Cahaya Temaram Langit

Cahaya Temaram Langit
Berdebar


__ADS_3

Suasana pesta syukuran milad Tala pun berakhir dengan kekacauan, semua yang hadir di acara tersebut sudah pulang kerumah nya masing-masing.


Awan sedang mengawasi orang-orang papa nya yang sedang membereskan yayasannya itu.


"Yang ini taruh disudut sana saja pak!" Titah Awan pada orang-orang disana, menata kembali ruang pertemuan di yayasan itu yang tadinya didekor sangat cantik bernuansa pink dengan aneka balon dan serba serbi karakter barbie.


Disisi lain Bumi dan keluarga kecilnya sedang berpamitan pada kakak dan kedua orang tuanya, karena anak keduanya sudah merengek minta pulang.


"Tetap hati-hati ya kak, aku akan bantu mengawasi keluargamu. Aku pamit semuanya Muach!" Bumi melambaikan tangannya kembali setelah dari tadi mencium satu persatu keluarga besarnya itu.


"Nak kalian pulang dulu saja ya, biar Awan dan daddy yang membereskan semuanya disini. Sayangnya oppa udah ngantuk ini, ayo kalian pulang lah!" Purnama menyuruh Langit, istri dan anak-anaknya segera pulang dan biar dia yang membereskan sisa-sisa pesta dan kekacauan yang dibuat suruhan Dirgantara.


"Aku akan menemani mu mas!" Senja yang selalu setia tak mau pergi meninggalkan suaminya dan cucu tertuanya itu.


Awan sangat kagum dan sayang pada Senja DAN Purnama yang tak membedakan dirinya dengan cucu kandungnya sendiri.

__ADS_1


Langit bersama Cahaya dan ketiga anaknya kini kembali ke mansion utama miliknya.


Setelah kejadian penyerangan Seroja mereka memutuskan kembali ke mansion itu dan meninggalkan rumah sederhana yang masih terbilang mewah itu.


Di mansion utama bukan saja lebih mewah dan luas tapi juga pengamanannya jauh 5 kali lipat lebih ketat dan lebih aman tentunya untuk mereka.


"Awan kau sangat mandiri dan keren nak, oma kagum padamu!" Puji Senja karena melihat cucu nya itu yang masih sangat muda sudah bisa menjadi pengusaha dan memiliki 3 yayasan yatim piatu dan dhuafa.


"Makasih oma. Semua berkat dukungan papa Lang, kalo tidak aku mana bisa memiliki semua ini!" Awan merasa bersyukur karena papa sambungnya itu sangat menyayanginya dan selalu mendukung dirinya.


Padahal Sky bisa membereskan semuanya tapi Awan menolaknya dan ingin melakukannya sendiri.


Dan opa oma nya tak ingin Awan sendirian justru ikut menemani sang cucu sambil mengobrol banyak hal.


*

__ADS_1


Seroja mulai kesal dengan ulah musuh sang papa yang hampir saja menghilangkan nyawa adik dan oma nya.


Seroja mulai bertanya pada Sky siapakah Dirgantara itu dan siapa saja keluarganya.


"Kenapa nona ingin tahu tentang tuan Dirga?" tanya Sky yang heran dengan gadis remaja cantik depannya itu.


"Kak Sky, pria itu harus diberikan efek jera. Dia sudah dua kali berusaha menyerang keluargaku. Dan kak Sky kenapa bisa kecolongan kayak tadi?" Seroja yang kesal karena yang ia tahu Sky sangat hebat dalam segala hal, tapi tadi mengapa bisa kecolongan seperti itu.


"Maaf nona saya tidak tahu kalo tuan Dirga yang sudah dipenjara masih memiliki anak yang sama berbahayanya dengan dirinya!" Sky mengakui kesalahannya pada anak tuannya itu.


"Kalo begitu kita harus dibereskan sampai ke akar-akarnya. Aku tidak mau ada bahaya lain yang akan terjadi berikutnya." Seroja menatap tajam pria yang hampir 10 tahun lebih tua darinya itu.


Melihat tatapan tajam Seroja, Sky merasa khawatir padanya. Ia takut nona mudanya melakukan hal nekat dengan kemampuan bela dirinya yang bahkan bisa menandinginnya yang bertubuh tinggi dan kekar.


"Nona jangan macam-macam, biar saya yang membereskan!" Sky memegang bahu gadis imut didepannya itu yang sudah ia anggap adik sendiri bukan sekedar anak tuannya.

__ADS_1


"Aku mau membantu kakak saja!" Seroja merasa berdebar saat ia terasa begitu dekat dengan tangan Sky yang masih menempel dikedua bahunya dan menatapnya dalam.


__ADS_2