
Ketiga anak Cahaya kini telah sampai dirumah baru mereka yang mewah itu!
Mereka dengan senang hati ikut pindah kerumah yang dibelikan papa baru mereka Langit.
Terlihat sudah mobil sang hot papa terparkir di garasi utama rumah itu, sedang untuk mobil-mobil keluarga dengan kapasitas 6 orang terparkir terpisah di halaman gerbang utama masuk rumah tersebut.
Karena masih dalam keadaan semua kenyang malam itu tak ada acara dinner bersama keluarga dan hanya bersantai sejenak diruang keluarga lalu kembali tidur kekamar mereka masing-masing!
*
Pagi hari Awan telah siap terlebih dahulu seperti biasanya dibandingkan kedua adiknya.
Ia menaruh tasnya di luar kemudian kembali kedalam memanggil adik-adiknya agar segera berangkat ke sekolah mereka.
Awan kakak yang sangat bertanggung jawab, ia selalu menghantarkan kedua adiknya ke sekolah sebelum kekampus walau masih diantar sopir pribadi mereka.
"Ku harap umurku segera 18 tahun agar mama dan my hot papa itu mengizinkan ku menyetir sendiri." Awan mulai kesal dengan ulah lelet kedua adiknya itu.
*
__ADS_1
Langit telah sampai terlebih dahulu menghantar istri kesayangannya ke sekolah tempat ia mengajar.
Sejujurnya Langit sudah meminta Cahaya untuk berhenti mengajar dan fokus pada keluarga mereka saja.
Toh sekarang semua biaya kehidupannya dan anak-anaknya sudah ia yang pikul.
Tapi karena mau akhir semester Cahaya menunda pengunduran dirinya sampai semester ini selesai.
*
Seorang anak berusia 10 tahun dengan style orkay disekolah negeri biasa itu telah dikelilingi teman-temannya di kantin.
Para pedagang makanan disana sibuk menawarkan jumlah makanan yang ia pesan untuk teman-teman disekitarnya.
"Dikit ko papa kasih aku cuman 500 ribu tiap hari!" Jawab bocah laki-laki sok dermawan itu yang jumlah uang jajannya mirip dengan uang jajan sehari-hari anak Nikita Mirzani.
"Kamu serius? Wah keren bangat, itu mah uang jajanku dua bulan kali!" Celetuk gadis kecil cantik itu.
"Ayo cepat pesan sana nanti keburu bel lagi!" Suruh Fajar sambil memakan siomay dan juice stroberinya.
Sebenarnya Cahaya sudah melarang Langit memberikan uang jajan sebanyak itu pada anak ketiganya itu.
Tapi Langit tetap memberikannya karena ia tahu sang anak suka membagikan uang jajannya pada teman-temannya yang ekonomi orang tuanya jauh dibawahnya.
__ADS_1
Langitlah yang mengajarkan Fajar untuk berbagi dengan siapapun walaupun nanti ia hanya dimanfaatkan teman-temannya, tetap saja ia harus berbuat baik pada mereka karena Allah pasti tetap mencatat semua itu dalam kebaikannya.
Lain lagi uang saku Seroja yang nominalnya sejuta dan sang mahasiswa dua juta itu.
Kedua anak itu yang sudah remaja sangat berhati-hati dengan uang yang mereka miliki.
Akan tetapi mereka berdua pun terbilang tetap dermawan dengan orang-orang sekitar yang benar-benar membutuhkan.
Seroja selalu menyisihkan uang jajannya untuk beberapa orang OB di sekolahnya yang kehidupannya terbilang sulit.
Lain lagi Awan dengan komunitas sosialnya, ia memilih menjadi donatur tetap disana.
Langit sangat menyayangi ketiga anak sambungnya dan menganggap mereka seperti anaknya sendiri.
Ia bahkan tak berharap banyak akan memiliki keturunannya sendiri dari Cahaya.
Ia sadar sang istri sudah berusia dan mungkin akan sangat beresiko bila ia hamil lagi nantinya.
Tapi Langit sangat beruntung karena setelah tiga bulan pernikahannya dan setelah Cahaya mengundurkan diri dari sekolah tempatnya mengajar, kini ia telah hamil anak pertama Langit.
Semua orang histeris bahagia ketika pagi hari saat sarapan Cahaya menunjukkan test pack dengan garis dua itu.
Langit benar-benar terharu dan bahagia dengan kehamilan Cahaya, bahkan ia menangis dalam pelukan sang istri saking bahagianya.
__ADS_1