
"Ceraikan saja dia!"
Terdengar suara ibu mertuaku berseru pada Yoga, anaknya yang tak lain suamiku.
"Sudah terlalu lama kalian menikah, tetapi belum bisa juga memberikan cucu untuk Ibu!" ujar ibu mertuaku lagi.
Aku hanya bisa bertahan di kamar, mendengar suami dan ibunya yang selalu meributkan masalah momongan. Telinga sudah mulai panas selalu dijejali dengan pertengkaran mereka yang hampir terjadi setiap hari, hanya kamar ini yang menjadi saksi bisu tentang sedihku selama ini. Tanpa sepengetahuan Mas Yoga, aku selalu menitikkan air mata di sini.
Setelah cukup lama pertengkaran itu terjadi, suasana menjadi hening kemudian terdengar langkah kaki yang semakin dekat. Pintu kamar pun terbuka, secepat kilat aku mengusap air mata kemudian melengkungkan senyum pada Mas Yoga. Dia duduk di tepi ranjang dengan wajah lusuh penuh keringat.
"Kenapa, Mas?" tanyaku pada lelaki yang sudah menjadi imam sejak delapan tahun lalu.
Tidak banyak kata, Mas Yoga hanya memelukku erat. Diri ini merasa tenang ketika berada dalam dekapannya. "Maafin, Mas, Dek." Hanya kata itu yang meluncur dari bibir suamiku.
Cukup lama dia mendekapku, mengusap kepala yang tertutup hijab kemudian berkali-kali mencium pucuk kepala ini. Kenapa dengan suamiku?
"Mas terpaksa menerima perjodohan dari ibu. Tetapi Mas tidak ingin kehilanganmu," ucapnya dengan tangan yang menggenggam jemariku.
Entah apa yang kurasa saat ini, bibir kelu tidak dapat berucap apa pun. Entah itu protes atau menerima. Mas Yoga menjelaskan kalau dirinya mencintaiku dan tidak ingin kehilangan sehingga dia memutuskan untuk berpoligami.
Ikhlaskah aku menerima semua ini? Untuk berbagi suami dengan maduku nanti.
Berat, aku hanya wanita biasa yang mempunyai rasa sesal dan kecewa. Apakah tidak dikaruniai anak itu kemauanku? Tentu saja tidak! Sebagai wanita, diri ini pun ingin merasakan menjadi ibu yang dapat melahirkan anak dari rahimku sendiri.
"Mas tidak dapat membelamu lagi setelah ibu mengetahui sakitmu, Ay," ujarnya yang membuatku sedih.
Bagaimana tidak? Ketika divonis mengidap kista, suamiku malah memutuskan untuk menikah lagi. Sempat ingin bercerai tetapi diri ini begitu memahami Mas Yoga. Aku yakin, dia lelaki yang mampu menuntun hingga ke jannah dengan keimanan dan ilmu agama yang dimilikinya.
Aku hanya bisa mengangguk.
"Kamu menerimanya, Ay?" tanya Mas Yoga memastikan.
Lagi, aku hanya dapat mengangguk dengan hati yang hancur. Mencoba untuk menerima semua kenyataan yang akan kuhadapi nanti.
Kami keluar dari kamar untuk makan malam bersama ibu mertua yang ternyata sudah menunggu kami di meja makan.
"Bagaimana dengan perjodohanmu, Yoga?"
Ya Allah, baru saja aku duduk di kursi, ibu sudah menanyakan hal yang akan membuatku sakit.
"Iya, Bu. Ayana merestuinya," ujar suamiku terdengar pasrah.
"Ayana, kamu mengikhlaskan kalau suamimu menikah lagi, kan?" tegasnya dengan sorot mata tajam memandangku.
"I-iya, Bu."
***
Akhirnya pernikahan itu terjadi, aku menyaksikan suamiku telah mengikrarkan ijab untuk istri mudanya. Kini mereka telah resmi menjadi pasangan suami-istri dalam ikatan pernikahan.
Senyum merekah terlihat dari bibir ibu mertuaku dan Santi, istri muda Mas Yoga. Mereka terlihat bahagia di atas sesak yang kurasa saat ini. Sakit tak berdarah, mungkin kata itu sangat tepat sebagai ungkapan hati walau sekuat tenaga aku mencoba untuk ikhlas.
Malam pun tiba, Santi telah mengenakan gaun malam yang terlihat menggoda dengan rambut hitam terurai dia duduk bersama kami di ruang keluarga.
__ADS_1
"Mas, Bu, aku pamit," ujarku sambil berdiri.
"Baguslah, berikan kesempatan pada suamimu untuk memiliki keturunan," ketus ibu yang membuatku sakit.
"Iya, Bu. Permisi."
Baru saja aku melangkah hendak masuk kamar, tiba-tiba saja rengekan manja keluar dari bibir Santi. "Ayo, Mas. Aku ingin berduaan di kamar bersamamu," suara manja Santi pada Mas Yoga.
Entahlah, aku langsung masuk ke kamar dan berusaha cuek walau hati bertentangan. Tetapi, tidak lama pintu kamarku terketuk.
"Ay," panggil lelaki yang sangat kucinta.
"Mas Yoga?" gumamku. "Masuk!" seruku dari dalam kamar.
Terlihat sudah wajah tampan Mas Yoga, dia melangkah mendekatiku yang sedang duduk di ranjang berukuran sedang. Kini, ranjang ini terasa luas karena nanti aku hanya tidur seorang diri.
Mas Yoga memelukku. Wangi melati khas pengantin masih tercium di tubuhnya yang mengingatkanku dulu ketika pertama menjadi istrinya. Tubuh ini masih hangat dalam dekapannya, tangan Mas Yoga erat seolah enggan melepaskan tubuhku.
"Mas, kok, ke sini?"
"Aku nggak bisa, Ay. Aku nggak bisa!"
"Enggak bisa apa, Mas?"
"Aku nggak bisa tidur dengan Santi. Aku ingin tidur bersamamu, memelukmu seperti malam-malam biasanya," ucap Mas Yoga yang membuatku pilu.
"Jangan seperti itu, Mas. Santi kini telah menjadi istrimu, dia berhak mendapatkan nafkah batin darimu," ucapku lemah dan terasa menyakitkan, mungkin karena aku belum terbiasa.
Mata berusaha terpejam tetapi tetap saja sulit, karena hati yang belum merelakan semua ini. Ikhlas, Ay! Segera kupejamkan mata dengan segala lantunan doa pengantar tidur.
***
Tidak terasa sudah satu tahun berlalu, bahkan esok akan memasuki bulan suci ramadhan. Dimana setiap muslim akan berlomba meraih pahala di bulan penuh berkah ini. Tetapi ada kisah pilu dalam keluarga kami, Santi meminta cerai pada Mas Yoga.
"Selamat pagi Khumairah ...." sapanya ketika menyanjungku. Mas Yoga sudah duduk di samping ranjang.
"Mas Yoga?"
Mas Yoga terlihat sudah rapi dengan kemeja putih kemudian dia hendak memakai dasi, sepertinya hendak ke kantor. Tetapi, masa iya sepagi ini?
"Sini, aku bantu." Aku meraih dasi yang telah melingkar di kerah kemeja putih itu lalu merapikannya. "Sudah, Mas."
"Terima kasih, Ay."
Aku tersenyum.
"Mas mau ke mana?"
"Mas mau ke rumah orang tua Santi, dia meminta cerai dari Mas setelah mengetahui kalau Mas itu mandul, Mas tidak akan bisa mempunyai keturunan."
"Sabar, Mas. Pasti Allah akan memberikan hal yang indah untuk Mas Yoga." Hanya kata itu yang keluar dari bibirku.
"Aku sudah mendapatkannya kok."
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Aku sudah mendapatkanmu, hadiah terindah dari Allah. Kamu istri solehah dengan wajah dan hati yang cantik. Kamulah anugerah terindah untuk Mas," ucap Mas Yoga yang meraih tubuhku dalam dekapnya kemudian mengecup kening ini.
Sepertinya pipiku bersemu merah ketika mendengar kata-kata Mas Yoga yang sanggup membuat hati ini bahagia.
"Ya sudah, aku berangkat dulu, ya," pamitnya dengan mengulurkan tangan untuk kucium.
"Hati-hati, Mas."
Kami berjalan menuju pintu utama di sana ada ibu mertuaku yang menangis pilu ketika mengetahui Santi memilih pergi dari rumah.
"Sudah, Bu. Ikhlaskan Santi, dia tidak tulus menerima Yoga."
"Maksudmu apa?"
"Yoga yang tidak bisa memberikan Ibu cucu." Mas Yoga memberikan kertas itu pada ibu.
"Ini apa?" tanya ibu ketika meraih selembar kertas putih dari tangan Mas Yoga.
"Itu hasil pemeriksaan Kesehatan Yoga yang menyatakan Yoga itu mandul."
Ibu terlihat membuka lalu membaca tulisan pada kertas putih itu. "Enggak, nggak mungkin!" bantahnya.
"Itu kenyataan, Bu. Kami sudah memeriksakannya beberapa hari yang lalu dan itu hasilnya!"
Ibu bergidik, "Tidak, tidak mungkin!" Ibu masih berusaha mengelak, beliau tidak menerima.
Setelah beberapa saat, air mata Mas Yoga luruh ke pipi. Isak tangis itu tak dapat dibendung. Dia menghampiri ibu kemudian mengangkat wajah wanita yang dahulu melahirkannya.
"Lihat, Bu. Lihat perbuatan Ibu pada Ayana. Di sini ternyata yang bermasalah itu Yoga, bukan dia!" Mas Yoga menunjuk ke arahku sementara ibu hanya tertunduk dengan air mata yang berlinang.
"Kurang apa lagi Ayana di depan Ibu sekarang? Wanita solehah yang menerima kekuranganku. Ibu bisa lihat sekarang wanita yang tulus itu pilihan ibu atau pilihanku?"
Ibu masih tertunduk, sepertinya begitu berat untuk memandang wajah anak lelakinya. Aku menghampiri ibu, mengusap pelan pundaknya lalu meraih tangan Ibu.
"Maafkan Ayana, kalau selama ini, Ayana belum menjadi menantu yang sempurna untuk Ibu," lisanku lirih.
Ibu mendongak.
"Maafin Ibu, Ay. Maafin Ibu." Kata itu terus terulang.
"Ibu sadarkan? Ternyata anak Ibu yang tidak berguna, bukan Ayana!" Mas Yoga masih emosi menyalahkan diri sendiri.
"Sudah, Mas. Sudah. Esok kita akan memasuki bulan suci, tidak baik Mas bersikap seperti itu sama Ibu!"
Seketika ibu berlutut di kakiku. "Maafin Ibu yang sudah banyak dosa terhadapmu, Nak. Ibu terlalu sering menyakiti hatimu." Ibu masih bersimpuh.
Aku meraih tubuh wanita yang sudah menjadi orang tuaku sejak delapan tahun lalu agar tidak terus berlutut. "Astagfirullahal'azim, Bu, Bangun. Ayana tidak pernah membenci Ibu. Ayok, Bu, bangun."
Ibu mendekapku dan menagis dalam pelukan. Ibu sangat menyesali perbuatannya di masa lalu yang selalu menyalahkanku karena tidak memiliki keturunan. Syukur Alhamdulillah, bulan suci esok keluarga ini telah kembali utuh berkat belajar bagaimana ikhlas walau memang sulit ternyata membawa hal yang sangat luar biasa dalam hidupku. Terima kasih ya Allah, Engkau masih memberikanku kesempatan untuk kembali mengukir bahagia bersama suami serta ibu mertua. Walau mungkin, kami tidak diberikan keturunan, tetapi aku yakin dengan semua rencana indah-Mu, ya Rabb ....
Semoga keluargaku selalu bahagia hingga ke jannah, aamiin ....
__ADS_1