Cahaya Temaram Langit

Cahaya Temaram Langit
Sang Bumi


__ADS_3

Waktu pun berlalu pernikahan sang Bunda dan om kesayangan Langit berjalan harmonis. Langit bahagia melihat perlakuan manis sang om yang kini menjadi daddy nya itu tak pernah berubah pada bundanya.


Disisi lain Bunga yang mulai beranjak dewasa dan telah menyelesaikan S2 nya di Prancis kini telah kembali.


Langit tahu kalo adik tirinya itu memiliki perasaan special pada Bumi adik kandungnya. Langit pula yang menyarankan Bunga untuk mengambil kuliah diluar negeri agar bisa melupakan perasan gang tak seharusnya ia miliki itu untuk Bumi.


Tapi ternyata rasa cinta tak semudah itu hilang walau berpuluh-puluh tahun terlewati,seperti hal nya kisah cinta bundanya dan daddy nya itu.


*


"Ikuttt!" Bunga segera memakai jaket hitamnya dan berlari mengejar Bumi yang baru saja hendak keluar dari apartemennya itu.


Bumi ga habis pikir kalo kini ketenangan kembali terganggu lagi oleh adik tirinya yang selalu menempel padanya. Seperti saat ini Bunga terus bergelayutan dilengannya dan ikut dengannya yang ingin berkumpul dengan teman-temannya.


"Bisa tidak kau melepaskan tanganmu?"Bumi akhirnya kehabisan kesabaran karena Bunga terus-terusan menempel padanya!


"Iya iya! Tapi pesankan aku makan juga ya,aku laper!" Bunga memasang wajah imutnya.


"Pesanlah,aku ke toilet sebentar!" Bumi yang sudah kebelet langsung pergi meninggal Bunga bersama teman-temannya yang masih belum diperkenalkan pada Bunga.


"Kau beneran adiknya Bumi kan bukan pacarnya?" Tanya salah seorang teman wanita Bumi.

__ADS_1


"Aku calon istrinya kak!" Jawab Bunga ambigu yang justru membuat semua teman-temannya Bumi menganga!


*


"Kau tadi bilang apa dengan teman-temanku?" Tanya Bumi yang heran karena semua teman wanitanya pada pulang hingga yang tersisa hanya 2 teman lelaki yang laper yang masih sibuk mengisi perutnya dengan gratis.


"Ga ada!" Bunga menaikan bahunya.


"Dia bilang kau itu calon suaminya!" Celetuk Bram yang masih mengunyah steaknya.


"What????" Bumi kali ini geram dengan ulah Bunga,ia menarik tangan Bunga sedikit kasar keluar resto itu.


"Aku cinta kakak!" Bunga menarik wajah Bumi dan mencium bibirnya membuat Bumi tersengat dan memerah wajahnya.


Plak


Bumi menampar Bunga yang sudah sangat keterlaluan menurutnya.


"Sebar-barnya Orang barat pun ga ada yang segala dirimu!" Bumi pergi meninggalkan Bunga sambil mengelap bibirnya yang basah karena Bunga.


"Kita ga ada ikatan darah,dan mencintaimu bukan dosa bagiku ataupun aib di mata agama!" Bunga berteriak membuat langkah Bumi terhenti.

__ADS_1


"Kau pikir aku ga punya agama karena aku orang barat,kau pikir aku hina karena tak bisa menghapus perasan ku padamu?" Hujan badai pun tak dapat lagi dicegah oleh Bunga pada wajahnya.


"Kau pikir aku tidak berusaha menyingkirkan perasaanku padamu ah? Aku bahkan rela berjauhan dangan daddy dan kalian semua demi itu semua. Bergelut dalam sepi agar rasa itu hilang!" Bunga terhempas ke lantai.


Tubuhnya sudah tak mampu menahan semua kesedihannya selama ini. Ia yang sejak kecil sangat mendambakan sebuah keluarga yang utuh justru pergi meninggalkannya disaat kesempatan itu ada demi menghapus rasa yang seharusnya tidak ia miliki untuk kakak tirinya itu.


Bumi menoleh kearah Bunga,ia melihat pedih yang teramat yang dirasakan gadis cantik itu.


"Aku bahkan mencari tahu hukumnya mencintaimu kakak tiriku di google dan semua orang yang faham agama!" Bunga memeluk lututnya seperti biasa disaat ia bersedih ia pasti melakukannya.


"Kita bukan mahrom dan boleh menikah,apa kau faham?" Bunga menelungkupkan wajahnya keatas lututnya yang ia peluk. Rasanya begitu sesak dan sulit baginya bernafas.


Bunga merasakan sesak yang teramat atas semua ungkapan perasaannya yang ia pendam selama bertahun-tahun untuk kakak tirinya itu.


"Aku tak ingin rasa ini kak,demi apapun aku benci ia ada dihatiku.... Andai Bisa ku bunuh...!" Bunga masih disposisinya dengan hujan badai air matanya yang semakin menjadi.


grep


Bumi tersungkur didepan Bunga lalu memeluknya erat. Sungguh ia menyesal telah menampar gadis yang teramat menderita karena mencintai dirinya itu.


"Maaf...!" Bumi mencium pipi basah Bunga yang telah menempel diceluk lehernya karena pelukannya itu.

__ADS_1


__ADS_2