Cahaya Cinta Rembulan

Cahaya Cinta Rembulan
CCR 2 -- Sekolah


__ADS_3

Episode 2


Keesokan paginya, Cahaya sudah bangun sejak pukul empat subuh. Sangat berbanding terbalik dengan hari kemarin bukan? Jika hari-hari kerja atau sekolah, Cahaya pasti akan bangun jam empat pagi. Mau tidak mau, dia harus melakukannya.


Banyak agenda pekerjaan yang harus dia lakukan sebelum berangkat ke sekolah. Dari, Mandi, shalat, cuci piring, merapikan kamar, menyapu serta mengepel dan memasak. Sedari kecil, Cahaya sudah mandiri. Selalu melakukan pekerjaan yang mampu meringankan beban perkerjaan Ayahnya, Dirga Abiyasa.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 WIB. Nasi goreng sudah tertata rapi di piring. Tidak ada meja makan, hanya lantai beralaskan tikar.


Cahaya melangkahkan kakinya menuju kamar sang Ayah.


"Ayah, sarapannya sudah siap, ayo makan," ajak Cahaya mengetuk pintu kamar.


"Iya, sebentar." balas Dirga, membuka pintu kamar.


Dirga tersenyum melihat putrinya yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


"Cah, udah mau berangkat?" tanya Dirga.


Cahaya menggandeng tangan Ayahnya.


"Iya, Yah. Hari ini, 'kan hari senin. Biasanya bel masuk di bunyikan lebih awal," jawab Cahaya.


Dirga sudah duduk di tikar. Rumah Cahaya kecil, dengan dua kamar, ruangan utama, dapur serta kamar mandi. Tapi, Cahaya tidak sekali pun mengeluh. Baginya, memiliki rumah saja sudah lebih dari cukup.


Dirga merogoh sakunya, "Ini uang jajan kamu, alhamdulillah kemarin bapak udah di bayar sama Pak Retno," kata Dirga, menyodorkan uang Rp 20.000.


"Alhamdulillah, kalau begitu, Yah. Uangnya Cahaya terima, ya," ucapnya sambil mengambil uang itu.


Cahaya terbilang anak yang baik, berbakti serta sangat pengertian. Terkadang, di saat Ayahnya belum dibayar atas kerja kulinya dia tidak memaksa meminta bekal uang jajan. Tapi rezeki tidak ada yang tahu bukan? Setiap dia tidak bawa bekal, pasti orang tuanya angkatnya yang memberi uang jajan.


"Cahaya berangkat dulu, Yah. Assalamualaikum," pamit Cahaya, mencium punggung tangan Dirga.


"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan, ya, Cah." Balas Dirga, mengelus pelan kepala Cahaya yang tertutup kerudung.


Cahaya pun berangkat dengan perasaan riang. Dia cukup berjalan kaki untuk menuju ke sekolahnya. Udara yang segar dan lautan sawah yang menguning. Sebagian sudah ada yang di panen.


"Eneng geulis, bade mangkat sakola?" tanya salah satu ibu-ibu yang sedang memanen padi.


( Eneng cantik, sudah mau berangkat ke sekolah? )

__ADS_1


(Eneng\= kayak nama panggilan gitu.)


"Muhun, Bi. Punten," jawab Cahaya, ramah.


( Iya, Bi. Permisi )


Walau Indonesia di sebut negara dengan netizen yang paling tidak sopan se-Asia Tenggara, itu tidak menutupi ke ramah -an kehidupan asli orang Indonesia. Netizen Indonesia cuma ganas di sosial media saja, tapi di dunia aslinya ramah banget.


Gak percaya? Coba deh kalian ingat, udah jelas-jelas Cahaya mau berangkat Sekolah, kenapa masih di tanya? Udah kelihatan, kok dari seragam sekolah yang melekat rapi di tubuh Cahaya. Meski begitu tetap saja di tanya, 'kan? Itu terjadi karena orang Indonesia itu ramah.


***


Cahaya sampai di gerbang sekolahnya. Tidak ada satpam, karena itu tidak di perlukan. Seperti biasa, dari gerbang masuk sampai di depan kelasnya, banyak siswa laki-laki yang tidak bisa untuk mengabaikan pesona Cahaya.


Cahaya menghela nafas lega saat sudah masuk ke dalam kelas.


"Kenapa kamu, Cah?" tanya Nindi Rahayu, teman satu perkumpulan.


"Paling juga gak nyaman sama-sama tatapan anak laki-laki dari gerbang sampai ke sini," tebak Dwi Swastika--teman sebangku Nindi.


"Benar kata, Dwi. Mereka semua selalu bikin risi," kata Cahaya membenarkan.


"Curhat, Kakak?" tanya Dwi, sinis.


"Enggak, cuma ngasih tempe. Siapa tahu di kelas ini ada yang mau jadi pacar aku," ujarnya blak-blakan.


Sontak para lelaki yang sempat-sempatnya main game sebelum upacara, melirik Nindi malas.


"Ogah." jawab para lelak teman, sekelasnya serempak.


"Ya, ampun, kalian berdosa banget," ucap Nindi, sambil mengelus dadanya sabar.


"Ha ha ha," Cahaya dan Dwi tertawa, melihat tingkah laku temannya yang errr, jauh dari kata pemalu.


"Eh, si Nisa sakit, 'kan?" tanya Dito dengan--sekretaris kelas setengah berteriak. Tentu di tunjukkan pada Cahaya.


"Iya, Dit. Kan kemarin udah aku kasih tahu ke kamu," jawab Cahaya, seadanya.


"Kok, tahunya gak ada, Cah?" tanya Dito dengan lugunya.

__ADS_1


Cahaya di buat kicep dengan pertanyaan Dito. Meski ini bukan yang pertama kali, tapi ... tetap saja dia suka spechlees.


"Dahlah, bubar-bubar! Si Dito begonya kambuh," ujar Nindi, membubarkan sekumpulan orang yang sedang main game.


"Subhanalah, maneh, Nin! Jadina eleh, 'kan," ujar Budi dengan kesal.


( maneh \= kamu || Jadina eleh \= Jadinya kalah, 'kan)


"Ha ha ha, maaf ... tapi bo'ong, pal pale papa le pale," ejek Nindi, langsung kabur saat melihat Budi seperti banteng marah


"Nindi! Awas kamu, ya!" teriak Budi.


Cahaya dan Dwi hanya menonton saja dari tadi. Mereka tidak heran lagi dengan kelakuan Nindi yang seperti punya dendam kesumat sama Budi. Selalu saja tidak dapat melewatkan satu peluang kecil pun untuk tidak mengganggu Budi.


***


Upacara sudah berlangsung selama 45 menit. Pembacaan doa sudah di laksanakan sebagai penutup acara. Para pemimpin barisan sudah siap-siap untuk membubarkan barisannya.


"Balik kanan, bubar jalan!" teriak pemimpin barisan.


Semua siswa berhamburan dari barisannya. Cahaya masih belum beranjak dari tempatnya. Dia harus keluar dari kerumunan bersama teman laki-laki sekelasnya. Biar tidak ada tangan-tangan kurang ajar yang cari kesempatan.


"Ayo, Cah," ajak Gandi--ketua murid. Cahaya pun mengangguk.


Posisi Cahaya di tengah, dengan di sisi kanan Gandi dan di sisi kiri Ciko--wakil ketua murid. Di belakang ada Nindi dan Dwi dengan di sebelah kanan Nindi Budi dan di sebelah kiri Dwi Dito. Sisanya 11 orang murid laki-laki lainnya hanya mengekor saja. Sisanya, murid perempuan yang lain, mereka sudah terpecah entah ke mana.


Ini seperti hal yang wajib di lakukan kelas XII IPS 3 saat selesai melaksanakan acar apa pun. Tidak tahu apa alasannya, mereka hanya ingin saja. Ingin melindungi Cahaya dan orang-orang di sekelilingnya. Lagi pula, Cahaya sangat akrab dengan murid laki-laki dan tidak terlalu akrab dengan murid perempuan. Aneh? Tentu saja, tapi itulah faktanya.


"Aku iri deh sama, Teh Cahaya. Udah cantik, pintar banyak lelaki pula di sekelilingnya," celetuk salah satu murid perempuan yang kelasnya satu tingkat di bawah Cahaya.


"Iya, apalagi Teh Cahaya itu di sayang banget sama para guru," timpal temannya.


"Ya, sepadan dengan prestasi yang di sumbangkan, lah," timpal yang lainnya lagi.


Kedua perempuan tadi mengangguk setuju. Memang bukan main prestasi Cahaya. Dia selalu juara satu tingkat provinsi jika mengikuti Olimpiade Matematika. Maka dari itu, belum lulus saja sudah banyak tawaran beasiswa dari berbagai kampus ternama. Di tambah, Cahaya unggul dalam banyak hal.


Melukis, Bela diri, Sejarah, Kimia, Fisika, Menari, Menulis, Membaca cepat dan masih banyak lagi. Mungkin ini terlihat seperti guyonan. Namun, faktanya semua itu benar adanya.


^^^^

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir♡


__ADS_2