Cerita Pendek Romance

Cerita Pendek Romance
OLIVEA


__ADS_3

Pandangan mata mama menatapku tajam sejak tadi. Tiba-tiba ada perasaan yang tidak enak di hati.


“Davin! Nanti siang jemput Olive di sekolahan, ya?” kata wanita itu.


“Gak bisa, Ma! Kalau siang, Davin masih kerja,” tolakku halus.


Olivea nama gadis itu. Seorang gadis remaja berusia delapan belas tahun. Anak relasi papa yang telah dijodohkan denganku.


“Kerjaan kamu kan, di kantornya Papa. Jadi santai. Mama gak mau tau. Pokoknya kamu jemput Olive sepulang sekolah!” Suara mama melengking.


Aku hanya mengangguk sambil menghabiskan sarapan di piring.


“Davin! Dengerin mama gak?” pekiknya. Membuat telingaku jadi sakit pagi ini.


“Iya, Mayang. Mama Sayang.”


Akhirnya aku berangkat ke kantor. Waktu hampir menunjukkan pukul delapan pagi. Itu artinya, aku hampir telat masuk kerja. Mengendarai Toyota Fortuner berwarna hitam, kulesatkan mobil dengan kecepatan tinggi.


“Pagi, Pak.”


“Selamat pagi, Pak Gan. Bapak ganteng.” Sebagian karyawati menggodaku.


Sapaan itu selalu kudengar setiap hari. Tak mau meladeni, hanya kubalas dengan anggukan atau senyuman. Aku melewati lobby menuju ruang kerja. lalu membuka pintunya.


“Kamu telat lagi?” tanya bos besar, yang tak lain adalah papaku sendiri.


“Maaf, Pa.”


“Selalu itu yang jadi alasan. Kamu bisa berubah, gak?” Mata Papa membulat. Sekalipun anak sendiri, Papa ingin mengajariku kedispilinan.


Hening.


“Papa gak mau denger kalau besok kamu masih seperti ini lagi!” ujarnya dan berlalu pergi.


Aku mengehela napas. Bergelut dengan berkas, sudah menjadi makanan setiap hari. Terkadang, aku sampai telat makan siang karena terlalu sibuk dengan pekerjaan.


Aku baru satu bulan ini bekerja di kantor Papa, karena baru saja lulus kuliah jurusan Manajemen dan Bisnis. Aku seorang anak tunggal ayang terbiasa hidup enak, hingga ketika lulus kuliah bukannya merasa senang. Aku malah merasa tersiksa karena harus bekerja membantu Papa di kantor.


Ponsel yang ada di atas meja bergetar. Aku meraihnya.


“Apa, Mayang?” dengan cepat, aku menjawab telepon mama.


[Iya, Ma. Ada apa?] tanyaku.


[Jemput Olive sekarang!]


[Yaelah, si Zaitun udah gede kali.]


[Zaitun? Siapa dia?] tanya mama.


[Maksud Davin, si Olive. Kan udah gede, ngapain masih dijemput? Nyusahin aja.] Suaraku melembut. Jangan sampai mama marah, bisa panjang cerita.


[Pokoknya jemput sekarang! Kan tadi Mama udah bilang, telingamu denger gak, sih? Atau kamu sengaja gak dengerin omongan Mama?]


[Ya udah, iya. Nih Davin berangkat.]


Tut!


Sambungan telepon terputus begitu saja.


Setelah semua pekerjaan selesai, aku menjemput gadis itu ke sekolah. Sampai di sana, sudah banyak siswa yang ke luar dari kelas. Aku memilih untuk menunggu di mobil.


Tiba-tiba aku teringat sesuatu. “Gue kan belum tau wajah si Zaitun kayak gimana.”


Memang selama ini kami belum pernah bertemu. Aku hanya tahu nama dan sekolahnya lewat cerita mama. Lagipula aku belum menyetujui rencana perjodohan ini, karena itu belum ada pertemuan antara keluarga.


Lalu aku mengirim pesan, meminta fotonya.


Bip!


Satu pesan baru masuk dari mama. Tampaklah seraut wajah ayu seorang gadis. Pipinya tirus dengan hidung mancung, dan berambut panjang. Matanya bulat seperti boneka dengan kulit wajah bersih putih serta bibir tipis.


“Cantik juga.”

__ADS_1


Aku masih menunggu di dalam mobil. Ketika sekolah mulai sepi, tapi si Zaitun belum juga tampak, aku mulai gelisah.


Akhirnya aku memasuki tempat itu dan mendatangi salah satu security.


“Siang, Pak. Maaf mau tanya.”


“Iya. Tanya apa, Mas?”


“Kelas si Zaitun di mana, ya?”


Security itu terbelalak dan terlihat kebingungan. Seketika aku teringat, tentu saja dia tidak kenal dengan nama Zaitun. “Dasar bodoh!” Aku menepuk jidat.


“Maksud saya, Olive anak kelas tiga.”


“Oh, Neng Olive. Jam segini masih belajar karate, Mas.”


What? Dia ikut karate? Apa kata dunia kalau suatu saat nanti aku ditindas?


“Itu di lapangan. Mas masuk langsung saja.” Dia menunjuk.


“Oke! Makasih, Pak.”


Aku berjalan menuju lapangan. Benar saja, si Zaitun sedang berlatih karate, ternyata dia sudah sabuk hitam.


Lama menunggu, aku memutuskan untuk duduk di kantin, sambil menyelesaikan pekerjaan melalui ponsel yang kubawa, dengan segelas hot moccachino yang menemaniku siang ini.


“Siang, Oppa,” sapa gadis cantik bertubuh tinggi ini. Siapa lagi kalau bukan si Zaitun.


“Oppa?” Aku mengernyitkan dahi, merasa asing dengan sebutan itu.


“Aku kan suka banget sama K-Pop. Jadi aku panggil kamu Oppa,” jelasnya.


Aku membuang wajah serasa ingin muntah dipanggil seperti itu.


“Live, jadi ini Oppanya kamu?” tiba-tiba datang beberapa orang remaja putri ikut nimbrung. Mereka berpakaian seperti si Biji Zaitun, mungkin teman-temannya.


“Iya. Lulus sekolah aku mau tunangan sama Oppa Davin.” Si Zaitun tersenyum lebar.


“Kepedean banget ini bocah!” rutukku dalam hati sambil melihat tingkah mereka.


Si Zaitun malah asyik mengobrol dengan teman-temannya. Sedangkan aku hanya seperti obat nyamuk di tengah canda tawa mereka.


“Ayok balik!” ajakku.


“Nanti, Oppa!” rengeknya. Ternyata masih ingin ngobrol bersama geng-nya.


“Sekarang!” Aku menarik tangannya.


“Aduh!” Terdengar pekik seorang gadis yang kutarik lengannya.


Aku mendengar mereka tertawa, termasuk suara Olive di sana. Inalillahi, salah narik orang ternyata!


Bukan cuma pipi yang memerah seperti udang rebus, tapi rasa malu telah menjalar di sekujur tubuhku. Terlebih saat Olivea menertawakanku.


“Sorry, gue kira si Zaitun!”


Gadis itu tersenyum simpul.


Aku kembali ke meja di mana Olivea sedang duduk dan menarik lengannya. Aku pastikan kali ini benar, karena tidak ingin malu untuk yang kedua kali.


**


Hingga tak terasa, Olive sudah lulus sekolah. Kami pun akhirnya bertunangan dan pernikahan direncanakan setelah dia lulus kuliah. Aku menyetujuinya demi mama.


“Hai, Oppa,” sapanya ketika ke luar dari gerbang kampus.


Aku tersenyum tanpa menjawab sapaannya yang menurutku lebay akut!


Olive sudah bertransformasi menjadi sosok wanita dewasa dengan penampilan yang berbeda. Walau aku akui sejak dulu dia sudah cantik dengan baju karate. Kini, ia menjadi wanita yang semakin cantik dengan sentuhan gaya casual ketika menjadi mahasiswi.


“Oppa udah lama nungguinnya?” Dia bertanya ketika sudah duduk di sampingku.


“Lumayan,” jawabku singkat.

__ADS_1


Karena sejak dulu dipanggil Oppa, aku mulai terbiasa. “Kita ke toko buku bentar, ya? Aku mau cari novel,” pintanya.


Nyusahin!


Tanpa menjawab, aku pun meluncur ke sebuah toko buku ternama, menuruti keinginannya.


“Oppa mau tunggu di sini?” tanya Olive di parkiran.


“Iya. Gue tunggu di sini aja, males masuk. Baca buku aja males apalagi beli novel,” kataku sedikit ketus.


“Yaudah. Aku masuk sendiri deh,” ucapnya.


Dia memang gadis yang tidak suka memaksa ataupun mengatur. Makanya, aku masih betah bertunangan dengannya sampai sekarang.


Saat si Olive sudah masuk ke toko buku, tinggallah aku sendirian. Ponsel bergetar, ada panggilan masuk.


“Ya, Pa?” Aku menjawab telepon. Namun, suara papa terdengar tidak jelas. “Sial! Nggak ada jaringan lagi!”


Aku ke luar dari mobil dan mencoba mencari sinyal yang entah hilang kemana.


“Oppa! Awas!” Sayup-sayup terdengar teriakan si Zaitun.


Aku menoleh. Seketika pandangan menjadi gelap setelah merasa ada sesuatu yang menabrak tubuhku.


***


Perlahan aku membuka mata. Pandanganku terasa berputar-putar. Kupegang kepala yang terasa sakit dan menatap langit-langit yang berwarna putih.


“Aku di mana?” Mataku melihat ke setiap sudut ruangan kecil ini.


Sepertinya aku di rumah sakit, tapi kenapa? Apa yang terjadi denganku?


Pandanganku tertuju pada lengan yang sedang digenggam hangat oleh seseorang.


Biji Zaitun?


Ternyata Olivea yang sedang menggenggam tanganku erat. Walau matanya terpejam, jemari kami bertautan.


“Oppa, walau kamu cuek. Aku sayang sama kamu,” ucapnya yang sedang mengigau.


Sebesar itu kah rasa sayang yang kamu punya untukku, Live?


Aku terenyuh mendengarnya berkata seperti itu. Selama menjalin kasih dengannya, belum pernah aku menyebutnya dengan panggilan nama Olivea. Mungkin aku terlalu gengsi, karena dulu aku tidak menaruh rasa apapun dan terkesan cuek.


“Aku akan selalu ada untukmu, Oppa,” sambung Olivea yang masih mengigau.


Aku mengusap kepalanya dengan lembut dan dia terbangun, “Oppa? Kamu udah sadar? Bentar aku panggilin dokter.”


Sebelum sempat beranjak dari tempat duduk, aku menarik lengan Olive. Kami bertatapan lekat.


“Thanks, ya. Udah jagain gue.” Aku tersenyum tulus kepadanya untuk yang pertama kali.


Tiba-tiba, Olive memeluk tubuhku. Itu membuat debaran di dada semakin kencang. Ada sesuatu yang terjadi pada diri ini. Apakah … cinta?


Cukup lama dia memelukku, lalu terlepas ketika pintu kamar terbuka.


“Maaf, Oppa.” Terlihat semburat merah di pipi Olive.


Sejak saat itu, aku merasakan benih cinta telah tumbuh dalam hati. Olive telah berhasil mencurinya.


Tidak berselang lama, Mama dan Papa datang dan bertanya kenapa ini bias terjadi. Aku menjelaskannya dan berkata. ”Davin boleh minta sesuatu, gak?”


“Iya, Sayang. Minta apa?” jawab Mama.


“Pernikahan Davin dan Olivea dipercepat,” pintaku.


“Apa?” Netra Mama membulat.


“Kenapa? Mama gak izinin?”


“Ya diizinin, lah! Kenapa gak dari dulu coba? Mau dipersiapkan kapan?” tantangnya.


“Pokoknya secepatnya. Kalau Davin udah ke luar dari rumah sakit.”

__ADS_1


Mama, Papa terlihat senang. Sedangkan Olive? Sepertinya ia terlalu senang, terlihat dari semburat merah pada pipinya.


.End.


__ADS_2