
Episode 4
وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.
______________________________________
Suara ayam telah berkokok menandakan waktu subuh telah tiba
Cahaya bagun dari tidurnya sebelum dia beres-beres rumah, pertama-tama ia ambil air wudhu untuk menunaikan shalat subuh, setalah shalat seperti biasa dia beres-beres rumah ya mungkin bagi Cahaya membersihkan rumah adalah hal biasa.
waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 waktunya sarapan.
Hari ini Bapak Cahaya tidak pergi ke sawah karena ingin beristirahat "Pak makan dulu nih aku sudah siapin makanan."
"Iya Cah."
Bapak Cahaya keluar dari kamar dan makan di lantai, itulah kehidupan di desa jarang sekali orang-orang menggunakan meja makan mereka lebih suka makan dan duduk di lantai
paling cuman orang-orang kaya yang menggunakan meja makan.
Setelah selesai makan Cahaya dan Bapak nya menonton tv bersama
"Pak nanti jam 09.00 Cahaya mau pergi ke rumah Nisa boleh kan." suara Cahaya memecah keheningan
"Boleh, memang ada acara apa?" tanya Bapaknya.
"Hmmm, itu Pak kemarin kan kita lulus tu,nah Nisa dua hari lagi mau terbang ke London untuk kuliah jadi, Cahaya mau abisin waktu untuk yang terakhir kali nya."
"Ouh, ya udah, Bapak ke kamar dulu ya. Kamu siap-siap gih, bentar lagi jam sembilan loh."
__ADS_1
"Siyap, Pak!" Cahaya pergi ke kamar mandi lalu bersiap-siap sekarang, Cahaya sudah siap dia hanya tinggal pergi saja.
Drrrt drrrt drtt (Hp Cahaya berbunyi)Cahaya pun mengangkat nya.
"Assalamualaikum Cah, gue cuman mau bilang sesuatu ke lo, dan lo jangan bicara cukup gue aja yang bicara, ok."
Cahaya di telepon Nisa dia ingin memberi tahu hal penting, tapi dengan nada sangat pelan dan tersengal- sengal seperti sedang menahan rasa sakit.
"Maaf in gue ya kalau gue banyak salah sama lo, gue ingin jika gue pergi lo harus semangat buat lanjutin hidup lo, lo harus jadi orang sukses, maaf in gue sekali lagi ya gue minta maaf kalau banyak salah sama lo. Bilangin maaf gue juga buat Om Dirga ok, udah dulu ya. Assalamualaikum." tut ... tut ... tut ...
Telpon terputus begitu saja Cahaya bahkan belum ngomong sepatah kata pun dia hanya bengong dan bingung dengan sikap Nisa, tapi sedikit Cahaya merasa tidak enak hati karena merasa ada yang aneh, tapi dia mencoba menepis perasaan aneh itu.
'Hufft, Nisa kenapa ya? Gak biasanya kayak gini, padahal kan bentar lagi gue juga kerumah nya bisa kan nanti bilang maaf nya saat gue udah di rumah nya aja.'( pikir Cahaya dalam hati).
" Pak aku pergi dulu ya, barusan Nisa telpon katanya minta maaf jika dia punya salah sama Bapak." sahut Cahaya. Sambil mencium tangan bapaknya dan berjalan meninggalkan Bapaknya tapi ...
"Iya, pasti di maaf in." gumamnya pelan, sambil menatap sendu Cahaya.
"Nggak usah Pak, Bapak simpan aja uang nya buat keperluan Bapak nanti ya." kata Cahaya menolak dengan lembut.
"Sessst, sudah ambil cepat pergi nanti keburu kesiangan." Pak Dirga memaksa
"Yaudah, makasih ya Pak, Assalamualaikum." Cahaya pergi sambil mencium punggung tangan Bapak nya, lagi.
"Waalaikumsalam."
Setelah tiba di rumah Nisa betapa terkejutnya ia saat melihat bendera kuning di pasang di depan pintu rumah nya.
'Loh kok ada bendera kuning? Siapa yang meninggal? Nyokap nya Nisa gak mungikn! Nisa pasti kabarin gue, Nisa yang meninggal itu lebih gak mungikn orang dia baik baik saja, tapi ....' Cahaya berpikir saat tadi tiba-tiba Nisa telpon dia minta maaf.
"jangan-jangan ..." Ucap Cahaya lirih tak terasa air mata Cahaya sudah membasahi pipinya.
__ADS_1
"Nggak! Ini gak mungkin!" ucap Cahaya dengan nada pelan, sambil menggelengkan kepalanya.
Cahaya lalu bertanya kepada salah satu warga yang melayat.
"Assalamualaikum, Bu saya boleh tanya siapa yang meninggal ya?" dengan suara seraknya.
"Waalaikumsalam, yang meninggal Khoerunisa Salbia, dia meninggal dunia pukul 08.30. Kasihan sekali padahal dia masih muda."
Deg!
Hati Cahaya bagai di sambar petir dan di tusuk seribu duri secara bersamaan. Dia tidak percaya bahwa sahabat kecilnya pergi di panggil Illahi secepat ini.
"Nggak! Pasti ini cuman prank kan." tak terasa Cahaya menangis histeris, lalu dia pingsan.
Alam Mimipi
"Nis, ko lo pergi ninggalin gue sendiri, gue gak mau! Hidup tanpa lo gue gak bisa, gue pengen lo balik sekarang juga gue mohon. "Ucap Cahaya dengan tegas. Sambil memberi tatapan memohon.
Nisa hanya diam dan tidak menggubris perkataan Cahaya.
"Nis, jangan pergi gue mohon jangan tinggalin gue Nis." Cahaya mendekati Nisa, tapi hasil nya tetap nihil tak ada jawaban. Akhirnya Cahaya tertunduk lesu dan menangis hingga dia tersadar dari mimpi nya.
Cahaya mulai mengerjap-ngerjap kan matanya nya dia mulai tersadar dari pingsanya.
"Cahaya kamu sudah bangun nak" tanya tante May (Ibunya Nisa). Mereka memang dekat seperti ibu dan anak karena itu, saat Nisa menolak pergi ke London waktu SD tante May tidak marah karena, dia tahu kedekatan antara Cahaya dan Nisa.
"Tante hiks hiks hiks kenapa Tan? Kenapa Nisa pergi gitu aja? Kenapa dia nggak bilang kalau dia sakit? " Cahaya menangis dengan pilu di pelukan tante May.
"Tante tahu ini berat nak, bukan untuk kamu saja buat Tante sama Om pandu pun sangat berat, tapi tante gak ingin buat Nisa sedih dengan melihat tante menangis. Sebelum Nisa pergi dia minta supaya semua orang yang dia sayangi jangan menangisi kepergian nya sampai berlarut-larut dan Tante tahu betul kamu salah satu orang yang Nisa sayangi juga." ucap tante May dengan lirih.
"Tapi ...." Cahaya tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya bisa menangis, sambil otaknya terus memutar kenangan-kenangan indah bersama Nisa.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE YA INGAT LIKE GRATIS KOK DAN JUGA TEKAN TOMBOL LOVE AGAR GAK KETINGGALAN SAMA CERITA INI