
Episode 8
Untuk Ayah dan Ibuku tersayang
Ayah - Ibu sebenarnya beberapa hari ini aku sering mimpi bertemu dengan ibunya Cahaya dia bilang merasa senang sekali karena aku akan menemaninya dan setelah berkata seperti itu aku selalu terbangun,aku tahu itu pertanda bahwa ajal ku kian mendekat sebelum itu terjadi aku ingin meminta maaf sama Ayah dan Ibu kalau aku banyak salah maafkan aku karena cuman bisa menuliskan sepucuk surat dan tidak berkata secara langsung.
Aku minta sama Ayah dan Ibu jika aku pergi untuk selamanya tolong biayai hidup Cahaya karena aku tahu Ayah dan Ibu mampu untuk melakukan nya anggap saja Cahaya adalah diriku berikan semua yang aku miliki kepadanya.
Semoga Ayah dan Ibu selalu bahagia.
Dari anak kesayangan mu Khoerunisa Salbia
Tak terasa tes tes tes air mata Cahaya jatuh ke kertas yang sedang ia baca,tante May yang melihatnya hanya bisa merangkul dan memeluk Cahaya
"Sudah jangan mellow lagi Cahaya katanya kau akan terus tersenyum tapi sekarang malah nangis sih" ledek om Pandu dari depan karena sejak dari tadi dia memperhatikan interaksi antara cahaya dan istrinya itu
"Ssstt mas gak boleh gitu,semalam mas juga nangis pas baca surat nya" Kata tante May membela Cahaya
Pandu yang mendengar itu langsung tersenyum simpul menahan malu
"Udah jangan nangis terus,om dan tante juga sebelum ke bandara akan mendaftarkan kamu kuliah dan untuk biaya nya tante May dan om Pandu yang bayarin jadi gak usah khawatir " Kata tante May
"Terimakasih om-tante kalian udah baik banget sama aku"
"Iya sama'sama "
"Tapi tante apa ini belum telat ya daftar buat kuliah"
"Belum Cahaya karena kan pendaftaran di tutup seminggu lagi jadi kamu masih bisa datar ok" kata om Pandu
__ADS_1
"Oh" hanya itu kata yang keluar dari mulut Cahaya
Keadaan pun menjadi hening kembali seperti saat tadi
Karena lama nya perjalanan membuat Cahaya tertidur.
"Cah bangun" suara tante May membuat Cahaya terbangun
"Sudah sampai tan" sambil mengucek ngucek matanya
"Belum kita kan mau datar dulu kuliah kamu ayo turun"
Cahaya pun turun dari mobil dan alangkah terkejutnya ia karena ia berada di universitas yang sangat terkenal di kota XXX
Cahaya tidak menyangka bahwa dirinya akan di kuliah kan di universitas luar biasa yang terkenal bahkan pernah masuk tv bisa dibilang ini adalah universitas impian semua orang
"Cah ayo kok malah bengong" kata tante May
Tak lama mereka berjalan menelusuri lorong lorong di universitas itu akhirnya mereka telah sampai di depan pintu dekan
"Halo tuan William Wallace aku turut berduka cita atas meninggalnya putri mu dan ada keperluan apa anda datang kemari"
"Aku datang kemari untuk mendaftarkan putri kedua ku(Pandu melihat ke arah May menandakan bahwa Cahaya harus masuk,Cahaya pun masuk ) ini dia putri kedua ku namanya Cahaya Rembulan dia putri angkat ku tapi aku tidak pernah menganggap dia sebagai putri angkat ku"
Cahaya yang mendengar itu tentu saja kaget dia tersentuh karena Pandu tidak ragu memperkenalkan dirinya pada orang lain sebagai anak nya.
"Hmmm aku mengerti ya sudah isi dulu formulir ini" menyodorkan Formulir
Cahaya mengisi formulir itu dan saat bagian jurusan dia bingung mau ambil jurusan apa,setelah berpikir sebentar
__ADS_1
Akhirnya dia mengambil jurusan kedokteran
"Sudah om eh maksudnya Ayah"
Om Pandu dan Tante May hanya tersenyum mendengar Cahaya menyebut Pandu ayah
"Sini biar Ayah lihat dulu,kamu ngambil jurusan kedokteran?"
"Hhe iya kenapa yah gak boleh ya"
"Boleh kok ya sudah sekarang kamu kaluar dan temenin ibu kamu lagi ya"
Cahaya keluar dari ruangan dekan dan langsung pergi ke tante May
"Tan aku tadi masuk fakultas kedokteran gak apa-apa kan"
"Nggak apa - apa Cah" dengan raut muka berpura-pura sedih
"Tante kenapa sedih gitu tante gak suka aku masuk fakultas kedokteran,ya sudah aku pilih yang lain aja" Cahaya hendak pergi tapi tangan nya di pegang oleh May
"Tante sedih karena kamu sudah memanggil om pandu dengan sebutkan ayah sedangkan pada tante tidak berubah"
"Bukan gitu tante eh bu aku minta maaf " Cahaya berkata dengan lirih
"Ya sudah jangan di bahas lagi ya" May langsung tersenyum mendengar Cahaya memanggil nya dengan sebutan ibu
Mereka pun berbincang - bincang sambil menunggu Pandu
Tak lama kemudian om Pandu keluar dari ruangan diantar oleh dekan tadi sampai ke depan pintu,
__ADS_1
mereka berjabat tangan lalu kami pergi.
Jangan lupa LIKE dan COMEN kasih semangat author dengan komentar kalian yang Fositif😊