Cahaya Temaram Langit

Cahaya Temaram Langit
oh papa


__ADS_3

Langit begitu bahagia dengan kehamilan Cahaya, tapi sekaligus khawatir karena usia sang istri yang berisiko untuk kehamilannya saat ini.


Cahaya mulai merasakan mual yang begitu menyiksa hingga membuatnya dirawat karena lemas mengeluarkan isi perutnya terus.


"Sayang maafin aku ya! Gara-gara kamu hamil anakku kamu jadi dirawat seperti ini." Langit membelai pucuk kepala Cahaya merasa kasihan dan bersalah.


"Kenapa tidak aku saja yang merasakannya dari pada dirimu, aku tak tega sayang!" Langit sekarang mulai menitiskan air mata.


"Ya Allah mas jangan begini atuh. Semua wanita rata-rata seperti ini, mas ga usah khawatir ya!" Cahaya berusaha menenangkan suaminya.


*


"Seroja stop ibu bilang!" Suara ibu guru Seroja putri kedua Cahaya berteriak.


"Tapi bu dia sudah keterlaluan dan harus dilawan!" Seroja kesal karena anak laki-laki yang baru saja ia pukul mendapat pembelaan sang guru.


"Biar ibu dan sekolah yang urus, kamu sekarang kembali kekelas!" Tirai sang guru terpaksa Seroja penuhi.


"Gadis itu walau sudah berhijab tetap saja tomboy kayak laki-laki!" Gerutu bu guru.


Seroja begitu kesal dengan ulah Star yang selalu mengganggunya, makanya ketika tadi ia menumpahkan juice ia membalasnya dengan dua kali lipat.


Banyu yang tak terima dibalas akhirnya bersikap kasar dengan menjambak kerudung Seroja sehingga hampir lepas dari kepalanya.

__ADS_1


Dan akhirnya terjadilah duel kembali antar tom and jerry itu.


Seroja sangat menyukai ekskul bela diri tak ayang bila ia mampu melawan anak laki-laki blasteran itu dengan mudah.


***


Waktu berputar begitu cepat tak terasa Cahaya sudah memasuki bulan terakhir kandungannya.


Langit sudah menyiapkan dokter kandungan terbaik yang akan membantu kelahiran anak pertamanya itu.


kini semua keluarga telah berkumpul didepan ruang operasi.


Karena usia Cahaya dan riwayat melahirkan sebelumnya akhirnya ia harus menjalani cesar anak keempatnya ini.


"oek... oek... oek!" Suara bayi yang baru saja diangkat dari rahim Cahayapun menangis.


Raut bahagia terlihat jelas diwajah pria sukses nan tampan itu.


Cahaya pun kini telah selesai operasi dan kembali meriang perawatan.


Rasa dingin dan menggigil begitu Cahaya rasakan tak jauh beda seperti kelahiran sebelumnya.


Perlahan ia mulai kembali merasakan kakinya dan juga perih bekas operasi diperutnya.

__ADS_1


Namun semua rasa sakit itu terkalahkan oleh rasa bahagia karena melihat kelahiran putri keempatnya itu.


Cahaya kembali menyusunnya setelah sebelumnya saat diruang operasi sang bayi langsung melahap susunya.


"Duh duh anak papa nyusunya kuat bangat, papa nanti ga kebagian lagi deh!" Langit menggendong anaknya dengan sangat hati-hati seperti yang ia lihat dan pelajari.


Setelah kenyang menyusu Bentala Langit Cahaya pun tertidur pulas.


Langit menanyakan keadaan ketiga anak sambungnya kepada asisten pribadinya.


Ketiga anak itu mendapat pengawasan ketat para bodyguard suruhan sang asisten yang ditugaskan menjaga keamanan dan keselamatan ketiganya.


"Nona muda masih suka berkelahi tuan, tapi anda jangan khawatir nona muda sangat pandai melindungi dirinya sendiri!" Lapor Baskara pada sang majikan.


"Kali ini kenapa nona berantem lagi dengan anak yang sama itu?" Langit tak menyangka menjadi papa sambung dari ketiga anak itu sangat luar biasa.


"Anak itu berusaha menarik tas nona tuan!" Jawab Baskara sedikit takut tuannya murka dengan anak bau kencur itu.


"Cari tahu kenapa anak laki-laki itu selalu mengganggu putriku!" Titah Langit yang tak mau sang putri selalu berkelahi dengan anak laki-laki itu disekolah!


*


"Oh papa please jangan potong uang kananku lagi! Ini kan salah Banyu pap, dia narik tas ku!" Ucap Seroja membela diri saat Langit memberinya hukuman karena berkelahi lagi layaknya anak laki-laki.

__ADS_1


"Berhentilah berkelahi dengannya, bagaimana kalo nanti kalian besar justru saling jatuh cinta!" Langit beranjak dari kamar Seroja.


"Oh no Pap, its impossible!" Seroja bergidik membayangkan kelak menikahi bocah tengil itu.


__ADS_2