pribadi Nisa selalu siap siaga. Andai Cahaya tahu kondisi Nisa sesungguhnya, pastilah dia akan merasa menjadi sahabat paling tidak berguna.


***


Sejujurnya, bukan hanya Nisa yang memiliki rahasia besar, tapi Cahaya pun punya. Tentu saja Cahaya punya. Siapa sih, di jaman sekarang orang gak punya rahasia? Mau tua atau muda pasti punya rahasia. Benar bukan?


 


Ada dua tipe rahasia.


Pertama, rahasia yang bermanfaat.


Rahasia tipe pertama, orang-orang bisa memanfaatkannya di waktu yang tepat. Sehingga, bisa saja itu menguntungkan bagi dirinya sendiri.


 


Kedua, rahasia yang bikin sesat.


Rahasia tipe kedua, orang-orang yang pendek akal, akan menggunakan rahasianya secara salah. Sehingga, membawanya ke jalan sesat, jurang derita tanpa akhir.

__ADS_1


__ADS_2