
Langit terperangah mendengar ucapan Cahaya. Bagaimana mungkin ia membatalkan pernikahan mereka yang akan dilaksanakan esok hari.
Langit terdiam melihat Cahaya yang masih berusia air mata.
Ia berjalan mendekati Cahaya dan memberikan tisu yang ia ambil dari sisinya berdiri barusan.
" Aku mempercayai mu! " Mata mereka berdua bertemu entah mengapa Langit nyakin dengan semua yang diucapkan Cahaya.
" Ya Allah, terimakasih! " Cahaya hendak memeluk Langit tapi ia sadar mereka belum muhrim dan ia memilih menutup wajahnya dengan bantal menangis lega karena akhirnya Langit mempercayainya.
" Sudahlah berhenti menangis, aku tak mau pengantinku besok bermata sembab! " Ledek Langit agar Cahaya berhenti menangis dan tersenyum.
brugh
Cahaya melepar bantal ke Langit kesal sekaligus bahagia karena pria itu percaya padanya dan tak membatalkan pernikahan mereka.
" Ayo keluar, aku takut lama pertama kita sekarang jika lama-lama disini! " Lagi-lagi Langit meledek Cahaya sehingga wajahnya kembali marina setelah ia membersihkan sisa-sisa air matanya.
Langit berpamitan pada Cahaya dan semua ibu-ibu pengajian disana.
__ADS_1
" Sabar mas besok juga halal! " Celoteh iseng salah seorang ibu-ibu pengajian.
Langit hanya tersenyum dan masuk kedalam mobilnya dan melambaikan tangan serta salam pada Cahaya yang berdiri mengantarkannya didepan gerbang.
" Beruntung bangat ya bu Aya dapat berondong sekeren itu! " Teriak beberapa ibu-ibu membuat Cahaya malu sekaligus bahagia.
*
Malam begitu temaram dikamar Langit, ia masih belum bisa menajamkan matanya.
Masih ada ketakutan kecil di hatinya akan Cahaya. Walau ia sudah menyelidiki permasalahan yang sebenarnya dan ia tahu semua yang dikatakan Cahaya adalah benar.
Yang ia takutkan sekarang adalah mantan suaminya Cahaya, ia takut pria itu menyebar kan fotonya ke media.
" Ya Allah jagalah selalu aib calon istriku itu! " Lirih Langit dalam doanya.
*
Cahaya masih belum beranjak dari sujudnya malam itu, ia terus berminat agar tak ada hal buruk yang terjadi pada pernikahannya besok dengan Langit.
__ADS_1
Ia memberanikan diri menelepon Samudra agar pria itu tak melakukan hal gila besok di hari pernikahannya.
" Assalamualaikum mas! " Cahaya gugup.
" Wa alaikum salam, ada apa? " Balas Samudra yang ternyata belum tidur pula.
" Mas jangan lakukan hal bodoh lagi denganku! Mas sudah kehilangan aku dan anak-anak karena mempercayai fitnah itu! " Cahaya masih menaruh kecewa pada Samudra yang justru menceraikannya dan mempercayai mantan pacarnya itu.
" Mas boleh tak percaya denganku tapi ku mohon berhentilah menyebar kan fitnah itu pada siapapun. Lakukanlah demi anak-anak mas! Mereka pasti malu jika mengetahui fitnah itu! " Mohon Cahaya agar Samudra berhenti berbuat kesalahan padanya dan anak-anaknya.
" Ku mohon biarkan aku bahagia dengan anak-anak mas! " Pinta Cahaya.
Samudra terdiam. Sebenarnya ia sudah mempercayai Cahaya dan tahu bahwa semua adalah fitnah.
Tapi ia tak rela karena akhirnya ia benar-benar kehilangan Cahaya yang begitu setia dan tulus padanya.
Ia masih berharap kalo mereka berdua bisa rujuk kembali.
" Maafkan aku! " Samudra mengakui kesalahannya.
__ADS_1
Setelah menutup telepon Samudra mengambil korek dan membakar semua foto Vulgar Cahaya dengan pria asing itu.
" Seandainya aku tak terbawa emosi dan mempercayainya mu, mungkin kita masih bisa bahagia bersama Aya! " Tanpa terasa air mata menitis di pelupuk Samudra yang sedang menghapus foto Vulgar Cahaya dari handphone nya itu.