
Episode 5
"Sudah, kamu harus kuat demi Nisa." tante May menguat kan Cahaya sambil menghapus air mata Cahaya yang masih tersisa di pipinya.
"Baiklah Tante, Cahaya akan berusaha meng ikhlaskan kepergian Nisa." ucap Cahaya dengan sesenggukan, walau hatinya terasa berat saat mengucapkan itu.
"Ya sudah, sekarang kamu ikut Tante ke makamny Nisa, maafin Tante ya, sudah memakamkan Nisa tanpa kamu, kata pak ustad jangan lama-lama di biarkan jasad Nisa nya, kasihan. " ucap tante May.
Cahaya hanya mengangguk dan turun dari kasur untuk melihat makam Nisa.
"Tante sebelum nya aku ingin memberi tahu Bapak dulu,agar nanti Bapak bisa kesini buat melayat." ujar Cahaya.
"Iya, Cahaya kamu istirahat dulu saja sambil ngasih tahu nya." titah May.
Cahaya menganggukan kepala nya tanda setuju.
Saat ini Cahaya baru sadar ia sedang berada di kamar Nisa, dia melihat foto Nisa dan dia saat bersama. Banyak sekali menempel di dinding kamar, Cahaya melihat seluruh isi penjuru kamar Nisa sambil menangis, dia pun langsung menelpon Bapak nya karena cuman itu satu-satu nya cara agar dia merasa lebih tenang mendegar suara Bapak nya.
"Assalamualaikum Pak." dengan suara yang sangat pelan dan sesenggukan.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, ada apa Cah? Kok kamu kayak abis nangis gitu?" tanya pak Dirga setelah mendengar suara Cahaya.
"Nisa pak, Nisa meninggal." Cahaya kembali menangis.
"Apa Nisa meninggal baiklah Bapak akan segera kesana." Dirga sangat kaget entah benar-benar kaget atau hanya pura-pura.
Tut ... tut ... tut ...
Telpon pun terputus. Sebenarnya May masih berdiri di depan pintu mendengarkan tangisan pilu Cahaya. Dia merasa tidak tega, tapi tak ada pilihan lain. " Maafkan Tante Cah." lalu pergi.
Tak lama kemudian Bapak nya Cahaya sudah sampai dirumah Nisa. Bapaknya membantu memapah Cahaya untuk pergi ke tempat peristirahatan terakhir Nisa, karena dia merasa tidak sanggup untuk melihat Nisa sendirian. Bukan hanya pak Dirga, May dan Pandu (orang tua Nisa) mengantar Cahaya.
Sebenarnya Cahaya masih ada rasa tidak percaya bahwa Nisa telah pergi untuk selamanya dia yakin Nisa tidak mungkin meniggalkan nya begitu saja, tapi apa yang ia lihat ini bahkan tanahnya saja masih basah. Tak terasa hari mulia sore, Cahaya dan yang lainya pulang ke rumah almarhum Nisa.
Semua orang sekarang berada di kediaman almarhumah khoerunisa Salbia, di sana ada Cahaya, Ibunya Nisa, Ayahnya Nisa, dan Bapaknya Cahaya.
"Tante sebenarnya Nisa kenapa? Apa dia sakit? Kalau benar sakit, kenapa nggak bilang sama aku kalau Nisa sakit." Cahaya langsung memberikan pertanyaan kepada ibunya Nisa.
May terlihat menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Sebenarnya, sejak Nisa masih kelas 6 SD dia sudah di vonis terkena penyakit kanker darah atau Leukemia sebenarnya, saat itu Tante ingin membawa Nisa ke London untuk berobat, tetapi Nisa menolak dia bilang dia tidak ingin meninggalkan mu karena, pada saat itu dokter menyarankan melakukan semua yang membuat Nisa bahagia dan kebahagiaan Nisa bersamamu Tante ijinkan dia untuk tetap di sini walau harus tetap berobat jalan setiap minggunya." ucap Tante May
"Itu berarti Nisa meninggal gara-gara aku, kalau saja Nisa pergi waktu itu mungkin saat ini Nisa masih hidup Tante-Om" ucap Cahaya dengan penuh penyesalan, air matanya kembali membasahi pipinya.
"Tidak! Cahaya, Nisa pergi bukan karena mu. Om tahu kedekatan mu dengan Nisa seperti seorang kakak beradik, karna itulah Nisa tidak ingin membuatmu sedih dan kau jangan menyalahkan dirimu atas kepergian Nisa, dia pergi karena penyakit yang dia derita dan ini sudah menjadi takdir nya, sebaiknya daripada menyalahkan dirimu lebih baik kamu menjalankan semua keinginan Nisa, yaitu melihatmu bahagia hanya itu saja keinginan Nisa selama ini." Ucap Om Pandu karena dia tidak ingin Cahaya murung.
"Apa yang dikatakan oleh Om Pandu itu benar, Bapak setuju, sebaiknya daripada kamu menyalahkan diri sendiri atas kematian Nisa, lebih baik lanjutkan hidupmu dan berbahagialah. Wujudkan keinginan terakhir Nisa, yaitu melihatmu bahagia." Bapak Nisa sekarang membuka suara agar putri nya tidak terus menyalah kan dirinya sendiri atas kematian Nisa.
"Baiklah Om, Tante, Bapak. Aku akan mewujudkan keinginan terakhir Nisa, yaitu tetap bahagia aku akan mencari kebahagiaanku." dengan suara seraknya, Cahaya berusha mengikhlaskan.
"Bagus nak, kamu harus semangat untuk mencari kebahagiaan mu" kata Tante May.
"Oke,kalau begitu Pak aku ingin pergi ke kota XXX untuk mencari pekerjaan sekalian untuk menenangkan diri boleh?" Cahaya bertanya kepada Bapak nya. Mungkin ini jalan terbaik.
"Tentu saja nak, asal kau harus bisa menjaga diri." Ucap Bapaknya Cahaya.
"Pasti pak!" kata Cahaya.
JANGAN LUPA LIKE YA INGAT LIKE GRATIS KOK DAN JUGA TEKAN TOMBOL LOVE AGAR GAK KETINGGALAN SAMA CERITA INI😊
__ADS_1