
Sejenak aku terdiam, terpaku melihat waktu yang tak henti berputar, seakan tak ada jeda sedikit pun untuk bernapas. Relung di dada penuh sesak, disertai nadi yang berdetak liar. Aku menutup mata, berharap semua akan berlalu.
Semburat warna kuning keemasan telah menghiasi langit pagi ini, dengan segelas kopi untuk mengawali aktivitas. Aku meraih kunci mobil yang terletak di atas nakas, memacu mobil dengan kecepatan sedang.
“Pagi, Pak!” sapa salah satu karyawanku.
“Pagi, Mang. Semua lancar ‘kan?”
“Lancar Pak Bos. Semua laporan pemasukan dan pengeluaran sawit, sudah ada di atas meja,” terangnya.
“Baik, Makasih Mang.”
Aku berlalu untuk masuk ke ruang kerja dan memeriksa laporan dari karyawanku.
Namaku Naveen, usia tahun ini dua puluh lima, pemilik perkebunan sawit.
Tok ... Tok ... Tok ....
Suara pintu ruang kerja yang diketuk.
“Masuk!” jawabku dari dalam ruangan, dengan mata yang terfokus pada berkas laporan hari ini.
“Bro? Sibuk aja, lu!”
Aku mendongak, “Andre?”
“Iyalah gue, siapa lagi? Gimana kabar lu?”
“Baik.”
Kami mengobrol omong kosong di luar pekerjaan. Andre itu teman sekaligus rekan bisnisku. Sudah satu tahun kami terpisah karena ia harus mengurus perusahaan di Malaysia. Banyak yang mengira, kalau aku dan Andre hidup enak karena sukses di usia muda. Mungkin, kalau Andre memang bahagia. Namun, orang telah salah menilaiku. Setahu mereka, aku hidup enak menikmati kesuksesan di masa muda. Tidak ada yang menyangka, di balik semua itu aku seorang laki-laki yang mengidap depresi berat.
Aku menghabiskan waktu dengan bekerja dan di sela waktu senggang, mengisinya dengan menulis. Entah, aku merasa tenang ketika sedang menulis, semua bisa tertuang melalui tulisan.
***
Masa kecilku dihabiskan di perkebunan. Ke luar perkebunan hanya untuk berbelanja bahan pokok dan sekolah, tak ayal aku tumbuh menjadi seorang anak yang pendiam dan kurang nyaman untuk berinteraksi dengan orang lain. Ditambah, Ayah sangat memanjakanku. Canda tawa selalu tercurah di tengah perkebunan bersama Ayah dan Ibu. Pelukan sayang selalu hangat terasa setiap hari. Ayah menyayangiku melebihi apa pun, begitu juga dengan Ibu.
Hingga suatu saat, kebahagiaan itu terhempas karena Ayah meninggal dunia akibat kecelakaan. Aku terpukul melihat tubuh Ayah yang sudah kaku ketika dibawa pulang. Hanya tangisan yang dapat kulakukan, karena sangat terpukul kehilangan sosok yang begitu menyayangiku. Sementara Ibu, terlihat lebih tegar. Hanya sedikit air mata yang tertumpah, wajahnya terlihat ikhlas melepaskan separuh hatinya untuk pergi.
“Nav, sudah, Nak. Ikhlasin Ayah, ya? Biar Ayah tenang di sisinya,” bisik Ibu sambil memelukku.
Aku tidak menggubris, tangan ini masih enggan melepas jasad Papa yang telah terbungkus kain kafan. Hingga akhirnya, prosesi penguburan pun akan dimulai. Lagi, aku histeris melihat galian tanah yang tersimpan jasad Ayah telah terkubur oleh tanah.
__ADS_1
Duniaku terasa hancur. Tangisan dan raungan yang menemani kepergian Ayah pada saat itu.
“Nav, pulang, yuk? Ikhlasin Ayah, Sayang. Ibu mohon,” ucap Ibu sambil menitikkan air mata.
Sebagai anak laki-laki, aku tidak ingin melihat Ibu menangis. Hati ini bertekad untuk membahagiakannya tanpa ada air mata lagi yang menetes di pipinya.
***
Ibu semakin sibuk di perkebunan menggantikan Ayah. Sedangkan aku meneruskan sekolah, ditambah mengikuti les-les untuk menyibukkan diri. Kami semakin jarang berkomunikasi. Pelukan hangat pun sekarang sudah tiada, hilang bersama kepergian Ayah.
Apalagi, Ibu sering pulang malam karena mengurusi laporan pekerjaan yang semakin menumpuk. Maklum saja, Ibu tidak mempunyai pengalaman mengelola perkebunan. Selepas salat isya, aku bergegas tidur sedangkan Ibu, entah pulang jam berapa. Kami jarang sekali bertemu ketika malam tiba.
Ddrrrttt!
Alarm bergetar di atas nakas. Aku meraih dan mematikannya.
“Nav, udah bangun, Sayang?” panggil Ibu.
“Udah, Bu!” jawabku dalam kamar.
“Mandi sana, nanti sarapan,” titahnya.
“Iya!”
“Nav, sarapan sudah ada di atas meja makan. Ibu berangkat, ya?” ujar Ibu ketika aku masih mandi.
“Iya, Bu. Hati-hati!”
Aku merasa kehilangan Ayah dan kini Ibu pun telah jauh dariku. Tapi aku mengerti, itu semua demi kelangsungan hidup kami. Sepi? Sudah pasti. Hati bertekad untuk melindungi Ibu dan tidak akan membiarkannya kembali menangis. Aku tumbuh menjadi pribadi yang cuek, bahkan terkesan tidak peduli. Rasa care dalam hati untuk orang lain telah hilang. Karena yang ada dalam hati hanya ingin memperhatikan Ibu.
“Loh, kenapa balik lagi?” tanyaku pada Ibu.
“Ada berkas yang tertinggal.” Ibu tersenyum.
“Bu!” panggilku.
“Iya?” Ibu melihat ke arahku.
“Naveen akan jaga Ibu. Tidak akan membiarkan Ibu tersakiti. Bahkan, Naveen akan membenci orang yang mencintai Naveen seumpama ia tidak mencintai Ibu!” seruku sambil menatap tajam netra senja itu.
“Nav, jangan bicara seperti itu!”
“Bu, setengah dari Naveen adalah Ayah dan Ibu. Naveen sudah kehilangan Ayah, Naveen tidak mau kehilangan Ibu lagi!”
__ADS_1
“Ibu akan baik-baik saja, Nav. Ibu tahu apa yang harus dilakukan kalau sudah tidak kuat. Nav, tolong peluk Ibu. Bayangkan, ada Ayah juga bersama kita.”
Entah apa maksud Ibu. Aku mengikuti kemauannya.
**
Tanpa aku sadari, kami tidak mempunyai ekspresi. Wajah kami datar, tidak bisa merasakan kesedihan atau pun bahagia. Hingga para tetangga menganggap kami gila. Namun aku tidak peduli dengan selentingan yang terkadang aku dengar dari mulut tetangga.
“Nav, tolong bawakan kopi untuk Ayahmu!”
“Baik, Bu!”
Ibu mengalami depresi berat dan halusinasi, ia menganggap kalau Ayah masih hidup. Hal itu yang memaksaku untuk berpura-pura menganggap Ayah masih ada bersama kami. Depresi Ibu semakin parah, hingga aku yang mengambil alih perkebunan sewaktu masih SMA. Aku yang tidak tahu menahu masalah perkebunan, mau tidak mau harus belajar. Ibu belum mempersiapkan semua ini karena puncak dari depresi yang dialaminya itu tiba-tiba. Memori duka kehilangan Ayah seolah lenyap, yang diingatnya hanya kejadian sebelum itu di mana keluarga kami masih utuh bersama Ayah.
***
Tok ... Tok ... Tok ....
Suara ketukan kamar membangunkanku pagi itu. Ibu menyuruhku bergegas mandi lalu sarapan.
Aku pun bangkit dari tempat tidur untuk segera mandi lalu pergi ke meja makan setelah selesai berpakaian rapi.
Benar saja, semua makanan telah tersaji di meja makan.
“Nav, Ibu mau pergi sama Ayah. Kamu sarapan, ya? Ibu udah masak banyak sekalian untuk makan siang,” ujar Ibu.
“Iya.”
“Nav, Ibu bahagia mempunyai kalian berdua. Waktu yang terbaik untuk Ibu ketika bersama kalian, Ibu sangat bahagia.”
“Naveen juga, Bu. Makasih udah kuat, kita pasti bisa melaluinya.”
Lama kelamaan, depresi Ibu semakin parah. Khayalannya selalu bersama Ayah. Hari-hari kuhabiskan dengan bersahabat dengan depresi.
Wahai masa-masa indah yang mereka katakan, dimanakah engkau? Hariku penuh dengan khayal. Ibuku semakin bahagia dengan dunianya.
Aku melihat Ibu yang berjalan ke kamar, wajahnya semakin kurus. Sesekali Ibu menoleh, lalu tersenyum padaku. Tubuhnya kini menghilang di balik pintu. Biasanya, menjelang siang Ibu akan memakai gaun cantik berwarna putih yang dibelikan Ayah dulu. Kata Ibu, Ayah sangat senang apabila Ibu memakai gaun itu, Ibu terlihat makin cantik katanya.
Lima belas menit kemudian, aku mendengar benda jatuh dari kamar Ibu. Aku berlari untuk melihatnya. Ternyata, pintu balkon kamar telah terbuka dan Ibu sudah terjatuh dari lantai dua.
Aku berjalan untuk melihatnya. Tubuh Ibu telah bersimbah darah, napasnya telah hilang bersama denyut nadi di pergelangan tangan. Ibu meninggal bersama gaun putih pemberian ayah. Aku berteriak dan menangis histeris. Untuk pertama kalinya aku menangis sepeninggal Ayah, menangis histeris untuk Ibu.
“Bu, jangan pergi ....” ucapku lirih.
__ADS_1